Millie Peterson.
Seorang pelukis muda berbakat, baru saja membuka galeri di pusat kota New York. Kehidupannya selalu teratur dan berjalan sewajarnya. Namun, semuanya berubah setelah malam peresmian pembukaan galerinya.
Orion Alano.
Seorang pria kaku dan kejam, ditakuti oleh siapa saja yang mengenalnya. Tidak pernah mengenal yang namanya cinta, sampai suatu malam dia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya merasa tertantang. Pada akhirnya, rasa penasaran semakin mendekatkan wanita itu padanya.
Siapakah Millie? Dan, takdir macam apa yang mengaitkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dignity, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Aku memandangi pintu teras yang mengarah ke keremangan halaman belakang rumah. Di malam-malam tertentu aku bisa melihat lautan dari sini, tapi malam ini aku hanya menjumpai kegelapan.
Dari pantulan kaca aku melihat Millie ketakutan dan gemetar sementara Javer menuntunnya ke lorong. Meskipun Javer berbisik mengatakan sesuatu, matanya terus menyorotku. Aku bisa merasakan panas yang menjalar dari sana, memintaku datang padanya. Untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Untuk bersikap tenang dan berhenti menyuruhnya menjauh. Jika aku melakukan itu, bahkan jika aku goyah barang sedetik saja, aku tidak akan lagi sanggup menolaknya dan rencanaku akan berantakan. Aku mencoba mencari jalan keluar sepanjang penerbangan dari Italia, memilih antara Millie dan Alonzo sungguh sebuah keputusan mustahil.
Jadi, alih-alih menentukan berdiri di sisi yang mana, aku memilih jalur pecundang. Kalau aku memperlakukannya dengan buruk, menunjukkan betapa aku kasar dan kejam, maka dia akan pergi dengan sendirinya. Lagi pula, dia akan segera menyadarinya. Tidak mungkin selamanya aku menyembunyikan sisi diriku yang sebenarnya pada Millie.
Seandainya dia memiliki pikiran yang sehat dan stabil, dia pasti pergi. Berlari secepat dan sejauh-jauhnya sehingga melupakan keberadaanku. Aku harus membuatnya membenciku agar dia muak melihatku, dan jika aku berhasil menunjukkan sisi burukku padanya, maka semuanya akan lebih mudah. Aku sudah menduga dia pasti terluka, kecewa, dan bingung karena kemarahanku, tapi aku tidak mengira hatiku pun ikut merasakan emosi itu.
Aku menelan ludah pahit yang menyumpal tenggorokan. Mengingat bagaimana dia meringkuk gemetar pada saat aku hampir memukulnya, aku merasakan seluruh udara meninggalkan rongga dadaku. Aku sudah sering berhadapan dengan wajah-wajah penuh takut sebelumnya, tetapi tidak ada yang seperti ini. Bukan wanita murahan atau pengkhianat tak tahu diri yang memandangiku tadi. Dia Alessandra. Gadis kecil yang dulunya sering aku ajak berburu kodok di sekitar kolam belakang rumahnya. Gadis yang cukup berani melompat dari atas pohon ek sementara kami para laki-laki terdiam menciut. Gadis yang selalu memberikan sayur di piringnya kepada anjing yang setiap saat menunggu di bawah meja makan. Gadis yang kukira sudah meninggal, namun sekarang ketakutan melihatku. Lantas, bagaimana pandangannya terhadapku saat ini?
"Ini." kata Javer, tiba-tiba datang dan mengulurkan selembar kain basah. "Bersihkan lukamu."
"Tidak perlu." gerutuku, hanya ingin menenggelamkan diri dalam kepelikan ini.
"Okay. Biarkan menganga sampai kau kehabisan darah." sindir kasar, memutar mata.
Aku berpaling menatapnya, menaikkan alis karena keberaniannya berbicara seperti itu.
"Brengsek, apa sih masalahmu sebenarnya?" bentaknya sebelum aku membuka mulut.
"Tidak ada masalah apa-apa."
"Kau pulang dalam keadaan mabuk, membuat Millie ketakutan setengah mati dan aku melihat dari kamera pengawas kau hampir memukulnya." Nadanya bergetar penuh amarah. "Apa kau sudah gila?"
"Oh, sepertinya kau sangat peduli padanya." gumamku sengit, meraih botol scotch.
"Jangan mengatakan omong kosong semacam itu padaku." Javer merebut botol itu dariku. "Sudah cukup untuk malam ini."
