Apakah kalian percaya dengan keberadaan Vampire ? Bahkan makhluk Immortal lainnya ? Bukankah mereka hanya legenda saja ?
Sebuah novel yang akan mengajak kalian masuk kedalam kehidupan para immortal.
Seorang Gadis yang ditakdirkan untuk menjadi pasangan seorang Pangeran Vampire akan membawamu masuk kedalam berbagai rintangan yang gadis itu hadapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Strawberry_girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27:Fight 3 Ft. Vitonel and Eva
"Terima kasih banyak kakak!" Aku memeluknya erat.
"Tidak masalah." Ucapnya lagi sambil membelai rambutku.
"Jangan terlalu sedih Eva, cantikmu bisa luntur!" Goda Kak Vito.
"Apa sih!" Aku tersenyum sendiri.
"Maukah kau bertarung disisiku?" Kak Vito mengulurkan tangannya.
Aku menatap ke arahnya lalu ke arah Felix.
"Jangan Khawatir, pelindung ini sangat kuat, dia akan sadar sebentar lagi." Ucap kak Vito seolah mengetahui isi pikiranku.
"Aku mau." Aku menerima uluran tangannya.
Dia tersenyum lalu beranjak berdiri dan menggandengku menuju medan perang.
"Kak, kurasa mereka bertambah kuat." Lapor kak Zayn ke kak Vito.
"Ada yang membuat lalu menyalurkan pseudo berukuran besar ke seluruh lawan." Jawabku lalu melihat ke belakang lawan. Hanya ada hutan.
"Kurasa kau benar, jangan menyerah! Kita tidak boleh kalah!" Ucap kak Vito keras.
"Aku akan berusaha masuk ke dalam hutan." Ucapku kemudian.
"Jangan melarangku kakak!" Ucapku saat melihat Kak Vito membuka mulutnya tanda tidak setuju dengan ucapanku.
"Ice shield" rapalku lalu mengarahkan kedua tanganku ke arah Kak Vito.
Perisai Es ini berguna untuk melindungi tubuh dari pseudo panas yang dimiliki para rogue.
Selagi kedua tanganku mengarahkan Ice Shield kemanapun arah Kak Zayn, seorang witch perempuan tingkat menengah ke atas melesat cepat ke arahku dengan sapu terbangnya.
Aku tiarap lalu secepat mungkin menendang sapu terbangnya hingga dia terjungkal tepat di dekatku.
"Freeze kick" Ucapku, Sapu terbangnya menjadi es seketika.
Aku menahan dia agar tidak terlepas dengan kaki kananku di dadanya. Ia tidak bisa melawan karena tongkat sihirnya tergeletak 7 meter darinya.
Witch yang tidak berasal dari keturunan kerajaan pseudonya selalu bergantung pada tongkat sihir.
"Sword Ice!" Seruku, lalu membuat gesture menancapkan pedangku dengan tangan kiriku tepat di jantungnya.
Sedangkan tangan kananku tetap mengikuti arah pertarungan kak Vito.
"Aaarghh!" Witch itu berteriak kesakitan. Aku menancapkannya hingga tembus ke tanah. Ia meronta-ronta ingin dilepaskan.
"Ice Sword, jadikan organ dia membeku lalu musnah!" Rapalku diiringi teriakan dia.
"Perisai yang bagus!" Seru kak Vito saat berada di belakangku. Pedang kami sama-sama saling berdenting dengan pedang lawan.
"Terima kasih!" ucapku lalu membalikkan badan ke arahnya.
" Jangan pernah lengah saat bertarung, atau kau akan terluka!"
Ucapnya lalu mengarahkan pedangnya tepat di sebelah pinggangku.
zlabb
Aku menoleh ke belakang dan mendapati Rogue yang berdiri dengan menunduk. Dari perutnya ada pedang milik kak Vito menancap.
"Ku kira kau ingin membunuhku tadi." Ucapku lalu menatapnya.
"Tidak akan bisa aku melakukannya." Ucapnya singkat, lalu mengecup keningku sambil tersenyum. Kemudian ia segera melesat pergi membantu anak buahnya.
