Kehidupan Evelyn gadis manja dan polos yang begitu di jaga ketat oleh keluarganya, bahkan publik pun belum mengetahuinya. Hingga menikah di usianya yang masih di bilang cukup muda dengan sosok pemuda yang merupakan teman sang kakak.
Bagaimana kehidupan Evelyn yang selalu manja dan polos itu setelah menikah?.....jangan lewatkan keseruan dan masih banyak lagi hal lainnya di cerita ini selengkapnya hanya ada di sini⑅˖♡.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my pinkys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang tak bisa disembunyikan
Evelyn berdiri kaku di tempatnya. Nafasnya tercekat saat melihat Jazziel berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit dia artikan.
"Sayang…" Suara Jazziel terdengar lembut, tetapi ada ketegasan di dalamnya.
Evelyn mundur perlahan, sementara Tiffany yang masih terikat berusaha memanfaatkan momen itu.
"Lo lihat sendiri, kan, Evelyn?" Tiffany berseru. "Pacar lo bukan pria baik yang kau kira!"
Jazziel tidak mengalihkan pandangannya dari Evelyn, tetapi dia menghela napas panjang sebelum berbicara.
"Kenapa kamu ada di sini,Sayang?" tanyanya pelan.
Evelyn menggigit bibirnya. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Aku… Eve menemukan kunci ini di mansion kakak," ucapnya jujur. "Eve penasaran… Eve tidak menyangka akan menemukan ini."
Jazziel melangkah mendekat, tetapi Evelyn secara refleks mundur, membuat pria itu berhenti di tempat.
"Jadi… kakak memang mengurung Tiffany?" Evelyn bertanya dengan suara bergetar.
Jazziel tidak menjawab langsung. Dia hanya menatap dalam mata istrinya sebelum mengalihkan pandangannya pada Tiffany yang menatapnya penuh kebencian.
"Tiffany pantas mendapatkan ini," kata Jazziel akhirnya. "Dia hampir menghancurkan hidupmu, Evelyn. Aku tidak bisa membiarkan dia bebas begitu saja."
Evelyn terdiam. Di satu sisi, dia tahu bahwa Tiffany memang telah melakukan banyak hal jahat terhadapnya. Gadis itu telah berusaha mencelakainya berkali-kali. Namun, mengurung seseorang di ruang bawah tanah? Itu terlalu jauh.
"Kenapa tidak menyerahkannya ke polisi saja?" Evelyn mencoba mencari alasan lain.
Jazziel menyeringai, tetapi matanya tetap dingin. "Kau pikir polisi bisa memberinya hukuman yang setimpal?"
Tiffany tertawa sinis. "Tentu saja tidak, kan? Karena kau sendiri yang menjalankan hukuman itu."
Evelyn merasa mual. Dia tak pernah membayangkan bahwa suaminya bisa melakukan sesuatu seperti ini.
"Jazziel… kita tidak bisa melakukan ini," Evelyn mencoba berbicara pelan. "Lepaskan dia."
Jazziel mengerutkan kening. "Aku tidak bisa."
"Kenapa?" Evelyn menatapnya dengan putus asa.
Karena kalau Tiffany bebas, dia akan mencoba menyerangmu lagi, sayang," jawab Jazziel tanpa ragu. "Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
Evelyn merasakan dadanya sesak. "Tapi ini… ini salah,kasihan Tiffany kak Ziel."
Tiffany tersenyum penuh kemenangan. "Lihat? Bahkan pacarmu sendiri tidak setuju dengan caramu."
Jazziel menoleh padanya dengan tatapan dingin. "Kau lebih baik diam."
Namun, Evelyn tidak bisa diam. Dia merasa jika dia tidak melakukan sesuatu sekarang, ini akan menjadi lebih buruk.
"Kak Zziel,Eve mohon," bisiknya. "Kumohon… jangan buat Eve takut sama kakak."
Jazziel terdiam. Wajahnya mengeras, tetapi matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang Evelyn tidak bisa artikan.
Beberapa saat kemudian, dia mendekat, perlahan. "Evelyn…" suaranya lebih lembut sekarang. "Aku melakukan ini untukmu. Untuk melindungimu."
Evelyn menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi Eve tidak mau kalau kakka seperti ini… Eve tidak ingin melihat kakak menjadi monster seperti Daddy."
Jazziel mengepalkan tangannya. Dia benci melihat Evelyn menangis.
Di saat itu, pintu ruang bawah tanah terbuka, dan Xavier serta Cleo masuk dengan ekspresi terkejut.
"Apa yang terjadi?" Xavier bertanya dengan nada serius.
Cleo langsung menyadari apa yang terjadi. "Astaga… Evelyn, kau—"
Evelyn menatap mereka dengan panik. "Tolong, katakan bahwa kita bisa menyelesaikan ini tanpa… tanpa harus mengurung seseorang!"
Xavier dan Cleo bertukar pandang, lalu menatap Jazziel yang masih diam di tempat.
"Bos?" Xavier bertanya, meminta keputusan.
Jazziel masih menatap Evelyn.
Beberapa saat kemudian, dia akhirnya menghela napas panjang. "Buka rantainya," perintahnya.
Xavier dan Cleo langsung terkejut.
"Apa?" Cleo bertanya, memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
"Buka," ulang Jazziel, kali ini lebih tegas.
Xavier dengan cepat mengambil kunci dan membuka rantai di tangan serta kaki Tiffany.
Begitu rantainya terlepas, Tiffany langsung terduduk lemas. Dia tidak percaya bahwa dia benar-benar akan dilepaskan.
Namun, sebelum dia bisa mengatakan sesuatu, Jazziel sudah berbicara lagi.
"Aku melepaskanmu bukan karena aku mengampunimu, Tiffany," suaranya rendah tetapi penuh bahaya. "Aku hanya tidak ingin Evelyn kehilangan kepercayaannya padaku."
Tiffany menelan ludah. Dia bisa merasakan aura membunuh Jazziel, dan dia tahu pria itu tidak main-main.
"Kau boleh pergi," lanjut Jazziel. "Tapi satu peringatan—jika kau menyentuh Evelyn lagi, aku tidak akan bersikap baik seperti ini."
Tiffany mengangguk cepat, meskipun dia tahu dalam hati bahwa dia tidak akan membiarkan ini begitu saja.
Evelyn mendekati Jazziel dan menggenggam tangannya. "Terima kasih," bisiknya.
Jazziel menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan.
Dia tidak melakukan ini karena dia ingin, tetapi karena dia tahu bahwa satu-satunya hal yang lebih penting daripada membalas dendam adalah kepercayaan Evelyn.
Dan dia tidak akan pernah mau kehilangan itu.
___
Setelah Tiffany pergi, suasana di ruang bawah tanah masih terasa tegang. Evelyn masih berdiri di tempatnya, menatap Jazziel dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan.
Xavier dan Cleo saling bertukar pandang sebelum akhirnya Xavier membuka suara.
"Kau yakin melepaskannya begitu saja, Bos?" tanyanya hati-hati.
Jazziel menghela napas dan melirik Evelyn yang masih diam. "Aku tidak punya pilihan lain," jawabnya dengan nada datar.
Evelyn masih merasa jantungnya berdetak kencang. Dia masih tidak bisa percaya bahwa Jazziel benar-benar mengurung Tiffany selama ini.
"Kak Ziel…" Evelyn akhirnya bersuara.
Jazziel menoleh padanya, ekspresinya sulit ditebak. "Apa?"
Evelyn menggigit bibirnya. "Eve ingin tahu… kalau Eve tidak menemukannya hari ini, apa kau akan tetap menyembunyikan semua ini dari Eve?"
Jazziel terdiam. Dia menatap Evelyn dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak ingin kau terlibat dalam hal seperti ini," katanya akhirnya.
Evelyn mengerutkan kening. "Tapi Eve takut kak Ziel. Eve kan sudah menikah dengan kak Ziel. Bagaimana kalo ada yang tahu?"
Jazziel menatapnya kembali. Kali ini, ekspresinya lebih lembut.
"Aku hanya ingin melindungimu, Evelyn," katanya dengan suara rendah. "Aku tidak ingin kau melihat sisi gelap dunia tempatku berada.Lagi pula publik belum mengetahui kalo kita sudah menikah"
Evelyn menarik napas panjang. "Tapi Eve sudah melihatnya."
Dia berjalan mendekat, menggenggam tangan Jazziel erat.
"Aku tidak ingin kau berubah menjadi orang yang tidak kukenal, Jazziel," bisiknya. "Aku mencintaimu… tapi aku tidak bisa mencintai seseorang yang terus menyembunyikan rahasia seperti ini dariku."
Jazziel mengepalkan tangannya. Kata-kata Evelyn terasa seperti pukulan telak baginya.
Xavier dan Cleo memilih untuk keluar dari ruang bawah tanah, memberikan mereka privasi.
Setelah mereka pergi, Jazziel menarik Evelyn ke dalam pelukannya. Evelyn kaget, tetapi dia tidak menolak.
"Aku tidak akan berubah," Jazziel berbisik di telinganya. "Aku hanya… tidak tahu bagaimana cara menyeimbangkan semuanya."
Evelyn menghela napas. kalo gitu Eve mau bantu kak Zjel boleh? "
Jazziel menegang. "Apa maksudmu?"
Evelyn menarik diri sedikit dan menatap matanya. "Eve tahu Eve tidak bisa masuk ke dunia yang sama seperti milik kakak, tapi Eve ingin tahu. Eve ingin kakak tidak lagi menyembunyikan apa pun dari Eve. Eve ingin menjadi bagian dari hidup kakak… sepenuhnya."
Jazziel menatapnya lama, lalu mengangguk.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, Evelyn."
Evelyn tersenyum kecil. "Kakak tidak akan kehilangan Ebe kok, selama kakak tidak mencoba menjauhi Eve."
"Eve juga ingin berlatih bela diri ya kak"pinta Evelyn.
Jazziel tampak menimang-nimang ucapan Evelyn, tapi ada benar nya juga jika Evelyn bisa bela diri dan di saat dirinya tak ada di samping Evelyn, Evelyn bisa menjaga dirinya sendiri walaupun tetap ada orang suruhan Jazziel yang mengawasi Evelyn.
"Iya, kmau bisa latihan bela diri besok dengan kakak"
Evelyn tersenyum puas. Dia tahu ini tidak akan mudah, tapi setidaknya, ini adalah langkah awal.
Sementara itu, di tempat lain…
Tiffany berjalan terseok-seok keluar dari kawasan tersembunyi markas geng Lion. Rasa takut masih menghantui pikirannya, tetapi ada sesuatu yang lebih besar yang dia rasakan—amarah.
"Jazziel… Evelyn…" gumamnya pelan, tangannya mengepal. "Kalian akan menyesal telah melepaskanku."
Tatapannya gelap. Tiffany tidak akan menyerah begitu saja. Jika mereka mengira dia sudah selesai, mereka salah besar.