Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku Pak CEO DUDA

Jodohku Pak CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO
Popularitas:56.2k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.

Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Pagi hari dikamar Aska,

Cahaya matahari perlahan menembus tirai kamar Aska, menciptakan garis-garis tipis keemasan di dinding. Udara pagi terasa lebih tenang dibanding semalam, meski masih menyisakan jejak kecemasan yang samar-samar menggantung.

Vana berdiri di dekat jendela sambil memegang ponselnya, suaranya pelan agar tidak membangunkan dua anak yang masih berbaring di ranjang.

“Maafin kakak, Zam… semalam kakak beneran lupa ngabarin kamu,” ujar Vana perlahan.

Suara Azam terdengar dari seberang, jelas menunjukkan kekhawatiran yang masih tertinggal.

“Iya nggak papa, Kak. Tapi lain kali kabari Azam, ya. Azam khawatir.”

Vana menghela napas pendek, menatap Aska yang mulai bergerak pelan di bawah selimut.

“Iya, Zam. Ini nggak bakal terulang lagi.”

“Ya sudah,” balas Azam. “Kakak urus mereka dulu. Nanti kalau kakak udah pulang, kabarin Azam.”

“Iya, nanti kakak kabarin. Kamu jangan lupa sarapan, ya.”

“Iya, Kak. Kalau gitu Azam tutup dulu. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Vana menurunkan ponsel perlahan, matanya kembali beralih pada Aksa dan Aska,dua bocah yang semalam membuat seluruh rumah kacau oleh rasa takut dan trauma yang meledak bersamaan.

Ia baru saja mengakhiri panggilan dari adiknya, Azman, yang sejak semalam tak henti-hentinya menelepon karena Vana sulit dihubungi. Napasnya dihela perlahan, seolah ingin membuang sisa ketegangan yang masih menggantung di dadanya. Ponsel itu ia letakkan di atas meja kecil di samping ranjang.

Saat menoleh, Vana mendapati Aksa dan Aska masih terlelap. Wajah mereka tampak lebih tenang dibandingkan beberapa jam lalu, meski bayangan kejadian semalam seolah masih membekas di garis-garis halus di dahi mereka. Selimut menutupi tubuh keduanya hingga sebatas dada, bergerak naik turun mengikuti napas yang teratur.

Tiba-tiba, ketukan pelan terdengar dari arah pintu.

Tok… tok… tok…

“Permisi, Mbak. Saya bawa sarapan,” suara seorang pelayan terdengar dari luar, sopan dan berhati-hati, seolah takut mengganggu ketenangan di dalam kamar.

Vana segera berdiri. Ia melangkah mendekati pintu dan membukanya sedikit. Tika berdiri di sana sambil mendorong troli kecil berisi beberapa piring tertutup dan dua gelas susu hangat.

“Ini sarapan untuk Mbak, Tuan Muda Aksa, dan Tuan Muda Aska,” ucap Tika sopan.

“Bawa masuk saja, Mbak,” jawab Vana singkat.

Tika menggeleng pelan. “Maaf sebelumnya, Mbak. Bukan saya tidak mau membawanya masuk. Tapi di sini kami memang tidak diizinkan masuk ke kamar Tuan Muda maupun Tuan Besar.”

Vana terdiam sejenak.

“Saya masih ingin bekerja di sini, Mbak,” lanjut Tika dengan nada lebih pelan. “Jadi sebaiknya Mbak saja yang membawa masuk sarapannya. Hanya Mbak satu-satunya yang diperbolehkan leluasa berada di kamar Tuan Muda.”

Vana mengangguk pelan, memahami maksud di balik ucapan itu. Ia lalu mengambil troli kecil tersebut, sementara Tika mundur selangkah dengan sikap tetap hormat.

Vana mengangguk, memahami maksud itu. Ia menerima troli kecil tersebut, sementara Tika mundur selangkah dengan sikap hormat.

Setelah pintu tertutup, Tika menarik napas panjang, mengelus dadanya lega. Ia membalikkan badan hendak pergi—

“ASTAGHFIRULLAH! Tokek! Kadal buaya buntung!” teriaknya spontan begitu melihat Leo sudah berdiri tepat di belakangnya dengan ekspresi dingin khasnya.

Leo mengerjap sekali, alis kirinya terangkat. “Kadal… buaya buntung?” ulangnya datar.

Tika langsung mematung. Wajahnya pucat seperti kertas.

“Ma—maaf, Tuan…”

Leo menatapnya tanpa banyak kata, tatapannya tajam namun tidak marah. Ia hanya mendekat sedikit, menundukkan kepala sejajar dengan tinggi Tika.

“Sudah selesai tugasmu?” tanyanya tenang, namun dingin.

“Su-sudah, Tuan,” jawab Tika terbata.

“Kalau begitu, pergilah. Jangan mengganggu pagi saya dengan teriakan aneh itu.”

“I-iya! Maafkan saya! Permisi!”

Tika langsung kabur seperti angin, meninggalkan Leo berdiri sendirian di depan pintu kamar.

Leo menghela napas pendek, lalu mengetuk pintu perlahan sebelum masuk.

