Indonesia
NovelToon NovelToon
Kisah Pilu Shanum

Kisah Pilu Shanum

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:287.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji

shanum gadis 25 tahun yang terjebak dalam pernikahan bak neraka baginya. sanggupkah shanum menjalani hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 28

"Non ini buburnya," ucap bi Darmi seraya menyerahkan semangkuk bubur ayam permintaan Shanum.

"Makasih ya bi, silahkan melanjutkan pekerjaannya bi," ucap Shanum.

Setelah itu bi Darmi meninggalkan Shanum di taman dengan semangkuk buburnya. Nampak Shanum tangah menikmati bubur buatan bi Darmi. Ia berharap kali ini ia tak mengeluarkan kembali isi di perutnya. Ia sudah lemas lantaran apapun yang ia makan selalu ia muntahkan kembali.

Sementara itu terlihat mobil davin memasuki pekarangan rumah. Ia turun dengan berjalan cepat menuju kamar. Namun begitu sampai kamar ia tak menemukannya istrinya, dicarinya ia ke kamar mandi pun tak ada. Lalu ia teringat jika Shanum lebih sering menghabiskan waktu di taman, tak pikir panjang ia langsung melangkahkan kaki menuju taman.

"Kamu lagi nggak enak badan kok diluar sih. Ayo masuk," ajak Davin seraya berjalan ke arah Shanum.

"Nggak papa mas. Udah enakan badannya."

"Ya udah masuk yuk, nggak bagus buat kamu kalau kelamaan di luar."

"Sebentar, abisin buburnya nanggung masih sedikit."

Shanum menghabiskan bubur yang tersisa sedikit dengan cepat lalu berjalan ke dalam rumah.

"Mas kok sebentar banget ke kantornya?" tanya Shanum seraya mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga

"Iya cuman meeting sebentar kok. Semua kerjaan sudah di handle sama Robin. Kamu gimana? Masih pusing?"

"Sudah berkurang kok mas."

Sementara ditempat lain nampak Lena tengah sedang makan siang di sebuah restoran bersama seorang pria. Mereka sangat akrab dan sesekali melempar candaan satu sama lain. Selama 3 bulan ini memang Lena kurang perhatian dari Davin. Karena semenjak Shanum punya rumah sendiri ia merasa Davin tak bisa bersikap adil padanya. Davin lebih condong kepada Shanum ketimbang dirinya. Hingga akhirnya ia bertemu kembali dengan teman semasa SMA nya dulu. Karena merasa kesepian ia pun menyambut baik hadirnya teman masa lalunya itu.

"Len kamu kok betah si sama dia? Kalau kamu merasa dia sudah tidak adil kenapa nggak minta pisah aja?" tanya teman Lena yang bernama Radit.

"Kamu pikir aku bisa apa kalau aku pisah sama Davin? Aku nggak punya siapa-siapa lagi. Bahkan untuk menghidupi diriku sendiri. Diumur yang sudah kepala tiga begini susah cari kerjaan."

"Davin kan kaya, kamu bisa ngrebut hartanya Len. Kalau kamu berhasil kamu tinggal ongkang-ongkang kaki sambil terima uang. Ayolah aku kenal kamu sejak SMA, aku tahu jika otak licikmu sudah bekerja maka semua akan berakhir indah."

"Terus kalau aku udah berhasil dapet harta Davin siapa yang menemani masa tuaku. Aku nggak bisa punya anak. Siapa yang mau menikahi wanita sepertiku. Siapa yang merawat ku jika sudah tua nanti."

"Aku bersedia menikahimu. Aku tidak mementingkan anak, lagipula aku sudah punya anak dari almarhumah istriku. Bagaimana kalau kita rebut harta Davin lalu kita nikmati bersama?"

Lena nampak berpikir

"Davin sulit dikelabui dit. Pasti butuh usaha keras untuk mendapatkan semua hartanya."

"Tidak ada salahnya kan kita coba sedikit demi sedikit dimulai dari rumah yang kamu tempati sekarang. Deal," ucap Radit seraya menyodorkan tangan untuk pertanda kesepakatan

"Baiklah kita coba," ucap kena seraya membalas uluran tangan Radit.

"Ide yang bagus, kalau aku tak bisa mendapatkan suamiku kembali setidaknya aku bisa mendapat hartanya," batin Lena licik.

Sementara itu Shanum tengah memasak untuk makan malam. Davin sudah melarangnya untuk melakukan aktivitas, namun bukan Shanum namanya jika ia tak melakukan apapun. Ia bersikeras membantu bi Darmi memasak. Saat tengah memasak tiba-tiba mual kembali menyerang. Ia memuntahkan semua yang ada dalam perutnya.

"Non nggak papa, non istirahat saja biar bibi yang masak. Ini minum dulu non," ucap bi Darmi seraya menberi segelas air putih.

"Nggak tau kenapa aku langsung mual pas lihat nasi bi," ucap Shanum lemas.

"Apa non sudah te...".

