Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Dijalur Misi

Cinta Dijalur Misi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.

Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.

Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dukungan hangat

Kabar keji itu menyebar secepat kilat, membakar emosi siapa pun yang membacanya bagaikan minyak menyiram kobaran api.

Di dalam gerbong kereta api eksekutif yang melaju cepat menuju desa, Revan duduk dengan tubuh tegap yang membeku. Bahunya yang baru saja pulih sama sekali tak lagi ia rasakan sakitnya. Matanya tertuju lurus pada layar ponsel. Berita utama televisi nasional memampang narasi fitnah yang kejam.

Jantung Revan berdegup kencang, dipenuhi kombinasi antara kepanikan dan amarah yang meledak. Jemari kekarnya mencengkeram ponsel hinga jemarinya mengetat, seolah ingin meremukkan benda di tangannya itu. Wajah sang Komandan nya mengeras, matanya yang tajam bagaikan kilatan petir memancarkan aura membunuh yang teramat dingin.

"tak menyangka ternyata cara keji ini yang dipakainya untuk meghancurkan nara?!"

desis Revan dengan suara berat yang tertahan.

Napasnya memburu, tak tenang sama sekali di atas kursi kereta yang melaju seraya terus mencoba menghubungi nomor Nara namun yang terdengar hanya nada sibuk secara berulang.

Sementara itu, ratusan kilometer di kota, suasana di rumah orang tua Nara pecah dalam kehancuran. Sang ibu menangis histeris, terduduk lemas di lantai ruang tamu tak percaya berita dengan berita itu.

Ayahnya mengepalkan tangan menahan amarah yang menghimpit dada, tak sanggup melihat berita yang terus-menerus mengulang hal pedih itu.

Di dalam GOR Bejowangi,

Nara yang meletup, kembali perlahan, raut wajahnya yang memerah berubah total. Nara memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panjang, lalu saat membuka matanya kembali... ia mengulas sebuah senyuman sinis yang amat dingin.

"Ternyata... permainanmu sangat kotor," gumam Nara dengan suara pelan namun penuh akan kewibawaan yang mematikan.

Nara melirik tajam ke arah ponselnya. Jemari lentiknya menyusuri rekaman-rekaman CCTV, cctv yang diam diam ia pasang setiap ruangan. Ia sadar bukti pembantaiannya kepada para pemberontak akan meruntuhkan pemikiran warga atas sikap nya yang selama ini lemah lembut .

"Untung aku sudah mempersiapkannya dari awal," lanjut Nara dingin, memancarkan wibawa dan ketegasan yang tak tergoyahkan.

"Lihat saja... akan kubuat kamu hancur sampai ke akar-akarnya. Siapa pun kamu dibalik ini semua."

Kringgg! Kringgg!

Telepon selulernya kembali berdering nyaring. Kali ini panggilan masuk dari ibunya. Panggilan dari Revan dan belasan pesan masuk dari Nisa terpaksa terabaikan sejenak karena Nara harus menenangkan sang ibu terlebih dahulu.

Nara menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Nara! Anak ibuk! Berita itu... berita di TV itu..." suara ibunya terdengar histeris dan pecah oleh tangisan dari ujung telepon.

"bu.. Nara enggak apa-apa. Dengarkan Nara ya, Bu," potong Nara dengan suara yang mendadak berubah sangat hangat, tenang, dan tertata rapi untuk menenangkan hati ibunya.

"Itu semua berita fitnah. Sama sekali tidak benar."

"A-apa...? Jadi... jadi itu tidak benar, Nak?"

tanya sang ibu terbata-bata, mencoba menyapu air matanya.

"ia bu.. Sama sekali tidak benar,"

tegas Nara lembut.

"Sebentar lagi Nara akan selesaikan masalah ini sampai tuntas. Sebelum Nara selesai membongkar semuanya, mama dan papa tidak perlu berkata apa-apa kemedia dan orang orang ,Percaya sama Nara ya, bu?"

Di saat yang bersamaan, sebuah pesan singkat (SMS) masuk dari Nisa yang kepanikan di desa sebelah:

"Kak Nara! Itu enggak benar, kan?! Nisa sama Ibu ke sana sekarang!"