Aku melihat sekitarku. Ada beberapa musuh yang hendak menyerangku tapi, kulihat wajah mereka setengah ketakutan.
"Ice Gaze" desisku lalu menatap satu persatu mereka semua. Seketika mereka melolong kesakitan karena tubuhnya membeku.
Aku langsung berlari menuju ke arah Justin. Ia kewalahan karena diserang oleh banyak Witch juga rogue.
"Ice arrow!" seruku. Sedetik kemudia puluhan panah es menancap di tubuh mereka.
"Aku tidak menyangka kau sangat kuat kakak!" Ucap Justin agak keras karena suara dentingan pedang yang meredam suara.
"Ku pikir ini hanya bersifat sementara!" Balasku.
"Bantam Revenge!" Justin meninju tanah dibawahnya.
Seketika tanah merekah dan menelan hidup-hidup musuh yang tersisa.
"Serangan yang bagus!" Pujiku.
Akibat Bantam Revenge milik Justin sebagian banyak musuh dari kalangan rogue telah lenyap. Beberapa Werewolf penghianat juga banyak yang mati. Hanya menyisakan para witch.
"Bagus sekali! Seorang gadis manusia yang lemah bisa mengalahkan pasukanku seperti itu!"
Sebuah suara menarikku untuk menoleh. Gloria, dia berjalan santai dengan luka di perutnya yang mengeluarkan darah.
"Apa yang kau lihat? Hasil tusukan matemu yang menyebalkan itu?" sinisnya.
"Baguslah, dengan seperti itu bisa mempercepat matimu!" Sarkasku lalu memandangnya sinis.
Dia tidak sendirian, ada delapan penyihir tingkat atas bersamanya. Di belakangku. Kak Vito, Kak Zayn, Justin dan Kevin serta beberapa panglima Demon berkumpul.
"Pahlawanmu banyak juga rupanya!" Ucapnya sambil menampilkan senyum miringnya.
"Kenapa? kau iri?" Tanya Kak Vito lalu merangkul bahuku dari kanan.
"Iri karena kau sekarang sendirian?" Kak zayn ikut merangkul bahuku dari kiri.
Diam-diam aku terseyum senang dalam hati.
"Cih! Untuk apa aku iri?" Ucapnya tidak terima.
"Seorang penghianat memang patut dijauhi. Dia harus sendiri tanpa seorang pun menjaganya."
Aku tersentak kaget saat mendengar suara itu. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Lucas sedang memeluk pinggangku. Kepalanya menyembul diatas kepalaku.
"Siapa yang menjaga pack?" Tanya kak Vito ke Lucas sambil berbisik.
"Matemu." jawabnya singkat.
"Cih!! Kalian benar-benar memuakkan! Serang mereka! Terutama gadis itu yang telah membunuh tuan kalian!" Seru Gloria kepada penyihir dibelakangnya.
"Lawan kami dulu! Jika kami mati, kau bisa menyentuhnya!" Ucap kak Zayn sambil tersenyum kecil.
"Apa untungnya kalian membela gadis manusia seperti itu?" Gloria mengacungkan katananya.
"Kau tidak perlu tahu! Nanti kau cemburu!" Teriak Lucas.
"Rasakan katanaku!!" dia melesat menuju ke arahku.
Zlaabb
"Tidak seperti itu caranya bertarung!" Ucap kak Zayn enteng.
"Apa? Tidak mungkin!" ucap Gloria tertahan saat pedangnya menembus tubuh kak Zayn. Ajaibnya, dari tubuh kak Zayn tidak keluar darah sedikitpun.
"Ice creepers" desisku.
Dari bawah tanah, es merambat menuju tepat ke titik pusat mereka.
"Ice shield" desisku.
Kulihat kak Zayn sedikit terkejut dengan hawa dingin ditubuhnya karena es milikku.
"Lepaskan Eva!" desisnya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Pseudomu bisa habis! Kau menggunakan pseudomu tanpa batas!" Ucap kak Zayn disebelah Kak vito.
"Ikut aku!" Lucas menarik lenganku.
"Kita kemana?" Tanyaku saat kita menjauh dari Kak Vito dan Zayn.
