Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura-pura Baik Saja
Sepulang dari kampus, Rafa langsung memacu sepeda motornya menuju SMA Gemilang untuk menemui Wafa. Setibanya di sana, rupanya Wafa sudah menunggu di depan gerbang bersama dua sahabatnya, Sean dan Malik.
"Udah siap nih?" tanya Rafa seraya menghentikan motornya di tepi jalan.
"Udah, Bang. Ayo berangkat," ajak Malik bersemangat.
Di sisi lain koridor sekolah, Lily dan Julian berjalan beriringan keluar dari area kelas. "Kamu habis ini langsung berangkat kerja?" tanya Lily menoleh.
"Iya," balas Julian singkat. Tiba-tiba pandangannya tertuju ke arah gerbang luar.
"Ly, itu bukannya Bang Rafa sama Wafa?"
Lily mengikuti arah tunjuk Julian. "Eh, iya. Mau ke mana mereka?" gumam Lily heran. Pandangannya lantas beralih pada mobil sedan hitam yang terparkir di area penjemputan sekolah.
"Papi udah jemput tuh," ujar Lily.
"Aku antar sampai mobil ya," kata Julian.
"Kak Lily!!" seru Ell riang seraya melambaikan tangan dari balik kaca mobil yang terbuka.
Lily membalas lambaian tangan adiknya. Ia lalu berbalik menghadap Julian dengan senyum cerah. "Aku duluan ya, Lian. Semangat kerjanya!"
"Iya," balas Julian lembut, lalu merentangkan tangannya untuk mengacak rambut Lily gemas. "Duluan ya, Om," sapa Julian sopan ke arah Jaya di dalam mobil.
Lily pun melangkah masuk ke dalam sedan. Di sepanjang perjalanan pulang, rasa penasaran masih mengusik benaknya.
"Tumben Papi bisa jemput?" tanya Lily meretakkan keheningan.
"Ya lagi nggak sibuk aja. Emang salah kalau Papi jemput anak sendiri?" jawab Jaya terkekeh.
"Enggak lah, Pih!" sahut Ell dari jok belakang.
Lily ikut tertawa kecil. "Oh iya, Pih. Tadi Lily lihat Wafa sama Bang Rafa di depan gerbang. Mereka mau ke mana sih?"
"Mau COD knalpot," jawab Jaya santai.
"Sama Sean dan Malik juga?" gumam Lily heran dalam hati.
Sementara itu, bukannya pergi COD knalpot, rombongan Rafa justru berhenti di pekarangan sebuah rumah sakit. Setibanya di sana, Wafa langsung dituntun masuk ke ruang pemeriksaan dokter spesialis, sementara Rafa, Sean, dan Malik menunggu di luar dengan raut cemas melingkupi wajah mereka.
Dua puluh menit berlalu dalam ketegangan sebelum akhirnya pintu ruang dokter terbuka. Pria berjas putih itu keluar disusul Wafa di belakangnya.
"Gimana kondisi adik saya, Dok?" tanya Rafa bergegas maju, suaranya bergetar.
Dokter menghela napas berat, menatap ketiga remaja di depannya dengan raut prihatin. "Kondisinya lebih buruk dari pemeriksaan terakhir. Sepertinya Wafa masih mengonsumsi makanan dan minuman yang dilarang."
Seketika itu juga, wajah Rafa, Sean, dan Malik memucat pasi.
"Diperkirakan... pasien hanya bisa bertahan sekitar satu bulan ke depan. Sekarang semuanya kembali ke pasien, apakah masih ada kemauan kuat untuk sembuh," lanjut dokter terdengar putus asa.
"Tapi masih ada pengobatan lain kan, Dok?!" desak Rafa dengan tubuh gemetar hebat.
"Harapan itu selalu ada. Tapi fasilitas pengobatan untuk tingkat ini belum tersedia di sini. Kalian bisa mencoba rujukan ke Singapura, peralatannya jauh lebih memadai. Namun, kemungkinan untuk sembuh total tetap hanya sekitar lima puluh persen."
Rafa mencengkeram erat tangan Wafa. Ada pendar harapan baru di matanya. "Kita ke Singapura, Waf. Kita berobat ke sana."
Wafa terkekeh pelan, menarik tangannya santai. "Sayang duit ah, Bang. Lagian peluangnya cuma lima puluh persen."
"Tapi nggak ada salahnya buat mencoba, Waf!" sela Sean dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.
"Bener kata Sean. Selagi masih ada jalan, kita usahakan, Waf!" pangkas Malik tegas.
"Pulang dari sini, Abang bakal langsung kasih tahu Papi," ujar Rafa penuh tekad.
"Jangan, Bang. Gue nggak mau mati dalam keadaan ngerepotin banyak orang," balas Wafa datar tanpa ekspresi, seolah sedang membicarakan hidup orang lain.
"Wafa, bisa ikut saya sebentar untuk mengambil resep obat?" potong dokter melerai perdebatan itu. Wafa mengangguk lalu mengekor masuk kembali.
Sepeninggalan Wafa, Rafa menatap kedua sahabat adiknya dengan raut memohon. "Dek... Abang titip Wafa kalau di sekolah ya. Tolong banget awasin makanannya."