Belum selesai bi Darmi mengajukan pertanyaan Davin datang dwngywajah paniknya.

"Sayang kamu mual lagi?" ucap Davin panik

"Iya mas nggak papa kok udah enakan perutnya."

"Aku kan sudah bilang jangan melakukan aktivitas dulu. Kamu ngeyel, sekali lagi kamu ngeyel begini. Aku bawa ke dokter," ancam Davin.

"Emb maaf tuan tadi non Shanum bilang kalau perutnya terasa mual setelah melihat nasi. Mungkin saja non Shanum lagi hamil," ucap bi Darmi.

"Kamu hamil?" tanya Davin

Shanum tak langsung menjawab ia mencoba mengingat ingat kapan ia terakhir haid.

"Astaghfirullah mas, kenapa aku baru sadar. Aku telat 2 bulan," ucap Shanum terkejut.

"Apa itu artinya kamu hamil? Lebih baik kita ke dokter sekarang ya. Kita pastikan apa kamu benar hamil atau tidak."

Setelah memutuskan untuk periksa ke dokter mereka bersiap diri untuk ke rumah sakit. Dalam perjalanan Shanum merasa bimbang dengan perasaannya. Ia bingung harus senang atau sedih. Sepanjang perjalanan ia terus berdoa yang terbaik untuk semua orang terutama dirinya. Ia menyerahkan semuanya pada sang maha kuasa. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit terdekat. Mereka berjalan menyusuri koridor menuju ruangan untuk periksa kehamilan. Begitu sampai Shanum mendaftarkan dirinya disana. Menunggu beberapa antrian lagi, mereka memutuskan untuk duduk terlebih dahulu. Tak lama kemudian nama Shanum dipanggil. Ia segera masuk ditemani oleh Davin tentunya.

"Selamat malam ibu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter tersebut dengan ramah

"Jadi saya sudah telat 2 bulan dok. Dan saya merasa mual sepanjang hari ini. Saya ingin memastikan apakah saya benar hamil atau tidak," ucap Shanum menjelaskan.

"Baiklah kalau begitu silahkan berbaring di brankar saya akan periksa."

Shanum menurut, ia berbaring di brankar yang sudah disediakan. Nampak dokter itu menyiapkan alat untuk usg. Diusapnya perut Shanum dengan gell lalu dokter tersebut mengarahkan alat USG di perut Shanum. Dan nampak dimonitor ada janin sebesar kacang.

"Selamat ya bu pak. Sebentar lagi kalian akan jadi orang tua. Ini janinnya ya pak bu. Sudah sebesar kacang usianya masih 6 minggu," ucap dokter menjelaskan.

Shanum dan dan Davin nampak terharu. Mata mereka mulai berkaca-kaca. Mereka tak percaya akan menjadi seorang ibu. Shanum dan Davin saling memandang, refleks Davin mencium kening Shanum dan mengusap pipinya yang mulus.

"Kita akan jadi orang tua," ucap Davin pelan yang hanya di dengar oleh Shanum.

"Mari saya beri resep vitamin untuk menguatkan kandungan ibu," ucap dokter seraya berjalan menuju kursi.

"Apakah ini kehamilan pertama?" tanya dokter

"Iya dok," jawab Shanum singkat.

"Jadi di trimester pertama ini sangat rentan ya bu, janin masih sangat lemah. Ibu nggak boleh stress, kelelahan dan jangan mengangkat beban berat, akan sangat tidak baik bagi ibu dan janin. Jadi harus dijaga baik-baik ya bu kesehatannya. Untuk bapak jaga mood istrinya agar selalu bahagia ini sangat baik untuk perkembangan janin," ucap dokter itu seraya menyodorkan kertas bertuliskan resep vitamin ibu hamil.

"Iya dok terima kasih. Kalau begitu saya permisi," ucap Davin berlalu keluar ruang dengan Shanum.

Setelah menebus obat mereka langsung memutuskan untuk pulang. Nampak raut bahagia di wajah Davin sementara Shanym sebaliknya, ia banyak melamun. Ia memikirkan apakah Davin benar-benar akan memudahkannya dengan anaknya kelak.

"Sayang kok mukanya sedih gitu, kenapa? Baru juga keluar dari rumah sakit masak lupa apa yang di bilang dokter."

"Mas aku nggak mau dipisahkan dari anakku," ucap Shanum sedih.

Ciiitt

Refleks kaki Davin menginjak rem

"Shanum sudah pernah aku katakan padamu, aku tidak akan memisahkan kalian. Aku akan mempertahankan mu selamanya, bahkan aku sudah pernah katakan bahwa aku mencintaimu. Kamu nggak percaya? Tidak akan ada yang memisahkan kamu dan anak kita," ucap Davin seraya memegang tangan Shanum.

"Apa kau sungguh-sungguh?"

"Apa yang membuatmu tak percaya? Dan katakan padaku apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu."

