Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi
Popularitas:27.7k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harus Pergi Sebelum Sagara Pulang

Malam terus bergulir tanpa banyak suara. Rumah itu perlahan tenggelam dalam kesunyian, hanya sesekali terdengar suara kendaraan dari kejauhan.

Hingga tanpa terasa, warna gelap di balik jendela mulai memudar. Cahaya pagi perlahan menyelinap masuk, menandakan hari baru telah tiba.

Sagara keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi seperti biasanya. Kemeja yang telah terpasang sempurna, celana panjang, serta jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

Langkahnya baru beberapa kali terdengar di lorong ketika Bi Ani menghampirinya dari arah dapur.

“Pak, Mbak Ainun—”

Sagara menghentikan langkah. Tatapannya beralih kepada Bi Ani.

“Jangan pikirkan wanita itu,” potongnya datar. “Saya akan makan di luar.”

Bi Ani terdiam. Matanya sempat melirik ke arah pintu kamar Ainun yang masih tertutup rapat.

“Tapi, Pak...”

Sagara mengangkat tangannya, menghentikan ucapan wanita itu.

“Apalagi sampai berani membuka pintu itu.”

Nada suaranya terdengar lebih tegas.

“Kalau sampai kamu membukanya, kamu tahu sendiri akibatnya.”

Wajah Bi Ani seketika menegang. Ia menundukkan kepala.

“B-baik, Pak.”

Sagara tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia merapikan ujung lengan kemejanya, lalu berbalik dan melangkah menuju pintu utama.

Tak sekali pun ia menoleh ke arah kamar Ainun.

Namun, ketika tangannya menyentuh gagang pintu, langkahnya sempat terhenti sesaat.

Dari balik pintu kamar yang tertutup itu, tidak terdengar suara apa pun.

Sagara mengepalkan jemarinya sebentar sebelum akhirnya membuka pintu.

Cahaya pagi menyambutnya.

Ia melangkah keluar tanpa berkata apa-apa, meninggalkan rumah dan kamar yang masih terkunci rapat di belakangnya.

.

Setelah punggung Sagara menghilang di balik pintu utama, Ani masih berdiri beberapa saat di tempatnya. Tatapannya sempat mengikuti arah kepergian pria itu sebelum akhirnya beralih kepada pintu kamar Ainun.

Ia segera melangkah mendekat.

Tok... tok... tok...

“Mbak Ainun, ini Bibi,” panggil Ani sambil mengetuk pintu.

Dari dalam kamar, terdengar suara lemah yang membuat langkah Ani terhenti.

“Bibi... tolong bukakan pintunya.”

Ani menempelkan telapak tangannya pada pintu.

“Hari ini aku akan pergi bersama Laras, sahabatku.”

Ani mengangguk meski tahu Ainun tidak dapat melihatnya.

“Baik, Mbak. Tunggu sebentar, ya.”

“Cepat, Bi.”

Ani menarik napas pelan. “Bentar, Mbak.”

Ia kemudian meninggalkan depan kamar dan berjalan menuju meja tempat Sagara biasanya menyimpan barang-barangnya.

Tangannya membuka laci pertama.

Tidak ada.

Laci kedua juga kosong.

Ani mengerutkan kening. “Di mana kuncinya?”

Ia membuka laci berikutnya dan mulai menggeledah isinya.

“Seingat ku, kemarin Pak Sagara menaruh kunci kamar Mbak Ainun di sini.”

Satu per satu laci dibuka. Beberapa barang yang tersimpan di dalamnya ia geser untuk memastikan tidak ada kunci yang terselip.

Namun, benda yang dicari tidak kunjung ditemukan.

“Bibi sedang mencari apa?”

Suara dari belakang membuat tubuh Ani seketika menegang.

Tangannya berhenti bergerak. Perlahan, ia menoleh.

“M-mbak Liona...”

Liona berdiri tidak jauh darinya.

Ani segera menghampiri wanita itu.

“Mbak, tolong selamatkan Mbak Ainun.” Suaranya terdengar terburu-buru. “Sejak kemarin beliau dikurung sama Pak Sagara, dan tidak di beri makan.”

Liona terdiam beberapa saat.

“Aduh, Bi...” Ia mengembuskan napas. “Bukannya saya nggak mau membantu, tetapi saya nggak ingin membuat Mas Sagara marah.”

Ani menatap Liona dengan cemas.

“Tapi, Mbak... Mbak Ainun hari ini mau pergi bersama sahabatnya.”

“Pergi?”

Ani mengangguk cepat. “Iya, Mbak.”

Liona menatapnya beberapa saat.

“Di mana kamar Ainun?”

Ani langsung berbalik. “Di sini, Mbak. Ayo.”

Ia berjalan lebih dulu menuju kamar Ainun. Liona mengikuti dari belakang.

Begitu tiba di depan pintu, Ani menunjuk ke arahnya.

“Ini, Mbak.”

“Ini kamarnya?” tanya Liona tampak ragu.

Ani mengangguk. “Iya, Mbak.”

Belum sempat Ani mengatakan apa-apa, suara Ainun terdengar dari dalam.

“Bibi, sudah dapat kuncinya?”

Ani mendekat ke pintu.

“Belum, Mbak Ainun.” Ia melirik Liona. “Tapi sekarang ada Mbak Liona.”

Suara dari dalam kamar mendadak berubah.

“Mbak Liona?”

Ani mengangguk. “Iya Mbak Ainun.”

Liona melangkah mendekati pintu.

“Ainun.”

“Mbak...” Suara Ainun terdengar lirih. “Tolong keluarkan aku dari sini.”

