Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Nikahmuda / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Hermosa

Dinda Lestari baru saja diterima di sebuah Perusahaan Multinasional sebagai Intern. Di hari pertamanya bekerja, seorang pria dewasa menarik perhatiannya. Dia adalah Arya Pradana, Kepala Divisi Business and Partners yang kabarnya sudah pernah menikah dan bercerai. Dia cerdas, berwibawa, dan tegas.
Baru beberapa minggu bekerja, Bunda Dinda menjodohkannya dengan putera temannya, penyelamat keluarga mereka saat diambang kehancuran dulu. Siapa sangka putera yang dimaksud adalah Arya Pradana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hermosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Wanita di Sekitar Arya

‘Duh, ini kenapa tangannya bisa nyasar sampai sini, sih! Bikin jantungku gak aman.’, ucap Dinda dalam hati.

Tak terasa fajar sudah menyingsing. Dinginnya malam masih terasa dan mata Dinda juga masih sulit untuk dibuka. Namun, terima kasih kepada orang di sebelah Dinda yang sudah membentangkan lengannya selebar -  lebarnya secara sembarangan. Dinda terbangun dari lelap tidurnya.

Padahal mereka baru saja tertidur beberapa jam yang lalu. Tapi mereka harus segera bangun untuk kembali melanjutkan rutinitas hari kerja.

Mata Dinda sudah mengerjap dan ingin segera membasuh wajahnya di kamar mandi untuk mengusir kantuk yang kian dalam.

‘Gimana nih, lengannya sama omongannya beda tipis. Sama - sama berat.’, ucap Dinda mulai kesal.

Lengan Arya mendekap tubuh Dinda. Suara deru nafasnya terasa bahkan mengalahkan suara angin dari pendingin ruangan. Dinda tidak berani melihat ke samping. Merasakan hangat lengan Arya saja sudah membuat jantungnya tidak berhenti berdebar kencang.

‘Jantung, plis jangan berdebar terus. Aku ga mau pak Arya jadi bangun gara - gara debaran jantung kamu yang bisa mengalahkan bunyi drum.’, ucap Dinda dalam hati.

“Hemmmmm Fuhhhhh Hemmmm Fuhhhhhh”, Dinda berusaha menenangkan dirinya dengan mengambil nafas dalam secara perlahan.

‘Satu, dua, tiga.’, Dinda kembali mencoba menggeser lengan kekar itu dari tubuhnya.

Hasilnya sia - sia. Lengan itu justru semakin erat mendekap Dinda.

‘Dia kira aku guling, apa!’, protes Dinda.

Dinda memejamkan matanya dan kembali mengulangi tarikan nafasnya. Sesekali dia memegang jantungnya untuk merasakan deru yang ternyata malah semakin kuat.

Akhirnya, setelah mengumpulkan keberaniannya, Dinda mencoba untuk membalikkan badannya. Menurutnya, akan lebih mudah untuk memindahkan tangan Arya jika dia berhadapan dengannya.

Deg. Deg. Deg

Dinda hanya bisa pasrah karena jantungnya begitu peka dengan perasaan yang kini ia rasakan. Hari ini adalah pertama kalinya dia berada sangat dekat dengan Arya. Salahkan hotel yang memiliki kasur lebih kecil daripada kasur di rumah mereka.

Arya tampaknya juga sangat lelah sampai ritme nafasnya memberitahukan Dinda bahwa pria ini sedang tertidur pulas. Alih - alih langsung berusaha menggeser lengan pria itu, Dinda justru malah terpana memandang wajah suaminya.

‘Kalau dilihat dari dekat begini Pak Arya tampan sekali. Dari jauh saja sebenarnya sudah tampan, keren, dan berwibawa. Apalagi dari dekat.’, tanpa sadar Dinda tersenyum.

‘Hidungnya. Bibirnya. Badan atletis-nya. Aroma tubuhnya. Ahhhh Dinda! Ngomong apa sih aku. Sadar, Din. Sadar.’, Dinda merutuki dirinya sendiri tatkala ucapannya sudah membuat dirinya benar - benar malu.

Baru saja Dinda hendak mengangkat lengan pria itu, ponsel yang ada di nakas bergetar dan berbunyi.

‘Ponsel milik pak Arya.’, bathin Dinda.

Dia yang menaruh ponsel pria itu di atas nakas tadi malam setelah selesai dengan berbagai pesanan makanan yang dimintanya.

Sepertinya Arya terbangun dengan bunyi ponsel yang berada tak jauh di sebelahnya. Tubuhnya bergerak sedikit dan matanya mengerjap berusaha untuk bangun.

Lengannya? Masih setia mendekap Dinda. Disisi lain, Dinda kembali pura - pura tidur karena saking deg - deg-annya dan tidak sanggup bertatap mata dengan Arya di kasur.

Arya sedikit terkejut begitu ia sadar bahwa lengannya sudah mendekap gadis yang kini sudah menjadi istrinya. Ia mengangkat lengannya pelan.

‘Dia masih tidur. Aku angkat disini saja.’, batin Arya.

Ia sudah mengambil ponsel dan melihat orang yang menghubunginya pagi - pagi. Sarah. Wanita itu kini semakin intens menghubunginya. Arya masih malas untuk bangun dari tempat tidur dan mengangkat telepon itu. Lagipula, Dinda masih tertidur, begitu pikirnya.

Ia akhirnya mengangkatnya saja dalam posisi masih berbaring di kasur.

“Iya. Halo.”, jawab suara bariton khas milik Arya yang sedikit serak hasil dari begadang tadi malam.

“Kenapa kamu sedingin itu?”, kata Sarah.

“Lalu, aku harus bagaimana?”, tanya Arya sambil menahan kantuk yang menguasainya.

“Tidak bisakah kamu memanggilku sayang seperti dulu?”, balas Sarah.

“Heh..Jangan bercanda, Sarah.”, ucapnya sinis.

“Bisakah kita bertemu?”, lanjut Sarah seperti tidak mengacuhkan respon Arya.

“Untuk apa? Aku rasa, kita sudah tidak punya hubungan apa - apa lagi. Aku dan kamu sudah berakhir sejak hakim mengetok palu perceraian kita.”, ucap Arya dengan nada malas.

‘Apa itu mantan istri pak Arya?’, Dinda yang berpura - pura tidur hanya bisa mendengarkan dalam diam.

Kadang Dinda lupa bahwa Arya memiliki masa lalu yang dia bawa dalam pernikahan mereka. Dinda lupa jika ada wanita yang dulunya pernah menjadi istri Arya.

“Aku mau jelasin ke kamu semua yang terjadi di hotel tempo hari.”, lanjut Sarah dari seberang telepon.

“Untuk apa? Sar, Please. Don't lose yourself. Don’t be someone you’re not.”, ucap Arya mengusap wajahnya.

“....”

Sejenak tak ada suara dari seberang sana. Hanya deru nafas yang seperti tertahan.

“Kejadian malam itu terjadi jauh setelah kita bercerai. Dengan atau tanpa Dimas, there’s nothing to do with me.”, setelah hening cukup lama, Arya kembali membalasnya.

“Heh, ternyata benar. Kamu sudah memiliki wanita lain. I know.”, ucap Sarah dengan suara sinis.

Arya terkejut. Dia memandang Dinda yang ada di sebelahnya.

‘Dari mana Sarah tahu? Apa wanita yang dimaksud adalah Dinda? Apa dia tahu aku sudah menikah lagi?’, Arya bertanya - tanya dalam hati.

“Kenapa? Kamu kaget? Semua sikap kamu belakangan ini ke aku jelas karena kamu sudah punya wanita lain. Siapa? Apa lebih cantik dari aku? Lebih pandai di ranjang dibanding aku? Siapa? Heh.. ternyata bukan aku saja yang punya hubungan. Kamu juga, kan?”, tuduh Sarah

“Wait, Sar. Aku ga pernah punya hubungan dengan wanita manapun saat aku bersama kamu. Tapi aku tidak tahu dengan kamu. Ucapan kamu barusan semakin mempertegas bahwa hubungan kalian adalah seperti yang aku pahami selama ini.”, Arya bangun dari tempat tidurnya.

Sarah telah menyulut emosinya lagi. Setiap kali wanita itu menghubunginya, saat itu juga Sarah terus menorehkan luka di hatinya.

Dinda tahu Arya sudah menjauh. Dia tak lagi mendengar suara ponselnya.

‘Mungkin dia ke balkon. Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka?’, Dinda penasaran.

Dia tidak mendengar jelas suara Sarah dari seberang. Tapi dia bisa mendengar jelas ucapan Arya.

Dinda hanya bisa menduga - duga jalan ceritanya dari kalimat - kalimat Arya.

‘Sepertinya bukan saat yang tepat untuk bangun. Tunggu dia masuk kamar mandi, baru aku bangun.’, pikir Dinda dalam hati.

****

Pagi ini sepulang dari hotel, Arya dan Dinda langsung kembali melesat ke kantor. Badan mereka remuk karena kurang tidur. Beruntung besok sudah akhir pekan.

“Morning, Pak Arya. Jadi gimana? Apakah Pak Arya kemarin benar - benar sudah menginap bersama seorang wanita?”, Erick dan Arya sudah ada di kafe bawah sambil menunggu rekan yang lain untuk meeting.

Mereka memang datang lebih cepat 15 menit dari jadwal meeting karena ingin menikmati kopi pagi terlebih dahulu.

“Kamu tahu kenapa image saya di kantor itu semakin liar?”, tanya Arya serius. Dia sampai memajukan badannya agar memperjelas ucapannya pada Erick.

“Karena manusia - manusia seperti kamu.”, ucapan Arya langsung membuat Erick tertawa lebar. Dia hampir saja menjatuhkan kopinya.

“Pagi Pak Arya.”, ternyata Suci sudah datang lebih dulu dan memesan kopi seperti kedua bos nya ini.

“Jadi bener yang saya lihat tadi malam itu Pak Arya?”, tanya Suci. Sontak Arya langsung membulatkan matanya.

Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar pertanyaan Suci.

“Nah, ini dia yang kita tunggu - tunggu. Seorang saksi mata. Jadi, kamu lihat dia sendiri atau bersama seorang wanita?”, Erick tambah semangat membahas topik panas pagi ini.

“Waduh gimana nih? Aku ngomong jujur ga ya.”, kata Suci menggoda.

“Ingat ya Ci, review akhir kamu masih belum saya sign.”, Arya  masih penasaran apakah benar Suci melihatnya. Tapi, dia mencoba untuk tetap stay cool.

“Wah.. gak bener, nih. Urusan kantor tidak bisa dicampur adukkan dengan urusan pribadi. Arya, Come on.. Be professional.”, Erick terus saja menggoda.

“Jadi gimana, Ci? Bersama seorang wanita atau sendiri?”, tanya Erick lagi.

Baru saja Suci akan menjawab, rekan - rekan yang lain sudah datang termasuk beberapa orang dari divisi sebelah yang tidak terlalu akrab. Alhasil mereka menghentikan pembicaraan personal ini dan lanjut meeting.

Arya melirik ke arah Suci karena dia masih penasaran. Suci juga balik melirik dan seolah memberitahukan pada Arya.

‘Can we talk later?’, tanya Suci namun tak bersuara.

Arya menganggukkan kepalanya. Dia merasa penasaran dan perlu untuk memastikan. Karena kalau Suci tahu, bisa berantakan karir Dinda.

Mereka meeting hingga jam makan siang. Begitu meeting dibubarkan, Erick yang menerima telpon langsung pamit pergi keluar. Suci lantas mengikuti Arya yang akan kembali ke ruangan.

“Jadi gimana Pak? Bisa kita ngobrol? Atau makan siang bareng?”, kata Suci.

