Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kelas pagi
Seragam resmi Akademi Asteria sudah terpasang rapi menyelimuti tubuh. Kemeja putih bersih berpadu dengan almamater berwarna abu-abu elegan memperelok penampilan. Untuk murid pria, celana panjang berwarna abu-abu terang menjadi padanannya, sementara para murid perempuan mengenakan rok bersusun sebatas lutut dengan warna senada.
Airyn sedang berdiri di depan cermin kecil seraya menyisir surai birunya, saat Flora sibuk memasukkan beberapa buku pelajaran ke dalam tas jinjing yang disediakan akademi.
Airyn melakukan hal serupa, tak lupa menyambar kantong kertas berisi roti pemberian Paman Barnaby tadi pagi—jaga-jaga jika ia berpapasan dengan Teira.
Keduanya melangkah keluar dari blok asrama putri. Beberapa siswi biasa yang berpapasan di lorong tampak tergesa-gesa menuju kelas masing-masing. Mereka menghentikan langkah sejenak, mengangguk dan tersenyum hormat pada Airyn dan Flora. Gestur mereka masih terasa kaku dan segan, mengingat Airyn dan Flora bukanlah murid sembarangan, melainkan para penguasa elemen benua.
Begitu tiba di pelataran tangga utama, seluruh Aetherist muda sudah berkumpul lengkap—minus Teira.
"Airyn!" panggil Fin melambaikan tangan dengan wajah berbinar.
William yang berdiri di sebelahnya mendesis pelan, lalu dengan sengaja menyenggol rusuk Fin menggunakan sikunya agar pemuda itu berhenti melambai.
"Oh ya, di mana satu teman kalian lagi? Teira, bukan?" tanya Fin heran saat menyapu pandangan ke sekeliling.
"Sudah, pandu saja jalan kami dan jangan memedulikan si bocah itu!" pangkas Stella ketus seperti biasanya.
Fin hanya tersenyum canggung, lalu memimpin rombongan menuju area pelataran luar di bagian dasar.
Mereka berjalan menyusuri jalur batu yang membelah tanah padat—halaman luas di tengah kompleks empat gedung akademi. Jika Airyn sudah sempat mengamatinya semalam, teman-temannya yang lain baru kali ini melihat lanskap megah tersebut secara langsung.
"Gedung utama berada di belakang kita sekarang. Di sebelah kiri kita adalah Gedung Kedua, tempat belajar untuk Angkatan Tahun Keempat," terang Fin seraya menunjuk bangunan di kiri mereka.
"Lantai satu dan dua digunakan sebagai ruang kelas, sementara lantai tiga difokuskan untuk ruang pertemuan."
Fin menggeser pandangannya. "Gedung di hadapan kita adalah Gedung Ketiga, diperuntukkan bagi Angkatan Tahun Ketiga dan Kedua. Lantai satu untuk Angkatan Tiga, lantai tiga untuk Angkatan Dua, dan lantai dua adalah aula serbaguna."
Ia lalu menunjuk ke arah kanan. "Sedangkan gedung di sebelah kanan kita, adalah Gedung Keempat khusus Angkatan Tahun Pertama. Lantai satu untuk ruang kelas, lantai dua ruang staf juga profesor, dan lantai tiga adalah kantor rektorat Profesor Alistair."
"Jadi di mana letak kelasku?!" selak Emery. Penjelasan Fin yang terlalu panjang lebar membuat gadis itu kehilangan konsentrasi di tengah jalan.
"Jangan buat malu, Emery!" cercah Stella seraya menyambar lengan Emery dan menyeretnya menuju gedung di hadapan mereka.
"William, kejar mereka! Kau kan seangkatan dengan mereka!" seru Airyn saat melihat kedua gadis itu melangkah makin jauh.
"Loh? Bukankah itu tugas Fin untuk mengantar?" protes William tak terima saat disuruh Airyn mengantarkan dua gadis itu.
"Kalau Fin harus mengantar kita satu per satu, dia bisa terlambat masuk kelasnya sendiri! Ayo William, nanti mereka tersesat!" desak Airyn.
Fin mengangguk mengiyakan. William yang jengkel setengah mati akhirnya berbalik dan mengejar langkah Stella dan Emery dengan raut wajah masam—terutama saat melihat Fin melambaikan tangan dengan sangat manis di belakang Airyn.
"Baiklah, aku antar kalian ke kelas," tutur Fin pada yang tersisa.
