Kisah nyata pribadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Raywan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 25
Setelah selesai menjalankan sholat Maghrib, kamipun berkumpul di ruang tv sambil ngobrol disana, tiba-tiba saja kakak mengeluarkan makanan untuk kami semua.
" Mbak!, kok repot-repot sih kami kesini bukan mau minta makan Lo mbak, ya Ndak apa-apa lawong kalian kesini juga Ndak setiap hari ini, tapi cuma dengan sayur tahu sambel sama coletan daun pepaya dan daun singkong juga dengan ikan asin aja Ndak ada makanan yang enak di sini adanya ya cuma kayak gini"
"Alah mbak ini sudah sangat banyak kawannya nasi, dan ini sangat menggugah selera, emmmm sampai mau ngiler aku ngeliat coletan dan sambalnya pasti enak" ucapku.
Aku yang notabennya suka makan sayur-sayuran merasa mau ngiler saat melihat coletan daun pepaya dan daun singkong apalagi ada sambel dan ikan asing yang ngawanin weihh bikin nambah ngiler saja, bagiku itu makanan yang sangat lezat dan nikmat 🤤, tanpa sengaja kutelan Saliva yang ada di mulutku.
Kamipun Menik mati hidangan yang di sajikan oleh kakak sepupu, sedangkan suami aku yang memang kurang menyukai sayur-sayuran dia hanya maka. dengan sayur tahu dan ikan asin, ya.. dia memang seperti itu tidak terlalu suka sayuran lebih suka makan keringan tanpa sayur yang penting ada lauk udah diapun makan.
Sebenarnya tidak susah melayani dia soal makanan, tapi biasa aku bingung sendiri jika mau menyajikan makanan untuknya, karena jika mau membeli lauk yang enak dan tidak cukup, ya akhirnya masak pun seadanya.
Setelah selesai makan akhirnya kamipun mengutarakan keperluan kami main ke rumah bude.
"Maaf pakde, sebenarnya kami kesini selain mau bersilaturahmi kamipun memiliki tujuan lain" suamikupun mulai mengungkapkan tujuan kami
"Memangnya ada pa le?"
"Begini pakde disini jika nyewakaan sawak seperti punya mamak gitu setahunnya berapa ya"
"Memangnya sawahnya mau di sewakan?"
"Belum tau juga sih pakde"
"Lo, katanya tadi nanyak harga sewa"
"Iya Sih pakde tapi jika disewakan tidak bisa mencukupi ya terpaksa tidak jadi"
"Memangnya mau untuk apa?
"Rencana sih pengin beli tanah pakde, tapi bukan di sini"
"Memangnya mau beli di mana?"
"Di Kalimantan pakde disanakan juga banyak saudara mamak" kali ini aku yang menjawab karena tidak enak juga jika suami aku yang menjawab terus menerus takut di sangkanya suami aku yang ingin menguasai harta punya mamak.
"O..., biasanya sih kalau disini setahun sekitar 3 juta"
"Jadi kalo di sewakan seumpama 5 tahun berarti 15 juta ya pakde?"
"Ya tidak juga, biasanya jika disewakan makin lama masa sewanya maka makin murah harga sewanya"
"Oh.... gitu ya pakde, terus jika di gadaikan, kira-ada yang mau apa tidak ya pakde?"
"memang mau di gadaikan berapa?"
"Ya seumpama 35 juta selama 5 tahun kira-kira ada yang mau apa tidak ya pakde"
"Mungkin ada, tapi 35 itu bersih apa kotor?"
"Lho kan ini sewa pakde bulan jual beli memang ada bersih kotornya kah?"tanyaku pada pakdeku itu ya... memang aku tidak paham sama sekali masalah begituan.
"Ya paling enggak kan untuk uang rokok dan bensin" ucap pakdeku
"kalau itu sih bisa di aturlah pakde nanti yang penting ada yang mau dulu" ucap suamiku
"Ya nanti pakde Carikan orangnya"
"Terima kasih ya pakde" ucapku
Namun tiba-tiba budheku muncul dari dalam.
"Memangnya kamu sudah bilang sama mamakmu kalau mau nggadaikan sawahnya?" tanya bude
"Sudah bude kemarin saya sudah telpon mamak" ucapku walau berbohong karena sebenarnya aku belum menelpon mamak , karena masih belum pasti ada yang mau ngambil dengan harga segitu
"Apa boleh bude ngomong sama mamakmu sekarang?" tanya bude
"Boleh saja bude tapi biasanya mamak kalo malam tidak bisa dihubungi, biasanya jika mamak lagi jualan di pasar baru bisa di hubungi karena dirumahnya tidak ada sinyal, bagai mana jika besok kami agak siang kesini jika bude pingin bicara sama mamak" ucapku
"Ya udahlah kalau begitu besok saja" ucapnya
Obrolan kamipun berlanjut sampai takterasa waktupun sudah menunjukkan pukul 8 malam akhirnya kami pamit untuk pulang karena sudah malam.
Keesokan harinya aku menghubungi mamak yang ada di Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Tenggara waktu itu karena tanah mamak yang ada di Sulawesi tengah sudah di jual dan pindah ke Sulawesi tenggara, di sana mereka bersama dengan adek dan suaminya.
"Halo Assalamualaikum Mak, apa kabar keluarga di sana" akupun membuka obrolan dengan mamak waktu sambungan telpon kami sudah terhubung.
