Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Terpojok di Dalam Mobil
Dua hari kemudian, Sebastian meminta Lia menemaninya keluar setelah makan siang.
“Ke mana?” tanya Lia.
“Ada tempat yang perlu kamu lihat.”
“Saya sedang bekerja.”
“Popo sudah bicara dengan Cornelia. Kamu bebas dua jam.”
Lia semakin curiga, tetapi tetap masuk ke mobil. Pak Kelik mengemudi menuju sebuah kompleks ruko tak jauh dari Pluit, lalu berhenti di depan pusat pelatihan kerja dan usaha kecil.
Sebastian tidak turun.
Ia menyerahkan sebuah map tipis kepada Lia.
Di dalamnya ada informasi kelas pembukuan dasar, administrasi toko daring, dan layanan penempatan pekerja harian yang tidak mewajibkan tinggal di rumah majikan. Ada pula daftar kos perempuan yang telah diperiksa legalitas sewanya oleh Robby.
Tidak ada formulir yang sudah diisi. Tidak ada uang. Hanya pilihan dan nomor kontak.
Di halaman terakhir, ada catatan tulisan tangan Sebastian. Lia bisa mengikuti kelas malam tanpa berhenti bekerja. Jika memilih pindah, pengelola kos akan membuat kontrak langsung atas nama Lia. Nomor Fenny dicantumkan sebagai kontak pendamping hanya bila Lia sendiri setuju. Bahkan Robby tidak akan menerima laporan tentang ke mana ia pergi setelah pindah.
Semua celah yang bisa berubah menjadi pengawasan sengaja ditutup.
“Ini apa?” tanya Lia.
“Jalan keluar kalau suatu hari kamu tidak mau bekerja di Rumah Wijaya.”
“Ko Sebas mau memecat saya?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa menyiapkan kos?”
“Karena saya ingin bicara tentang kita. Saya tidak mau pekerjaan dan tempat tinggal membuatmu merasa harus menjawab sesuai keinginan saya.”
Pak Kelik menyalakan pembatas suara lalu turun membeli kopi, memberi mereka privasi tanpa meninggalkan area parkir.
Lia memegang map itu seperti benda panas.
“Kalau saya memilih pergi, siapa yang bayar kelas dan kos?”
“Kelas punya program gratis untuk peserta berpenghasilan rendah. Kos dibayar dari gajimu sendiri. Kalau butuh pinjaman awal, perjanjiannya tertulis dan tidak bergantung pada jawabanmu kepada saya.”
“Ko Sebas sudah mengatur semuanya.”
“Saya hanya mengumpulkan informasi. Kamu yang memutuskan apakah dipakai.”
Lia menutup map. “Kenapa repot?”
“Kamu tahu kenapa.”
Sebastian memutar tubuh menghadapnya. Mobil parkir di tempat terbuka, pintu tidak dikunci, dan Pak Kelik terlihat di balik kaca minimarket. Semua sengaja dipilih agar Lia punya rasa aman sekaligus ruang pribadi.
“Malam itu saya mengatakan sudah memilihmu,” katanya. “Saya masih memilihmu saat sadar.”
Lia menatap lurus ke depan.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena Ko Sebas tidak tahu apa yang dipilih.”
“Saya tahu cukup banyak.”
“Ko Sebas tahu saya pekerja rumah. Tahu Papa punya utang. Hanya itu.”
Sebastian terdiam saat Lia menyebut ayahnya. Ia tahu lebih banyak daripada yang Lia sadari, tetapi ini bukan saat yang tepat mengaku telah menyelidiki tanpa izin.
“Ceritakan yang menurutmu belum saya tahu.”
Lia tertawa kecil tanpa gembira. “Untuk apa? Supaya Ko Sebas akhirnya sadar?”
“Supaya saya memahami ketakutanmu.”
Pertahanan Lia retak.
“Saya pernah dijual,” katanya.
Kata itu jatuh begitu berat hingga suara kendaraan di luar seolah hilang.
“Papa punya utang. Dia bilang seorang laki-laki mau membayar kalau saya pulang dan menikah. Mereka bicara soal uang susu, biaya hidup, dan utang di depan saya seperti sedang menghitung harga barang.”
Lia mengingat malam ketika Herman membawa dua orang asing ke rumah. Ia disuruh menyajikan kopi sambil berdiri di depan mereka. Salah satu pria meminta Lia berputar agar ibunya bisa melihat tubuhnya. Herman tertawa dan berkata anak perempuannya sehat, pandai masak, dan tidak akan banyak menuntut.
“Saya belum pernah bicara dengan calon itu sendirian,” lanjut Lia. “Saya bahkan tidak tahu umurnya. Tapi Papa sudah menerima uang dan bilang kalau saya menolak, saya membuat keluarga kelaparan.”
