Lahir seorang anak laki laki di daerah khusus prostitusi. Ini bukan hal lumrah terjadi di daerah ini. Bagaimana dia akan hidup baik jika melibat hal ini sedari kecil.
Tapi nyatanya Sundari kekeuh untuk melahirkan, merawat dan membesarkan anaknya di rumah khusus wanita malam ini.
Sedari kecil Rian sudah melihat hal yang seharusnya tidak di lihat oleh anak kecil.
Walaupun ia terlihat baik baik saja dan tumbuh menjadi anak yang tampan dan sopan, tapi nyatanya ia menyimpan rahasia yang kelam.
Ia begitu membenci sosok Ibunya. Wanita yang sudah berumur tapi masih bekerja kotor seperti ini.
Ia menganggap dengan membunuh mereka berkurang satu wanita kotor di dunia ini.
Apakah pembunuhan itu akan terus berjalan lancar? Atau apakah akhirnya Rian bisa berdamai dengan hidupnya dan berhenti membunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maya ps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iptu Djarot di buat kecewa karena Rian menggagalkan aksi pembunuhannya malam ini
Bahkan pada saat briefing dengan anggotanya Ia mengungkapkan rasa kecewanya itu.
" Seharusnya operasi semalam ini bisa berjalan dengan lancar, coba kalian ingat-ingat apa ada hal yang kita lakukan sehingga membuat Ryan curiga?"
Semua anggotanya hanya diam mendengar ucapan Iptu Djarot.
Ia berpikir keras bagaimana operasi malam ini bisa gagal, padahal Ia dan anggotanya sudah merencanakan sebaik mungkin.
Ia coba mengingat-ingat, hal apa dari operasi semalam yang membuat Rian curiga.
Tapi ia tidak menemukan jawabannya. Untuk sekarang hal yang bisa Iptu Djarot lakukan adalah tetap mengintai Rian, dan menunggu aksi Rian selanjutnya.
Di lain tempat, Rian sedang terduduk di atas kasurnya memikirkan mengapa polisi sampai curiga bahwa Ia adalah pembunuh berantai yang mereka cari.
Padahal Rian sudah melakukannya dengan sangat hati-hati dan tidak meninggalkan jejak apapun.
Selain itu Rian juga berpikir bagaimana caranya untuk polisi tidak mencurigainya lagi.
Setelah tahu bahwa polisi mengintainya, Rian menjadi hati-hati dalam bergerak. Kegiatan sehari-harinya hanya bersekolah dan langsung pulang ke rumahnya kembali.
Pihak kepolisian sudah memasang penyadap di rumah Rian yang mereka taruh pada saat Rian dan ibunya tidak sedang di rumah.
Tapi dua minggu sudah alat penyadap itu dipasang dan polisi belum menemukan bukti apapun.
Iptu Djarot tidak kehabisan akal, Ia berpikir mungkin ibunya Rian tahu sesuatu tentang anaknya.
Pada saat Ibunya sedang bekerja, Iptu Djarot sengaja mendatanginya secara personal dan tidak menggunakan seragam
" Ri ada yang mencari mu" Mami Meli, mucikari di tempatnya bekerja sekarang memanggilnya.
" Iya Mam " Jawab Sundari.
Sundari melihat sosok laki-laki asing bertumbuh tegap dan berkumis tebal.
" Iya Abang sini sama Ndari Bang "
Sundari langsung merangkul tangan Iptu Jarot dan membawanya ke gubuk paling pojok.
Setelah sampai di gubuk tanpa berbahasa-basi Iptu Djarot langsung menanyakan tentang anaknya, Rian.
" Sebelumnya Apa benar kamu adalah ibu dari saudara Rian? "
Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba diucapkan oleh tamunya, membuat senyum Sundari memudar.
" Rian siapa? " Ujar Sundari takut takut.
Iptu Djarot membetulkan posisi duduknya.
" saya adalah Iptu Djarot yang bertanggung jawab dalam penyelidikan pembunuh berantai yang menewaskan beberapa wanita malam"
Iptu Djarot bisa melihat perubahan mimik Sundari yang menjadi ketakutan.
Melihat itu semua, Ia merasa menemukan jalan keluar untuk penyelidikannya.
" Saya minta kerjasamanya, dan jawab semua pertanyaan yang saya tanyakan dengan jujur "
Sundari tidak tahu harus bagaimana menghadapi ini. Ia tidak menyangka bahwa pihak kepolisian sudah mengetahui bahwa Rian adalah pelaku pembunuhan berantai yang di cari cari polisi selama ini.
" Sebelumnya Apakah kamu sudah mengetahui bahwa anakmu adalah seorang pembunuh berantai?"
Sundari hanya bisa memainkan jari jari tangannya karena merasa sangat gelisah. Baru kali ini ia berurusan dengan pihak Kepolisian.
Keringat membasahi sekujur tubuhnya, bahkan ia bisa merasakan tangannya basah karena keringat.
Iptu Djarot yang melihat reaksi Sundari sudah bisa menebak bahwa Sundari tahu tentang tindakan anaknya selama ini.
Ia terus menekan Sundari yang tidak juga menjawab pertanyaannya.
" Jika Saudari tidak bisa menjawab pertanyaan saya, maka Saudari bisa dimasukkan ke dalam penjara karena menutupi tindak kejahatan" Ujar Iptu Djarot sambil menatap mata Sundari dengan tajam.
Sundari dihadapkan oleh pilihan yang sangat sulit. Dia mencoba berpikir apa jalan yang terbaik untuk semua masalah ini.
Setelah beberapa saat berpikir, dengan berat hati akhirnya Sundari membuka suaranya.