Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah Denganku
Delvin memperhatikan bagian bawah meja. Samar-samar terdengar suara bisikan dari sana.
Ia mengerutkan kening, lalu tanpa banyak bicara menarik taplak meja ke atas.
Seketika, terlihat Vivian sedang berbisik dengan seorang pria.
Keduanya langsung membulatkan mata saat menyadari Delvin berdiri di hadapan mereka.
“Apa yang kalian lakukan di sana?” tanya Delvin dengan tatapan dingin.
“Direktur Yang... kebetulan sekali!” sapa Vivian dengan senyum terpaksa.
“Kebetulan? Atau kalian sedang bersembunyi?” Delvin menatapnya tajam. “Vivian Wei, keluar dari sana!”
Vivian dan Bowie tidak punya pilihan selain keluar dari bawah meja.
“Vivian, kalau tidak ada urusan lagi, aku pergi dulu. Jangan lupa apa yang kau katakan tadi,” kata Bowie.
“Jangan lupa juga janjimu!” jawab Vivian.
Namun, ketika Bowie hendak melangkah pergi, suara Delvin menghentikannya.
“Siapa yang mengizinkanmu pergi?”
Bowie langsung berhenti.
“Direktur Yang, Tuan Lou masih memiliki urusan lain,” sela Vivian.
Delvin tidak menjawab. Ia justru duduk di kursi dengan wajah datar.
Bowie dan Vivian berdiri di hadapannya.
“Apakah tidak ada yang ingin kau jelaskan?” tanya Delvin sambil menatap tajam ke arah Vivian.
Vivian tersenyum canggung.
“Direktur Yang, sebenarnya Tuan Lou adalah calon kakak iparku. Tadi aku hanya sedang memberitahunya tentang rencana kami untuk mempersatukannya dengan Vivi.”
Delvin mengerutkan kening.
“Bukankah pria ini adalah pria yang dijodohkan denganmu?”
Ia menatap Vivian tanpa berkedip.
“Kenapa sekarang berubah menjadi calon kakak ipar?”batinnya.
Vivian langsung terdiam sesaat.
“Calon kakak ipar? Bertemu di Restoran Qing Ren, lalu kalian berdua bersembunyi di bawah meja. Vivian Wei, apakah kau sedang berbohong kepadaku?” tanya Delvin dingin.
Vivian buru-buru menjelaskan.
“Iya, sebenarnya Tuan Lou adalah pria yang dijodohkan denganku oleh keluargaku. Namun, dia justru menyukai Vivi. Jadi, aku sedang memberitahunya cara agar keluargaku menyetujui pernikahannya dengan Vivi.”
Bowie sejak tadi hanya diam sambil memperhatikan Delvin.
Dalam hati, ia mulai menyadari sesuatu.
“Apakah dia Delvin Yang? Penerus Yang Group?”
Bowie menelan ludah.
“Pantas saja Vivian menyebutnya sebagai malaikat pencabut nyawa.”
Delvin akhirnya mengalihkan pandangan kepada Bowie.
“Pergi.”
“Baik!”
Bowie langsung berbalik dan pergi tanpa berani membantah.
Dalam hati, ia semakin yakin.
“Orang ini benar-benar tidak bisa disinggung.”
Setelah Bowie pergi, Delvin kembali menatap Vivian.
“Sudah selesai? Sekarang jelaskan semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Vivian mengikutinya ketika Delvin mulai melangkah pergi.
“Apa lagi yang harus aku jelaskan?” tanyanya dengan wajah polos.
Beberapa saat kemudian.
Delvin dan Vivian berada di dalam mobil. Jo duduk di kursi pengemudi, sementara Vivian duduk di samping Delvin dengan perasaan tidak tenang.
“Direktur Yang, kita mau ke mana?” tanya Vivian.
“Aku akan pulang. Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu,” jawab Delvin tenang.
“Apa itu?” tanya Vivian penasaran.
Delvin menoleh kepadanya.
“Mari kita menikah.”
