Kisah seorang Gadis dengan Profesi seorang Sekretaris, tentang hidupnya, tentang kisah cintanya, tentang karirnya dan pandangan orang lain tentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhika.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Empat - Peristiwa Besar
Hari ini hari Jum'at. Jadwal sudah disusun sedemikian rupa. Pagi meeting dengan Divisi Marketing dan Siang berbarengan dengan makan siang meeting dengan Kolega. Pak Ronald sudah terlihat segar.
Meeting dengan orang marketing selesai pukul 11, setelah mengambil semua berkas yang diperlukan aku dan Pak Ronald pergi menemui kolega. Rupanya perusahaan ini merupakan distributor untuk wilayah Australia. Kami memang berencana ekspansi namun aku tidak tahu bila ini berlangsung lebih cepat. Meeting ini masih meeting awal. Sehingga pembahasan masih ringan-ringan sambil makan siang. Pukul 2 lebih meeting berakhir, kami kembali ke kantor. Karena kami hanya meeting di seberang kami pun hanya berjalan kaki. Pak Ronald berjalan mendahuluiku beberapa langkah. Aku tidak mempermasalahkan, malah aku sangat tidak nyaman bila harus berjalan seiringan. Entah mengapa aku tidak awas sehingga di tabrak oleh pesepeda.
Bruk..
"Aduh"
"Hati-hati bu. Jangan melamun." Pesepeda itu bangun dan memberdirikan sepedanya. Aku tahu aku salah tapi haruskah memarahi orang bahkan saat orang itu membutuhkan pertolongan lebih dahulu.
"Kamu gapapa Line?"
Pak Ronald datang sambil menyodorkan tangannya agar aku berpegangan.
"Gapapa pak. Saya yang tidak hati-hati."
Setelah aku berdiri terasa sakit di pergelangan kaki. Mungkin sedikit kesleo.
"Lain kali hati-hati bu. Saya minta maaf"
"Ia pak. Saya juga minta maaf."
Sedikit kerumunan itu pun terurai. Karena tahu aku kesakitan saat berjalan. Pak Ronald memegangiku saat aku berjalan. "Hati-hati Nda. Kamu pelan-pelan saja. Pegangan lengan saya."
"Terima kasih pak."
Aku berjalan berpegangan pada lengan Pak Ronald hingga sampai kantor. Saat sampai di Lobby kantor tidak disangka hal mengejutkan menantiku disana.
"Dasar perempuan brengsek"
Plak…
Ia aku ditampar seseorang. Ternyata itu Ibu Sarah.
"Brengsek kamu ya. Dia itu sudah punya istri. Gimana bisa kamu berbuat seperti itu di kantor."
Bu Sarah menjambakku hingga aku terjatuh. Sebenarnya Bu Sarah sempat dipegangi oleh Pak Ronald. Namun tidak tahu kenapa pegangannya terlepas.
Aku dijambak hingga terseret dan terjatuh karena posisi kaki yang terkilir dan tidak mampu menahan beban tubuh setelah melepas pegangan dari Pak Ronald.
"Sakit Bu. Tolong lepaskan saya." Aku berusaha melepas tangan Bu Sarah sambil memohon padanya. Ini sangat sakit dan memalukan.
"Dasar Sekretaris murahan. Kamu itu sudah digaji apa masih perlu jadi pelacur untuk suami saya."
"Sarah kamu jangan keterlaluan."
"Security. Tolong bantu saya."
Bu Sarah dipegangi dan di seret pak Ronald keluar kantor. Sementara aku di bantu oleh Security untuk duduk di kursi tamu.
Maria memelukku dan menenangkanku.
"Aku gak kaya gitu Mar"
"Aku gak kaya gitu."
Kataku berulang-ulang
"Ia. Aku percaya. Kamu yang tenang ya. Yang sabar."
"Tapi aku malu Mar"
Aku diberi air minum oleh Reina. Sepertinya peristiwa ini sudah menyebar di Lantai 3.
"Sakit banget ya?"tanya Maria
"Aku malu. Malu banget."
"Ia. Habis gini di antar pulang Pak Deny ya nanti aku temani." Kali ini Reina yang berbicara.
