[ Rating Dewasa]
Adrian bekerja sebagai fotografer freelance. Di balik pekerjaannya yang terlihat normal, ia menyimpan hobi yang “aneh” tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Targetnya selalu sama: wanita polos, lugu, dan tak mencurigai apa pun, saat melihat Klein seperti itu, jantungnya bergetar bukan karena jatuh cinta, melainkan karena dorongan lain yang jauh lebih gelap.
Satu per satu, wanita itu jatuh dalam pelukannya, dan setiap kisah… selalu berakhir dengan cara yang sama.
Lalu, sebenarnya seperti apa sosok Adrian? Seorang fotografer biasa… atau seseorang yang menyembunyikan sisi paling kelam di balik senyumnya?
[ KARYA ORIGINAL meongming / IG Sylvia.sho / tiktok Yuriko__]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Orang Ketiga ( 3)
[18+]
Malam berikutnya, Naya dan Ardian berjalan-jalan setelah Naya pulang kerja. Naya merangkul Ardian, terlihat bahagia. Pacarnya tampan, punya apartemen sendiri, meski Naya tak tahu persis latar belakang Ardian. Ia hanya yakin bahwa pria itu orang berada.
“Kita mau kemana lagi?” tanya Ardian.
“Hm… kalau ke apartemen mu gimana?” jawab Naya pelan.
“Kamu nggak mau pulang?” tanya Ardian lagi.
“Nggak,” jawabnya sambil tersenyum nakal. “Kamu mau kita pisah begitu aja?”
Ardian terkekeh. “Nggak juga… justru aku senang kamu mau ke apartemen.”
Naya tersenyum manis. “Yaudah ayo… aku udah nggak sabar nih.”
Ardian tersenyum, merangkul pinggang Naya, dan mereka berjalan menuju mobil.
Sesampainya di dalam apartemen, Naya langsung memeluk Ardian mereka berjalan masuk ke dalam kamar utama.
“Apa kita mulai saja?” tanyanya manja.
“Mulai apa?” jawab Ardian dingin.
“Hmm… kamu suka pura-pura,” Naya berkata sambil menciumnya.
“Tunggu,” Ardian melepaskan ciuman itu.
“Ada apa?” Naya hendak mencium lagi, tapi Ardian mengelak.
“Ada yang harus aku siapkan,” ucapnya lembut. “Kamu tunggu aku di ranjang.”
Naya menghela napas, menuruti perkataan Ardian, ia duduk di tepi ranjang dan membuka blouse nya. Ardian menyalakan ponsel, meletakkannya tepat menghadap ranjang. Naya sedikit bingung.
“Kamu ngapain? Mau merekam, ya?” tanyanya.
Ardian tak langsung menjawab, ia sibuk menyesuaikan posisi kamera. Naya cemberut, lalu menghampiri Ardian dan memeluknya dari belakang.
“Kenapa harus direkam? Mencurigakan sekali,” keluh Naya.
Ardian membalikkan badannya setelah posisi kamera pas. “Nggak apa-apa kan aku rekam? Bukan untuk hal jelek… aku cuma ingin punya kenangan, biar kamu nggak selingkuh,” ucapnya lembut.
“Selingkuh? Bukannya kamu yang harus diwaspadai,” Naya menjawab manja.
“Hehe… kamu meledek aku, ya?”
“Nggak…” Naya mengecup Ardian. “Apapun akan aku lakukan asal kamu senang.”
Ardian diam sejenak, lalu tersenyum. Ia memeluk Naya dan menciumnya. Mereka mulai bermain-main, Ardian menggendong Naya dan menjatuhkannya ke ranjang. Naya tertawa kecil, dan Ardian menciumnya lagi.
Sementara itu, di dalam taksi online, Nadya terus mengecek ponselnya sambil tersenyum, mengingat momen siang tadi ketika Ardian untuk pertama kalinya bersikap manis padanya. Ia memainkan ujung rambutnya, tak sabar ingin bertemu Ardian dan menghabiskan malam ini bersamanya.
