Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin jelas
Ruangan itu kembali hening. Peta yang terbuka di atas meja seolah menjadi pusat perhatian semua orang. Dedi masih berdiri di belakang kursi Bima. Ayah Arga duduk sambil memperhatikan layar ponsel. Sementara Arga sejak tadi menatap titik kecil yang bertuliskan Ciburial. Beberapa detik berlalu.
Kemudian Arga menggeleng pelan.
"Aku ingat."
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
"Apa?" tanya Bima.
Arga tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang.
"Bukan cuma nama desanya." Ia menunjuk peta.
"Aku ingat hampir semuanya."
Dedi segera duduk.
"Semua?"
Arga mengangguk.
"Setelah aku keluar dari hutan bambu." Ia memejamkan mata. Ingatan itu perlahan kembali. Bukan seperti potongan-potongan samar. Melainkan seperti sebuah perjalanan yang selama ini tersimpan utuh di tempat yang sangat dalam.
"Aku memang sampai ke Ciburial." Arga membuka mata.
"Dan orang-orang desa yang pertama menemukan aku masih sangat jelas dalam ingatanku."
Bima memperhatikan dengan serius.
"Siapa?"
"Aku nggak tanya nama mereka. Dan aku pingsan saat itu. Darah dari betis yang tertusuk bambu masih terus merembes, aku sampai demam." Arga menggeleng.
"Tapi aku ingat wajah mereka." Ia tersenyum kecil.
"Mereka menemukan aku menjelang Maghrib. Tubuhku sudah sangat lemas. Aku bahkan hampir nggak bisa berdiri. Akhirnya pingsan." Arga berhenti.
"Besoknya aku baru benar-benar sadar bahwa desa itu jauh sekali dari jalur pendakian yang kukenal."
Dedi bertanya.
"Berapa lama kamu tinggal di sana?"
"Beberapa hari. Hampir 2 minggu."
"Sesuai dengan lama dia hilang." Ayah menambahkan.
Arga mengangguk.
"Aku tidak langsung dibawa pulang. Karena akses keluar hanya bisa menunggu mobil kopi atau logistik datang. Warga disana tidak ada yang mempunyai kendaraan. Sepeda kayuh pun hanya beberapa yang memiliki."
Ayah Arga mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Karena jalur menuju Ciburial bukan jalur yang biasa dilalui pendaki. Jalur itu jalan besar bukan aspal tapi ada di tengah hutan. Dan tidak boleh berhenti di tengah jalan, mungkin karena hewan buas atau hanya kepercayaan warga. Aku belum bertanya lebih."
Arga menunjuk peta.
"Ada rawa didesa itu. Rawa dengan bau yang sangat menyengat. Aku sampai muntah berhari-hari setiap bau itu tercium."
"Rawa?"
Arga mengangguk.
"Iya."
Dedi maju sedikit.
"Rawa apa?"
"Rawa yang berada di bagian dalam hutan." Arga menggeser peta.
"Letaknya memanjang di belakang rumah-rumah warga. Cukup jauh dari semua kegiatan warga tapi setiap pulang ke rumah, rawa itu berada tepat di belakang rumah mereka."
Ia menunjuk sebuah wilayah yang pada peta hanya berupa area hijau.
"Warga sebenarnya dulu menjadikan rawa sebagai bagian dari hidup mereka. Mandi, minum, mencari ikan. Tapi dua puluh tahun lalu, Rawa menjadi bau sejak ada yang melihat sesuatu mengambang diatasnya."
"Mengambang?"
"Mayat. Tapi belum sempat dievakuasi, tiba-tiba menghilang tanpa jejak."
Semua tercengang kaget.
Arga menggeleng.
"Dan tidak pernah ditemukan. Tapi ada warga yang masih penasaran, akhirnya menemukan carrier dan Beberapa benda ditemukan di sana."
Ruangan mendadak sunyi.
Bima menatapnya.
"Benda?"
Arga mengangguk.
"Peluit."
Dedi langsung mengerutkan kening.
"Peluit?"
"Iya."
Arga mengangguk.
"Peluit gunung."
"Di salah satu sisinya ada inisial."
Ia menatap Bima.
"AR."
Bima membeku.
"AR? Apakah Arif Rahman? Kami memang punya peluit yang kami beri inisial nama masing-maskng agar tidak tertukar."
Arga mengangguk.
"Mungkin memang milik nya."