"Alhamdulillah, mamak dan yang lain baik semua di sini, kamu gimana di sana sehat?"mamak balik bertanya padaku.
"Alhamdulillah sehat mak" jawabku " Mak gini aku ada perlu sama mamak"
"Ada apa kok tumben?" kata mamak merasa heran karena aku bilang jika aku ada perlu dengan beliau.
"Gini Mak, aku sama bapaknya Bayu mau pinjam tanah sawah mamak untuk modal hidup"
"Maksudnya gimana?"
"Begini, aku mau pinjam sawah mamak, mau aku gadaikan selama 5 tahun aku sama bapaknya Bayu mau beli tanah di kali mantan, nanti jika sudah waktunya Nebus ya kami tebus"
"Memangnya tanahnya sudah ada yang mau di beli?" tanya mamak
"Kemarin bapaknya Bayu nelpon sana katanya ada 2 hektar yang mau di jual orangnya minta 10 juta 1 hektarnya, Ndak aku jual kok Mak tanahnya, nanti kalau seumpama waktunya Nebus kami belum punya uang tanah yang beli tadi kami jual lagi 1 hektar untuk nebusnya"
"Jadi kalian mau pindah ke kalimantan? terus yang nunggu rumah di Jawa siapa?"
"Iya Mak kami mau kesana, kalau rumah yang di Jawa mungkin kalau ada yang mau nyewa ya biar di sewakan dulu jika tidak ada yang nyewa ya biar saja dulu, siapa tau ada yang mau nempati sekalian mbersihkan"
"Terus nanti kalau mamak pulang kejawa mamak nujunya ketempat siapa jika kamu Ndak ada di sana?"
"Kan disini banyak saudara Mak, tapi kalau mamak dan yang lain mau ikut ke Kalimantan ya ayuk kita bareng-bareng kesana"
"Ya nantilah mamak, rembulan dulu dengan bapak dan adekmu siapa tau mereka mau"
"Lalu gimana Mak boleh apa endak jika kami pinjam tanah sawah mamak"
"Ya... jika itu bisa membantu kalian mamak sih Ndak masalah, mamak dan bapak tidak bisa ngasih apa-apa, jika itu bisa membantumu ya monggo"
Kuakui mamak aku orangnya memang sangat sayang kepada aku dan adek aku beliau tidak pernah pilih kasih kepada anak-anak nya.
"Terima kasih ya mak sebelumnya, jadikan aku tenang jika sudah ijin kayak gini, jika ada yang mau nggadai kan tinggal di kasihkan saja" ucapku
"Jadi belum ada orang yang mau nggadai?" tanya mamak
"Belum masih nanyak- nanyak dulu"
"Oalah kirain mamak sudah ada yang mau"
"Belum mak, Ya udah dulu ya Mak, trimakasih atas ijinnya" ucapku
"Iya, ati-ati disitu jaga kesehatan ya?"
"Iya Mak, Assalamualaikum "
"Wa'alaikumsalam "
Sambungan telpon pun aku tutup, aku bernapas lega karena dapat ijin dari mamak. selepas duhur aku dan suami segera meluncur ketempat Bude karena beliau ingin ingin berbicara pada mamak katanya, sesampainya kami disana ternyata bude sudah duduk santai di teras dapur .
"Assalamualaikum bude"
"Waalaikum salam, ayuk sini masuk diluar panas" katanya
"Iya bude terima kasih" kamipun masuk ke dapur, bukan dapursih tepatnya ruangan untuk santai sambil nonton tv.
kamipun berbincang-bincang sejenak
"Oh iya bude katanya bude mau bicara sama mamak ya"
"Iya, memang bisa di hubungi"
"Saya coba ya bude, siapa tau ada sinyal di sana"
Aku coba menghubungi mamak, namun sekali dua kali sampai lima kali aku hubungi namun tidak bisa tersambung lalu aku coba lagi dan Alhamdulillah kali ini bisa tersambung.
"Halo Assalamualaikum Mak"
"Waalaikum salam nduk ada apa?"
"Ini aku sekarang ada dirumah bude Musir, bude katanya mau ngomong sama mamak"
"Oh... iya mana bude ?" lalu akupun menyerahkan hp ke bude jadilah mereka ngobrol.
"Halo nduk, piye kabarmu sehat? ( halo nduk, bagaimana kabarmu sehat?)"
"Alhamdulillah yu sehat, sampean sehat kabeh to neng kono? ( Alhamdulillah mbak sehat, anda sehat semua kan di situ?)"
"Alhamdulillah sehat kabeh, Iki anakmu Karo mantumu kape nggadekne sawah, jerene kape di gawe tuku lemah neng kali mantan, opo Yo wes ngomong neng awakmu? (Alhamdulillah sehat semua, ini anakmu sama menantuku mau menggadaikan sawah, katanya mau buat beli tanah di Kalimantan, apa sudah bicara sama kamu?"
" Oh... Iyo yu uwes, arek-arek wes ngomong nek kape nyileh modal urep, gawe tuku lemah, dekne kape nggadekne sawah pancene , wes ngomong kok neng aku ( Oh... iya mbak sudah, anak-anak udah bilang kalau mau minjam untuk modal hidup, untuk beli tanah, mereka memang mau nggadaikan sawah, udah bilang kok sama aku.