"Kita harus pergi dari sana! Aku merasakan salah satu dari mereka pseudonya be-- Arggh!!" Belum selesai dia berbicara, tiba-tiba dia berteriak kesakitan.
"Lucas kau kenapa?" Tanyaku panik lalu menagngkat wajahnya.
"Crucio milikku!"
Aku menoleh dan mendapati penyihir yang wajahnya mirip dengan Natalie.
"Kau! lepaskan mantra jelekmu itu!" Geramku.
"Double Crucio!" rapalnya.
"Aaarrggh! Lepaskan!" Lucas semakin meronta.
"Lucas tenanglah!"
"Calming Ice!"
Perlahan tubuhnya kembali normal, walau dia masih sedikit mengernyit kesakitan.
"Apa yang kau mau?!" Ucapku menghampiri penyihir itu.
"Kematianmu!" tegasnya.
"Jika itu maumu lakukan! Jangan menyakiti semua yang kusayangi!" Bentakku.
"Baiklah, aku akan memulainya." ucapnya dengan nada mengejek
"Mind control activated" bisiknya tepat ditelingaku.
Deg
Perlahan aku merasakan tubuhku sangat ringan, tapi perilakuku seolah ada yang mengendalikan.
"Bunuh dia!" Ucapnya kepadaku dengan menunjuk ke arah Lucas.
"Eva jangan!" Teriak Lucas.
"Jangan dengarkan dia! Aku tahu kau kuat, keluarlah dari mantranya!" Ucapnya dengan mengguncang bahuku.
Sebenarnya aku bisa mendengar dia, tapi hatiku digerakkan oleh penyihir itu.
"Keluarkan semua pseudomu!" Teriaknya.
"Eva jangan!" larang Lucas, tapi terlambat.
"Ice exceeds limit" Desisku, sedetik kemudian hawa disekitarku terasa sangat dingin. Bahkan tanahnya berubah menjadi es.
"Eva hentikan!" Aku mendengar suara Kak Zayn berteriak ke arahku.
"Ice blast!" Seruku sambil mengacungkan pedangku ke arah kak Zayn
Dduaarr
"Bantai mereka semua!"
"Hentikan Sevena!" Samar-sama aku mendengar Kak Vito berteriak ke arah Penyihir itu.
Aku sendiri menghabisi semua yang ada didepanku.
"Eva sadarlah!" Kak Lucas menghindar dari seranganku.
"Pseudo stop!" Ucapnya. Seketika aku tidak bisa bergerak.
"Eva sadarlah!" Bisik Lucas sambil menangkup wajahku.
Aku menatapnya dengan pandangan kosong.
"Eva?" Panggilnya.
"Ice Blows"Ucapku.
Aku menatap kosong Lucas yang terkapar setelah menabrak pohon dibelakangnya hingga roboh semua.
Aku segera mengeluarkan pedangku. Memposisikan tepat di atas lehernya.
Saat aku mengayunkan pedangku, tiba-tiba....
Hanya author yang tahu😎
Yang rela bang Lucas dibunuh Eva siapa hayooo😂😂
Silahkan kunjungi kembali,Ayo kita saling mendukung yaa. Terimakasih.
Jangan lupa kunjungi kembali dan like sebanyak - banyak nya ya. Terimakasih.
Dukungan kalian selalu memberikan ku semangat dalam berkarya.
Fresh Nazar mampir kasih like lagi mendukungmu. Ditunggu like dan komen balikmu ke TERPAKSA MENIKAHI BIG BOSS dan ISTRI YANG TERSIKSA. Kita saling support terus ya.
Fresh Nazar mampir kasih like lagi mendukungmu. Ditunggu like dan komen balikmu ke TERPAKSA MENIKAHI BIG BOSS dan ISTRI YANG TERSIKSA. Kita saling support terus ya.
"Istri yang Terabaikan" telah update.
Silahkan kunjungi dan berikan like sebanyak - banyak nya yaa. Terimakasih.
"Istri yang Terabaikan telah UP!"
Jangan lupa mampir dan berikan like dan komentar nya ya. Terimakasih.