Aku mengerang, berbalik membelakanginya. Aku tahu dia benar, tapi suasana hatiku sedang tidak ingin mengakuinya.
"Sekarang," sambungnya, mengisi gelasku dengan air putih dan memberikannya padaku. "Kalau kau sudah selesai merengek seperti bayi, beritahu aku apa saja yang kau dapatkan di Italia agar kita bisa melanjutkan pekerjaan."
Dia melipat tangan di dada dan menyandarkan punggung ke dinding seolah menyatakan dia bersedia menunggu semalaman. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghabiskan air di gelasku. Aku membutuhkan lebih banyak lagi kalau ingin menghindari pengar besok pagi.
Astaga, aku harus mulai dari mana? Mengatakan bahwa gadis yang berkeliaran di rumahku saat ini adalah teman masa kecil kami? Bahwa Alessandra belum mati dan sebenarnya dia sedang tidur di lantai atas? Aku tidak bisa melanjutkan hubungan dengan Millie karena ayahnya melarangku, dan haruskah kukatakan ayahnya adalah pemimpin kami?
"Dia bukan gadis yang kita kira selama ini." gumamku, hampir seperti bisikan disertai nada pahit.
"Well, itu bagus, kan?" tanya Javer. "Jika dia bukan wanita peliharaan Ernesto, maka..."
"Dengarkan dulu penjelasanku." kataku sembari mengangkat tangan.
Javer memandangku dengan serius.
"Apa kau ingat peristiwa beberapa tahun lalu ketika Eloisa dan Alessandra terbunuh?" Aku berusaha mengendalikan diri dengan mengatur napas.
"Mana mungkin aku lupa." jawabnya pahit.
"Alonzo berbohong. Mereka tidak mati." Ekspresinya berubah bingung dan dia menungguku melanjutkan dengan sabar. "Dia mengusir mereka demi melindungi mereka, agar mereka terhindar dari kehidupannya yang kacau. Dan dia melanjutkan hidup seolah mereka benar-benar sudah mati."
"Apa... Apa maksudmu?" Javer tergagap.
"Eloisa menikah dengan seorang pria dari Rhode Island, David. Mereka membesarkan Alessandra dan mengubah namanya, dan mendapatkan satu anak laki-laki bernama Elijah. Eloisa mengatakan pada Millie bahwa ayah kandungnya pergi dan meninggal karena kecelakaan bersama kedua kakaknya. Terdengar familiar?"
Dia mulai paham, aku bisa melihat dari matanya. Aku diam selama beberapa menit agar Javer bisa mencerna berita ini.
"Tidak mungkin. Pasti ada kesalahan, ya kan? Maksudku, kita melihat sendiri... dia sudah mati, Orion. Kita menghadiri pemakaman mereka. Kita... mereka sudah mati." Javer meracau, kesulitan menyusun kata-kata.
"Kita meyakini apa yang mereka katakan. Saat itu tidak ada alasan bagi kita meragukan kematian Eloisa dan Alessandra. Dan, kita masih remaja." Aku menyurukkan jemari ke rambut.
"Itu kenapa kita tidak menemukan informasi detail sebelum dia berumur lima tahun."
"Karena Millie belum ada sampai hari itu." Semua informasi baru ini terus berputar di pikiranku. Situasi sekarang lebih pelik dari sekedar hubungan asmaraku dengan Millie dan upaya melindunginya. Jika mereka masih hidup, kisahnya pasti berbeda.
"Dan bajingan itu menguntitnya selama ini? Putri kandungnya sendiri? Apakah Alessandro dan Armano tahu?"
"Aku tidak sempat mengobrol dengan mereka. Tapi Alonzo mengatakan mereka tahu dan rela melakukan apa saja untuk melindunginya."
Javer terpana. "Wow. Aku tidak mengira hal ini terjadi."
"Hm, aku juga."
"Jadi, sekarang bagaimana?" katanya. "Kau akan memberitahunya, kan?"
"Alonzo melarangku. Dia ingin memantau pergerakan Ernesto. Dia juga mengatakan dengan jelas tidak menyetujui hubunganku dengan Millie." Aku menghela napas.
"Oh, itu yang membuatmu bertingkah aneh? Kau mau mendorongnya menjauh?" Javer mendengus. "Persetan dengan Alonzo, Orion. Dia tidak berhak melarangmu!"