Tak lama, taksi online sampai di depan apartemen. Nadya turun dan berjalan sedikit cepat. Bima sempat bilang Ardian menitipkan pesan padanya: kalau Ardian tak ada di kosan, artinya dia pasti ada di apartemennya.
Ia masuk ke dalam lift, dan begitu pintu terbuka, Nadya berlari kecil menuju unit Ardian. Sesampainya di depan pintu, ia hendak menekan bel, tapi ternyata pintu itu tak terkunci. Nadya tersenyum kecil dan mendorong pintu itu, masuk ke dalam.
Ia masuk lebih dalam. Ruangan itu sunyi. Nadya berjalan menuju pintu kamar, namun saat hendak membuka, ia mendengar suara perempuan lirih, samar, terus menyebut nama Ardian.
Nadya tertegun. Ia lalu perlahan membuka pintu, menahan napas, dan matanya langsung tertuju ke arah ranjang. Raut wajahnya berubah menjadi muram.
Nadya berdiri mematung, otaknya menolak menerima apa yang dilihat matanya: itu Ardian, tubuh itu, suara itu harusnya miliknya.
“Nggak… ini pasti salah,” batinnya kacau. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam.
Perempuan itu tertawa kecil, bergerak bebas di atas tubuh Ardian seolah tak tahu bahwa ia sedang menyentuh sesuatu yang bukan miliknya napas Nadya tersendat. Dunia di sekelilingnya mengecil, menyisakan satu titik merah yang berdenyut di kepalanya.
“Wanita jalang…” gunamnya, tanpa pikir panjang, dia melangkah cepat, matanya langsung terpaku pada botol kaca kosong di meja. Sekejap, tangannya menyambar botol itu.
PRANG!!!
Botol itu menghantam kepala Naya. Suara retak itu membuat telinganya berdenging, dunia seolah berputar sesaat.
Nadya tertegun melihat darah yang langsung mengalir.
Lalu sesuatu di dalam dirinya runtuh.
“Beraninya kamu!!” jeritnya.
Tubuh Naya terjatuh dari atas kasur, membentur lantai dengan teriakannya. Sebelum sempat bangkit, Nadya sudah menjambak rambutnya dan menyeretnya.
Setelah itu, ia menyerang Naya dengan membabi buta, Naya meronta. Tangis dan jeritannya pecah memenuhi ruangan.
Ardian terpaku di atas ranjang, seolah terkejut, namun di balik mata yang membesar itu, pikirannya bekerja tenang.
Detak jantungnya cepat, tubuhnya bergetar halus dan senyum itu muncul, perlahan, seperti jawaban dari sesuatu yang telah lama ia tunggu.
Suara Naya perlahan melemah. Nadya masih menghujam, seperti tak lagi sadar dengan apa yang dilakukannya.
“Beraninya menyentuh milikku!” ucapnya kacau. Emosi itu telah sepenuhnya menelan akalnya.
Ardian akhirnya bergerak, Ia bangkit perlahan dari ranjang bukan karena iba, melainkan karena ini sudah cukup.
“Nadya… cukup.”
Nadya masih menghujamkan botol itu ke arah Naya tanpa henti. Ardian mencoba meraih tangannya, berusaha merebut botol tersebut, namun Nadya menepisnya dengan kasar.
“Jangan halangi aku!”
Gerakannya liar. Botol itu menggores wajah Ardian. Ia memalingkan wajah, lalu menyentuh pipinya. Pandangannya kembali ke Nadya... wajahnya berlumur darah, tatapannya kosong, napasnya tersengal.
“Jangan halangi aku,” gumam Nadya parau. “Kamu milikku, Ardian. Tidak ada siapa pun yang boleh memiliki mu selain aku!.”
Ardian melirik ke arah Naya yang tergeletak tak berdaya. Napas gadis itu pelan hampir tak terdengar. Ardian lalu menoleh kembali pada Nadya dan melangkah mendekat. Nadya mundur, botol masih teracung.
“Kamu bisa membunuhnya, Nadya,” ucap Ardian datar. “Hentikan.”
Dengan gerakan perlahan, Ardian menggenggam tangan Nadya.
“Tenanglah,” katanya lembut.