"Iya, Bang. Selama ini kita udah berusaha awasin Wafa, tapi tetap aja dialah yang suka curi-curi kesempatan," ujar Sean tertunduk.
"Dia suka diem-diem beli kopi," tambah Malik penuh penyesalan.
Rafa meremas rambutnya frustrasi. "Anak itu emang keras kepala banget..."
Di rumah utama, rombongan Jaya, Lily, dan Ell telah tiba lebih dulu.
"Udah, sana kalian pada mandi dulu," perintah Jaya seraya menaruh kunci mobil.
"Siap, Pih!" balas Ell bersemangat berlari ke kamarnya.
"Pih, Kak Owen belum pulang ya?" tanya Lily melirik garasi yang sepi.
Jaya mengangguk. "Belum, tadi bilangnya masih ada kerja kelompok di kampus."
Pukul 17.30, Wafa dan Rafa akhirnya tiba di rumah. Owen rupanya sudah lebih dulu sampai dan sedang beristirahat di ruang tengah.
"Kita pulang..." ujar Wafa menyapa seisi rumah.
Jaya mendongak dari korannya. "Mana? Coba Papi lihat knalpotnya."
"Enggak cocok, Pih," balas Rafa lemas.
Pandangan Rafa tertuju pada Wafa yang hendak melangkah ke tangga. 'Gue harus bilang sama Papi sekarang,' batin Rafa menekan rasa takutnya.
"Pih, ada yang pengin Abang omongin," ujar Rafa memecah keheningan.
"Apa?" tanya Jaya menaikkan sebelah alisnya.
"Soal Wafa. Jadi sebenarnya—"
Sebelum kalimat itu selesai, Wafa dengan sigap cengkeram lengan Rafa. "Jangan didengerin, Pih!" seru Wafa seraya menarik paksa tubuh Rafa menuju lantai dua, masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.
Rafa menghempaskan tangan Wafa dengan amarah yang memuncak. "Kenapa sih, Waf?! Lo tuh sebenarnya pengin sembuh atau enggak?!" bentak Rafa kesal.
"Gue pengin banget! Gue pengin banget sembuh!" teriak Wafa, air mata yang ia tahan sejak di rumah sakit akhirnya pecah.
"Tapi Lo nggak tahu seberapa sakitnya dada gue tiap malam! Gue udah nggak kuat lagi buat bertahan, Bang!"
Rafa mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Makanya kita berobat, Waf! Lo pasti sembuh!"
"Cuma lima puluh persen, Bang! Gue capek nggak boleh makan ini lah, nggak boleh minum itu lah! Mending di sisa satu bulan terakhir hidup gue ini, gue bikin kenangan bahagia kayak hari-hari biasa!" balas Wafa terengah-engah.
"Nggak ada salahnya buat coba, Waf... Gue yakin Lo bisa..." Rafa memegang kedua pundak adiknya, matanya memerah menahan tangis.
Klek...
Pintu kamar yang ternyata tidak terkunci rapat itu terdorong pelan. Di ambang pintu, Lily berdiri mematung dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar hebat. Ia telah mendengar seluruh perdebatan itu dari luar.
"Satu bulan... apa, Waf?" tanya Lily, suaranya bergetar menahan ketakutan yang luar biasa.
Rafa tersentak kaget. Wajahnya pudar seketika. "Lily udah denger, Waf... Kita kasih tahu yang lain sekarang," bisik Rafa lemas.
"Jelasin sekarang, Wafa!!" bentak Lily, air mata seketika merebak deras membasahi pipinya.
Wafa membuang muka, mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Ini yang gue benci... lihat orang lain nangis gara-gara gue," gumamnya lirih dan kesal pada dirinya sendiri.
Ketidaktahuan itu membuat dadanya seolah dihantam beban berat. "NGOMONG! LO SAKIT APA, WAF?!" teriak Lily histeris seraya melangkah maju dan mencengkeram erat kerah seragam Wafa.
Wafa tetap bungkam, menunduk tak berani menatap mata kakaknya.
Lily beralih menatap Rafa. Ia menyapu air matanya kasar. "Wafa kenapa, Bang? Dia sakit apa?!" cecar Lily bertubi-tubi. Rafa mematung, lidahnya terasa kelu.
"JAWAB GUE, BANG!!" teriak Lily histeris.
"Wafa... sakit bronkitis kronis, Ly," jawab Rafa parau.
Detik itu juga, pertahanan tubuh Lily runtuh. Kedua lututnya lemas hingga tubuhnya tersungkur ambruk ke atas lantai kamar.
"Kenapa baru bilang... Kenapa kalian sembunyiin dari Lily... Kenapa?!" jerit Lily seraya memukul-mukul lantai kayu dengan jemarinya yang gemetar.
Rafa berlutut di samping adik perempuannya, langsung merengkuh dan memegang kedua tangan Lily yang bergetar. "Abang juga baru tahu kemarin, Ly... Abang minta maaf..." bisik Rafa seraya mendekap erat Lily yang menangis sejadi-jadinya.
