Indonesia
NovelToon NovelToon
(Live) At Angsana 10

(Live) At Angsana 10

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Dunia Lain / Spiritual / Rumahhantu / Thriller / Iblis / Horor
Popularitas:20.5k
Nilai: 5
Nama Author: Darryamastory

Sekelompok anak muda penggila konten berniat menjadikan rumah Angsana No. 10 sebagai bahan konten horor mereka kali ini. Di dasarkan rumor angker masa lalu, mereka ingin mengungkap pada dunia kebenaran cerita itu. Ada misteri apakah di rumah nomor 10 jalan Angsana itu? yuk kepoin....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darryamastory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chef (3)

“Mommy!!”

“Mommm!!!”

“Momm!!”

Delia tersentak manakala Zhinta menarik keras gaunnya.

“Ya sayang, ke-kenapa?” Delia tergagap menoleh pada sang puteri yang sudah menggenang air di pelupuk matanya.

“Mommy tidak jawab waktu aku manggil.” Suaranya sudah serak pertanda isak perlahan mewarnai.

“Oh my, i am so sorry my darl, mommy tadi terlalu fokus melihat ke sana.” Delia berjongkok di hadapan Zhinta, membelai wajah basah puterinya dan mengecupnya lembut.

“Ayo kita ke atas, mom. Aku tidak suka lihat ke sana.” Zhinta menunduk dengan jemari menunjuk ke arah di mana tadi Delia melihat sosok perempuan di sana.

“Hah?! A-ayo.” Delia menuruti permintaan Zhinta, toh dia pun sebenarnya sudah tak nyaman berada di sana.

“Delia!!!”

Suara itu mengikuti langkah kakinya, 3 kali bahkan iringan suara itu terdengar. Semakin membuat Delia mempercepat langkahnya menaiki undakan tangga dengan menggendong Zhinta dalam pelukannya.

“Delia!!!”

Brak!!!

Ceklek!

Pintu ditutup keras dan suara kunci mengakhiri prosesi Delia meninggalkan ruangan bawah tanah tadi.

Jantungnya berdegub sangat kencang, wajah berpeluh dan jemarinya sedikit gemetar.

“Mom, kenapa?” tanya Zhinta melihat ekspresi ibunya seperti orang linglung.

“Eh, ah tidak apa-apa. Ayo kita ke depan saja ya.” Delia mengalihkan perhatian puterinya ke sudut lain, agar mereka melupakan atas apa yang sudah tak sengaja dilihat tadi.

‘Semoga hanya halusinasi saja.’ Batin Delia penuh harap

Ia tidak penakut, hanya saja entah kenapa melihat sosok itu mendadak ada dorongan liar dalam dirinya untuk melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak bisa membenarkannya.

Malamnya...

Delia tampak gelisah di saat semua mata di rumah ini sudah terpejam.

Jam sudah menunjukkan pukul 23.58 malam, Tapi tak sedikitpun pelupuk matanya tertarik untuk menutup. Bahkan Reigan sudah memeluknya sejak ia mengutarakan kegelisahan. Tapi tetap saja, pria itu sudah hilang dalam mimpinya.

Krtak

Krtak

Krtak

Perhatian Delia teralihkan pada suara berisik dari arah di mana jendela berada. Kepalanya di putar sedikit, matanya berkerut ketika melihat lambaian gorden dari sana.

Desir angin membuat jendela yang terbuka menciptakan suara berisik.

“Perasaan tadi sudah di kunci deh.” Monolognya.

“Reigan, Reigan.” Ia mengguncang pelan tubuh Reigan, tapi tidak ada respon sama sekali.

Tumben

Tiga kali ia mencoba membangunkan Reigan dan nihil, membuatnya terpaksa melepas rengkuhan pria itu agar ia bisa bangun dan menutup jendela kamar.

Ceklek!

Ia mengunci jendela yang terbuka tadi, dan menutup gorden yang sedikit tersingkap. Di saat tubuhnya sudah berbalik dan dua langkah meninggalkan tempat itu.

Brak!

Ia terjengkit dan menoleh ke belakang.

Delia tertegun melihat di mana kini giliran pintu yang terbuka, alisnya bertaut saking heran dengan situasi ini.

Tapi tak ingin menggubris banyak, ia memutuskan mengunci pintu itu. Akan tetapi, saat tangannya meraih handel pintu, angin kencang menghantam tubuhnya hingga ia tak sadarkan diri saat itu juga.

“Arghhh!!!!” ia menjerit keras

“Delia!!!” satu suara menyambut jeritan Delia

Yang dipanggil pun sejenak diam dan menoleh ke asal suara.

“Siapa kau!!!” Sentak Delia, ia panik karena ia tidak tahu di mana berada, hanya temaram dan bau lembab serta amis yang menusuk indra penciumannya.

“Kau tidak perlu tahu siapa aku.” Sahut si wanita misterius itu, seringainya membuat sekujur sendi Delia bak berubah menjadi jelly, belum lagi tawa mengerikan dari wanita itu tak urung menjadikan Delia seakan paham dengan siapa dirinya berhadapan.

“Karena mulai saat ini, kau dan aku akan menyatu. Hahahahahaha.” Delia membeliak lebar mendengar pernyataan wanita itu.

Sontak tubuhnya mundur tapi nihil, seketika ia tidak merasakan sedikitpun tubuhnya bisa bergerak.

Ia membatu di tempat, walau sekuat tenaga ia mengusahakannya.

“Delia!!” panggilan itu semakin menjadikan Delia lemas dan linglung.

Otaknya seolah menjadi dungu setiap wanita itu memanggil namanya.

Pelan, tawa itu menghilang seiring matanya menutup rapat dan tubuhnya merangsek menyentuh bumi.

“Hai sayang.” Reigan merangsek menaruh dua tangannya di sisi pinggang Delia, menghirup aroma tubuh sang istri yang tengah sibuk menggoreng sosis.

“Sayang?” karena tak mendapat jawaban atau respon sama sekali dari Delia, Reigan sedikit heran, karena biasanya Delia akan memberi tanggapan dengan suara keluhan ketika diganggu.

Tapi kini hanya diam.

“Hei, Del....”

Suara Reigan mengambang di udara saat Delia menepis pelukan lalu beralih ke sudut lain, tidak menggubris suaminya.

“Delia?!” Reigan tertegun mendapati sikap istrinya. Ia tak patah arang, mungkin Delia tengah merajuk atas kesalahan yang ia tak sadari.

“Sayang, maafkan aku jika aku melakukan kesalahan.” Kembali Reigan merengkuh pinggang Delia, ia juga mendaratkan kecupan di tengkuk wanita itu dengan lembut.

Tapi sikap dingin Delia menjadi jawaban, “Lepas, jangan sentuh aku.” Balas Delia menggeser tubuhnya.

“Baiklah, tapi jangan terlalu lama mendiamkan aku, oke? Aku tak tahan merindu suaramu, sayang.” Ucap Reigan hendak meraih tangan Delia tapi keburu wanita itu menariknya lebih dulu.

Reigan sabar, tak semudah itu ia terpancing emosi atau tersinggung dengan perlakuan Delia yang tak memberi tahu alasan sikap diamnya itu.

“Daddy!!” Zein dan Zhinta yang selesai mandi dan merapikan diri bergegas menuju ruang makan.

“Mommy yang buat sarapan?” tanya Zhinta sumringah dan diangguki oleh Reigan.

“Ayo kita duduk manis dan menunggu mommy membawakan makanan untuk kita.” Ucap Reigan mendudukan putera dan puterinya di kursi.

Mereka memperhatikan setiap gerak Delia di dapur sana. Tidak ada sedikitpun candaan atau sapaan dan dendang lagu yang biasa keluar dari bibir Delia setiap dirinya berada di sana.

Pagi ini terasa sepi.

“Mommy kenapa?” tanya Zhinta sesaat setelah Delia selesai menata sarapan mereka.

Srettt

Suara decitan kursi seolah menjadi jawaban pertanyaan Zhinta. Ya, Delia bungkam dan memilih mereguk segelas air putih ketimbang merespon Zhinta.

“Daddy.” Tak mendapat respon sang ibu, Zhinta beralih pada sang ayah dan meminta penjelasan atas sikap ibunya.

Reigan menggelengkan kepalanya, “Kita makan dulu ya sayang.” Jawab Reigan mengalihkan pembicaraan puterinya.

“Kalau mommy yang masak, tidak seramai daddy, hanya nasi goreng dan segelas susu saja.” Kekeh Zein dan dibalas kikikan Zhinta.

Sebenarnya hal itu sepeleh,.. ya sepeleh, sekedar celotehan bocah.

Tapi, bagi Delia..

Brak!!!!!

Menggunakan dua telapak tangannya, wanita itu menggebrak meja makan hingga tiga orang yang tengah menyantap sarapan terjengkit saking kagetnya.

Bahkan Zhinta tergagap melihat wajah Delia yang menajam menatapnya, “Mo-mommy.” Bocah itu tergugu melihat ekspresi ibunya.

“Delia, apa-apaan kamu.” Tegur Reigan, wajahnya terlihat tidak suka akan sikap Delia barusan.

Tapi, kembali, “Tutup mulutmu, kau dengar sendiri apa yang diucapkan dua anak itu barusan, kan?” balas Delia menyentak.

Ia berdiri, dan mengambil sarapan dua anaknya tanpa perlu bertanya dulu, bergegas menuju dapur dan membanting piring-piring itu di tempat pencucian.

“Daddy...” Zhinta terisak dan Zein mendekati kembarannya, membawanya ke kamar atas perintah Reigan melalui tatapan mata.

Greb!

“Kamu kenapa? Kamu kesal sama aku? Atau sama siapa?!” Reigan menyusul Delia menuju dapur.

“Delia, jawab pertanyaanku!!” sergah Reigan mulai tak sabar, tapi Delia tampak enggan menjawab. Ia beralih menuju makan dan mengambil piring-piring yang masih ada di atasnya.

“Delia!!” pekik Reigan marah.

Prang!!!!

Delia membanting semua piring yang di bawanya, hingga sorot mata Reigan membulat tak percaya, terlebih wanita itu memilih pergi menaiki anak tangga ketimbang menyelesaikan masalahnya.

Brak!!!!

Bantingan pintu yang keras merangsek ke telinga Reigan. Ia tak mempercayai sikap sang istri yang mendadak berubah. Ia yakin ada yang membuat Delia tak nyaman pagi ini, tapi ia sendiri tak tahu karena wanita itu tidak bercerita sama sekali.

Sementara di dalam kamar.

“Delia!!!”

Suara wanita itu memenuhi gendang telinga Delia, wanita itu menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir suara itu. Tapi, “Arghhhhh!!!!” jeritnya, lalu pingsan....

“Bunuh mereka, Delia, bunuh, lakukan seperti apa yang Reigan kerap lakukan di dapur.” Titah itu berkumpul di pusat otak Delia, dalam kondisi tak sadar, Delia mengangguk menatap sosok yang berdiri di sudut ruangan gelap itu.

1
Sindur
lanjut thor, dukung
Sari
jnģ serem thor, tkut
🐇V_10🐇: kalo gk serem bkn horor dong zeyeng
total 1 replies
Sinti Artika Sari
hadir😙😙😙, sok baca mlm, bsok2 sianglh
famousST31
mampir☝️☝️☝️
famousST31: sm2 thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!