Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Batok Tenevang
Braaak!
Tubuh Arkan ambruk di atas lantai gubuk milik Atok Guro. Dadanya yang bidang terlihat turun naik.
"Huh, huh, huh!" Arkan mengatur nafasnya agar normal kembali. Saat ini di tepi Sungai Mahakam, waktu memperlihatkan pukul 02.35.
"Tok, aku sudah membuat pagar desa. Kit ke hulu sekarang. Kita putuskan perjanjian itu. Aku ingin Dayang Sari selamat," ucapnya dengan suara yang berat.
Air sungai saat ini tampak seperti putih susu dan sangat dalam. Langit terlihat gelap, tidak ada bulan., sebab tertutup awan kelabu. Sedangkan kabut putih tebal menggantung di atas permukaan.
Arkan menggendong Dayang yang masih pingsan. Di punggungnya, dua botol Minyak Kuyang Hijau dan juga Kuning diikat dengan menggunakan sarung.
"Ayo..." ajak Atok Guro. Mereka menuju tangkahan (pelabuhan darurat yang terbuat dari balai papan) yang terbuat dari kayu ulin.
Arkan tak menjawab, tetapi ia berjalan dengan menggendong tubuh sang gadis.
Di depannya, Atok Guro mendayung jukung (sampan kecil tanpa mesin motor) yang terbuat dari kayu tua. Dan mereka menggunakan lentera nelayan yang bahan bakarnya terbuat dari minyak lemak babi. Pelita itu hanya satu, dan cahayanya sangat remang.
“Cepat, Arkan! Sebelum jam tiga pagi! Itu jam Induk Jarum memiliki kekuatan!” teriak Atok Guro.
Arkan mengangguk. Ia meletakkan tubuh Dayang di atas lantai jukung.
Ia membantu Atok Guro untuk mendayung.
Akan tetapi, matanya tidak lepas dari Dayang yang masih tak sadarkan diri.
Luka yang melingkar di leher sang gadis terlihat seperti keloid. Darah hitam tiba-tiba menetes dari bekas keloid tersebut.
Tangan Arkan terlihat sangat bersemangat, meskipun ia mengalami luka di bagian punggungnya.
Terlihat di kanan dan kiri di penuhi oleh pepohonan dan juga semak belukar. Kabut embun semakin tebal, membuat jarak pandang cukup terhalang.
Tiba-tiba saja, air di belakang jukung berputar.
BLUUUBUK... BLUUUUBUK...!
“Apa itu, Tok?” bisik Arkan. Ia memperlambat dayungan-nya.
Atok Guro langsung berkeringat dan berwajah pucat. “Pesut.... Itu pesut makhluk legendaris...” jawabnya dengan suara yang pelan.
Dari balik kabut yang tebal, muncul punggung yang terlihat licin. Warnanya abu-abu dan berukuran sangat besar. Bahkan hampir setara dengan sampan yang mereka naiki.
Seekor Pesut Mahakam mendongakkan kepalanya kepermukaan. Tetapi matanya berwarna merah. Bukan hitam seperti pesut normal pada umumnya..
Satu ekor muncul di permukaan air. Lalu muncul yang kedua, dan juga ketiga. Hingga menjadi sekelompok kawanan yang berjumlah tujuh ekor. Meraka berenang dengan cara mengelilingi jukung yang saat ini tumpangi.
Dahulu orang kampung mengatakan kalau Pesut itu adalah penjaga sungai. Kalau dia muncul, artinya air sedang marah.
Tapi Pesut yang ini tidak menari. Tidak melompat indah.
Mereka menabrak jukung.
DUAAARR!
"Hah!" Arkan tersentak kaget.
Jukung mengalami oleng. Arkan hampir saja terjatuh. Ia langsung menahan tubuh Dayang yang miring ke tepian badan jukung, dan memahannya agar tetap di tengah.
“Pegang erat, Kan!” Atok melempar jala ke air. “Ini bukan Pesut biasa! Ini pesut yang disuruh oleh Induk Jarum!”
Pesut paling besar melompat. Menabrak sisi jukung.
KRETAAAKK!
Kayu retak. Air masuk ke dalam jukung.
Dayang yang pingsan tiba-tiba membuka matanya. Manik matanya berwarna hitam semua.
“KALIAN TIDAK AKAN SAMPAI!” raungnya. Suaranya bukan suara Dayang lagi. Suara sangat berat dan juga berusia ratusan tahun, serta seperti puluhan orang yang banyak.
Arkan menatapnya. “Lepaskan dia!”
“TIDAK! DIA WADAHKU! DUA RATUS TAHUN AKU SUDAH MENUNGGU!”
Pesut-pesut itu mulai berputar dan membuat pusaran air.
Air sungai tiba-tiba saja naik setinggi dua meter. Kabut embun semakin tebal. Bau amis dan anyir menguar di udara.
Dari dalam pusaran, muncul sesuatu.
Bukan Pesut.
Kepala manusia berwajah seram . Rambut panjang. Tapi tubuhnya tubuh pesut mahakam.
