Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
~Halo! Saat ini novel ini masih dalam tahap merintis, jadi cover sementara dibuat menggunakan bantuan AI. Jika novel ini berkembang baik, penulis berkomitmen untuk menggantinya dengan karya ilustrator manusia asli. Terima kasih atas dukungannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Estat Draymoor
Estat Draymoor berdiri di ujung distrik bangsawan Aldenmere, dikelilingi pagar besi tinggi yang jarangnya ditumbuhi tanaman rambat liar, tanda bahwa penghuninya sudah lama tidak terlalu peduli pada tampilan luar rumahnya sendiri. Lampu-lampu di jendela lantai atas menyala, tapi lantai bawah gelap, hanya satu obor di dekat gerbang yang memberi cahaya cukup untuk melihat jalan setapak menuju pintu utama. Angin malam membawa bau daun basah dari taman yang sudah lama tidak dirawat, bercampur bau logam berkarat dari pagar tua.
Arden berhenti sejenak di depan gerbang, merasakan dinginnya malam menembus jaketnya. Ia menoleh sekali ke arah pepohonan di seberang jalan, tempat Ilsa seharusnya sudah bersembunyi sejak setengah jam lalu, bayangannya sengaja dibuat tidak terlihat sama sekali di antara batang-batang pohon tua.
Tidak ada tanda apa pun. Itu yang diharapkan.
Arden melangkah maju, telapak sepatunya berbunyi pelan di jalan setapak berbatu, satu-satunya suara selain desau angin malam.
Pelayan tua membuka pintu sebelum Arden sempat mengetuk, wajahnya kaku dan formal, mempersilakan masuk tanpa banyak kata, langkahnya sendiri terdengar terburu-buru begitu menutup pintu di belakang Arden. Ruang tamu Estat Draymoor terasa lebih dingin dari yang seharusnya untuk rumah sebesar itu, perapian menyala kecil di sudut, api yang terlihat seperti dibiarkan hampir padam sengaja. Lukisan-lukisan keluarga di dinding tergantung miring sedikit, seolah tidak ada yang sempat meluruskannya sejak lama.
Lord Edmar Draymoor sudah duduk di kursi dekat perapian, gelas anggur di tangannya belum disentuh sama sekali. Ia berdiri begitu Arden masuk, gerakannya sedikit terlalu cepat, seperti orang yang sudah menunggu terlalu lama dengan pikiran yang tidak bisa diam.
"Kau datang," katanya, suaranya lebih pelan dari yang Arden ingat dari pertemuan pertama mereka, jauh dari kesan tenang dan berwibawa yang ditunjukkannya waktu menawarkan kontrak dulu.
"Kau memintanya," jawab Arden, tidak duduk meski Draymoor mengisyaratkan kursi kosong di seberangnya. "Sendirian, katamu."
Draymoor mengangguk, matanya bergerak sebentar ke arah jendela, memeriksa gorden yang sudah tertutup rapat, seolah memastikan sekali lagi tidak ada yang bisa melihat ke dalam. "Aku tahu kalian pasti curiga padaku sejak kalian pergi ke Greywood."
Arden tidak menyembunyikan kejutan di wajahnya, meski hanya sekejap. "Kau tahu kami ke sana?"
"Aku menyewa mata-mata sendiri untuk memantau pergerakan kalian." Draymoor duduk kembali, menyandarkan diri ke kursi, tapi punggungnya tetap kaku, tidak sepenuhnya rileks. "Bukan untuk mengancam. Untuk memastikan kalian masih hidup."
"Kenapa itu jadi urusanmu?"
Draymoor menatap gelas anggurnya, memutarnya pelan di antara jari tanpa meminumnya. "Karena kalau kalian mati di sana, itu akan jadi tanggung jawabku. Sama seperti lima orang lain sebelum kalian."
Ruangan itu hening sesaat, hanya suara api kecil yang berderak di perapian, dan tetesan lilin yang meleleh pelan dari lentera di meja samping.
"Ceritakan," kata Arden. "Semuanya. Bukan versi yang kau sampaikan waktu menyewa kami."
Draymoor menutup mata sebentar, seperti mengumpulkan keberanian yang sudah lama ia tunda. "Sepuluh bulan lalu, aku mendengar rumor dari seorang kenalan lama, seorang sarjana yang pernah bekerja untuk keluargaku, soal sesuatu terkait Lantai Tersegel Menara Verlanth. Katanya ada catatan kuno yang menyebut lokasi persis sesuatu yang tersembunyi di dalamnya, sesuatu yang bisa jadi kunci untuk memahami kenapa lantai itu berbeda dari lantai-lantai lain."