Arga kemudian menjelaskan bahwa peluit itu ditemukan di sekitar tepian rawa. Tidak jauh dari sana juga pernah ditemukan beberapa benda lain. Potongan tali. Sebagian perlengkapan pendakian. Dan beberapa barang kecil yang tampaknya berasal dari pendaki. Tapi tidak ada identitas lengkap."
Dedi bertanya.
"Dan peluit itu?"
"Disimpan warga."
Arga menelan ludah.
"Beberapa waktu kemudian ditemukan lagi satu. Aku langsung yang menemukan nya ditemani pak Rahman, kepala desa disana. Malam itu tiba-tiba ada yang melempar peluit itu ke pintu di belakang rumah yang aku tempati."
Bima menatapnya tanpa berkedip.
"Inisialnya?"
Arga menjawab pelan.
"BS."
Ruangan seketika terasa lebih dingin. Bima menundukkan kepala.
"Bayu Saputra..." Ucapnya lirih.
Bayangan wajah teman-temannya berkelebat dalam ingatan.
Arif.
Bayu.
Rasyid.
Amin.
Asep.
"Salah satu warga yang menyimpan benda-benda temuan itu memberikan nya padaku. Ada carrier tua kotor. Sebagian permukaannya tertutup lumpur. Dan di dalamnya terdapat buku catatan dan peta yang sudah kusut."
"Peta?"
"Iya."
Arga mengangguk.
"Peta itu seperti peta jalur. Tapi buatan tangan langsung."
Dedi bertanya.
"Jalur apa?"
"Jalur menuju sisi utara rawa."
Arga menunjuk peta yang terbuka di meja.
"Di peta itu ada tanda tangan seseorang. Atau mungkin hanya kode. Dan ada garis jalur menuju utara."
Bima tiba-tiba mengangkat wajah.
"Carrier itu..."
Arga menatapnya.
"Kenapa?"
"Warnanya?"
Arga menyebutkan cirinya. Bima terdiam. Ia seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.
"Itu memang punya Arif."
Semua langsung menoleh.
Arga membeku.
"Mas Bima?"
Bima mengangguk perlahan.
"Aku ingat." Tangannya mengepal.
"Itu carrier yang dibawa Arif waktu mendaki."
Dedi menatap adiknya.
"Yakin?"
"Sangat yakin. Hanya dia yang memakai warna itu."
Bima mengusap wajahnya.
Arga melanjutkan.
"Carrier itu ditemukan salah satu warga. Yang menemukan mayat itu juga, meski akhirnya mayat itu hilang tanpa jejak. Aku dan beberapa warga akhirnya mengikuti peta itu."
Dedi bertanya.
"Ke mana?"
"Sisi utara rawa." Arga menarik napas.
"Warga akhirnya mencoba melewati hutan di sebelah utara rawa sesuai jalur yang ditunjukkan peta."
Ayah Arga langsung duduk lebih tegak.
"Dan?"
"Kami menemukan sesuatu."
Arga menatap Bima.
"Carrier lain dan beberapa bungkus makanan yang anehnya expired sudah puluhan tahun lalu tapi bungkus itu seakan baru dibuka beberapa menit lalu."
Bima membeku.
"Carrier?"
"Iya."
"Carrier siapa?"
Arga menggeleng.
"Awalnya kami tidak tahu. Tapi sekarang aku yakin itu punya mas Bima."
Bima tidak berkata apa-apa. Dedi menatap adiknya.
"Kamu meninggalkan carier?"
Bima mengangguk perlahan.
"Iya, hari terakhir sebelum aku menemukan hutan bambu. Aku melihat jejak kaki dan mengikutinya. Carrier sengaja kutinggal sebentar karena berat."
Arga melanjutkan.
"Iya benar, Carrier itu berada di jalur hutan utara. Dan aku menambah logistik nya. Karena bungkus makanan itu aku yakin baru saja dibuka dan mungkin ada orang lain yang sedang berjuang dengan carrier itu. Dan kemudian carrier itu ditinggalkan kembali di jalur."
Bima menatap meja.
"Jadi...kamu yang menambah logistik itu."
"Iya."
Bima terdiam.
Arga kemudian menunjuk jalur terakhir.
"Ini bagian yang paling penting."
"Apa?" tanya Dedi.
"Jalur keluar."
Arga menarik garis panjang di atas peta.