"Bu Reina, mobilnya sudah siap. Mari saya bantu ke mobil."
Aku dipapah oleh Pak Deny dan Reina. Mereka mengantarku pulang. Sedangkan Reina membantuku hingga aku sudah di tempat tidur dan mengambilkan air minum bila haus karena dia tidak bisa berlama-lama. Dia berpesan untuk tidak mengunci pintu jadi saat pulang kerja dan dia mampir lagi aku tidak perlu susah-susah membukakan pintu. Aku hanya diam dan menangis saja.
Hal ini sangat memalukan. Dihina dan dipermalukan sebagai wanita murahan di Lobby kantor. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk menghadapi hal ini. Aku hanya bisa menangis.
Aku menangis hingga Maria datang. Reina belum sampai karena dia membeli makanan dulu agar kami bisa makan sama-sama.
Saat Reina datang aku tidak menyangka dia juga membelikan untuk Chris. Dia juga pengertian bahwa selama ini aku juga memikirkan makan untuk Chris itulah yang dikatakan Reina di sela diam dan lamunanku tentang apa yang terjadi.
Saat melihat mereka aku mulai menangis lagi. Mereka berusaha menghiburku tapi rasa malu tidak juga hilang dari pikiranku. Mereka mengajakku untuk makan meskipun aku tidak mau.
Mungkin ini yang bernama sahabat, dia akan melakukan segala cara untuk menghibur kita.
Pukul 7 Chris datang dan mengetuk pintu kamarku karena mungkin tidak melihatku di dapur atau di ruang tamu seperti biasanya.
"Alinda"
Dia kaget melihatku berantakan.
Dia datang dan kemudian memelukku. Aku menangis lagi. Reina dan Maria keluar memberiku ruang untuk berbicara dengan Chris.
"Kamu kenapa Yang?"
Aku hanya menangis dan memeluknya erat. Setelah melihatku makin menangis dia tidak berkata apa-apa lagi dia hanya berusaha menenangkanku saja.
Sudah cukup lama kami berpelukan,hingga Reina masuk.
"Maaf Chris. Mending kamu makan dulu. Tadi aku sudah belikan makan dan kami semua sudah makan, meskipun Alinda hanya bisa makan sedikit. Aku akan bantu Alinda mandi dulu sebelum aku pulang."
"Oke Rei. Makasih ya. Tolong temani Alinda. Atau kamu tidak sudah pulang. Biar Alinda ada temannya. Dia pasti butuh kalian malam ini."
Chris meninggalkanku setelah berbicara dengan Reina.
"Kamu mandi dulu ya Lin. Aku bantu ke kamar mandi. Nanti kamu bisa mandi sendiri. Aku kasih kursi."
Reina memberi kursi di kamar mandi agar aku bisa mandi sendiri. Dia membantuku untuk ke kamar mandi aja. Saat selesai mandi ganti Reina dan Maria yang mandi. Mereka jadi menginap menemaniku. Saat Maria mandi Chris datang untuk menanyakan kabarku. Ternyata teman kos yang lain sudah tau aku sedang kalut. Begitu Maria sudah selesai mandi Chris menggendongku untuk ke Ruang Tamu. Dia ingin mendengar mengapa aku datang dengan kaki terkilir dan menangis.
Aku menceritakan semua pada teman-temanku.
Bagi teman perempuan yang lain mereka mengumpat atas apa yang dilakukan oleh Bu Sarah. Sedangkan bagi teman laki-laki mereka mengumpat pada Pak Ronald yang tidak cepat melerai hingga aku kesakitan. Kakiku dipijat oleh Chris. Setelah dia berusaha untuk menenangkanku dengan mengelus rambutku. Dia akan mengajakku ke Tukang Pijat besok.. Reina juga berkata akan membuatkan izin cuti yang akan ditandatangani saat aku masuk nanti.
Peristiwa besar ini sangat mengguncangkan hatiku. Meskipun aku tidur dengan teman-teman, namun aku tetap menahan tangis waktu dini hari ketika peristiwa itu menjadi mimpi buruk.
----------------------------------
#Jangan lupa tinggalkan komentar kalian agar Author makin semangat menulis.. xoxo 💕