Akademi Debocyle adalah akademi yang paling luas, bahkan luasnya hampir menyamai kota metropolitan. Akademi asrama yang sangat mewah bagaikan surga.
Tahun ini, berita-berita pembunuhan bertebaran dimana-mana. Korban-korban berjatuhan dan ketakutan di masyarakat pun menyebar dan membuat chaos di setiap sudut.
Dan di tahun ini, akademi Debocyle tempatnya anak berbakat kekuatan super disatukan, untuk pertama kalinya terjadi pembunuhan sadis.
Peringatan : Novel ini mengandung adegan kekerasan dan kebrutalan. Kebijakan pembaca diharapkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Garl4doR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Bertemu Pendiri Akademi
Di ruang aman cadangan, suasana mulai terasa lebih santai setelah misi penyelamatan Hans berhasil. Tim Fluttergeist akhirnya bisa bernapas lega sejenak. Hans duduk di kursi dengan kaki disandarkan di meja, terlihat menikmati momen bebasnya.
Charissa menyandarkan tubuhnya di dinding dengan ekspresi jail. “Jadi, Hans… bagaimana rasanya jadi tawanan siswa eksekutif? Menyenangkan?”
Hans mendengus, mengambil segelas air dari meja. “Oh, sangat menyenangkan. Aku bahkan dapat pelajaran baru, cara menghitung jumlah retakan di dinding selama tiga hari berturut-turut.”
Gale tertawa kecil. “Kalau kau sampai bisa hafal, mungkin kita harus menambah itu ke laporan investigasi. 'Jumlah retakan dinding sebagai indikasi stres tawanan.'”
Shally, yang duduk di sudut sambil mencatat sesuatu di buku kecilnya, tiba-tiba menyela, “Kalau ada serangan mendadak lagi, mungkin kita harus punya kode rahasia untuk kabur. Apa pun selain memanjat ventilasi seperti terakhir kali.”
Charissa menoleh dengan senyum lebar. “Kode rahasia, ya? Gimana kalau kita pakai nama makanan? Kayak… 'Kopi Hitam' untuk sinyal bahaya, dan 'Pancake' untuk semuanya aman?”
Vella, yang sedang memeriksa sonar energinya, menatap Charissa dengan mata menyipit. “Serius? Pancake?”
Charissa mengangkat bahu santai. “Kenapa tidak? Bayangkan, kita sedang di tengah kekacauan, dan tiba-tiba Alvaro teriak, 'PANCAKE!' Bukankah itu akan sedikit mengurangi ketegangan?”
Alvaro, yang sejak tadi diam sambil memperhatikan denah di tangannya, akhirnya tersenyum tipis. “Kalau aku teriak 'Pancake,' kemungkinan besar aku benar-benar butuh sarapan.”
Semua tertawa kecil, suasana mulai terasa lebih ringan. Latania, yang biasanya serius, tiba-tiba mengeluarkan tabletnya dari kantong kecilnya. “Oke, karena suasana sudah rileks, aku punya teka-teki buat kalian.”
Hans mengangkat alis. “Oh, ini baru. Latania, si jenius investigasi, mau main teka-teki?”
Latania tersenyum tipis. “Dengarkan baik-baik. Ada seorang pria yang tinggal di lantai 20 sebuah apartemen. Setiap pagi, dia naik lift ke lantai dasar untuk pergi kerja. Tapi saat pulang, dia hanya naik lift sampai lantai 10, lalu menggunakan tangga untuk mencapai lantai 20. Kenapa?”
Tim Fluttergeist saling bertukar pandang, mencoba mencari jawaban. Charissa, seperti biasa, langsung berspekulasi. “Mungkin dia… suka olahraga? Atau liftnya rusak?”
Shally menggeleng pelan. “Itu tidak masuk akal. Kalau liftnya rusak, kenapa dia bisa naik ke lantai 10?”
Vella menatap serius, mencoba memikirkan jawaban logis. “Mungkin dia takut lift.”
Gale tiba-tiba mengangkat tangan dengan ekspresi yakin. “Aku tahu jawabannya.”
Semua menatapnya dengan antusias. “Apa?”
Gale tersenyum kecil. “Dia pendek. Dia tidak bisa menjangkau tombol untuk lantai 20, jadi dia hanya bisa menekan tombol untuk lantai 10.”
Ruangan meledak dengan tawa. Charissa sampai memegangi perutnya. “Serius, itu… kocak! Aku tidak kepikiran sama sekali.”
Latania mengangguk puas. “Jawaban yang benar. Tidak buruk, Gale.”