Di dalam, Vana sedang menyusun sarapan di meja kecil dekat jendela. Sesekali ia menoleh ke arah Aksa dan Aska yang masih terlelap, wajah keduanya terlihat lelah namun damai.

Leo berdiri di ambang pintu, mengamati dalam diam sebelum bertanya pelan, “Mereka masih tidur?”

Vana menghentikan aktivitanya sejenak, berbalik menatap Leo. “Iya, Pak.”

Leo berjalan mendekat, pandangannya mengarah pada dua anak itu. “Apa semalam mereka sering terbangun?”

“Tidak terlalu,” jawab Vana pelan. “Hanya Aska yang beberapa kali terbangun. Sepertinya dia mimpi buruk.”sambungnya.

Leo mengangguk kecil. Tatapannya tidak beralih dari kedua anak itu, penuh kecemasan yang ia coba sembunyikan.

Sementara itu, Vana menatap Leo diam-diam. Lelaki yang selama ini selalu tampil rapi dan tegar, kini tampak berbeda: wajahnya pucat, garis bawah matanya menggelap, dan sorot lelahnya sulit ditutupi.

“Pak Leo baik-baik saja?” tanya Vana akhirnya.

Leo menoleh pelan. “Kenapa?”tanya baliknya.

“Tidak… hanya saja wajah Pak Leo sedikit pucat.”ucap Vana.

Leo sempat terdiam. Ia memang tidak baik-baik saja sejak semalam, namun ia menghela napas tipis, menutupinya dengan jawaban singkat.

“Saya baik-baik saja,” ucapnya pendek.

Vana mengangguk pelan. “Baik, Pak.”

Leo langsung mendesah, jelas terganggu dengan sesuatu hal.

“Bisakah kamu jangan memanggil saya dengan panggilan ‘Pak’?” ucapnya datar memperingati Vana.

Vana menoleh cepat, tidak mengerti. “Terus saya harus panggil apa?”tanya bingung.

“Cukup panggil nama saya saja,” jawab Leo.

Vana mengernyit. “Tidak sopan rasanya kalau saya panggil nama saha, terlebih Anda juga lebih tua dari saya.”

“Tidak masalah.”jawab singkat Leo.

“Tetap saja tidak sopan.”

Leo mengangkat bahu, lelah berdebat.

“Terserah kamu mau panggil apa, asalkan jangan ‘Pak’. Kamu bukan pekerja di sini.”

Vana menghela napas panjang. “Terus saya harus panggil apa?”

Leo hanya menjawab santai, “Up to you.”

Vana menggigit bibir bawahnya, berpikir keras. Ia benar-benar bingung harus memanggil duda anak dua ini dengan panggilan apa.

“Bagaimana kalau… kakak?” ujarnya ragu.

Leo memicingkan mata. “Saya bukan kakak kamu.”

“Abang?”

“Saya bukan abang kamu.”

Vana mendengus kecil. “Ya terus saya harus panggil apa?” keluhnya kesal, ia sudah tak tahu harus memanggil lelaki itu dengan apa.

Leo hanya mengedikkan bahu santai, seolah masalah itu tidak penting baginya.

“Kalau panggilan mas gimana? Mas Leo gitu, soalnya cuma—”

“Boleh,” potong Leo tiba-tiba. “Kamu bisa panggil saya Mas Leo.”

Vana terdiam menatap Leo, kaget dengan cepatnya persetujuan itu.

“Serius?” tanyanya tak percaya.

Leo mengangguk ringan. “Mas Leo terdengar jauh lebih baik daripada ‘Pak’.

Vana menghembuskan napas lega, lalu mencoba memanggilnya pelan,

“Mas Leo…”

Leo menatap Vana. Untuk pertama kalinya pagi itu, mata lelaki itu terlihat sedikit hangat—dan untuk pertama kalinya juga Leo menatap perempuan lebih dari tiga puluh detik tanpa berpaling.

“Hm. Begitu lebih bagus,” gumamnya.

Vana tersenyum kecil tanpa sadar. “Baik, Mas Leo.”

Suasana kamar kembali sunyi. Namun ketenangan itu hanya bertahan sebentar, karena suara gesekan selimut terdengar dari ranjang.

Vana dan Leo spontan menoleh.

Aska menggeliat pelan, matanya terbuka setengah. Ia menatap sekeliling dengan pandangan kosong beberapa detik, sebelum akhirnya menyadari adanya dua orang dewasa berdiri di dekat tempat tidurnya.

“Mami…” panggilnya lirih.

Vana langsung mendekat. “Iya, sayang. Udah bangun?” tanyanya lembut.

Aska mengangguk pelan, lalu memutar tubuh menghadap saudaranya.

“Abang…” bisiknya sambil menyentuh bahu Aksa.

Aksa meringis kecil, lalu membuka mata. “Hmm…”

Melihat itu, Leo ikut mendekat ke sisi ranjang sebelah Aksa. Pemandangan mereka berempat kini benar-benar seperti keluarga kecil.

“Pagi,” sapa Leo pendek.

Kedua anak itu langsung memandang Leo… kemudian memandang Vana… lalu kembali memandang Leo… dan kembali lagi pada Vana.

Leo mengangkat alis. “Papi ada di sini, bukan di sana.”ucap Leo sedikit kesal melihat kedua anaknya mengacuhkan dirinya.

Kedua anak itu langsung menempel pada Vana sambil menjawab kompak,

“Tapi mami kami ada di sini.”

Leo terdiam.

Vana mematung.

Dan kamar pun kembali terasa… hangat sekaligus canggung.

Leo terdiam beberapa detik, menatap kedua anaknya yang kini memeluk Vana seperti anak ayam kehilangan induk. Kedua pipinya seolah memanas oleh kenyataan halus yang barusan ditamparkan oleh ucapan mereka.

Vana sendiri tak tahu harus bereaksi apa. Senyum kaku muncul di bibirnya, sementara hatinya berdetak tak beraturan.

Kenapa rasanya seperti benar-benar… mami mereka?

Leo berdeham pelan—usaha menutupi gengsi yang tiba-tiba naik ke tenggorokan.

“Ayo bangun. Kalian harus sarapan,kamu juga harus minum obat Aska.” ucapnya kaku.

Aska dan Aksa malah menggeleng kompak.

“Mau di peluk sama mami dulu pi, ” pinta mereka, wajah masih setengah ngantuk tapi manja.

Leo mendengus pelan. “Peluk papi.”

Keduanya memandang Leo dengan tatapan polos.

“Enggak mau.”

Leo mengatupkan bibirnya rapat-rapat

Leo menghela napas panjang. “Terserah kalian saja. "ucap Leo pasrah. Kemudian Leo memilih menjauh dan duduk di sofa kamar itu.

Sementara itu Vana hanya bisa tersenyum kaku. Ia tidak tahu harus menoleh ke Leo atau ke dua remaja itu. Tatapan Aska dan Aksa… tulus. Bukan manja kekanak-kanakan, tapi hangat seperti seseorang yang merasa aman untuk pertama kalinya setelah lama kosong.

Vana menghela napas, Ia membuka tangan pelan—tak memaksa, hanya menawarkan.

Kedua remaja itu mendekat.

Tidak buru-buru, tidak malu.

Aska memeluk duluan, satu lengan di bahunya, kepala menunduk dekat pundaknya. Nafasnya terdengar berat. Bukan manja,tapi hembusan nafas lelah.

Aksa ikut menyentuh punggung Vana singkat, tidak seerat saudaranya. Hanya tepukan kecil yang artinya panjang: terima kasih.

Leo menatap pemandangan itu dengan rahang menegang, namun kali ini ia tidak memotong.

Ada kemarahan di matanya—bukan karena ia keberatan, tetapi karena ia sadar… dirinya tidak pernah memberi pelukan seperti itu pada anak-anaknya.

Pelukan berlangsung cukup lama, hingga jejaknya terasa dalam.

Saat Vana melepas mereka, ia berbicara lembut, “Sekarang sarapan ya. Tubuh kalian butuh energi.”ucap nya sambil mengelus rambut keduanya.

Aska mengangguk, menunduk malu.

Aksa hanya menggumam singkat, matanya sedikit merah namun tidak menangis.

Ketika keduanya berjalan pelan ke arah meja didekat jendela tempat Vana meletakkan sarapan tadi, Leo menatap Vana lirih.

“Terima kasih,” katanya, suara hampir tak terdengar.

Vana hanya tersenyum kecil. “Untuk apa?”

“Buat hal yang… saya belum sanggup lakukan.”ungkap Leo sambil menatap kedua anaknya yang sedang sarapan.

Vana terdiam.

Hatinya mendadak berat.

Ia sadar, pagi itu bukan tentang pelukan… tapi tentang dua remaja yang terlalu lama merasa sendirian. Mereka hanya butuh pelukan hangat seorang ibu yang bukan hanya sebuah rasa sayang tapi juga perlindungan dan rumah bagi mereka.

Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,,,,

1
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Farah HakimKapau Farah Hakim
Ending nya gi mana ini...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Masih menunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Kapan up episode baru ni... Lama dah tunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
👍👍👍👍👍
Farah HakimKapau Farah Hakim
😍😍😍😍😍
Azarrna
maaf ya say,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊
Farah HakimKapau Farah Hakim
Jangan lama2 up episode nya darlings.. Makin penasaran ini
Azarrna
/Bye-Bye/🤭
Farah HakimKapau Farah Hakim
Still waiting...
Azarrna: thank you for waiting🤭
total 1 replies
Farah HakimKapau Farah Hakim
Makin penasaran aja
Azarrna
makasih kk😍
falea sezi
ngakak q/Curse//Curse/
falea sezi
cie aska Aksa cmburu mami nya meluk anak lain/Chuckle/
falea sezi
ceritanya bagus q suka
falea sezi
SMP seumuran anak ku anak ku. tidur aja kagak. mau deh di. kelonin malu katanya
Azarrna
oke kk😍
Farah HakimKapau Farah Hakim
Terima kasih... Tunggu update seterusnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!