Tangannya...memiliki jari-jari yang meruncing seperti jarum, berukuran panjang dan juga tajam.
Sosok itu sudah menjadi budak Induk Jarum.
Sosok itu melayang di atas air. Menatap botol di punggung Arkan.
“KEMBALIKAN ANAKKU!” suaranya membuat air bergetar.
Arkan berdiri di jukung yang hampir tenggelam. Dia mengangkat dua botol itu.
“Aku tidak akan kembalikan! Aku akan putuskan perjanjian ini!”
Induk Jarum menjerit. “PERJANJIAN DARAH! TIDAK BISA DIPUTUS! KECUALI DENGAN DARAH TUJUH KETURUNAN!”
Pesut-pesut yang mengitari jukung langsung menyerang lagi. Kali ini langsung ke arah Arkan.
Arkan tidak punya pilihan. Dia ambil garam dan daun kelor terakhir dari saku.
TABUR!_
SSSSST!
Pesut yang terkena langsung menjerit. Kulitnya melepuh. Mereka mundur.
Tapi Induk Jarum malah tertawa. “GARAM TIDAK MEMATIKAN AKU, ANAK MUDA!”
Sosok itu menjulurkan tangan jarumnya. Menusuk ke arah dada Arkan.
WUUSS!
Atok Guro mendorong Arkan. Jarum itu justru menancap di bahu Atok Guro
“TOOOOK!” Arkan berteriak.
Atok mebeliakkan kedua matanya. Kedua tangannya dengan cepat menyentak dada Siluman pesut Mahakam dengan dorongan yang cukup kuat, hingga sosok itu terpental ke air.
Sedangkan Atok Guro jatuh terduduk. Darah hitam keluar dari bahunya. “Lanjutkan, Kan... jangan berhenti... ke Tebing Kapur... di sanalah...” ucapnya, sembari meringis kesakitan.
Sementara itu, Siluman pesut Mahakam melompat tinggi ke udara, lalu menceburkan dirinya ke sungai dan menciptakan ombak yang begitu kuat.
Keduanya berpegangan pada tepian jukung, menjaga keseimbangan.
“TERLAMBAT. JAM TIGA KURANG LIMA MENIT.” ucap Atok Guro dengan wajah pucat.
Air sungai tiba-tiba tenang. Bahkan terlalu tenang. Dan ini tidak dapat di abaikan. Wajah mereka saling pandang.
Lalu...
Duuuaaar!
Petir menyambar tepat di tengah sungai. Menerangi semuanya.
Pelita di pegangan mereka terlempar ke dalam sungai. Suasana menjadi gelap gulita.
Dan kilatan cahaya petir membelah kegelapan malam.
Tetapi di cahaya itu, Arkan melihat sesuatu dii dasar sungai, ada puluhan tengkorak. Tengkorak perempuan. Semua memakai baju adat Dayak yang semua lehernya sudah patah.
“Tujuh keturunan Dayang...” bisik Atok Guro dengan nada lemah. “Mereka semua... sudah diambil...”
Dayang di pelukan Arkan mengalami kejang. Mulutnya mengeluarkan buih berwarna hitam.
Arkan mengepalkan tinjunya. Dengan perasaan yang cemas akan ia tidak melempar botol. Dia justru menggigit tutupnya.
KRAAAK!_
Dia membuka satu botol. Bau busuk menyengat langsung menguar dinudara . Isinya: air hitam dan rambut.
Arkan siramkan ke sungai.
“AKU MENGEMBALIKAN SETENGAH! SEBAGAI TANDA! TAPI AKU TIDAK AKAN BERI SEMUA! SAMPAI KITA DI MAKAM TUA!”
Induk Jarum menjerit. Suaranya membuat telinga berdenging dan mengeluarkan berdarah.
Pesut-pesut langsung menyelam dan menghilang.
Kabut perlahan turun semakin tebal.
Sedangkan jukung sudah bocor. Air menggenang sepinggang.
Atok terbatuk. “Pintar... kau tawar menawar... sekarang dayung... sebelum dia sadar lagi...”
Arkan mengangguk. Menggendong Dayang. Kemudian mengambil dayung dengan satu tangan.
Di kejauhan, terdengar suara. Seperti gong.
DUM... DUM... DUM...
Itu suara dari hulu. Dari Gunung Muller. Dari Makam Tua Tebing Kapur Batok Tenevang._
Tempat perjanjian dua ratus tahun lalu dibuat.
Dayang Sari mendadak membuka matanya lagi. Kali ini matanya bening. Dan itu hanya sebentar saja.
“Arkan... lari... jangan selamatkan aku...” bisiknya. Air mata darah mengalir dari sudut matanya..
Sebelum Arkan bisa menjawab, manik mata Dayang kembali hitam.
~Pesut Mahakam adalah lumba-lumba asli air tawar Indonesia. Dan keberadaannya terancam punah karena aktivitas manusia dan juga penyusutan debit air Sungai Mahakam akibat kemarau yang berkepanjangan.