Nur Ratih, gadis kampung yang nekat pergi ke ibukota demi melunasi hutang alm. Ayahnya agar ia tidak dijadikan istri kesekian oleh juragan di kampungnya. Melalui sebuah agen PRT, Ratih berhasil mendapat pekerjaan untuk menjadi pembantu di salah satu keluarga kaya disana.
Awal bekerja disana, Ratih merasa nyaman dengan lingkungan barunya, namun hal itu tidak berjalan lama. Kepulangan sang majikan muda dari perjalanan bisnisnya, membuat hari-hari Ratih terasa sesak. Dialah, Nathaniel Ryker, sang majikan yang terobsesi padanya sejak pertemuan pertama mereka.
Ratih merasa tidak kuat dalam melakukan pekerjaannya, sang majikan terus saja menganggu dirinya. Ia ingin pulang, namun kala teringat hutang-hutangnya ia merasa harus bertahan.
Bagaimanakah kehidupan Ratih di rumah itu? Apakah ia bisa menghentikan obsesi majikannya? Ataukah ia malah terjerumus di dalamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Kejadian memalukan
Pagi meyapa pelan lewat cahaya matahari yang mengintip dari celah-celah tirai kamar Ratih. Suara burung-burung yang berkiau di pepohonan sekitar paviliun menjadi alarm alami yang membangunkannya. Ia menggeliat dan mengumpulkan sebagian nyawanya sebelum akhirnya ia duduk di tepi ranjang.
Matanya yang masih berat, mengintip jam dinding yang bertengger di dinding kamarnya. Masih pukul setengah enam pagi. Dengan gerakan setengah sadar, ia berdiri dan melihat Sofia yang masih tertidur pulas.
“Sof bangunlah,” ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Sofia.
“Sebentar….” erang Sofia.
Melihat reaksi Sofia, akhirnya ia lebih memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Di depan kamar mandi masih sedikit pelayan yang mengantri. Setelah gilirannya, Ratih pun memasuki kamar mandi.
Air dingin menyentuh wajahnya untuk menyapu sisa-sisa kantuk yang tersisa. Entah berapa jam yang ia habiskan untuk tidur. Tapi ia yakin hanya sebentar.
Semalam, ia kembali ke paviliun begitu larut karena bersama majikannya itu. Bahkan Nathan terus memaksanya untuk tinggal. Tentu Ratih tidak mau, pria itu sama sekali tidak bisa dipercaya.
Ia mengusap permukaan cermin kamar mandi yang mengembun. Ditatapnya lekat-lekat wajahnya sendiri. Lingkaran di bawah matanya tidak bisa disembunyikan. Ia mengingat kembali semua perkataan Nathan.
Kemudian ia sadar, bahwa pria itu menyimpan luka.
“Siapa Nathan sebenarnya?” Lirih gadis itu.
Banyak yang seharusnya ia renungkan, tapi tidak sekarang, ada banyak pekerjaan yang menunggunya. Ratih memejamkan mata dan menarik napasnya dalam. Ia bimbang, apakah harus terus menebak-nebak yang disembunyikan pria itu? Atau disudahi saja, artinya ia tidak akan mencoba memahami sikap Nathan.
Tanpa memikirkan pria itu lagi, Ratih kembali fokus untuk menyelesaikan ritual mandinya. Ia memutar keran dan membiarkan air mengguyur tubuhnya lagi. Seolah dengan air yang mengalir bisa menghapus perasaannya yang tidak bisa disebutkan.
Setelah selesai, ia pun segera kembali ke kamarnya untuk memakai seragam pelayan.
“Kau belum juga bangun?” Tanyanya saat melihat Sofia yang masih tertidur.
“Ini sudah jam berapa?” Tanya Sofia dengan suara serak.
“Enam lebih, kau tidak sehat?”
Ratih mendekati Sofia dan menyentuh dahinya, “Kau demam? Kenapa tidak bilang?”
Sofia berusaha duduk dan dibantu Ratih, “Aku harus bekerja.”
“Kau bodoh sekali! Sudah tahu sedang sakit malah ingin tetap bekerja. Memangnya ada aturan kalau pelayan sakit tidak boleh libur?”
“Bukan begitu, biasanya Nyonya Adhisti yang mendata pelayan libur tapi sekarang dia tidak ada, dengan siapa aku harus meminta ijin.”
“Tentu saja dengan Tuan.”
Sofia bergidik ngeri, “Tidak, aku tidak berani. Aku bahkan tidak melihat batang hidung Tuan sejak kemarin.”
“Aku yang akan bicara,” ucap Ratih dengan santai.
“SERIUS?!” Mata Sofia yang sebelumnya masih diselimuti kantuk kini terbuka lebar.
Ratih mengangguk, “Dia hanya manusia biasa seperti kita, tidak perlu takut, kalau dia berani macam-macam, kupukul saja kepalanya dengan wajan.”
Sofia menyipitkan matanya dan menatap Ratih seperti sebuah sensor, “Aku bahkan sempat berpikir bahwa kau dekat dengan Tuan.”
Ratih turun dari ranjang Sofia lalu mengambil pakaiannya dari dalam almari, “Tentu saja sebagai pelayan dan majikan.”
“Oh ya? Bisakah aku memercainya?”
“Terserah.”
Sofia tertawa, “Kalau kau ragu bicara dengan Tuan, aku akan minta ijin pada Tuan Sam, dia lebih ramah daripada Tuan.”
“Kurasa dia belum kembali.”
“Memangnya Tuan Sam kemana?”
Ratih merutuki kebodohannya, ia keceplosan, “M-maksudku, dia mungkin belum datang, emm kau perlu ke rumah sakit?”
Sofia menggeleng, “Aku ada obat demam di laci nakas.”
“Aku akan mengambilkannya.”
“Tidak perlu, aku masih kuat berjalan, kau bersiap saja untuk bekerja. Aku ingin ke kamar mandi untuk buang air.”
Ratih mengantar Sofia sampai keluar kamar, setelah Sofia menyuruhnya untuk segera bersiap, ia pun masuk ke dalam kamar dan memakai seragam pelayannya. Tangannya bergerak lambat saat ia mengancingkan seragam. Kemudian ia mengikat rambutnya ke atas, membentuk cepol rapi seperti biasa.
Di depan cermin kecil yang mulai berembun karena udara pagi, Ratih mengambil peralatan make up-nya yang sederhana. Dengan gerakan pelan, ia mengoleskan bedak tipis ke wajahnya. Sedikit lip balm agar bibirnya tetap lembab dan memakai pensil alis yang sudah tumpul. Kini wajahnya cukup terlihat lebih segar.
Setelahnya, ia berjalan keluar dari paviliun dan masuk ke dalam istana timur. Di sana hanya ada beberapa pelayan bagian dapur yang sedang menyiapkan sarapan untuk Tuannya. Ratih merasa ada sedikit kekosongan yang mengintai. Biasanya di jam-jam ini, Adhisti sedang mengarahkan para pelayan itu.
Ratih menghela napasnya pelan, kemudian ia pun melanjutkan langkahnya. Ia memencet tombol lift dan naik ke lantai paling atas. Gadis itu akan membicarakan soal ijin sakit Sofia.
Ratih mengetuk pintu kamar Nathan tapi tidak ada sahutan dari dalam. Ia mencoba membuka pintu itu dan ternyata berhasil. Setelah masuk, ia bisa mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Karena dirasa lama, Ratih memilih duduk di sofa kamar itu dan menunggu Nathan untuk menyelesaikan kegiatannya. Ratih menguap kecil. Udara pagi yang masih dingin dan suara gemericik air menjadi latar yang menenangkan sekaligus membuat rasa kantuknya datang. Ia melirik jam digital di kamar itu, sudah hampir setengah jam Nathan di dalam.
Ratih mendesah kecil dan melipat tangannya di dada. Pria itu sudah seperti anak gadis yang suka berlama-lama di dalam kamar mandi. Kantuknya makin berat dan kelopak matanya perlahan turun.
Tiba-tiba sebuah sentuhan ringan menyentuh pipinya. Rasanya dingin dan lembut. Matanya tidak langsung terbuka, ia hanya menggerakkan sedikit tubuhnya karena mengenali sentuhan itu. Perlahan kelopak matanya terangkat. Dengan pandangan yang masih kabur, ia melihat sosok Nathan yang berdiri di depannya. Rambutnya yang masih basah menjadi pusat atensi Ratih.
“Kau disini?” lirih Nathan yang nyaris tidak terdengar.
Ratih hanya mengangguk kecil, ia belum sepenuhnya sadar. Dari wajah Nathan, pandangan gadis itu turun dan menyadari bahwa pria itu hanya menggunakan handuk yang hanya menutupi bagian intimnya.
“Astaga! Kau belum berpakaian?!”
Refleks Ratih langsung membuang muka dan menutup wajahnya dengan tangan. Pipinya terasa panas dan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Otaknya terus memutar memori tentang apa yang barusan ia lihat. Tubuh pria itu yang masih basah, tetesan air menuruni dada bidang dan perutnya yang terbuka. Hanya sehelai handuk putih yang melingkari pinggangnya. Siluet tubuh Nathan benar-benar sulit untuk diabaikan.
“Kau malu?” Tanya Nathan dengan tampang tidak berdosa.
“Menurutmu?”
Pria itu menyeringai, “Bagaimana tubuhku? Kau menyukainya?”
“HENTIKAN!!” Ratih masih setia menutupi wajahnya.
“Reaksimu sangat lucu sampai-sampai aku ingin melempar tubuhmu ke atas ranjang.”
Ratih kembali menunjukkan wajahnya yang penuh emosi, “Jangan main-main!”
Nathan menunduk dan mendekatkan wajah mereka, “Kenapa? Kau tidak ingin merasakan tubuhku.”
Ratih hendak memukul dada Nathan tapi tangannya ditahan, “Kau ingin menggodaku?”
“Dasar mesum! Aku ingin memuk---"
Kalimat gadis itu terhenti karena Nathan tiba-tiba meraih tengkuknya dan menyatukan bibir mereka. Untuk beberapa detik dunia terasa membeku. Jantung Ratih berdetak tidak karuan dan semua kekesalannya menguap begitu saja dalam hangatnya ciuman itu.