"Kau mengirim dua belas orang untuk mencarinya."
"Aku mengirim dua belas orang," ulang Draymoor, suaranya pecah sedikit di kata terakhir, "karena aku pikir itu murni riset akademis. Aku tidak tahu ada pihak lain yang sudah mengincar informasi yang sama."
"Ashcloak."
Draymoor mengangguk lagi, lebih lambat kali ini, jarinya mengetuk gelas anggurnya tanpa sadar. "Aku baru tahu nama itu belakangan. Waktu itu aku hanya tahu ekspedisiku diserang, tujuh kembali, lima tidak. Aku panik. Aku membayar mereka untuk diam, bukan karena aku bersalah atas serangan itu, tapi karena aku takut kalau kejadian ini terdengar, orang-orang yang menyerang ekspedisiku akan tahu aku masih mengejar informasi yang sama."
Arden mengamati wajah Draymoor lekat-lekat, mencari tanda kebohongan di sudut matanya, di cara bibirnya bergerak. Yang ia temukan bukan kelicikan, tapi sesuatu yang lebih dekat pada ketakutan murni, jenis ketakutan yang sudah lama dipendam sampai nyaris menjadi kebiasaan, mengubah cara seseorang duduk, cara ia memegang gelas, cara matanya selalu kembali ke pintu dan jendela.
"Lalu kau menyewa kami," kata Arden, "dengan permintaan diam-diam yang sama."
"Aku pikir kelompok kecil sepertimu tidak akan menarik perhatian sebesar ekspedisi besar dulu." Draymoor akhirnya meminum anggurnya, sekali teguk, seperti butuh sesuatu untuk menenangkan tangannya sendiri. "Aku salah. Relik itu bereaksi padamu. Aku tidak menyangka itu akan terjadi."
"Kau tahu kenapa itu bereaksi padaku?"
Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Draymoor benar-benar terlihat terkejut. "Tidak. Aku bersumpah aku tidak tahu."
Arden mempercayainya, entah kenapa. Ada batas antara kebohongan yang dipoles dan kejutan asli yang tidak bisa dipalsukan semudah itu, dan wajah Draymoor jelas berada di sisi kedua.
"Kalau begitu apa yang membuatmu memanggilku malam ini?" tanya Arden. "Bukan cuma untuk mengaku."
Draymoor berdiri, berjalan mendekati jendela, menyibak gorden sedikit untuk mengintip ke luar sebelum menutupnya kembali rapat-rapat. Gerakan itu terlalu waspada untuk seseorang yang hanya ingin bicara jujur di rumahnya sendiri.
"Kau memeriksa sesuatu di luar sana," kata Arden, matanya mengikuti gerakan Draymoor. "Apa yang kau cemaskan akan kau lihat?"
"Bukan apa yang akan kulihat," jawab Draymoor, suaranya nyaris tidak terdengar. "Tapi siapa."
"Siapa yang mungkin mengawasi rumahmu sendiri?"
Draymoor tidak menjawab segera, jarinya masih memegang tepi gorden, buku-buku jarinya memutih karena mencengkeram terlalu erat. "Aku tidak yakin. Tapi sejak kenalanku menghilang, aku merasa selalu ada yang memperhatikan setiap gerakanku. Surat-suratku, tamu-tamuku, bahkan pelayan yang kupekerjakan."
"Aku menyesal," katanya akhirnya, punggungnya masih menghadap Arden. "Aku menyesal menyewa kalian tanpa menceritakan risikonya. Aku pikir aku bisa mengendalikan situasi dari jauh, membiarkan kalian mengambil relik itu tanpa perlu tahu apa-apa. Aku salah besar."
"Penyesalan tidak akan mengembalikan lima orang yang mati di Greywood," kata Arden, nadanya tidak keras, tapi tegas.
"Aku tahu." Draymoor menoleh, wajahnya pucat di bawah cahaya perapian yang lemah, matanya berkilat basah sesaat sebelum ia berkedip cepat menahannya. "Dan aku tahu ada lebih banyak yang bisa mati kalau aku terus diam."
"Jadi bicaralah."