"Tapi masih ada jalan buat sembuh, Ly. Kita harus bawa Wafa berobat ke Singapura," ujar Rafa, mencoba menyalakan pendar harapan di tengah sesak yang membendung.
Secercah harapan terpancar dari binar mata Lily yang memerah. Gadis itu menatap adiknya lekat-lekat, lalu menggenggam jemari Wafa erat-erat. "Masih ada jalan buat sembuh, Waf. Kita berobat ya? Please..."
Wafa mengalihkan pandangannya, menarik tangannya perlahan. "Gue nggak mau. Udah lah, biarin gue ngejalanin sisa hidup gue kayak hari-hari biasa."
"Dari awal gue sebenarnya udah curiga... Satu tahun belakangan ini badan Lo makin kurus, Waf. Ternyata hal sebesar ini yang Lo tutup-tutupi dari kita?" Lily kembali terisak, tak sanggup membendung rasa penyesalannya.
"Abang juga baru tahu hari ini, Ly. Ayo, kita kasih tahu Papi sama Bang Owen sekarang," pangkas Rafa seraya memegang lengan Lily untuk diajak keluar kamar.
"Gue bilang jangan ya jangan!" potong Wafa dengan nada meninggi. "Udah cukup gue lihat Lily nangis gara-gara gue. Makin sakit dada gue kalau harus lihat Papi sama Bang Owen ikut nangis juga. Gue mohon... biar gue sendiri yang cari waktu buat kasih tahu mereka."
"Secepatnya, Waf! Lo harus sembuh!" tegas Rafa.
Wafa terkekeh hampa. "Buat apa gue sembuh? Mending gue nyusul Mami aja ke surga."
"WAFA!" bentak Lily, napasnya memburu menahan amarah dan kepedihan yang meluap. "Lo udah lupa sama janji Lo waktu kecil dulu?! Lo bilang mau boncengin gue keliling kota kalau Lo udah bisa naik motor!"
"Itu mah gampang. Kalau mau jalan-jalan jauh sekarang, gue tinggal minta Papi buatin SIM," balas Wafa santai, mencoba mengabaikan getaran di dadanya.
"Lo... Lo juga janji bakal hadir di acara pernikahan gue nanti..." Suara Lily mendadak merendah, terdengar makin lirih dan parau.
Rafa seketika membalikkan badan, membelakangi kedua adiknya. Ia mengusap matanya yang basah, tak kuasa menahan air mata yang terus menetes. Ia tak ingin terlihat lemah di depan adik-adiknya.
"Ya udah, Lo nikah aja sekarang," celetuk Wafa asal.
"Lo harus sembuh, Waf..." bisik Lily dengan suara kian serak.
Wafa mendengkus kesal, menyembunyikan kerapuhan di balik wajah juteknya. "Udah lah, sana pada keluar! Malah pada nangis di kamar gue. Dikira kamar gue tempat audisi main film apa?"
"Sekarang juga Lily bakal bilang ke Papi," tegas Lily penuh tekad seraya berbalik hendak keluar kamar.
"Gue bilang jangan!" ancam Wafa tajam, menatap Lily dan Rafa bergantian. "Awas aja kalau kalian berani cepu... kalian mau lihat gue mati besok?!"
Mendengar ancaman nekat itu, Rafa dan Lily seketika bungkam. Mereka berdua terpaksa mengunci rapat mulut mereka, paham betul bahwa sejak kecil Wafa tidak pernah main-main dengan ancamannya. Laki-laki itu sangat nekat—bahkan saat masih SD dulu, ia pernah nekat kabur sendirian ke rumah Nenek di desa hanya karena bertengkar dengan Papi.
Malam harinya, seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk santap malam. Suasana yang biasanya riuh kini terasa sedikit canggung, terutama karena mata Lily yang membengkak merah tak bisa disembunyikan.
"Kamu kenapa, Dek? Habis menangis?" tanya Owen bermata jeli, menatap adiknya penuh selidik.
"Iya," jawab Lily singkat tanpa mendongak dari piringnya.
Jaya menghentikan suapannya, menatap putrinya penuh rasa cemas. "Kenapa, Sayang? Ada masalah?"
Rafa yang duduk di samping Wafa mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa bersalah mendesaknya untuk bersuara. "Soalnya—"
"Lily berantem sama Julian, Pih," potong Lily cepat, menyambar kalimat Rafa sebelum abangnya itu membocorkan rahasia Wafa. Lily benar-benar takut Wafa melakukan hal nekat. Padahal, hubungannya dengan Julian saat ini justru sedang baik-baik saja.
Owen mengernyitkan dahi. "Kenapa bertengkar lagi?"
"Ada... Lily lagi malas bahasnya," balas Lily menghindar, lalu kembali melanjutkan makannya dengan enggan.
Begitu makan malam usai, Wafa langsung bangkit dari kursinya tanpa mengucap sepatah kata pun. Langkah kakinya terdengar terburu-buru menaiki anak tangga menuju lantai atas.
Klek...
Suara kunci pintu kamarnya terdengar diputar dari dalam, mengunci dirinya rapat-rapat dalam kesendirian.
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat