Jika pernikahan tak di landasi cinta dan saling suka bagai mana kehidupan rumah tangga akan bahagia?
Di nikahkan oleh kedua orang tuannya membuat Desy merubah jalan hidupnya, ia hanya ingin menjadi istri yang berbakti kepada suami dan tak ingin gagal menjalani bahtera rumah tangga untuk yang ke tiga kalinya.
"Mas, kurang apa aku berbakti kepadamu! Semua ke seharianku, ke gemaranku aku tinggalkan hanya ingin hidup bahagia seperti orang lain. Tapi kenapa kamu tega melakukan semua ini kepadaku?"
Menikahi wanita yang berstatus janda bagi Jaya adalah sebuah kesalahan yang sangat besar. Jaya yang notabenya adalah perjaka sangat tak menginginkan pernikahan itu terjadi. Namun itu semua ia lakukan hanya demi kedua orang tuanya.
Apakah Desy akan mempertahankan rumah tangganya atau berpisah dari Jaya dan menjadi janda untuk yang ke tiga kali dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinanti Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Ke Rumah Ambu
Desy meminum segelas air putih yang Ambu berikan, ia menghela nafas berat dan masih dengan tatapan kosongnya.
“Dimana suamimu?” tanya Abah.
Desy masih enggan menjawab pertanyaan Abah, ia memeluk hangat Ambu dan luruh sudah air matanya di pelukan Ambu. Ambu paham sekali perasaan putrinya yang kini merasakan kesedihan yang teramat dalam.
Ambu memberikan kode kepada Abah menyuruhnya untuk tidak menanyakan dimana keberadaan suaminya. Yang Desy butuhkan adalah mengistirahatkan badannya.
Ambu membawanya ke kamar untuk istirahat karena Ambu tahu kehamilan Desy sangat rentan dan perlu banyak istirahat
“Lebih baik kamu istirahat saja di kamar, sebentar ya Ambu ke belakang dulu!”
Desy hanya terdiam dan masih menangis pilu, kehidupannya kini tak seindah keinginannya dulu sewaktu ia masih muda. Menikah dengan orang yang dicintai dan hidup bahagia bersamanya namun ternyata semua yang ia perjuangkan dari pertama mereka menikah hingga kini Desy selalu mendapat kekecewaan.
Pernikahan yang tak dilandasi rasa cinta dan hanya demi menyenangkan kedua orang tua masing-masing Desy hanya patuh dan tak pernah menuntut apa pun kepada Jaya. Dia selama ini menurut apa yang diminta suaminya.
“Ayo makan dulu, Ambu tahu kamu pasti sangat lapar!” Ambu membawakan makanan dan teh hangat untuk putrinya.
Desy masih terdiam dengan tatapan lurus kedepan, hanya air mata yang sedari tadi tak henti-hentinya membasahi wajah cantik Desy.
“Ambu khawatir dengan kehamilanmu, untuk sekarang kamu harus menurut apa perkataan Ambu. Ayo ambu suapin ya!” ucap Ambu memegangi piring dan menyuapi putrinya.
Akhirnya Desy mendengarkan apa perkataan Ambunya itu dan mau makan meski disuapi Ambu. Putri bungsunya itu sudah tak muda lagi namun sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu dari anak yang di kandungnya sekarang.
Ambu sangat mengerti apa yang putrinya rasakan apa lagi ia sedang hamil, perasaannya mudah terluka dan mudah tersinggung.
“Ambu, apa aku boleh tinggal di sini?” tanya Desy.
“Boleh, Nak. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk anak-anak, Ambu!” ucap Ambu menguatkan putri bungsunya.
Desy memeluk Ambu, ia masih berlinangan air mata rasanya sangat lelah menjalani hidup yang penuh dengan lika-liku.
“Lebih baik sekarang kamu istirahat dan jangan menangis lagi. Ambu tak ingin melihat putri kesayangan Ambu menangisi lelaki yang tak menghargaimu. Air matamu lebih berharga dibandingkan lelaki itu!”
Ambu mengusap air mata yang menetes di pipi putrinya dan pergi meninggalkan Desy untuk beristirahat. Ambu tak ingin putrinya mengalami kegagalan untuk yang ketiga kalinya.
“Bagaimana dengan, Desy. Apa yang dia katakan kepada, Ambu?” tanya Abah yang sedari tadi sudah berdiri di depan pintu kamar Desy.
Ambu menghapus air matanya dan mencoba menenangkan pikiran dan hatinya. “Dia belum bicara apa-apa kepada Ambu, sepertinya dia sangat lelah dan enggan berbicara,” ucap Ambu.
“Sepertinya si Jaya memperlakukan anak kita tidak baik. Buktinya anak kita pulang sendiri, sudah tahu Desy sedang mengandung anaknya!” cicit Abah kesal.
“Namanya rumah tangga, Bah. Siapa yang mau nasibnya begini semua sudah Tuhan takdirkan kita tak bisa menuntut apa-apa selain berserah kepadanya dan mendapatkan jalan keluar yang terbaik!” kekeh Ambu.
“Ya sudah lebih baik dia tak usah kembali ke rumahnya sebelum si Jaya memintanya kembali kepada, Abah!” ucap Abah berlalu pergi untuk shalat magrib.
Desy masih menangis tak mengerti jalan hidupnya yang sangat rumit, begitu pula pikiran Jaya yang dengan mudah menduakannya dengan wanita lain.
“Aku tak akan kembali lagi ke padamu, cukup sampai di sini, Mas. Aku sudah capek dan lelah menjadi istri yang sabar dan penurut seperti yang kamu inginkan!”
Ponsel Desy berdering, panggilan masuk dari Ani tertera di layar ponsel. Beberapa kali Ani dan sahabat lainnya mengirimi pesan dan meneleponnya namun Desy enggan mengangkatnya karena pasti mereka tak akan
tinggal diam jika mereka melihat Desy seperti ini.
“Maaf, untuk kali ini aku tak mau melibatkan kalian dalam urusan rumah tanggaku. Semoga kalian mengerti apa yang aku pikirkan sekarang!” ucap Desy sambil memejamkan matanya.
Ani sangat khawatir kepada sahabatnya itu, ia mencoba menelponnya beberapa kali namun tak ada respon dari Desy. Ani dan Erlina menyambangi rumah Desy namun sedari tadi mereka ketuk pintu rumahnya tak ada
yang membukakan pintu.
“Kemana dia, padahal lampunya menyala. Aku khawatir sekali jika terjadi apa-apa kepada, Desy!” kekeh Ani.
Erlina yang sedari tadi mengetuk pintu rumah dan melihat dari jendela namun tak ada tanda-tanda ada orang di dalam rumah.
“Sepertinya, Desy. Tak ada di dalam rumah, mungkin dia sedang pergi bersama suaminya,” ucap Erlina meyakinkan Ani.
“Bisa jadi, tapi kenapa kita telpon dan mengirim pesan tak ada respon sama dia. Padahal ponselnya aktif!” kekeh Ani.
“Ya mungkin dia sedang sibuk jadi dia tak sempat membaca pesan dari kita, ayo lebih baik kita pulang. Ini sudah malam besok kita ke sini lagi untuk memastikan kalo dia baik-baik saja,” pinta Erlina.
Mereka berdua akan menaiki sepeda motor tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan tiga Diva kepo yang menghampirinya.
“Desy gak ada di rumah. Tadi pagi sih aku lihat dia pergi naik taksi online,” ucap Bu Wati santai.
“Pergi, dia pergi kemana?” tanya Ani sopan.
“Ya mana aku tahu, memangnya aku ini Ibunya, kalian kan temanya masa gak nanyain langsung ke orangnya kalau dia pergi kemana!” sergah Wati lagi.
“Kalo aku tahu dia pergi mana mungkin kita gak bakalan nyamperin ke sini, Bu Wati yang terhormat!” kekeh Ani.
“Kamu kalo ngomong gak usah pake melotot gitu dong kamu ngajak berantem, hah! Sini aku jabanin kamu mau aku jambak lagi biar botak sekalian rambutmu!” ucap Bu Wati menantang.
“Udahlah aku males berdebat dengan emak-emak, Erlina. Lebih baik kita pulang saja gak ada faedahnya kita ngelayanin emak-emak kaya mereka!” ucap Ani tanpa beban.
Erlina menggunakan helm yang ia pegang sedari tadi, tiba-tiba Bu Wati murkan dengan sigap menarik rambut Ani yang terhalang oleh helm.
“Aaaa … lepasin dasar emak-emak gak tau diri,” ucap Ani kesakitan
Erlina dan kedua sahabat bu Wati pun melerai perkelahian yang terjadi. Namun bu Wati dengan sejadi-jadinya menarik rambut Ani tanpa ampun. Dendam kesumatnya sudah kumat dia susah sekali dipisahkan, badan bu Wati yang berisi menambah susah untuk di tarik paksa oleh kedua temannya sendiri.
“Sudah lepasin teman saya, kasian dia kesakitan!” ucap Erlina yang sedari tadi melepaskan tangan bu Wati dari rambut Ani.
“Tolong, lepaskan kepalaku sakit!” rintih Ani.
Dengan sigap Halimah mengeluarkan jurus saktinya, ia mulai memasukan kedua tangannya ke sisi kiri dan kanan badan Wati. Sekuat tenaga Halimah menggelitik tubuh Wati, karena itu satu-satunya kelemahan Wati.
“Aaaa … aduh geli, tolong, aduh, lepaskan!” ucap Wati yang sudah tak tahan tubuhnya geli karena digelitik oleh Halimah.
“Cepat sana kalian pergi!” pinta Halimah kepada Ani dan Erlina.
di opras aja