Draymoor mendekat lagi, suaranya turun jadi hampir berbisik, seperti takut dinding rumahnya sendiri punya telinga. "Aku dengar sesuatu dari kenalan lamaku, orang yang sama yang memberiku informasi awal. Ia menghilang tiga bulan lalu, tapi sebelum itu, ia sempat mengirim pesan terakhir padaku."
"Apa isinya?"
Draymoor berhenti, ragu sesaat, matanya menatap pintu ruang tamu seolah memastikan tidak ada yang mendengar dari luar.
"Mereka tidak hanya menginginkan lantai itu terbuka," bisiknya, suaranya nyaris hilang di antara desis api perapian. "Mereka menginginkan seseorang di dalam sana."
Arden merasakan sesuatu mengencang di dadanya, sensasi familiar yang selalu muncul setiap kali percakapan menyentuh sesuatu yang lebih besar dari yang bisa ia pahami sepenuhnya, sesuatu yang terasa dekat dengan liontin yang selalu tersembunyi di balik bajunya.
"Siapa?" tanya Arden.
Draymoor membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Matanya bergerak cepat ke arah jendela sekali lagi, dan kali ini tangannya benar-benar gemetar saat meletakkan gelas anggurnya di meja.
"Aku sudah bicara terlalu banyak," katanya, mundur selangkah. "Kau harus pergi sekarang. Sebelum ada yang tahu kau pernah di sini."
Arden tidak bergerak segera, matanya masih menatap Draymoor, mencoba membaca satu potong informasi lagi dari wajah yang kini benar-benar ketakutan, bukan lagi sekadar gelisah. "Siapa yang kau takutkan, Draymoor? Ordo? Atau seseorang di dalam Ordo itu sendiri?"
Draymoor tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca sesaat sebelum ia mengalihkan pandangan ke perapian yang hampir padam.
"Pergilah," katanya lagi, lebih pelan. "Kumohon."
Arden mengangguk sekali, meski tidak puas dengan jawaban yang ia dapatkan, lalu berjalan keluar lewat pintu yang sama, melewati pelayan tua yang menunggu di lorong dengan wajah yang sama kakunya seperti sebelumnya. Pintu utama menutup pelan di belakangnya, dan malam kembali menyambutnya dengan dingin yang terasa lebih tajam dari sebelumnya.
Ia berjalan cepat menuju gerbang, melewati jalan setapak yang sama, hingga bayangan familiar melangkah keluar dari balik pepohonan di seberang jalan, sejajar dengannya tanpa suara.
"Kau dengar semuanya?" tanya Arden pelan, tanpa menoleh.
"Cukup banyak," jawab Ilsa, suaranya rendah, matanya masih menyapu jalanan di sekitar mereka seperti kebiasaan lama yang tidak pernah hilang. "Dia ketakutan sungguhan. Bukan pura-pura."
"Aku tahu." Arden menghela napas panjang, uap napasnya terlihat jelas di udara dingin malam. "Masalahnya, dia tidak sempat memberitahuku siapa yang ia takutkan."
"Tapi dia memberitahumu apa yang mereka incar," kata Ilsa. "'Seseorang di dalam sana.' Itu bukan kalimat kosong."
Arden tidak menjawab segera, pikirannya masih berputar pada nada suara Draymoor saat mengucapkan kalimat itu, ketakutan yang terasa terlalu spesifik untuk sekadar dugaan.
"Kita perlu bicara dengan yang lain," katanya akhirnya. "Malam ini juga, sebelum semua orang tidur."
Mereka berjalan menembus gelap menuju markas, langkah mereka cepat dan sunyi, kota Aldenmere di sekeliling mereka terus bergerak dengan kehidupannya sendiri, lampu-lampu rumah penduduk masih menyala di sana-sini, suara tawa samar dari kedai yang belum tutup, tidak menyadari beban baru yang baru saja dibawa pulang oleh dua orang yang berjalan lewat bayang-bayangnya.
Ilsa melirik Arden sekali dari sudut matanya, memperhatikan rahangnya yang masih mengeras sejak keluar dari Estat Draymoor. "Kau memikirkan siapa yang dimaksud Draymoor," katanya, bukan pertanyaan.
"Aku memikirkan banyak hal," jawab Arden. "Tapi ya, itu salah satunya."
"Kita akan mencari tahu," kata Ilsa. "Bersama-sama. Bukan kau sendirian lagi malam-malam berikutnya, tidak peduli apa kata Draymoor dalam suratnya."
Arden tidak membantah itu.