Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Malam sudah cukup larut ketika mobil Kaizar akhirnya memasuki halaman kediaman keluarga Abraham.
Amira duduk bersandar di kursi belakang. Sejak meninggalkan rumah sakit, tubuhnya terasa lebih ringan sekaligus lemas. Donor darah yang baru saja dilakukannya membuat wajahnya sedikit pucat. Beberapa kali ia memejamkan mata, berusaha mengusir rasa pening yang datang dan pergi.
Kaizar memperhatikannya dari samping.
Sejak mereka meninggalkan rumah sakit, pria itu tidak banyak bicara. Bukan karena tidak peduli, justru sebaliknya. Tatapannya beberapa kali jatuh kepada wajah Amira, memastikan istrinya masih baik-baik saja.
Begitu mobil berhenti, pengawal membuka pintu. Amira mencoba turun sendiri.
"Aku bisa."
Kaizar sudah lebih dulu menggerakkan kursi rodanya mendekat.
"Aku tahu."
Amira tersenyum kecil. "Lalu kenapa kamu mendekat?"
"Karena kau baru saja kehilangan cukup banyak darah."
"Memangnya donor darah membuatku jadi tidak bisa berjalan?"
"Bukan begitu."
Kaizar menatapnya datar. "Aku hanya tidak ingin kau memaksakan diri."
Amira akhirnya menurut. Ia berjalan pelan di samping kursi roda Kaizar menuju pintu rumah. Sesampainya di dalam, salah seorang pelayan segera menghampiri.
"Nyonya, apakah ingin makan malam?"
Amira hendak menjawab, tetapi Kaizar lebih dulu berkata, "Siapkan makanan ringan saja. Jangan terlalu banyak."
Pelayan mengangguk. "Baik, Tuan."
Amira menoleh kepada Kaizar. "Kamu hafal aku belum makan?"
"Kau pikir aku tidak memperhatikan?"
Amira tersenyum. "Ternyata Tuan Dingin perhatian juga."
"Jangan mulai."
"Aku cuma bilang fakta."
Kaizar mengabaikannya. Namun sudut bibirnya bergerak sangat tipis. Mereka kemudian masuk ke kamar. Setelah berganti pakaian, Amira duduk di tepi tempat tidur. Tubuhnya terasa semakin berat. Ia menyandarkan punggung pada kepala ranjang dan memejamkan mata.
Kaizar masih berada di sisi lain kamar.
Biasanya setelah memastikan Amira baik-baik saja, dia akan kembali ke ruang kerjanya.
Tetapi malam ini berbeda. Amira membuka mata ketika menyadari Kaizar belum pergi.
"Kamu tidak kerja?"
"Tidak."
Amira mengerutkan kening. "Serius?"
"Hm."
"Tuan Dingin sakit?"
Kaizar menatapnya. "Kenapa?"
"Karena biasanya kalau malam begini kamu pasti masuk ruang kerja."
"Aku tidak harus bekerja setiap malam."
Amira mengangguk pelan. "Benar juga."
Ia kembali memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, Kaizar menggerakkan kursi rodanya mendekati tempat tidur.
Amira membuka mata lagi. "Kenapa?"
"Kau tidur."
"Aku memang mau tidur."
"Kalau begitu, tidur."
Amira tersenyum kecil. "Tapi kamu di sini."
"Iya."
"Kenapa?"
Kaizar tidak langsung menjawab. Dia hanya memandang perempuan yang kini menjadi istrinya itu.
Seharian ini Amira sudah menghadapi terlalu banyak hal. Mendengar ayahnya mengalami kecelakaan, datang ke rumah sakit, mengetahui kondisi Ganjar yang kritis, lalu menyumbangkan darah untuk pria yang selama ini sering membuatnya merasa tidak diinginkan.
Kaizar tahu Amira mungkin terlihat baik-baik saja. Tetapi dia juga tahu tidak semua luka terlihat dari wajah seseorang.
"Aku ingin memastikan kau baik-baik saja."
Amira terdiam. "Besok aku mungkin sudah baik."
"Bagus."
"Kalau begitu kamu bisa pergi kerja."
"Besok kita lihat."
Amira tertawa pelan. "Ternyata kamu bisa juga mengkhawatirkan orang."
Kaizar tidak menjawab. Dia mengulurkan tangannya. "Berbaringlah."
Amira menatap tangan itu beberapa saat sebelum akhirnya menurut.
Kaizar kemudian membantu mengatur posisi bantal agar lebih nyaman. Gerakannya memang tidak sebebas pria lain. Ada keterbatasan yang membuat beberapa hal harus dilakukan dengan cara berbeda. Tetapi malam ini, Kaizar tidak membiarkan kekurangannya menjadi alasan untuk menjaga jarak.
Amira berbaring menghadap ke arahnya. "Kaizar."
"Hm?"
"Terima kasih sudah menemaniku."
