Hope memutuskan untuk tinggal di rumah kakeknya di desa Bibury—Inggris Selatan, setelah ia dipecat dari pekerjaannya. Di sana, Hope bertemu dengan Blue Hawkins. Pria muda, kaya dan bertalenta yang memilih untuk mengurung diri di rumah almarhum kakeknya.
Pertemuan pertama mereka tidak berjalan dengan baik. Blue tidak suka diganggu oleh orang asing dan Hope berusaha masuk ke dalam hidup Blue.
Saat Blue Hawkins bertemu dengan Hope Miller, di situlah ia sadar bahwa beberapa rencana dalam hidup tidak akan berjalan sesuai rencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sin Cera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: Sakit
[Jangan sakit. Aku sangat khawatir. —Hope Miller]
Hope berulang kali menekan pintu rumah Blue, tapi pintu tak kunjung terbuka juga. Hingga akhirnya Hope berusaha menggedor pintu rumah Blue. Walaupun tetap tak mendapatkan respon dari Blue.
Beberapa waktu belakangan. Ia dan Blue sudah menjadi cukup akrab. Bahkan semalam mereka masih sempat makan malam dan mengobrol bersama. Sebenarnya tidak bisa dikatakan mengobrol karena hanya Hope yang terus berbicara dan Blue hanya mendengarkannya sambil menekuni makan malamnya.
Blue juga sudah tidak menolak makanan pemberiannya. Jadi, ia tak perlu lagi memberikan peralatan makan sekali pakai untuk Blue. Hope akan membawakan makanan dengan wadah dari rumah kakeknya lalu, Blue akan menukar piringnya untuk kemudian di kembalikan.
Hope sudah berulang kali mengatakan pada Blue untuk menggunakan saja peralatan makan kakeknya supaya tidak perlu berkerja dua kali. Namun, Blue selalu menolak keras, dan mengancam tidak akan lagi menerima makanan dari Hope dan kakeknya jika Hope terus memaksa dirinya.
Hope mulai merasa cemas. Ketika pintu rumah Blue tak kunjung terbuka. Apa Blue baik-baik saja? Insting Hope mengatakan bahwa ada yang tidak beres. Hope ingin menelepon nomor ponsel Blue, namun sayangnya ia tak pernah meminta nomor Blue.
Hope merutuki kebodohannya sendiri. Ia harusnya meminta nomor Blue sejak lama. Jadi ketika hal seperti ini terjadi, ia bisa memastikan bahwa Blue sedang baik-baik saja.
"Apa aku perlu mendobrak pintu rumahnya? Bagaimana jika hal buruk terjadi pada Blue?" batin Hope berkecamuk.
Dengan keyakinan penuh akhirnya Hope meletakkan nampan di lantai dan segera memasang kuda-kuda sebagai persiapan untuk mendobrak rumah Blue.
Namun sebelum kakinya sempat bergerak untuk menendang pintu rumah Blue, pintu rumah Blue lebih dulu terbuka. Menampakkan sosok Blue yang tampak pucat. Rambutnya acak-acakan.
Blue mengerutkan dahinya. "Hope—" tubuh Blue jatuh ke arah Hope sebelum Blue sempat menyelesaikan kalimatnya.
Untung saja Hope dengan sigap langsung menahan tubuh Blue, yang sekarang sudah bersandar di tubuhnya.
Hope yang cemas menepuk punggung Blue pelan. "Blue, apa kau baik-baik saja?"
Tak ada respon dari Blue. Hope pun akhirnya segera membawa Blue ke mobilnya, dan membawanya ke rumah sakit dengan tergesa-gesa.
Hope sangat cemas, apalagi saat ia merasakan panas yang tidak normal di dahi Blue. Ia sekarang sedang berdiri di samping ranjang Blue dan menunggu seorang dokter memeriksanya. Hope menggigiti jari tangannya. Semantara satu kakinya terus mengetuk-ngetuk pelan lantai, dan matanya yang tak bisa teralihkan dari Blue.
"Wali, Mr. Hawkins?" suara Dokter memecah lamunan Hope.
"Ya, Dok?"
"Bisa ikut ke ruangan saya?"
....
".... Kondisinya semakin rentan terkena virus. Jadi, alangkah baiknya untuk pasien menjalani pengobatan.... " Dokter menjelaskan panjang lebar terkait kondisi Blue.
Hope hanya mengangguk dan mendengarkan tanpa menyela. Kemudian, ketika dokter sudah selesai menjelaskan, ia segera pergi ke ruang perawatan Blue.
Blue masih terbaring lemah. Ia terkena flu karena daya tahan tubuhnya yang tidak baik, sehingga mudah terserang virus. Dahinya berkeringat, jadi Hope mengambil handuk kecil dan dan mengelapnya perlahan. Pergelangan tangannya tiba-tiba disentuh oleh tangan Blue.
"Pergilah," kata Blue lemah dan mata yang tidak terbuka sempurna.
"Tidak. Aku akan di sini menunggumu," tegas Hooe dengan tekat yang bulat.
"Jangan keras kepala—"
"Kau yang keras kepala!" sergah Hope sebelum Blue menyelesaikan kalimatnya. Hope dengan lembut melepaskan cekalan tangan Blue dari pergelangan tangannya. "Aku tidak akan menggangumu... istirahatlah."