"Dia sangat berhak, Javer. Bertahun-tahun dia hidup menahan rindu dan menanggung rasa bersalah demi keselamatan istri dan putrinya. Dia bukan hanya bosku, dia juga seorang ayah."
"Omong kosong. Dia tidak bermaksud menjaga Millie." Javer kembali murka. Hubungannya dengan Alonzo tak pernah cocok, dan dia tidak suka setiap kali Alonzo mencoba mengontrol kami. "Dia membiarkan mereka pergi karena memang harus. Demi Tuhan, dia membiarkan istrinya menikah dengan pria lain dan membesarkan putrinya, Orion. Keputusan itu lebih mudah karena dia tidak perlu menghadapi akibatnya."
Aku belum berpikir sejauh itu. Secara otomatis aku mengira Alonzo akan membuat siapapun prihatin, tapi pendapat Javer ada benarnya. Dengan posisinya yang kuat, tidak sulit bagi Alonzo menjaga mereka. Semua anak buahnya siap berdiri sebagai tameng jika dibutuhkan untuk melindungi keluarganya.
"Dia pecundang, Orion. Dia tidak mau keberadaan Millie terungkap bukan karena dia harus menjelaskan alasannya." Javer mendengus jijik. "Kau yang memegang kuasa di Amerika. Jangan lepaskan dia kalau kau peduli padanya. Bersikaplah layaknya pria sejati karena Tuhan sekalipun tahu ayahnya tidak bisa diandalkan."
Javer keluar dari dapur, meninggalkanku sendirian. Aku ingin percaya dia benar dan aku bisa terus berhubungan dengan Millie tanpa persetujuan ayahnya. Tetapi, itu tidak akan mengubah situasi yang sedang terjadi saat ini. Seandainya aku berbohong dan ketahuan, dia takkan pernah memaafkanku. Dan jika aku memberitahu kebenarannya, aku akan kehilangan semua hasil jerih payahku selama ini. Dan, oh Tuhan... aku mempertimbangkan itu.
Aku belum benar-benar yakin langkah apa yang harus kuambil, tapi aku mulai berjalan menaiki anak tangga, berharap melihatnya tidur di ranjangku. Aku membuka pintu kamar mendapati permukaan ranjang masih sangat rapi dan Millie tidak disana. Aku berderap lebih jauh ke salah satu kamar tamu dan membukanya, namun terkunci.
Sial! Tentu saja dia takut padaku, aku bersikap seperti bajingan di dapur tadi. Aku menyandarkan punggung ke daun pintu, perlahan-lahan merosot sampai terduduk di lantai. Apa yang kupikirkan? Aku akan membohongi diri sendiri jika melakukan perintah Alonzo, menyakitinya sehingga dia benar-benar pergi. Kejadian malam ini sudah cukup membuatku hancur, dan aku tidak pernah merasa semalu ini. Aku harus bicara dan meminta maaf padanya.
Aku mengetuk pintu dengan gusar. "Millie, ini aku."
Hening.
"Kumohon, buka pintunya. Ini aku, Orion." kataku dengan suara serak.
"Aku tahu." gerutunya dari dalam. "Pergi sana."
"Tolong ijinkan aku masuk. Aku minta maaf."
"Selamat malam, Orion." jawabnya dengan lembut.
"Kumohon, Tesoro." pintaku bersungguh-sungguh. Aku hanya perlu masuk dan menyelesaikan masalah ini.
Dia tidak mengatakan sepatah katapun dan aku menyerah.
Aku kembali menyandarkan kepala ke daun pintu, lalu memejamkan mata. Aku tidak akan melepaskannya. Aku menghargai permintaan Alonzo untuk tidak memberitahunya, setidaknya untuk sekarang, namun aku sudah terjerumus terlalu dalam. Pilihanku sudah bulat sejak hari pertama kami bertemu di galeri.
Aku merasa sepi saat terbangun keesokan paginya. Lebih sepi dari yang kurasakan selama ini. Ingatan kejadian semalam pelan-pelan menggelayuti pikiranku, tapi dengan detail memalukan. Permainan koin, alkohol, jeritanku, gelas hancur berkeping-keping, dan sorot mengerikan di mata Orion ketika dia berdiri di depanku. Kemudian suaranya yang terdengar pilu memohon maaf di depan pintu kamar pada jam tiga pagi. Sebagian dari diriku ingin membuka pintu, namun aku tahan. Aku butuh waktu untuk memaklumi sikapnya dan kupikir sebaiknya kami hanya berhubungan secara profesional sebelum masalah-masalah lain datang.
