Valeria, seorang wanita muda yang hidup bersama kakaknya yang suka berjudi dan memiliki banyak hutang. Kehidupan Valeria berubah ketika dia bertemu dengan Joshua, seorang Presiden Direktur perusahaan hiburan yang sedang mencari tunangannya.
Joshua meminta Valeria untuk menjadi tunangan palsunya. Awalnya, Valeria menolak tawaran tersebut. Namun, setelah mereka berdua terlibat dalam hubungan satu malam, Joshua merasa bertanggung jawab dan mengajukan kesepakatan baru. Dia menawarkan Valeria untuk menjadi tunangan palsunya dan sebagai gantinya, Valeria akan mendapatkan keuntungan finansial.
Valeria, yang awalnya ragu, akhirnya menerima tawaran Joshua. Dia melihat ini sebagai peluang untuk membayar hutang kakaknya dan memperbaiki kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ripah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Paman."
"Yuna, apa aku mengganggumu?" Jemin bertanya.
"Tidak kok, Paman." Yunq tidak jadi ke kantor Saga dia sekarang berada di restoran bersama Jemin.
"Yuna aku lihat berita terbaru. Jelas sekali itu kau." Jemin memperlihatkan ponselnya ke arah Yuna.
"Ah, itu!" Yuna menceritakan awal mula dia bisa menikah dengan Saga dan dia tidak memberitahu jemin tentang nikah kontrak.
"Kau sungguh tak percaya?" Yuna melihat Jemin hanya tertawa.
"Kau pandai sekali mengarang cerita," Jemin menyesap kopi.
"Paman lihat ini," Yuna mengambil cincin di dalam tasnya.
Jemin terbelalak cincin mewah dan terbatas, "tidak mungkin, Saga si pria dingin menikah denganmu?"
"Paman!"
"Oke, baiklah aku percaya padamu Yuna." Jemin memberikan kartu undangan.
"Apa ini?" Yuna membaca kartu undangan.
"Aku berencana membuat pesta, mobil balap hasil desainku mendapatkan skor tertinggi fi di perusahaan." Jemin terlihat senang.
"Ya ampun, paman kau hebat." Yuna merasa ikutan senang dengan usaha Jemin yang berbuah hasil. Jemin begitu gigih ingin membuat desain itu terjual di bernagai perusahaan. "Paman, aku ingin lihat mobilnya yang nyata."
"Kau bisa lihat saat di pesta nanti." Jemin memakan pasta. "Kau hanya memesan jus saja?"
"Iya, aku tidak lapar."
"Kalau kau tidak bekerja, mau ikut aku ke pabrik?" Jemin mengajak Yuna ke perusahaan bagian produksi.
"Boleh juga." Yuna mengangguk menyetujui.
Sesampainya di pabrik sanjaya yang berproduksi membuat mobil. Jemin memeberikan seragam dan alat safety ke Yuna.
"Paman, berapa jumlah pegawainya?" Yuna melihat begitu banyak karyawan di sini, dulu dia rasa hanya sekitar ratusan saja.
"Ribuan, aku tak menghitung jumlah pegawai dengan baik." Jemin memandu Yuna ke tempat pengkilapan mobil. "Ini mobil merek tahun sekarang, kau bisa lihat keunggulan mobil ini."
Jemin membuka mobilnya, Yuna masuk ke dalamnya. Jemin mulai melajukan mobil keluar dari pabrik.
"Paman, sejakbkapan hutan dibelakang pabrik jadi jalan yang mulus begini?" Yuna melihat keindahan diluar sana.
"Sudah lama sejak kau SMA." Jemin membelokkan mobilnya ke jalaur angka 8.
"Wow keren, paman bolehkah kau mengajariku?" Yuna terbiasa dengan mobil metic.
"Bisa saja."
15 menit kemudian.
"Yuna, kau masih kaku dalam menyetir mobilnya." Nilai Jemin.
Yuna merasa di remehkan dia menancap gas dngan kecepatan tinggi, Jemin terhuyung untung ia memakai seftbalt. "Yuna kau membuat jantungku terlepas. Cara meneyetirmu buruk sekali."
"Paman berisik, seharusnya Paman memeberikan contoh yang baik, tapi malah mengkritkku dengan jelek." sahut Yuna kesal.
"Sudahlah hentikan di parkiran sana." Jemin tidak tenang melihat Yuna yang brutal melajukan mobilnya. "Kau bisa-bisa menabarak orang kalau seperti ini terus-menerus."
"Oke." Suara decitan ban mobil membuat Jemin membuang nafas berat. "Turun sekarang."
"Paman kau marah karena aku menabrak dinding?" Yuna mengibaskan rambutnya karena berantakan.
Jemin menenangkan hatinya dia tidak boleh terpancing memarahi Yuna. Dia lebih tua 7 tahun dari Yuna dan harus mencoba mengalah. "Aku tidak marah, tapi kau harus menerima hukumannya."
"Paman, kau mau menghukum keponakanmu sendiri." Yuna berdecak.
"Iya."
Saat ini Yuna sedang menerima hukuman dari Jemin, yaitu mengelap mobilnya sampai bersih. Dibantu dengan kedua karyawan.
"Kasian sekali ponakanku ini." Jemin tersenyum sambil menempelkan air dingin di pipi Yuna. "Minumlah, kau pasti lelah."
Yuna meminum air hingga tersisa sedikit. "Paman, aku lupa mau bilang ini."
"Apa?"
"Jangan beritahukan ayah kalau aku sudah Menikah!"