Ia menurunkan tangan Nadya sedikit demi sedikit. Botol itu akhirnya terlepas dari genggaman. Nadya runtuh dalam pelukannya, tangisnya pecah.
Ardian membalas pelukan itu. Pandangannya jatuh pada tubuh Naya yang yang tergeletak. Ada sesuatu yang berdenyut di dadanya. Warna merah itu tampak pekat, berceceran, kacau. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa sangat… puas.
Nadya terisak di dada Ardian.
“Aku… aku cuma…” suaranya patah.
Ardian menunduk sedikit. “Kamu dengar napasnya?”
Nadya membeku.
Ia menoleh ragu ke arah tubuh Naya yang tergeletak, “Aku nggak… aku nggak bermaksud...”
“Tenang,” potong Ardian lembut. “Lihat aku."
Nadya mengangkat wajahnya. Matanya merah, kosong. “Apa dia… sudah mati?” bisiknya akhirnya.
Ardian tidak langsung menjawab, pandangannya melirik sekilas ke arah tubuh Naya yang tergeletak tak bergerak.
“Iya,” ucapnya pelan. “Dia sudah mati.”
Pelukan Nadya menguat. Ketakutan merayap pelan, menekan dadanya, “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tangisnya pecah.
Ardian diam. Ia mengusap punggung Nadya yang bergetar, merasakan bagaimana ketakutan itu mengikat tubuhnya sedikit demi sedikit.
Ia menunggu hingga tangis itu benar-benar pecah, “Kamu sudah membuktikannya,” katanya pelan. “Kamu memang pantas bersamaku.”
“Apa?” Nadya mendongak, bingung.
Ardian tersenyum. “Aku akan jadi milikmu selamanya.”
Nadya menatapnya dengan wajah kacau, antara takut dan berharap.
“Sekarang bersihkan dirimu dan pulang,” kata Ardian.
“Tapi..?” Nadya melirik ke arah tubuh Naya. “bagaimana dengan dia?”
“Aku yang akan membereskannya."
Ardian tersenyum. Nadya ragu sesaat.
“Tunggu aku di kosan mu,” lanjut Ardian tenang. “Jangan ke mana-mana. Aku akan menjemputmu setelah semua selesai.”
“Kamu akan melindungi ku?”
“Iya. Aku sekarang milikmu seutuhnya. Kamu percaya, kan?”
Nadya mengangguk pelan. Senyum tipis muncul di wajahnya, bercampur takut. Ia bergegas ke kamar mandi, membersihkan darah yang menempel di tubuhnya.
Tak lama kemudian, Nadya keluar dengan hoodie Ardian. Ia menoleh sekali lagi. Ardian berdiri mematung di dekat tubuh Naya, lalu tersenyum padanya.
Ragu sempat muncul, tapi Ardian telah berjanji. Nadya berlari kecil keluar dari apartemen, meninggalkan keheningan di belakangnya.
Ardian berjalan mendekati tubuh Naya dan berjongkok. Dengan lembut, ia menarik rambut panjang gadis itu, menghirup napas dalam-dalam, lalu terkekeh pelan.
Tak lama suara rana kamera memecah keheningan. Sekali. Dua kali. Lalu berulang, Ardian tidak terburu-buru. Ia mengatur sudut dengan teliti, memastikan setiap bingkai menangkap apa yang ia inginkan bukan tubuh yang tergeletak itu, melainkan jejak dari sebuah momen yang telah ia tunggu.
Ia berhenti sejenak, menatap bayangan kecil dari layar kamera memantul di matanya yang kosong. Ada ketenangan aneh di wajahnya, seperti seseorang yang akhirnya menyelesaikan pekerjaan panjangnya dengan sempurna.
Ia tertawa kecil... Lalu menurunkan kameranya perlahan. baginya, malam ini bukan akhir. Itu adalah awal dari sesuatu yang akan ia simpan, ia kenang, dan suatu hari nanti akan dia ulang kembali...
ini bagus, namun POV nya lebih banyak ke Ardian/Rangga. penasaran, apakah tidak ada yang melacak Ardian?