Laporan review akhir kinerja Suci sebagai MA di bawah divisi Arya memang belum ditandatangani. Namun, per hari ini, Suci sudah rotasi ke divisi Erick. Meskipun masih di bawah Arya, tetapi Suci akan lebih intens bekerja di divisi Digital, tempat Dinda dan Erick.

Suci percaya diri bahwa sikapnya yang berani tidak akan mempengaruhi performanya. Arya hanyalah kepala divisi sementara untuk divisi Digital and Development. Jika performanya sudah dinilai oleh Erick, Arya hanya menandatangani saja.

“What do you want?”, kata Arya dengan sorot mata tajam pada Suci.

“I saw you with a woman yesterday night in a hotel.”, sebenarnya Suci sedikit takut setelah Arya mengganti nada bicaranya menjadi seperti biasa. Tegas dan menakutkan.

“So?”, kata Arya singkat.

Lift pintu terbuka dan mereka masuk.

Suci bingung harus menjawab apa. Akhirnya dia hanya bertanya, “Who’s that woman?”

'Ah.. Dia sepertinya tidak melihat jelas wanita yang dimaksud. Artinya, dia tidak tahu kalau itu adalah Dinda.', pikir Arya dalam hati.

"Saya rasa, saya tidak wajib menjawab pertanyaan kamu. Kalau kamu tidak punya pertanyaan lain, saya pergi dulu.", ucap Arya.

"Tapi Pak..", tanya Suci lagi.

“Suci, plis. Saya hargai kompetensi kamu di kantor. Kamu cerdas dan tanggap. Tapi saya mohon, jangan melewati batas.”, kata Arya memberi peringatan.

“Saya minta maaf, Pak. Saya hanya penasaran.”, akhirnya Suci mengalah.

Sepertinya bukan ide yang bagus untuk langsung menanyakan pada Arya. Lebih baik dia cari tahu sendiri siapa wanita itu.

‘Saya hanya penasaran. Apa yang pak Arya lakukan dengan wanita berhijab di hotel tengah malam.’, Suci hanya bisa bertanya - tanya sendiri. Dia yakin melihat dengan mata kepalanya sendiri, meski hanya dari belakang.

‘Apa mungkin dirinya hanya berhalusinasi karena malam itu dia juga sedikit mabuk.’, pikir Suci lagi.

1
Rini Fajarwati
gak bisa move on dri novel ini... pingin ada kelanjutannya
Fatma Wati
Buruk
Fatma Wati
Lumayan
Santi Seminar
kak mosa sudah kangen pak Arya loh ini
Lia Kiftia Usman
suka dgn harmoni keluarga pak kuswan
Lia Kiftia Usman
suka... ucapanmu dan sikapmu dinda...👍
Lia Kiftia Usman
🤣🤣🤣🤣🤭
naura nahwa
selalu di tunggu
Lia Kiftia Usman
biasanya sekretaris se level sisca punya ob yg mendampingi u urusan copy meng copy dan urusan2 distribusi surat2 internal
Rini Fajarwati
Semoga ada kelanjutannya...
Rini Fajarwati
sampai 2 kali baca suka ceritanya...
Lia Kiftia Usman: ada...saya 5x juga
total 2 replies
HeNda Arfiani
Suka banget sama cerita ini. ❤️
Jenny Mongi
Lanjutkan thor.
Kristin Prakerja
di tunggu kanjutannya
Uchy Suci
blaster? mungkin blazer 🤭
Nani Widia
bagus cerita ya ringan tapi kenapa like ya sedih ya semangat author
Nadia Mgl
bagusss banget ceritanya semoga segera lanjut season ke 2 nya Dinda&Pak Arya😍🤟
Nadia Mgl
ayoo thor lanjut lagi season 2 nya gak sabar nih😔😇
Nadia Mgl
semangat othor😍
dite
Kak Mosa, kapan Pak Arya Dinda comeback?
dite: hehehe udah ditinggal stahun, gak ada jg ya kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!