Di dalam gerbong kereta, Revan makin menggeram frustrasi karena teleponnya tak kunjung diangkat, sementara badai amarahnya siap meledak begitu kakinya menjejakkan tanah Bejowangi.

****

Langkah kaki Nara terhenti sejenak di depan pintu pagar Polindes Bejowangi. Suasana yang biasanya tenang kini berubah menjadi begitu riuh, dipenuhi warga desa. Namun, bukannya tatapan menyudutkan atau bisik-bisik curiga yang menyambutnya, melainkan deretan wajah-wajah yang memancarkan rasa cemas, kasih sayang, dan pembelaan yang tulus.

Begitu sosok Nara terlihat melangkah masuk, kerumunan warga langsung terbelah memberikan jalan.

"Nara! nak....!"

Ibu dan Nisa berlari cepat menghampirinya. Sang ibu melingkarkan kedua tangannya erat-erat, memeluk tubuh Nara dengan dekapan hangat yang gemetar, membenamkan wajahnya di bahu Nara sambil terisak pelan.

"Ibu... Nisa..."

bisik Nara lembut, membalas dekapan hangat dua wanita yang sangat dicintainya itu.

"Nara enggak apa-apa. Nara baik-baik saja."

"Ibu tahu, Nak... anak ibu selalu dalam lindungan Gusti Allah" usap sang ibu pada punggung Nara dengan linangan air mata haru.

"Begitu dengar kabar itu, Ibu langsung minta Nisa antar ke sini. Ibu enggak akan biarkan siapa pun merendahkan kamu!"

"Iya, Kak!"

potong Nisa mengusap air matanya, menatap Nara dengan tatapan penuh kebanggaan dan pembelaan..

"Kami semua tahu itu berita bohong! Kak Nara itu pahlawan di desa ini!"

Pak Kades yang berdiri di antara beberapa warga melangkah maju. Raut wajahnya yang tadi sempat panik kini berganti menjadi ketegasan penuh dukungan.

"Bidan Nara, jangan takut dan jangan merasa sendiri,"

tegas Pak Kades dengan suara lantang yang disambut anggukan serentak oleh beberapa warga.

"Kami warga Desa Bejowangi ! selalu mendukung penuh. mau benar atau tidaknya berita itu dan tetap menghormati Bu bidan!"

Aris yang berdiri agak jauh merasa bersalah karena komplotan nya meracau begitu kejam .

"terimakasih semuanya ibu,Nisa, Pak Kades, dan semuanya yang sudah percaya sama Nara," tutur Nara penuh ketenangan

Tiba tiba ....

Sosok tegap itu muncul dari dari kumpulan beberapa warga. Kapten Revan dengan seragam militernya yang sedikit kusut dan debu jalanan yang menempel di sepatunya,berdiri membeku sejenak, Matanya yang tajam mengedar liar, dan begitu menangkap adanya Nara .....

​Tanpa membuang waktu sedetik pun,

​Sebelum Nara sempat menyadari, jemari kokoh Revan sudah meraih pinggangnya, menarik tubuh mungil Nara masuk ke dalam dekapan hangat yang amat erat.

Revan memeluk Nara dalam ......sangat dalam , tatapan Revan yang nanar akan rasa marah dan penuh perlindungan...memikirkan begitu kejam fitnah menimpa gadis kecil ini, suasana saat itu seperti terhenti, bagaimana mungkin Revan melakukan itu ,pria dingin yang tak pernah luluh oleh gadis manapun...

Kini memeluk gadis tanpa canggung sedikit pun di depan ibunya, Nisa, Pak Kades, serta seluruh warga.

Semua terpaku mematung menyaksikan ......hal langkah......

1
sakura
....
es moon: terima sudah mampir, semoga suka ,happy reading
total 1 replies
Rian Moontero
Mampiiirr
es moon: terima kasih, semoga suka..happy reading
total 1 replies
Apis
huuu revan belum jadian asal main kokop aj
es moon: Wkwkwk 😂 Revan emang gercep ya, Kak. Belum jadian udah berani macam-macam.
Terima kasih telah mengikuti kisah cinta Revan dan Nara ❤️ , DiTunggu ya kak kelanjutannya,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!