"Kalau sudah melewati hutan utara dan keluar dari kawasan dalam, ada satu jalan lebar."
"Jalan ini." Ia mengetuk peta.
"Jalan satu-satunya yang bisa dilalui kendaraan."
Bima menatapnya.
"Jalan yang kita lewati?"
Arga mengangguk.
"Jalan itu."
Ia menarik napas.
"Dan dari titik itu sampai keluar dari kawasan hutan, waktu tempuhnya hampir dua belas jam." Arga menatap semua orang.
Dedi terkejut.
"Dua belas jam?"
"Tanpa berhenti." Arga mengangguk dan menambahkan.
"Makanya kendaraan logistik atau kendaraan pengangkut kopi harus benar-benar menyiapkan bahan bakar. Satu hari untuk masuk. Dan satu hari untuk keluar."
Ayah Arga menatap peta cukup lama.
"Jadi jalan yang kamu lewati waktu itu adalah jalan yang sama dengan yang ditemukan Bima?."
Arga mengangguk.
"Jalan lebar di tengah hutan."
Bima perlahan menutup matanya. Ia masih mengingatnya. Jalan. Pepohonan. Suara mesin. Kemudian sebuah kendaraan. Dan seorang anak muda yang turun ke tengah jalan menghampirinya.
Arga.
Bima membuka mata.
"Aku ingat."
Semua menatapnya.
"Aku keluar dari hutan bambu. Jalannya lebar. Aku melihat kendaraan. Kemudian..."
Ia menatap Arga.
"...aku melihat kamu."
Arga mengangguk.
"Itulah pertama kalinya kita bertemu."
Ruangan kembali hening. Namun kali ini keheningan mereka berbeda. Bukan karena kebingungan. Melainkan karena semua bagian mulai menyatu. Dedi mengambil pulpen. Ia menulis besar-besar di atas kertas.
CIBURIAL
Kemudian di bawahnya:
RAWA
PELUIT AR
PELUIT BS
CARRIER BIMA
PETA
HUTAN UTARA
HUTAN BAMBU
JALAN 12 JAM
Ia memandang semua tulisan itu.
"Ini bukan lagi satu kebetulan."
Ayah Arga mengangguk.
"Benar."
Arga menatap peta.
"Yang menjadi pertanyaan sekarang..."
Bima melanjutkan.
"...apa yang terjadi di antara rawa dan hutan bambu?"
Dedi mengangguk.
"Dan bagaimana kita menuju desa Ciburial?"
Bima terdiam.
Namun masih ada pertanyaan yang jauh lebih besar. Mengapa setelah semua kejadian itu, Bima justru keluar melalui jalan yang sama dengan Arga?
Bima menatap titik pada peta yang menghubungkan hutan bambu dengan jalan lebar.
Jarinya perlahan menyentuh titik tersebut.
"Jangan-jangan..."
Arga menoleh. Bima menatapnya.
"Tempat kita bertemu itu bukan kebetulan."
Tidak ada yang menjawab. Bima melanjutkan.
"Kalau semua jalur ini benar..." Ia menunjuk satu per satu.
"Rawa. Hutan utara. Hutan bambu. Jalan besar. Berarti semua orang yang hilang mungkin pernah melewati salah satu jalur ini."
Dedi menarik napas panjang. Dan sekarang mereka tidak lagi hanya mencari di mana Bima hilang.
Mereka mulai mencari...
ke mana sebenarnya semua orang itu pergi.
Di atas meja, peta Ciburial masih terbuka. Satu jalur panjang membelah hutan. Hampir dua belas jam perjalanan. Dan di suatu titik di jalur itulah, tiga puluh tahun kemudian, dua orang yang seharusnya tidak mungkin bertemu, akhirnya bertemu.
Bima Dan Arga.
Mungkin bukan secara kebetulan. Mungkin karena keduanya memang sedang berjalan keluar dari tempat yang sama.
Dan jika dugaan itu benar, maka hutan bambu bukanlah akhir dari perjalanan. Melainkan pintu menuju sesuatu yang selama tiga puluh tahun belum pernah mereka temukan.
banyak orang klw mau baca, mereka lihat dulu ini cerita tamat atau tidak. klw tidak mereka jadi malas membacanya.
masukan buat author, tamatin aja ceritanya. saya tahu di luar sana banyak yg mengintip cerita ini tapi Krn menggantung mrk JD malas..😍