Kisah ini menceritakan tentang seorang cowok Cool yang jatuh cinta pada cewek Friendly,dan bagaimana akhirnya simak terus kelanjutan cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juvita Legia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26 (Sadar)
"Duh, kayaknya gw salah manggil lu ke sini dek, gw juga yang jadi korban kebucinan kalian di sini" ucap Tama.
"Bodo amat, salah sendiri nyuruh cewek gw ke sini, ya itu derita lu jadi jomblo" ucap Faiz.
"Iya tapi ya- ucapan Tama terpotong oleh Faiz.
"Bisa diem gak lu, ini cewek gw udah tidur, awas aja sampe dia bangun" ucap Faiz sambil melirik ganas Tama.
"Yayayaya, dasar bucin akut" ucap Tama.
"Gw doain lu besok lebih bucin daripada gw" ucap Faiz lalu ikut memejamkan mata.
Karena Tama sangat bosan di sini, ia memilih untuk masuk ke dalam ruangan perempuan itu. Tama duduk di sofa yang ada di sana sambil melihat perempuan itu.
"Cantik juga ternyata perempuan itu" ucap Tama tanpa sadar.
"Eh bentar, gw barusan ngomong apa an sih, enggak enggak" ucap Tama.
Tama berjalan ke sana ke mari sambil entah memikirkan apa, ia lalu kembali keluar dari ruangan itu menghampiri Faiz.
"Bro, lu ajak adek gw pulang aja, gw kasian liat dia tidur di sini, banyak nyamuk juga di sini" ucap Tama.
"Dari tadi kek, harusnya lu gausah nyuruh dia ke sini" ucap Faiz lalu menggendong Syafa yang masih tertidur.
Tama menatap mereka berdua dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan.
"Apa gw kalau punya cewek kayak Faiz juga? Ah entahlah kok mikir ke sana sih" ucap Tama lalu kembali masuk ke dalam ruangan.
Saat infus sudah hampir habis, Tama memencet tombol yang ada di sana. Tak lama suster pun datang membawa infus pengganti.
"Sus, kira kira pasien kapan siuman nya?" tanya Tama.
"Kemungkinan sebentar lagi, kalau tidak besok sudah siuman" ucap Suster.
"Baik, terima kasih Sus" ucap Tama. "Sebenarnya pasien sakit apa sus?" tanyanya lagi sebelum suster keluar dari ruangan itu.
"Pasien memiliki sakit asam lambung, kemungkinan pasien telat makan jadi karena tidak kuat menahan akhirnya pasien pingsan" ucap Suster.
"Baik terima kasih lagi sus" ucap Tama. Suster lalu pamit dari ruangan itu dan meninggalkan ruangan tersebut.
"Ada ada saja, nanti aja deh kalau udah siuman gw tanyain kenapa dan bagaimana bisa sampai ke sini" ucap Tama.
Tama lalu duduk kembali di sofa membaringkan tubuhnya yang sangat lelah, letih, lesu. Tak lama ia pun terlelap ke alam mimpi bawah sadar.
Setelah Tama tidur, ternyata perempuan itu perlahan membuka matanya, di lihatnya di kanan dan kiri ternyata ia berada di rumah sakit.
"Bagaimana aku bisa sampai di sini?" tanyanya sendiri lalu melihat ke arah Tama yang sedang tertidur di sofa di ruangan itu.
"Ternyata dia baik juga, padahal baru saja kenal, aku harus membalas jasanya sebisa ku, karena di luar sana banyak orang jahat tapi masih ada juga ternyata orang yang baik walaupun baru saja kenal" ucap nya.
Karena di rasa kepalanya masih sedikit pusing, akhirnya ia kembali menutup matanya untuk menghilangkan rasa pusing nya itu.
Di dalam mimpi
Saat terlelap di alam mimpi, tiba tiba ia masuk ke dalam sebuah rumah yang ternyata di sana ia melihat ada dirinya yang sedang di paksa untuk menikah dengan juragan tomat karena memiliki hutang.