Namun Snow melangkah lebih dahulu menerobos jalan menuju Gedung Ketiga. "Aku bisa cari sendiri," cetusnya dingin, disusul Andrew yang berjalan tegap di belakangnya karena sama-sama berada di Angkatan Tahun Ketiga.
Kini hanya tersisa Airyn dan Flora.
"Kita antarkan Airyn ke kelasnya dulu, Fin," pangkas Flora lembut.
Mereka bertiga melangkah menuju Gedung Keempat di sebelah kanan. Kelas Airyn berada di lantai dasar, jadi tidak perlu repot menaiki tangga. Memasuki koridor utama, beberapa pintu ruang kelas berderet rapi. Plang bertuliskan 'Kelas 1-A' terpampang tak jauh dari pintu masuk utama.
"Nah, sudah sampai, Airyn," ujar Fin menghentikan langkah.
"Terima kasih banyak, Fin! Ini sangat membantu," balas Airyn tulus.
Anehnya, pemuda bersurai hitam itu mendadak terdiam, menatap wajah Airyn cukup lama dengan senyuman terkulum. Airyn yang merasa canggung hanya bisa membalas dengan senyuman kaku.
TRIIINGGG!
Suara bel nyaring seketika memecah kecanggungan itu, membuat Fin tersentak kaget.
"A-astaga! Sampai jumpa nanti, Airyn! Ayo Flora, kita bisa terlambat!" seru Fin panik, buru-buru mengajak Flora berlari menuju gedung angkatan mereka.
Airyn menghela napas lega lalu melangkah masuk ke dalam kelas. Sebagian besar bangku kayu sudah terisi oleh para murid biasa. Begitu Airyn melangkah menerobos ambang pintu, atmosfer ruangan seketika hening. Tatapan intens dan penuh rasa ingin tahu tertuju padanya. Airyn memilih melangkah menuju meja kayu di sudut belakang yang masih kosong—sebuah meja berkapasitas dua orang dengan dua bangku berdampingan.
Tak lama kemudian, seorang profesor wanita masuk membawa beberapa buku di pelukannya. Seluruh murid berdiri memberikan salam hormat. Airyn buru-buru mengekor karena ini adalah pengalaman pertamanya di kelas formal.
Pengajar wanita itu menyapu pandangan ke seisi ruangan hingga matanya tertuju pada Airyn yang tampak mencolok.
"Ah... Aetherist bukan?" tanya sang profesor ramah.
Airyn berdiri tegap dan menyunggingkan senyum. "Salam kenal, Profesor. Saya Airyn"
"Selamat bergabung di Kelas A, Airyn. Silakan duduk," sambutnya hangat. "Baiklah Anak-Anak, mari kita buka buku teks halaman 53..."
TOK! TOK!
Ketukan pintu memotong kalimat sang profesor. Seluruh kelas menoleh ke arah ambang pintu.
"Ini Kelas A, kan?" tanya sebuah suara yang sangat familier bagi Airyn. Ia melotot tak percaya mendapati sosok yang berdiri di sana.
"Ah, Aetherist lainnya? Siapa namamu, Nak?" tanya sang profesor menyambut.
"Teira," jawab pemuda bersurai ungu plum itu singkat seraya melangkah masuk tanpa beban.
"Wah, kejutan yang menyenangkan! Selamat datang, Teira. Silakan duduk di bangku kosong di sebelah Airyn."
Teira melangkah santai menuju sudut belakang. Ia menghempaskan tasnya ke atas meja lalu menduduki bangku tepat di samping Airyn.
"Baiklah Anak-Anak, kita lanjutkan..."
"Hei! Kau tidak kabur dari akademi?!" Tanya Airyn sambil berbisik, condong ke arah Teira.
Namun pemuda itu bergeming. Ia mengeluarkan buku catatannya dan fokus menyimak materi profesor di depan. Airyn yang tak ingin memicu perhatian tak perlu, akhirnya menahan diri. Dengan sigap, ia mengeluarkan kantong kertas berisi roti dari Paman Barnaby dan menggesernya pelan ke atas meja Teira.
Teira menoleh heran, menatap kantong kertas itu lalu menatap Airyn.
Airyn menyambar pena dan menuliskan pesan singkat di sudut buku catatannya:
‘Roti dari Paman Bar. Makanlah, cukup untuk mengganjal perutmu sampai makan siang.’
