kisah tentang sepasang suami-isteri dari latar belakang yang berbeda namun saling mencintai. Fitri adalah wanita mandiri yang berasal dari keluarga sederhana. Ia sangat mencintai cinta pertamanya, Rio. Seorang lelaki baik hati yang mau menerima semua tentang dirinya termasuk masalah mentalnya.
Bukannya merasa tenang, justru Fitri malah sering merasa bersalah dan ketakutan akan ditinggal. bagaimana sepasang suami-isteri ini menjalani kehidupan mereka?
Akankah Rio bisa berhasil menyembuhkan mental istrinya yang terluka?
(Update satu atau dua chapter dalam seminggu)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FUNtasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta FitRi 24
Beberapa hari berlalu…
Ela yang sedang menyiram bunga-bunga yang Fitri tanam, di hampiri olehnya. Fitri mengatakan pada Ela bahwa ia ingin berbelanja di sebuah toko grosir yang baru saja buka. Sebelumnya, Fitri sudah meminta izin pada suaminya dan dibolehkan. Asalkan tidak pergi sendirian.
“Sekarang aja, Ela. Kalau nanti, aku gak mau.” Kata Fitri dengan ekspresi memelas. Ela terpaksa menurutinya, padahal ia hanya ingin menyelesaikan tugasnya.
“Nanti ada tukang kebun. Sudahlah, tinggalkan saja.” Kata Fitri lagi yang seakan tau apa yang Ela pikirkan. Mereka lalu bersiap-siap untuk pergi. Fitri menggunakan dress kesukaannya dan sweater rajut yang ia rajut dengan tangannya sendiri.
Setelah siap dan yakin tak ada yang tertinggal, mereka keluar dari rumah. Fitri menyerah kunci rumahnya pada seorang pria bertubuh tinggi besar. Ia sudah diberitahu Rio bahwa pria itu adalah orang kepercayaannya.
“No, Ela. Aku ingin berjalan kaki. Bosan dengan duduk-duduk di mobil.” Kata Fitri ketika melihat Ela membukakan pintu mobil.
“Maaf ya, aku lupa mengatakannya.” Kata Fitri lagi. Ela tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. “Tak apa, Bu.” Sahutnya.
Anehnya, Ela tidak masuk kedalam untuk meletakkan kunci mobil. Ia malah mengantonginya. Namun, Fitri tidak mempermasalahkan hal itu. Yang penting, hari ini ia bisa jalan-jalan dan berbelanja dengan santai.
Sepanjang perjalanan, Fitri bercerita banyak hal pada Ela. Ia benar-benar berubah menjadi wanita cantik yang hidup bahagia bersama cinta pertamanya. Ela ikut senang, ia yang biasanya tidak banyak omong, sekarang malah senang bercerita. Mereka memang sering bertukar cerita. Ela sering memilah-milah hal apa yang ia ingin tanyakan. Mengingat masa lalu Fitri banyak suramnya.
“Wah! Lumayan jauh juga, ya.” Kata Ela ketika mereka baru memasuki toko grosir tersebut.
“Iya. Sebenarnya, ada lagi yang gak begitu jauh tapi, hari ini aku lagi pengen banyak jalan.” Sahut Fitri bersemangat.
“Kaki Bu Fitri gak sakit? Agak ngilu liatnya, bengkak gitu.” Tanya Ela sambil memperhatikan kaki Fitri yang membengkak karena kehamilannya.
“Sakit tapi gak begitu terasa. Mungkin karena hatiku sedang merasa senang.”
Mereka berkeliling mencari barang-barang yang akan dibeli. Fitri senang dengan toko-toko yang sederhana. Selain harganya ramah, ia juga suka suasananya yang tidak begitu ramai.
“Waaah! Akhirnya ketemu juga!” Mata Fitri berbinar-binar ketika melihat barang incarannya sudah di depan matanya, sekilo tepung roti. Ia ingin membelinya karena Rio merindukan udang goreng ala Jepang itu.
“Ela, aku dapat!” Kata Fitri memanggilnya. Namun, tidak ada jawaban. Ia celingukan mencari keberadaan ART nya. Saking seriusnya, ia sampai menginjak kaki seseorang.
“Aduh, Ya ampun!” Seru pria yang menjadi korbannya. Fitri terkejut mendengar suaranya. Ketika melihat kebawah, ia langsung menyingkirkan kakinya.
“Ma-maafkan saya. S-sa-saya tidak… sengaja.” Fitri merasa ketakutan, ia menundukkan kepalanya karena takut melihat wajah orang itu. Ia pikir, ia akan dibentak dan dimarahi karena kecerobohannya.
