Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Matahari sore menggantung rendah di ufuk barat Lembah Selatan, menyinari padang rumput yang kini sunyi senyap.
Sisa-sisa pasukan Sekte Serigala Besi dan sekutu bukit mereka telah kabur melintasi batas ngarai terjauh, meninggalkan jejak debu panjang yang perlahan memudar ditiup angin lembah.
Gerbang kayu besi Sekte Pedang Langit terbuka lebar.
Ratusan murid dalam berhamburan keluar membawa gerobak kayu, karung rami, dan tali tambang di bawah komando langsung Patriark Song Tianhe serta Tetua Gudang Chen Feng.
Senyum lebar merekah di wajah keriput Tetua Chen Feng saat kakinya melangkah di antara ribuan senjata yang tertancap di tanah.
“Luar biasa,” gumam Chen Feng sambil mengelus bilah pedang baja milik musuh dengan ujung kuas tintanya. “Dua ribu bilah pedang baja tempa, delapan ratus tombak bermata ganda, empat ratus set zirah kulit serigala, dan lima puluh busur kayu hitam berkualitas tinggi.”
Sang tetua gudang membuka buku catatan bersampul kulit rusa di tangannya, menghitung angka-angka taksiran dengan mata berbinar-binar.
“Jika seluruh logam ini dilebur ulang atau dijual ke pasar gelap Dataran Tengah, kas sekte kita akan bertambah setidaknya tiga ratus ribu batu roh!”
Di dekat sebuah batu karang besar, Gu Ran duduk santai di atas tumpukan perisai baja musuh yang disusun setinggi dada.
Kaki kanannya yang beralaskan sandal jerami bergoyang-goyang santai. Tangan kanannya mengibaskan kipas bambu murah untuk mengusir lalat yang berdengung di dekatnya.
Song Ming berdiri di samping tumpukan perisai tersebut, memegangi mangkuk porselen berisi manisan buah persik dingin yang disuapkan ke arah Gu Ran setiap kali pemuda itu melirik.
Gu Ran menelan sepotong buah persik, lalu menoleh ke arah Tetua Chen Feng yang sedang sibuk mencatat.
“Tetua Chen,” panggil Gu Ran dengan nada datar. “Kelihatannya catatanmu rapi sekali.”
Chen Feng menoleh, lalu membungkuk kaku dengan senyum yang dipaksakan. “Ah, Tuan Muda Gu… tentu saja. Seluruh rampasan perang ini adalah berkah besar bagi perbendaharaan sekte kita.”
“Bagus kalau kau paham,” kata Gu Ran seraya meletakkan kipas bambunya ke pangkuan. “Dari seluruh senjata, zirah, dan busur yang kalian kumpulkan sore ini, delapan puluh persen akan dikirim langsung ke Lembah Tungku Penempaan atas namaku.”
Kuas tinta di tangan Chen Feng tergelincir, mencoret halaman buku catatannya dengan noda hitam tebal.
Sang tetua gudang menatap Gu Ran dengan mata membelalak lebar, seolah baru saja mendengar petir meledak di telinganya.
“D-Delapan puluh persen?!” suara Chen Feng meninggi panik, hampir tercekik ludahnya sendiri. “Tuan Muda Gu, ini rampasan perang hasil kemenangan sekte! Bagaimana bisa kau mengambil bagian sebesar itu sendirian?!”
Gu Ran menatap Chen Feng dengan pandangan malas tanpa kedip.
“Siapa yang berdiri di luar gerbang pagi tadi saat tiga ribu tombak musuh siap menusuk?” tanya Gu Ran pelan. “Siapa yang lehernya tergores tombak api agar Leluhur mau turun dari tebing?”
Gu Ran menunjuk goresan merah tipis di lehernya.
“Aku bekerja sebagai umpan hidup di garis depan,” lanjut Gu Ran tanpa beban. “Dua puluh persen sisanya sudah cukup untuk mengganti biaya sewa gerobak kayu dan upah keringat para murid yang mengangkut barang. Kalau kau keberatan, besok pagi jika ada pasukan musuh datang lagi, kau saja yang berdiri di depan gerbang.”
Wajah Chen Feng memucat seketika. Ia menoleh ke arah Patriark Song Tianhe, mencari dukungan moral.
“Patriark Song… ini keterlaluan!” keluh Chen Feng dengan bibir bergetar menahan tangis. “Gudang perbendaharaan kita baru saja rugi besar bulan lalu…”
Sebelum Song Tianhe sempat membuka mulut untuk mendehem, sesosok bayangan berjubah abu-abu robek melangkah maju dari balik batu karang.
Song Pojun menatap Chen Feng dengan mata menyipit tajam. Tangan sang Leluhur yang masih berlumuran sisa jelaga arang menunjuk tepat ke hidung sang tetua gudang.
“Chen Feng,” suara Song Pojun bergetar berat menahan murka. “Jika cucu emasku meminta delapan puluh persen, serahkan delapan puluh persen! Jika dia meminta seluruh celana dalammu, kau juga harus melepasnya sekarang juga!”
Chen Feng tersentak mundur dua langkah, lututnya lemas membentur roda gerobak kayu.
“L-Leluhur… hamba… hamba hanya—”
“Keluarkan stempel penyerahan logistikmu sekarang!” potong Song Pojun tanpa memberi ampun. “Kalau kau membuat anak ini kesal dan dia mogok makan malam ini, kutebas tangan kananmu dan kujadikan umpan serigala!”
Dengan tangan yang gemetar hebat dan mata berlinang air mata kepedihan, Tetua Chen Feng mencabut stempel tembaga Paviliun Harta dari cincin penyimpanannya.
Ia menekan stempel bertinta merah itu ke atas lembar manifes rampasan perang, lalu menyerahkannya ke tangan Gu Ran dengan kepala tertunduk lesu.
Gu Ran menerima gulungan kertas tersebut, memeriksanya sekilas, lalu melipatnya rapi ke dalam saku jubah putihnya.
“Kerja sama yang menyenangkan, Tetua Chen,” ucap Gu Ran santai sambil melompat turun dari tumpukan perisai. “Song Ming, bawa sisa buah persiknya. Aku mau kembali ke paviliun untuk tidur sore.”
Gu Ran berjalan melenggang santai memasuki gerbang sekte diiringi Song Ming yang berlari kecil memayungi punggungnya.
Di belakang mereka, Tetua Chen Feng terduduk lemas di atas tumpukan perisai berkarat sambil memegangi dadanya yang perih, sementara para tetua lainnya saling bertukar pandang dengan wajah tegang penuh bisik-bisik rahasia.