Sejujurnya bukan itu yang kumau, tetapi aku juga tidak mau diperlakukan seperti kemarin. Dia sedang marah, aku paham, namun dia menakutiku. Aku tidak mau melihat sisi dirinya yang itu lagi, sekali saja sudah cukup.
Aku mengambil ponsel dan memanggil nomor ibuku. Aku tidak akan menceritakan masalahku secara detail, tetapi bicara dengannya mungkin bisa menenangkanku sedikit.
"Halo?"
"Hei, mom." sapaku, mencoba terdengar riang.
"Mills, apa kabar? Sebentar, Elijah dan Dave juga ingin mendengar suaramu." Dia pasti mengaktifkan mode pengeras suara.
"Hei, Mills." seru Elijah.
"Hai, sayang." Dave menimpali.
"Halo, semuanya. Apa kegiatan kalian hari ini?" Aku membuka selimut dan berderap ke beranda kamar. Berdiri di tempat ini terasa seperti berada di lapisan surga.
"Tidak ada yang penting, kami hanya sibuk di rumah. Elijah sedang giat-giatnya menanam sayur di halaman belakang sementara ibumu dan aku akan memperbaiki jendela yang tersambar petir kemarin malam."
"Kedengarannya menyenangkan." gumamku sambil tersenyum, berharap aku ada disana saat ini.
"Dan kami mau bakar-bakar malam ini! Dad bilang nanti sore kami akan ke pantai mencari kepiting untuk makan malam."
"Wow! Masih ada ruang untuk satu orang lagi?" Aku tertawa.
"Tentu saja. Kau bisa pulang?" tanya mom.
"Itu yang kupikirkan. Aku ingin istirahat sejenak."
"Dave, bagaimana kalau kau mulai duluan dengan Elijah?" kata mom, kekhawatiran terbukti di suaranya.
"Baiklah. Dah, sayang, sampai jumpa nanti. Aku menyayangimu." seru Dave.
"Dah, Mills!" Elijah ikut berseru.
Mom mematikan speaker supaya interogasinya bisa dimulai.
"Kau tidak apa-apa, Mills? Sepertinya kau sedang sedih." Naluri ibu tak pernah salah.
"Aku baik-baik saja, mom." jawabku bohong. "Kurasa aku hanya lelah. Akhir-akhir ini aku agak sibuk."
"Sibuk apa? Pasti bukan kerja di galeri. Aku menelepon beberapa kali dan Owen bilang kau tidak kerja. Ada apa?"
Sempurna. "Aku kerja, kok." kataku, lalu mengerang. "Meskipun agak jarang ke galeri, aku tetap melukis di rumah. Aku mendapat proyek besar dari seorang klien dan jangka waktunya tidak panjang. Dan... aku sedang dekat dengan seseorang..."
"Kau berkencan?" Dari semua yang kukatakan, dia hanya mendengar yang terakhir.
Aku tahu reaksinya akan seperti ini. "Kami mau menjalaninya dengan santai. Aku tidak akan memberitahumu kalau aku tidak yakin, mom."
"Berarti kau sudah yakin."
"Sedikit." Tidak sama sekali.
"Bawa dia malam ini." katanya dengan antusias.
"Oh, mom... Aku tidak tahu.." Astaga, kenapa kau terlalu cerewet, Millie?
"Aku memaksa, Mills. Pasti menyenangkan. Aku berjanji Dave akan bersikap ramah." Dan, bagaimana denganmu, ibu?
"Mom, aku..." Aku mengusap kening, mencoba mencari alasan.
"Ayolah, hibur aku sedikit. Kau jarang pulang, aku hanya ingin melihat sosok pria pilihanmu."
Sungguh upaya yang bagus sekali, mom. "Baiklah." Aku menghela napas kalah.
"Oh, luar biasa!" Aku hampir bisa mendengar dia tersenyum. "Datanglah, kita makan sekitar jam empat."
Telepon sudah terputus sebelum aku sempat mengucapkan salam.
Ya, mom, luar biasa!
Sekarang aku harus membujuk Orion agar mau menyetir selama tiga jam ke Jamestown untuk makan malam dengan keluargaku. Mempertimbangkan situasi tadi malam, sepertinya kemungkinannya kecil.