Kaizar mengangguk. "Jangan banyak bicara."
"Kenapa?"
"Kau butuh istirahat."
Amira tersenyum. "Baik, Tuan Dingin."
Beberapa menit berlalu. Lampu kamar diredupkan. Amira mencoba memejamkan mata, tetapi pikirannya kembali kepada Ganjar.
Bagaimana keadaannya? Apakah transfusinya berhasil? Apakah dia akan sadar?
Tanpa sadar, alis Amira berkerut. Kaizar memperhatikannya.
"Kau masih memikirkannya?"
Amira membuka mata. "Papi?"
"Iya."
Amira mengangguk. "Aku tahu aku seharusnya tidak terlalu memikirkan hal buruk."
"Kau tidak perlu memaksakan diri untuk berhenti memikirkannya."
Amira menatap langit-langit. "Aku hanya berharap Papi selamat."
"Dia akan mendapatkan kesempatan."
"Semoga."
Amira terdiam sejenak. "Walaupun dia tidak pernah menjadi ayah yang aku inginkan, aku tetap tidak ingin kehilangan dia."
Kaizar memahami kalimat itu. Ia tidak mencoba memberikan nasihat. Kaizar hanya mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Amira.
Amira menoleh. "Kamu..."
"Tidurlah."
Genggaman itu tidak dilepaskan dan sejak mereka menikah, Amira merasakan ada seseorang yang benar-benar tinggal di sisinya ketika pikirannya sedang kacau. Bukan untuk menyelesaikan masalahnya. Hanya untuk memastikan dia tidak menghadapinya seorang diri.
Beberapa saat kemudian, napas Amira mulai teratur. Matanya semakin berat. Kaizar masih menggenggam tangannya. Hingga tanpa sadar, tubuh Amira sedikit bergeser mendekat.
Kaizar sempat terdiam. Biasanya dia akan memberi jarak. Tetapi malam ini, dia justru membuka lengannya. Perlahan, Kaizar menarik tubuh Amira mendekat.
Amira yang setengah mengantuk sempat membuka mata. "Kaizar?"
"Hm?"
"Kamu..."
"Kalau tidak nyaman, katakan."
Amira tidak menjawab. Ia hanya menempelkan kepalanya di dada Kaizar. Beberapa detik kemudian, tangannya bergerak mencari posisi yang nyaman.
Kaizar kemudian memeluknya lebih erat. Pelukan itu tidak sempurna. Gerakan Kaizar terbatas oleh tubuhnya sendiri, tetapi kehangatan yang diberikan pria itu tidak terasa kurang sedikit pun.
Amira mengembuskan napas panjang, malam itu, tubuhnya benar-benar terasa rileks.
"Nyaman?" tanya Kaizar pelan.
Amira mengangguk kecil. "Banget."
Kaizar menunduk. Rambut Amira menyentuh dagunya, pria itu bisa merasakan harum rambut wanita itu.
"Aku kira kamu tidak suka memeluk," ucap Amira.
"Aku tidak bilang begitu."
"Berarti... selama ini kamu yang menjauh."
Kaizar terdiam. Mungkin benar. Selama ini dia terlalu terbiasa menjaga jarak dari orang lain.
Terbiasa hidup tanpa sentuhan. Tanpa seseorang yang menunggunya. Tanpa seseorang yang menganggap keberadaannya penting. Tetapi perempuan yang kini berada dalam pelukannya berbeda.
Amira tidak pernah memandang kursi roda itu sebagai batas. Tidak pernah memperlakukannya seperti pria yang harus dikasihani. Dan malam ini, ketika tubuh Amira sedang lemah, Kaizar justru menyadari bahwa dirinya tidak ingin melepaskan perempuan itu.
"Kaizar..."
"Hm?"
"Jangan pergi." Kalimat itu begitu lirih.
Kaizar mengeratkan pelukannya. "Aku di sini."
Amira akhirnya tertidur sedangkan Kaizar tetap terjaga. Ia menatap wajah istrinya yang kini jauh lebih tenang daripada ketika mereka meninggalkan rumah sakit.
Tangannya bergerak perlahan menyentuh rambut Amira. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Dulu, rumah sebesar ini tidak pernah terasa kosong baginya. Sekarang, ketika Amira tertidur di dalam pelukannya, Kaizar justru tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari kamar ini kembali sunyi.
Ia menundukkan wajah sedikit. "Jangan sakit lagi."
Amira tidak mendengar. Tetapi Kaizar tetap mengatakannya. Malam itu seorang pria yang selama ini terbiasa hidup sendirian memilih tidur dengan memeluk istrinya erat.
Bukan hanya sekedar dua suaminya tapi karena kehadiran seseorang terasa begitu berarti baginya. Dan tanpa mereka sadari, sejak malam itu, rumah yang dahulu hanya menjadi tempat tinggal perlahan mulai berubah menjadi rumah yang benar-benar memiliki arti.
Bersambung...