Mata Vivian langsung membulat.
“Me-menikah?”
Bahkan Jo yang sedang menyetir ikut terkejut. Tangannya hampir kehilangan kendali atas kemudi.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua?” batin Jo.
Vivian menatap Delvin dengan tidak percaya.
“Kenapa?”
“Apakah kau sudah lupa kejadian semalam?” tanya Delvin.
Vivian langsung terdiam.
“Kau berani mengatakan bahwa kau tidak melihat apa pun?” lanjut Delvin.
Wajah Vivian memerah.
“Direktur Yang, aku tidak sengaja melihatnya. Lagi pula, aku hanya melihat sedikit saja. Kau juga tidak rugi apa-apa. Justru mataku yang ternoda,” jawab Vivian ketus.
Jo menahan keinginan untuk menoleh ke belakang.
“Kenapa pembicaraan mereka semakin aneh?” batinnya.
Delvin tidak menjawab.
Ia justru mengangkat tangannya dan menahan bagian belakang kepala Vivian, lalu menariknya sedikit mendekat.
Vivian terkejut.
Tatapan mereka kini bertemu dalam jarak dekat.
Jantung Vivian langsung berdegup kencang.
“Apa yang ingin kau lakukan?” tanyanya gugup.
Delvin menatapnya tanpa mengalihkan pandangan.
“Sekarang kau sudah melihatnya. Jadi, kau harus bertanggung jawab.”
“Tapi aku tidak melakukan apa pun. Lagi pula, kenapa rumahmu begitu aneh sampai aku bisa salah masuk dan langsung sampai ke kamar mandimu? Jadi, aku tidak sengaja melihatmu dari atas sampai bawah,” jawab Vivian ceplas-ceplos.
Jo semakin terbelalak. Diam-diam, ia melirik ke kaca spion.
“Berarti kau mengakui bahwa kau sudah melihat semuanya?” tanya Delvin.
Vivian langsung terdiam.
“Artinya, kau harus menikah denganku,” lanjut Delvin tenang.
Vivian membulatkan mata.
“Sudah aku putuskan, Vivian Wei. Tenang saja, menikah denganku tidak akan membuatmu rugi. Aku akan memastikan kau memiliki segalanya.”
“Hanya karena aku melihatmu, aku harus menikah denganmu?” Vivian tidak percaya. “Direktur Yang, walaupun kau sangat tampan dan masih muda, aku belum tertarik menikah. Aku masih ingin bekerja.”
“Kau bisa bekerja di Yang Group atau perusahaan mana pun yang kau suka,” jawab Delvin sambil menatap lurus ke depan.
“Aku ingin fokus pada karierku.”
“Aku akan mendukungmu.”
“Aku tidak suka terikat atau diatur.”
“Kau bebas melakukan apa saja.”
Vivian mengerutkan kening.
“Tapi aku tidak mau memiliki ikatan apa pun.”
“Tidak akan ada yang tahu hubungan kita selama kau tidak ingin memberitahukannya kepada publik,” jawab Delvin tenang.
“Aku punya hak untuk menolakmu,” kata Vivian tegas.
“Kau punya hak untuk menolak, tetapi tidak punya hak untuk membantah keputusanku.”
Vivian langsung menatapnya.
“Apa bedanya?”
Delvin akhirnya menoleh kepadanya.
“Aku sudah memutuskan. Kita akan segera menikah.”
Vivian terdiam.
“Setelah kau tamat, aku akan mengadakan pernikahannya,” lanjut Delvin seolah keputusan itu sudah tidak bisa diganggu gugat.
Jo yang mendengar percakapan itu hanya bisa diam sambil menahan ekspresi terkejut.
Dalam hati, ia hanya bisa berpikir,
“Ini pertama kalinya aku melihat seseorang mengajak menikah dengan cara seperti sedang membuat keputusan bisnis.”
semangat trus kak 💪💪
sudah di tunggu nih
ayo lanjut lagi.
lucu dan menegangkan