Aku meraih jubah dari atas kasur dan mengikatnya dengan erat ke tubuhku sebelum membuka pintu kamar. Kakiku tersandung sesuatu dan membuatku terjerembab di lantai. "Aahh!"
"Sial!" Orion menggerutu di belakangku.
Aku bertumpu pada siku dan memelototinya sementara dia berbaring tanpa baju, balas menatapku.
"Aku bisa memberitahumu cara yang lebih mudah kalau kau ingin membunuhku."
"Ingatkan aku untuk menanyakan itu nanti." Dia berdiri dengan ekspresi aneh, hampir tampak menyeramkan. Kemudian dia menunduk, mengulurkan tangan padaku. "Kau baik-baik saja?"
"Ya." Aku mengibaskan tangan begitu berdiri. Dia terus memandangiku, dan tiba-tiba mengusap pipiku dengan lembut. Dia sangat berbeda dengan yang tadi malam, perubahan sikapnya mulai membuatku cemas. "Bagaimana kepalamu?"
Dia menyentuh kening dan meringis seakan tidak menyadari lukanya. "Tidak apa-apa."
"Itu masih berdarah, Orion. Javer melakukan tugasnya dengan sangat baik." sindirku pedas, menariknya ke dalam kamar, mendorongnya ke tepi ranjang sementara aku berbelok ke kamar mandi untuk mengambil kotak obat.
Orion sudah duduk di kasur saat aku kembali, melihat kemana-mana selain aku seolah sedang mencari sesuatu. Aku berdiri di depannya, mencelupkan alkohol ke kapas dan membersihkan lukanya.
"Ya Tuhan!" Dia mengerang, menjauhkan kepalanya dariku.
"Oh, ayolah, bayi hiu." Aku tidak akan luluh karena sikap dramatisnya pagi ini.
Orion terkekeh, meluruskan punggungnya agar aku lebih leluasa. Kali ini dia tidak mengelak saat aku mengusap sekitar keningnya, dengan patuh diam di tempat sambil mengepalkan tangan dan mengeraskan rahang. Setelah lukanya bersih, aku memasang plester luka.
"Sudah." gumamku.
"Terima kasih." Dia tersenyum. "Kau tidak harus melakukannya, sungguh. Terutama setelah apa yang kulakukan tadi malam."
"Well, kau benar dalam hal itu."
"Mills, maafkan aku. Aku tidak... aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku sedang mabuk dan marah." katanya, mencoba membela diri.
"Apa yang akan terjadi kalau kau mabuk dan marah lagi?"
"Aku akan berusaha menghindarinya. Dengar..." Dia turun dari ranjang, menggenggam tanganku dan berlutut. "Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Sikapku sangat tidak termaafkan, dan mungkin sementara akan tetap begitu. Tetapi, kalau kau masih mau denganku, aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik. Dan aku juga berjanji akan melakukan apapun untuk menjaga dan melindungimu. Kumohon, jangan tinggalkan aku."
Aku memperhatikan ketulusan di matanya, lalu tersenyum. "Aku tidak meninggalkanmu... belum. Namun aku tidak mau peristiwa tadi malam terulang kembali. Aku tahu bagaimana sikapmu di tempat kerja, tapi bukan pria seperti itu yang kuinginkan. Kalau kau melakukannya lagi, berarti kita selesai."
"Aku mengerti." Dia melabuhkan ciuman lembut di bibirku. "Itu tidak akan terjadi lagi, alu janji. Apa yang harus kulakukan untuk menebusnya?"
"Well, kebetulan kau bertanya," kataku seraya menyeringai. "Barusan aku menelepon mom dan tanpa sengaja mengatakan kalau aku sedang mengencani seseorang. Dia bertanya apakah kita bisa datang untuk makan malam di rumah."
"Ibumu," Orion mengulangi, ekspresinya berubah bingung. "Susan. Ibumu."
"Ya, namanya Susan. Aku bahkan tidak tahu dari mana kau mengetahui namanya. Omong-omong, kalau menurutmu ini terlalu cepat, tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri."
"Aku ikut." sambarnya seketika, tersenyum halus.
"Sungguh? Kau yakin? Dia agak cerewet, tapi hatinya baik. Hanya saja..."
"Millie, bisakah kau berhenti?" Dia tergelak. "Tenang saja. Aku juga ingin bertemu keluargamu."
"Baguslah." Aku tersenyum, tetapi melihat raut panik menyelimuti wajahnya. Tak diragukan lagi, ada yang tidak beres.