Alvaro, meski ikut tertawa, kembali memandang denah dengan ekspresi serius. “Oke, cukup bersantai. Kita mungkin berhasil menyelamatkan Hans, tapi itu hanya langkah kecil. Perang ini belum berakhir, dan kita belum tahu seberapa dalam pengaruh Goliath di akademi ini.”
Ketukan pintu mendadak menghentikan percakapan di ruang aman. Semua terdiam, suasana tegang kembali merayap. Alvaro memberi isyarat agar yang lain diam, lalu perlahan berjalan mendekati pintu. Ia membuka sedikit pintu itu, cukup untuk melihat siapa yang datang.
Di luar berdiri Pak Bevan, guru kode etik yang dikenal tegas, bersama Bu Ruby, guru pembimbing yang terkenal ramah tetapi penuh misteri. Keduanya adalah guru tetap di Akademi Debocyle, sehingga kehadiran mereka terasa wajar meskipun situasinya aneh.
"Pak Bevan? Bu Ruby?" Alvaro mengerutkan alis. "Ada apa? Kenapa kalian di sini?"
Pak Bevan melipat tangannya di dada. "Kami di sini untuk mengawal kalian ke tempat yang aman. Ada sesuatu yang perlu kalian lihat."
Charissa menyipitkan mata, penuh curiga. "Maaf, Pak, tapi kenapa tiba-tiba kalian peduli pada kami? Kalian kan biasanya nggak pernah ikut campur soal konflik siswa."
Bu Ruby tersenyum tipis, meskipun ada keseriusan di balik matanya. "Situasi ini sudah melampaui batas konflik antar siswa. Kami tidak bisa tinggal diam lagi. Selain itu, bukankah tugas kami melindungi kalian, siswa-siswa kami?"
Hans, yang masih bersandar santai di kursi, menimpali, "Lalu kenapa bukan dari awal, Bu? Kenapa sekarang, ketika keadaan sudah seperti ini?"
Pak Bevan mendesah, nadanya terdengar lebih tegas. "Karena sampai sekarang, kami masih percaya pada kemampuan kalian untuk menyelesaikan masalah ini sendiri. Namun, setelah menyaksikan langsung kerusakan dan ancaman yang semakin besar, kami tidak punya pilihan selain bertindak."
Vella melirik Alvaro, jelas menunjukkan keraguannya. Namun, Alvaro memikirkan dengan cepat dan akhirnya mengangguk. "Baik, kami akan ikut. Tapi jika ini jebakan, kami tidak akan tinggal diam."
Bu Ruby tersenyum lega. "Kalian membuat keputusan yang bijak."
Mereka berjalan melalui lorong-lorong akademi yang terasa semakin sunyi. Langkah kaki mereka menggema, sementara Bu Ruby dan Pak Bevan memimpin di depan. Beberapa siswa melihat mereka dengan takjub meski sisanya melenguh karena ada guru yang membuat mereka tak bisa mengambil bounty mereka.
Charissa berbisik pelan kepada Gale, "Aku tahu mereka guru kita, tapi rasanya tetap aneh mereka muncul sekarang. Kenapa mereka nggak bantu dari awal?"
Gale mengangkat bahu. "Mungkin mereka punya protokol yang nggak kita tahu. Tapi aku setuju, ada yang aneh."
Pak Bevan tiba-tiba berhenti di depan sebuah pintu besar yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Tapi sepertinya ini adalah pintu dari menara besar yang ada di tengah akademi. Ia menoleh ke arah mereka. "Masuklah. Ada sesuatu yang harus kalian ketahui."
Ketika pintu terbuka, mereka mendapati sebuah ruangan besar dengan meja panjang di tengahnya. Di ujung meja, berdiri seorang pria tua berjubah hitam dengan lambang akademi di dadanya. Ia menatap mereka dengan tajam, membuat suasana kembali mencekam.
Bu Ruby melangkah maju. "Kenalkan, ini adalah Direktur Azkiel, salah satu pendiri Akademi Debocyle."
Meski mereka mengetahui nama-nama pendiri akademi, tapi belum pernah sekalipun mereka menemui sosok itu. Direktur Azkiel adalah salah satu nama dari tiga pendiri akademi yang bisa dipastikan bahwa belum ada siswa yang pernah menemuinya. Mungkin orang tua itu berumur ratusan tahun detik ini.
Mata Alvaro membulat. "Pendiri akademi? Kenapa dia ingin bertemu kami?"
Direktur Azkiel berbicara dengan suara yang berat namun penuh wibawa. "Karena kalian, siswa terbaik di akademi ini, harus tahu kebenaran yang selama ini tersembunyi."
semangattt/Determined//Determined/
misteri? keqnya masih org dalam kan. hmmm