Shanum tak menjawab, ia tengah mencari jawaban sebenarnya melalui mata Davin. Ia menatap lekat mata itu dan ada kejujuran di dalamnya.

"Ya aku percaya sama kamu mas, maaf sudah meragukanmu," ucap Shanum seraya mengusap air matanya yang jatuh begitu saja

"Sayang jangan pikirkan ini lagi ya. Aku nggak mau terjadi apa-apa dengan kalian. Ingat pesan dokter," ucap Davin seraya mengelus perut Shanum yang masih rata.

Nyeeesss

Ada perasaan aneh yang dirasakan Shanum. Ia sangat nyaman dengan elusan lembut tangan lembut Davin. Darahnya seketika berdesir.

"Sayang baik-baik didalam sana ya. Jaga mama baik-baik, jangan nakal dan jangan buat mama sakit," ucap Davin mengajak bicara janin yang ada di Perut Shanum.

"Iya papa," jawab Shanum menirukan suara anak kecil. Mereka tertawa bersama.

Setelah dirasa sudah cukup pembicaraan mereka, Davin memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang.

"Mau langsung pulang atau kamu ada keinginan apa gitu?" tanya Davin seraya fokus menyetir mobil

"Mau langsung pulang aja mas. Tapi aku makan apa ya? Aku lihat nasi kan mual," ucap Shanum bingung.

"Kan bisa diganti sama susu, buah, roti, atau sayuran. Kamu nggak perlu maksa makan nasi kalau belum bisa sayang."

"Mas berhenti," teriak Shanum tiba-tiba

Dengan secepat kilat Davin menginjak remnya.

"Ada apa sayang? Ada yang sakit?" tanya Davin panik

"Nggak. Itu ada mie ayam, aku mau," ucap Shanum.

"Astaga aku pikir kamu kenapa. Ya udah aku turun dulu, kamu tunggu sini aja."

"Aku mau makan sini."

"Ya udah kalau gitu ayo turun."

Mereka berjalan turun menuju kedai mie ayam. Nampak kedai tersebut hampir penuh dengan pelanggan. Mereka memilih tempat duduk menghadap jalan raya. Tak berapa lama dua porsi mie ayam untuk Shanum dan Davin sudah siap disantap. Nampak Shsnum makan dengan lahapnya.

"Alhamdulillah kenyang," ucap Shanum setelah mie dalam mangkuk tandas tak tersisa

"Mau lagi?"

"Nggak ah, udah kenyang."

"Mau kemana lagi sayang? Atau kamu ada keinginan apa?"

"Nggak mas, belum pengen apa-apa."

Setelah selesai membayar makanannya mereka memutuskan untuk langsung pulang. Shanum merasakan kantuk yang tak tertahan, tak lama kemudian ia terlelap. Davin yang melihat itu hanya mengulum senyum. Begitu sampai di pekarangan rumah ia tak tega untuk membangunkan istrinya itu. Ia memutuskan untuk menggendong Shanum sampai kamar.

Bersambung

1
martiana. tya
harusnya jangan astaga..... apalagi shanum gadis berhijab....
Novi Smc
Luar biasa
Lina Suwanti
lucu bgt sm kisah Wildan n Aina😅
Lina Suwanti
benar kan tebakan saya.....lanjut,,makin penasaran dgn kisah Shanum n Wildan
Lina Suwanti
jgn² Wildan adik Shanum dr ayahnya?
Amalia Khaer
malas bnget dah liat shanum.
Amalia Khaer
lahh malah nerapin kesalahan org. Cetek bnget pikiranmu, Vin.
Amalia Khaer
semoga stlah ini gk ada lgi adegan2 keluarga cemara. keluarga toxic tpi keliatan adem ayem. gk cocok tauu. cpt gih kluar Num dri keluarga toxic itu.
Amalia Khaer
ohhh gitu tohhh. jdi bu Estu ini adlah wanita kaya yg di pilih oleh ayahnya Syanum. okk sih. lnjutttt..
Amalia Khaer
istri? yakin?
Safiatul Jannah
sinar lucu ku ya bilan cinta aja malu2 kucing
Safiatul Jannah: Aina Aina lucu banget ya blng cinta aja malu2 kucing
total 1 replies
Pradyta
Bagus
NiedaSofian
Kok tamat? Lena sama radit gimana? Ah tergantung ceritanya..ngak puas selagi penjahat tidak dpt pembalasannya...
no name: baca sebuah rasa.
total 1 replies
endang
ini ceritanya gimana wildan mau balas lena ma radit
Eva Pramita
Estu= es batu gitu
i.s.h.e.n
baca part ini jd ikutan ngomel. .hahaha
i.s.h.e.n
akhirnyaa..si davin nerima juga keputusan shanum...ko lega yaa rasanya mereka pisah..hihihu
i.s.h.e.n
jangan sampe shanun jatuh cinta sama davib..setelah di pukulin
Anisnikmah
nanti bucin ya Thor
Anisnikmah
oh pencetak anak.. ternyata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!