Popo Hwa menyembunyikan KTP Lia, memberi ongkos, lalu membangunkannya sebelum subuh untuk naik bus keluar kota. Sejak itu Lia selalu menyiapkan tas kecil dekat ranjang karena takut seseorang akan datang menjemput paksa.
“Makanya saya tidak suka pintu dikunci,” katanya. “Dan makanya saya panik kalau perlindungan terasa seperti larangan.”
Sebastian teringat malam saat ia mengait pintu ruang baca dan bahu Lia langsung tegang. Baru sekarang ia memahami akar reaksinya.
“Saya minta maaf untuk setiap kali saya membuatmu merasa terkurung.”
“Ko Sebas selalu membuka lagi ketika saya takut.”
“Mulai sekarang saya akan bertanya sebelum menutup.”
Sebastian mengepalkan tangan di paha.
“Saya kabur. Popo Hwa yang membantu. Setelah itu Papa terus kirim pesan minta uang dan bilang saya anak tidak tahu balas budi.”
Air mata mulai menggenang, tetapi Lia memaksa tersenyum.
“Jadi jangan bilang saya punya pilihan. Sejak kecil, orang lain selalu merasa bisa memilihkan hidup saya.”
“Sekarang tidak.”
“Ko Sebas juga sedang memilih saya.”
“Saya memilih perasaan saya. Bukan keputusanmu.”
Lia menoleh. “Apa bedanya kalau akhirnya saya tetap membuat keluarga Ko Sebas malu?”
“Malu mereka bukan dosa kamu.”
“Mudah bicara begitu karena Ko Sebas tidak pernah dipandang sebagai barang.”
“Benar.” Sebastian menerima tanpa membela diri. “Saya tidak pernah mengalami hidupmu.”
Kejujuran itu membuat air mata pertama jatuh.
“Saya ini cuma pembantu,” bisik Lia. “Anak perempuan yang hampir dijual bapaknya. Saya tidak punya pendidikan tinggi, tidak punya uang, tidak punya keluarga yang bisa dibanggakan. Apa yang membuat saya pantas berdiri di samping Ko Sebas?”
Sebastian membuka sabuk pengaman, tetapi tidak langsung menyentuh. “Boleh saya mendekat?”
Lia menutup wajah. Ia mengangguk.
Sebastian bergeser ke kursi tengah. Ia menarik tisu, lalu mengusap air mata di pipi Lia dengan gerakan pelan.
“Kamu pantas bukan karena keluarga, uang, atau pekerjaanmu,” katanya. “Kamu pantas karena kamu Lia. Kamu berani melawan orang yang menarikmu. Kamu menjaga Bryan saat tak ada yang bisa menenangkannya. Kamu meminta bukti saat dituduh. Kamu mengembalikan gaun bagus karena tidak mau mempermainkan hati orang.”
“Saya tetap sering takut.”
“Keberanianmu tidak hilang hanya karena kamu gemetar.”
“Saya juga sering salah.”
“Saya pun. Tangan saya punya bukti.”
Lia tertawa di sela tangis ketika melihat bekas gigi yang kini hampir hilang. Sebastian membiarkan tawa itu mengurai simpul di antara mereka.
Lia menangis semakin keras.
“Jangan sebut diri kamu barang lagi.”
“Tapi orang akan tetap bicara.”
“Biarkan mereka. Saya tidak bisa menutup semua mulut, tetapi saya bisa berdiri di sampingmu saat mereka bicara.”
“Bagaimana kalau nanti Ko Sebas menyesal?”
“Itu risiko saya, bukan alasan merampas keputusanmu hari ini.”
Sebastian menyeka air mata terakhir dengan ibu jari. Aroma manis Lia muncul tipis, bercampur garam air mata dan udara mobil.
Ia ingin mencium perempuan itu, tetapi tidak melakukannya.
“Saya tidak akan minta jawaban sekarang,” katanya.
Lia menatapnya dengan mata merah. “Lalu kapan?”
“Malam ini.”
“Bedanya cuma beberapa jam.”
“Beberapa jam cukup agar kamu membaca semua pilihan di map itu dan tahu tidak satu pun jawaban membuatmu kehilangan tempat berpijak.”
Pak Kelik kembali membawa tiga kopi. Sebastian bergeser ke kursinya sebelum pembatas dibuka.
Lia menyimpan map di dalam tas. Tangannya tak lagi gemetar.
Sebelum mereka turun di Rumah Wijaya, Sebastian menahan pintu untuknya.
“Malam ini, tunggu saya,” katanya.
Lia menggenggam map pilihan hidupnya dan mengangguk pelan.