“Mba, saya gak papa. Maaf ya udah bikin mba nya takut.” Kata Pria itu dengan suara yang ia rendahkan. Pria itu tersenyum tipis namun, seketika senyumannya memudar saat matanya menangkap sesuatu yang tidak asing baginya.
Sebuah jepitan bunga mawar merah muda, dengan hiasan dua kupu-kupu, yang wanita itu pakai untuk menjepit rambut panjang nan bergelombang. Tangan pria itu bergerak menyentuh pipi Fitri kemudian turun ke dagunya. Lalu dengan gerakan perlahan, ia mengangkat wajah pucat Fitri.
“Ke-kenapa?” Tanya Fitri yang ketakutan. Pria itu terkejut melihat wajah Fitri. Setelah itu, ia melepasnya dengan perlahan. Ia lalu mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan selembar foto.
“Fania.” Kata pria itu. Fitri membeku, tubuhnya mendadak kaku. Beberapa saat kemudian secara tiba-tiba, seorang pria yang lebih tinggi dari pria itu datang.
“Bu Fitri sudah selesai belanjanya?” Tanyanya dengan suara lembut. Fitri menoleh ke arahnya kemudian mengangguk pelan.
“Tapi, aku belum bayar.” Ujarnya dengan suara lirih.
“Itu tugasnya Ela. Sekarang, ibu ikut saya. Kita pulang.” Katanya seraya mengambil keranjang belanjaan yang dibawa Fitri. Fitri memegang ujung pakaian pria itu lalu berjalan disampingnya. Sedangkan, pria yang diinjak kakinya tadi, memperhatikan gelagat Fitri yang sama seperti orang yang ia cari selama ini.
“Fania, kamu masih hidup.”
“Bu Fitri, apakah ada lagi sesuatu yang ingin anda beli?” tanya bodyguard itu. Fitri yang melamun, tidak menjawab. Ia masih shock dengan kejadian tadi.
“Aku tak mau kembali ke tempat itu lagi.” Gumamnya. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang mengalihkan pikirannya.
“Pie susu! Aku mau itu!” Ujarnya dengan mata yang berbinar-binar. Sayangnya, si bodyguard terlalu fokus pada jalanan, sehingga tidak sadar kalau Fitri berkata sesuatu.
“Yasudah. Mungkin bukan waktunya aku memakan pie. Nanti cek lemari deh, ada makanan apa aja.”
Makanan benar-benar mengalihkan pikirannya. Ia sudah tidak murung lagi. Sekarang otaknya sedang dipenuhi oleh makanan-makanan lezat yang akan ia lahap nanti.
“Lepaskan aku! Uh! Borgolnya kuat sekali.” Kata Ardi yang kini duduk di mobil Ela dan di kendarai juga oleh Ela. Pria itu berusaha untuk melepaskan borgol tangan dan kakinya.
“Hei! Aku hanya ingin bertemu dengan adikku! Kenapa kau–”
“Adikmu? Yang mana?” Ela memotong pembicaraannya sambil memberikan tatapan tajam.
“Yang dipanggil ‘Bu Fitri’ tadi! Ya, dia itu adikku yang selama ini ku cari.” Jelas Ardi. Ela tersenyum tipis, Kemudian ia membelokkan mobilnya secara tiba-tiba. Ardi yang tidak memakai seat belt, badannya terdorong ke depan.
“Aw! Hey! Apa yang kau lakukan?! Sengaja ya?!” kepalanya terbentur dashboard mobil dan itu membuat keningnya lecet.
Ela tidak memperdulikannya, ia serius menjalankan mobilnya ke suatu tempat.
“Kau mau membawaku kemana?! Jangan memperlakukanku seperti seorang penjahat.”
“Bocah, kau berani-beraninya bermain denganku.”
Deg!
Sebuah suara yang tidak asing tiba-tiba terdengar dari hp Ela. Ya, diam-diam Ela menelpon seseorang sejak awal Ardi duduk di mobilnya.
“Kau siapa?” Tanya Ardi penasaran. Orang itu tidak menjawab, ia malah tertawa seakan meremehkannya.
“Ardi, kalau kau dan keluargamu ingin hidup tenang, sebaiknya berhati-hati dalam berbuat. Jangan sekali-kali mengganggu Fitri.”
Tuuut!
Setelah mengatakan itu, orang yang dibalik telpon itu mematikan panggilan. Ardi menatap tajam wajah Ela yang serius mengendarai mobil.
“Kau… Kau pasti anak buahnya Satrio, kan?”
gunakan font italic sbg penanda bahasa asing/ daerah.
tanda baca itu satu saja sesuai dg fungsi dan kegunaannya. jangan dobel2.
menurutku kata itu kurang pas sih, coba buat dramatis.
dan tulisannya king size-nya.