Anehnya, Teira justru mendorong kantong kertas itu kembali ke arah Airyn. Airyn yang tidak mau kalah mendorongnya lagi. Keduanya saling dorong kantong kertas di bawah meja. Hingga akhirnya Airyn kehilangan kesabaran—ia mencengkeram kantong kertas itu erat-erat, menatap Teira dengan mata membelalak galak seolah mengancam; 'Makan atau kutebas!'
Teira bergidik menelan ludah, lalu dengan pasrah menerima kantong kertas itu dan menyimpannya di dalam laci meja. Airyn tersenyum puas dan mengangguk bangga—rupanya memang harus ada sedikit gertakan jika berhadapan dengan bocah di depannya ini.
Sesi pelajaran pertama usai. Saat jeda pergantian jam, Airyn melirik Teira yang sedang memakan roti pemberiannya dengan tenang di sampingnya. Airyn sengaja tidak menggoda atau menyeletuk agar pemuda itu tidak terganggu.
"Kau benar-benar keluar dari blok asrama putra?" tanya Airyn pelan saat Teira menelan kunyahan terakhirnya.
"Suasananya tidak nyaman," sahut Teira datar.
"Lalu kau tinggal di mana sekarang?" desak Airyn, khawatir pemuda itu terlunta-lunta.
"Di tempat yang jauh lebih tenang," jawabnya santai tanpa beban.
Sesi pelajaran kedua dimulai—mata pelajaran matematika. Airyn mulai didera pusing; profesor pengajar menjelaskan rumus dengan sangat cepat dan berputar-putar. Murid-murid lain di sekitarnya pun tampak mengaruk-garuk kepala kebingungan.
Tiba-tiba, Teira mengangkat tangannya. "Profesor, saya ingin mencoba menyelesaikan soal di papan."
Sang profesor menyambutnya bersemangat. Teira bangkit, menyambar kapur tulis, dan mulai menggoreskan deretan rumus di papan tulis. Langkah-langkah penyelesaiannya tersusun begitu rapi, sistematis, dan sangat mudah dipahami—bahkan membuat Airyn yang tadinya kebingungan seketika paham alur perhitungannya.
Profesor pengajar tak henti-hentinya melayangkan pujian pada Teira.
"Wah... kau ternyata memang sangat pintar ya," puji Airyn tulus saat Teira kembali menduduki bangkunya.
"Cih. Kau saja yang terlalu bodoh," sarkas Teira seperti biasa. Namun Airyn tidak melewatkan fakta bahwa kedua daun telinga pemuda itu mendadak memerah padam menerima pujiannya.
KRIIINGGG!
Bel istirahat makan siang akhirnya bergema usai jam ketiga selesai.
"Hei Teira, ayo ke kantin!" ajak Airyn bangkit dari bangkunya.
Teira tampak malas dan berniat mengabaikannya. Namun Airyn dengan cepat meraih pergelangan tangan Teira dan menyeretnya keluar kelas. Teira sempat menunjukkan raut enggan, namun anehnya, ia membiarkan saja tangan Airyn menariknya menyusuri koridor.
Mereka tiba di kantin lebih awal dan masuk ke barisan antrean.
"Wah, Airyn! Kau sudah menemukan pemuda ini rupanya!" sapa Paman Barnaby gembira saat melihat Airyn membawa Teira.
"Iya, Paman! Aku membawanya ke sini agar dia tidak melewatkan makan siang," ujar Airyn tersenyum. Paman Barnaby memberikan masing-masing sekotak jus apel dingin untuk mereka.
Keduanya menikmati makan siang di meja biasa sebelum teman-teman yang lain bergabung. Fin dan Flora menjadi yang pertama datang dan menduduki bangku di dekat mereka.
"Airyn... di mana kau menemukan Teira?" bisik Flora pelan di samping Airyn agar tidak terdengar oleh si pemuda ungu.
"Di kelas. Dia sekelas denganku," jawab Airyn santai.
Tak lama kemudian, William, Stella, dan Emery menyusul membawa piring makan siang mereka.
"Loh? Teira?!" William tersentak kaget mendapati Teira sudah duduk tenang di sebelah Airyn, bahkan ada Fin disampingnya.
Teira tidak memedulikan seruan itu. Ia menghabiskan tegukan terakhir jusnya, bangkit dari bangku, dan melangkah pergi begitu saja. Airyn sempat berniat menahannya, namun Teira bergerak terlalu cepat dan menghilang di balik pintu kantin. Tak berapa lama, Snow dan Andrew baru muncul menjadi rombongan paling terakhir.