"Bu, Aqila gak mau menikah dengan pak Harto bu" ucap dirinya yang sedang menangis.
"Mau bagaimana mana lagi nak, ayahmu sudah tidak punya pilihan lain, ibu pun sudah tidak memiliki apa apa untuk membayar hutang hutang itu" ucap ibu yang menghapus air matanya.
Lalu ayahnya pun datang menghampiri ibu dan dirinya di kamar.
"Cepatlah kalian keluar, jangan membuat pak Harto menunggu kelamaan" ucap ayahku.
"Yah, Aqila gak mau yah" ucapnya sambil terus menangis.
"Memangnya kamu punya uang untuk membayar semua hutang hutangnya?" tanya ayahku.
"Aqila gak punya yah, tapi Aqila akan usaha ke kota untuk membayar nya" ucapannya.
"Alah jangan banyak ngomong kamu, kamu turutin saja permintaan pak Harto, lagian nanti hidup kamu juga akan enak" ucap ayah.
"Pak Harto sudah memiliki 3 istri yah, dan istri ketiga baru bulan lalu menikah" ucap Aqila.
"Alah kamu ini kebanyakan mikir, ayo ikut ayah" ucap ayahku menarik tangan ku untuk keluar kamar.
Lalu aku di sandingkan dengan pak Harto yang di mana pak Harto selalu menatap ku.
"Cantik sekali calon istri ku" ucapnya sambil menoel daguku. Aku pun menepis tangannya.
Sebelum ijab di ucapkan ternyata temanku dari arah belakang mengkode ku untuk mendorong pak Harto lalu aku pun berlari keluar.
"Tangkap dia" teriak pak Harto.
Aku berlari menjauh dari rumah, hingga saat sudah jauh akhirnya temen ku menunggu aku di sebuah perempatan, lalu aku menghampiri nya dan menaiki sepeda motornya.
Kami berdua sudah merencanakan ini sebelumnya, aku juga sudah membuat surat untuk ibu dan ayah.
"Ayooo Kam lebih cepat" ucapku yang melihat beberapa anak buah pak Harto juga mengejar tapi jaraknya masih sedikit jauh.
Sampailah kami pada perbatasan antara desa ku juga kota, kebetulan ada truk yang lewat, akhirnya aku pun menghentikan truk itu untuk menumpang ke kota.
"Kamila terima kasih banyak ya, suatu saat aku akan membalas semua kebaikanmu itu, kamu hati hati" ucap Aqila.
"Jaga diri baik baik, jangan lupa kabarin aku, nomor ponsel ku masih sama, aku juga bakal jaga diri di sini" ucap Kamila.
Untung saja Kamila meminjam sepeda motor teman desa sebelah, dan juga ia menggunakan masker supaya tidak ada yang tau.
Setelah itu Aqila pamit lalu menaiki truk, tak lupa ia melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan mereka.
Kamila adalah sahabat baik Aqila dari semasa mereka kecil, rumah keduanya juga tak begitu jauh.
Sampailah Aqila di kota, di sana Aqila turun lalu tak lupa mengucapkan terima kasih kepada sopir truk itu.
Aqila berjalan menuju arah yang tak tau ia mau ke mana, sampailah di mana.
Ciiittttttt
Lalu ia terduduk karena syok tiba tiba ada mobil yang sedikit laju menuju ke arahnya, lalu orang itu pun keluar dari mobil.
Di sisi lain
Saat tengah tertidur tiba tiba Tama mendengar perempuan itu berteriak, lalu ia menghampirinya dan membangunkannya.
"Heyyy heyyy bangun" ucap Tama yang masih berusaha membangunkannya, tak lama perempuan itu pun bangun.
"Syukurlah kalau kamu sudah siuman" ucap Tama.
"Aku di mana dan kenapa?" tanyanya.
"Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan dan kamu berteriak, maka dari itu saya membangunkanmu, karena saya takut jika mungkin ada terjadi sesuatu" ucap Tama.
"Baiklah, tak ada apa apa, hanya mimpi biasa" ucapnya sambil menatap Tama.