Liona diam sejenak sebelum bertanya.

“Kamu akan pergi jauh setelah ini, kan?”

“Iya, Mbak.” Suara Ainun terdengar bergetar. “Aku janji nggak akan kembali ke kota ini. Apalagi muncul di hadapan Mbak dan Mas Sagara lagi.”

Ani menundukkan kepala. Kalimat itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Liona terdiam cukup lama. Kemudian ia menoleh kepada Ani. “Bi.”

Ani segera mengangkat wajah. “Iya Mbak Liona…”

“Panggil tukang kebun. Minta dia mendobrak pintu ini.”

Ani sempat membelalak. “Mendobrak pintunya, Mbak?”

“Iya.” Liona menunjuk pintu kamar Ainun. “Cepat.”

Ani mengangguk. “Baik, Mbak Liona.”

Ia segera berbalik dan berjalan meninggalkan pintu kamar tersebut untuk mencari tukang kebun.

Namun, langkahnya terasa lebih cepat dari biasanya.

‘Semoga Mbak Ainun bisa keluar sebelum Pak Sagara kembali.’

 .

Sementara itu, setelah meninggalkan rumah, Sagara memilih langsung menuju kantor. Mobilnya melaju membelah jalanan pagi, sementara pandangannya tetap lurus ke depan.

Tangannya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat.

Bayangan Ainun yang duduk bersama Faizan kembali terlintas di benaknya. Begitu pula ucapan pria itu yang tanpa ragu menyampaikan niat untuk mengkhitbah Ainun.

Rahang Sagara mengeras.

Begitu mobil berhenti di depan gedung perusahaan, Sagara turun dan masuk ke dalam tanpa banyak bicara.

Beberapa saat kemudian, ia sudah berada di ruang kerjanya.

Ia berdiri di dekat dinding kaca, menatap jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan. Dari ketinggian, deretan mobil tampak bergerak perlahan di antara gedung-gedung yang menjulang.

Pintu ruangannya diketuk.

“Masuk,” ucap Sagara tanpa berbalik.

Pintu terbuka. Suara langkah sepatu pantofel perlahan mendekat, dan berhenti.

“Pak Sagara,” panggil Liam hati-hati.

Sagara tetap menatap ke luar. “Ada apa?”

“Berita tentang Bapak di media sosial dan layar televisi sudah viral.”

Sagara akhirnya menoleh.

“Berita apa?”

Liam menunjukkan layar tablet kepadanya.

“Rekaman saat Bapak membanting piring dan menyeret Bu Ainun dari restoran tersebar di mana-mana.”

Tatapan Sagara jatuh pada layar tersebut. Beberapa potongan video memperlihatkan dirinya sedang mencengkeram pergelangan tangan Ainun.

“Lalu?”

Liam menelan ludah.

“Kalau berita ini terus menyebar, dampaknya bisa serius, Pak. Sentimen publik akan memburuk dan saham perusahaan berisiko anjlok.”

Sagara mengembalikan tablet itu tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun.

“Bungkam saja.”

Liam mengerutkan kening. “Bungkam, Pak?”

“Gunakan uang.” Sagara kembali menghadap jendela. “Hubungi media yang menyebarkannya. Minta mereka menghapus berita tersebut dan membuat klarifikasi bahwa pria dalam video itu bukan saya.”

Liam mengangguk cepat. “Baik, Pak.”

Sagara kembali menatap ke arah luar gedung.

“Pastikan semuanya selesai hari ini.”

“Baik, Pak.”

Liam segera berbalik dan meninggalkan ruangan.

Begitu pintu kembali tertutup, Sagara mengembuskan napas pelan.

‘Kenapa aku harus peduli pada apa yang mereka pikirkan?’

1
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
falea sezi
bkin ainun cerai Thor 🤣🤣 laki menjijikkan hukum itu ya di hukum cambuk bukan hukum ngeweee😒
falea sezi
🤣🤣 kn emank bejat g akan bisa berubah
Datu Zahra
apaansih Sagara, jijik banget.
Datu Zahra
kebanyakan pelakor, Liona belom beres, nongol Alif. terlalu ruet
Ais
sebenarnya saraga sm bapaknya ini sm"hyper kayaknya jijik tp kok ditiduri jg perempuan yg udah nyakitin istrinya aku pikir alif pelacur ini bakalan disiksa dlm artian disiksa bnr bkn disiksa dlm tanda kutip trus laras lihat kejadiannya apakah laras jg bakalan jd mangsa sagara berikutnya kasihan ainun kata aku seh smoga ainun cepat tau jd bs kabur sm anaknya jng smp rantai setan ini jg mengikat prilaku aksara anak ainun mau sebaik apa ibunya klo bapaknya hyper dan iblis anak jg pst akan kebawa namanya buah ngak akan jatuh jauh dr pohonnya
merry
jgn bgtt ainum sm bu Lina sm dm disiksa,, trss di selingkuh in lgg,, cb mrk bersatu hancurin ank Bpk iblis itu,, bastian tdrin mantan mantu ya eee anky selingkuh dgn alif ud gk bs dijadiin suami itu,, curi kek yang bu Lina trs pergi keluar negeri gt
dika edsel: klo bisa ainun dibuat mati aja...sad ending lbh baik..,ini novel bner2 di luar logika org waras
total 2 replies
Ila Latifah
jangan sampai ainin menderita lagi hara2 si alif bkin ulah. kasian bu lina. mamamnya sagara
Ila Latifah
masih 1 tipe. banyak tokoh jahatnya
Ila Latifah
menjijikan. dimakan bapaknya untuk dimikahi anaknya. anak tiri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!