Blue yang masih lemah tidak dapat mendebat Hope lebih jauh. Hope merapikan selimut di atas tubuh Blue. Sementara Blue kembali memejamkan matanya.
Saat Blue terbangun dan badannya sudah terasa lebih baik, Blue langsung disambut dengan Hope yang tidur dengan posisi duduk dan kepala di sandarkan di kasur perawatan Blue.
Blue ingin membangunkan Hope dan menyuruh gadis itu pulang saja. Pasti tidak nyaman tidur dengan posisi seperti itu. Tapi, Blue mengurungkan niatnya saat melihat napas teratur Hope. Ia menjadi tak tega untuk mengganggu tidur Hope.
Blue menggeser tubuhnya sedikit. Ia hendak turun dari tempat tidur dan pergi ke toilet. Ternyata pergerakan kecilnya membuat Hope terbangun.
"Mau ke mana?" tanya Hope yang masih terdengar serak. Ia menegakkan punggungnya dan menatap ke arah Blue yang sekarang sudah berdiri di samping kasurnya sambil memegang tiang infusnya.
"Toilet. Kau pulang saja. Ini sudah malam, dan terima kasih banyak untuk hari ini," kata Blue sebelum akhirnya ia hilang di balik pintu toilet yang terletak di dalam ruang perawatannya.
Blue mengernyitkan dahinya saat melihat Hope yang masih berada di ruangannya. Gadis tersebut masih duduk di samping tempat tidurnya. Sesekali ia menguap dan menutup mulutnya dengan satu tangan, karena satu tangannya yang lain sibuk dengan ponselnya.
"Kau tidak pulang? Ini sudah larut malam, kau harus pulang dan beristirahat." Blue mendudukkan dirinya di atas kasur dan menatap ke arah Hope dengan raut wajah serius. Sungguh ia tak ingin merepotkan Hope sama sekali.
Hope beranjak dari duduknya, dan tersenyum menenangkan. Ia menyentuh kedua bahu Blue dan menuntunnya untuk berbaring di atas kasur. "Aku akan berjaga semalaman di sini. Tak perlu khawatir, aku tak punya kegiatan apapun yang terganggu. Aku pengangguran, remember? Jadi, istirahat saja dan tak perlu menghawatirkanku."
"Aku bisa—"
"Aku akan keluar sebentar untuk membeli kopi. Kau kembalilah beristirahat lagi. Kau tampak belum pulih sepenuhnya." Hope menyentuh dahi Blue dengan punggung tangannya dan membandingkan suhunya dengan dahinya sendiri. "Dahimu juga masih terasa hangat."
"Hope, dengarkan aku...."
"Ya, aku mendengarkan."
"Pulanglah, banyak perawat disini dan aku bisa mengurus diriku sendiri."
Hope mengeryitkan dahi dan menampilkan ekspresi tak suka terhadap kalimat yang dilontarkan oleh Blue. Ia berkacak pinggang dan berkata, "aku punya hak atas diriku sendiri dan bebas melakukan apa yang aku mau. Aku akan menjagamu di sini dan aku tidak menerima penolakkan," tegas Hope.
Tiba-tiba Hope seperti teringat akan sesuatu. "Oh, ya. Perlukah aku menghubungi kedua orang tuamu? Aku tadi hendak menghubungi mereka tapi nomormu saja aku tidak punya—"
"Tidak perlu," jawab Blue singkat.
Hope menghela napas pelan, dan tersenyum simpul untuk menenangkan. "Baiklah aku mengerti... istirahatlah, aku akan kembali lagi nanti," kata Hope sebelum menutup pintu ruang perawatan Blue.
Sementara Blue hanya mendesah bingung. Ia merasa senang karena Hope menjaganya dan peduli padanya. Namun, sisi lain dirinya berkata ini tidak benar. Ia tak ingin merepotkan orang lain serta ia bisa mengurus dirinya sendiri. Tapi, diperhatikan rasanya menenangkan dan menyenangkan. Hal yang sudah lama tidak ia dapatkan semenjak kakeknya tiada.
Blue memejamkan matanya perlahan. Ia ingin berhenti berpikir. Tubuhnya sudah kacau. Ia tidak ingin pikirannya ikut kacau sekarang. Ia lelah dengan segala kekacauan yang ada, jadi ia memutuskan untuk tidur kembali. Beistirahat, dan melupakan segala sesuatu yang mengusik pikirannya hari ini.
buat author nya, terimakasih untuk karya cantiknya
huwaaa hu-hu-hu 😭😭😭😭😭🤧😤
😭😭😭😭😭😭😭🤧🤧🤧🤧🤧
masa' iya datang ke pernikahan mantan cuman ajak teman atau ngaku bw tetangga, hi-hi-hi. nggak lucu atuh Hope, ketahuan jomblo nya, wkwkwk 😂🤣🤣🤣
💕💕💕
can't we wish them together with love
semangat ya ka💪💪👍
baperrr kok marah-marah neng....
🤪🤪🤪
auto ngakuin perasaannya sama Blue ☺️🙈🙈🙈
Blue : "tentu Hope... jika aku masih punya waktu dan harapan, tentu aku akan menangkap hatimu." 💕💕💕🥰
i hope so
Will punya kekasih baru dan sekarang pasti memutuskan hubungan dengan Hope
jangan-jangan dia sudah punya pacar yang lain