Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Racun di Atas Ego yang Terluka
Suara dentuman pintu utama kediaman Dirgantara bergema keras membelah keheningan malam yang pekat. Hujan gerimis yang membasahi pelataran lobi tidak menyurutkan langkah Baskara yang melangkah lebar keluar dari rumahnya sendiri dengan napas memburu dan rahang mengeras rapat.
Pria tegap itu masuk ke dalam mobil SUV hitamnya, membanting pintu mobil dengan guncangan hebat, lalu mencengkeram lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Di dalam kabin mobil yang remang-remang, dada Baskara naik turun secara tidak teratur. Ucapan dingin dari Kinanti dan tatapan jijik dari Natasha di meja makan beberapa saat lalu masih menancap dalam di kepalanya bagai sembilu tajam. Semula, ada rasa bersalah yang teramat sangat menggerogoti relung hatinya. Baskara sempat berniat menurunkan egonya, memohon ampun, dan membenahi kehancuran yang ia ciptakan.
Namun, cara Kinanti memperlakukannya seperti barang bekas tak bernilai, ditambah sikap Natasha yang terang-terangan menyebutnya sebagai pria pembohong tanpa harga diri, telah menghantam ego dan kesombongan Baskara hingga hancur berkeping-keping.
Bagi seorang Baskara Dirgantara seorang raja di dunia bisnis yang selalu disembah, dihormati, dan ditakuti oleh semua orang diperlakukan seperti pecundang di dalam rumahnya sendiri oleh istri dan anak kandungnya adalah sebuah penghinaan terbesar. Rasa bersalahnya dalam seketika menguap, berganti menjadi benih amarah dan rasa tidak terima yang membakar dada.
"Baik... kalau itu mau kalian berdua!" bisik Baskara pada dirinya sendiri dengan suara rendah yang amat sangat berbahaya, menatap bayangan dirinya di kaca spion dengan mata merah berliput amarah. "Terserah kalian mau berbuat apa di rumah itu! Aku sudah tidak peduli lagi!"
Baskara memutar kunci kontak. Mesin mobil meraung kasar, dan kendaraan mewah itu melesat membelah kegelapan malam, menyapu genangan air jalanan dengan kecepatan tinggi. Bukannya pergi ke tempat hening untuk merenungi kesalahannya, sang tuan pemaksa justru memilih lari menuju satu-satunya tempat di mana egonya yang terluka bisa kembali disanjung dan dimanjakan Apartemen Valerie.
Pukul sepuluh malam, bel unit apartemen mewah di lantai dua belas itu berbunyi nyaring.
Valerie yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk lembut menghentikan gerakannya. Wanita itu melangkah anggun menuju pintu depan. Saat mengintip dari lubang pengintai dan melihat sosok Baskara berdiri di luar dengan pakaian berantakan dan wajah keruh penuh amarah, senyuman licik dan puas seketika mengembang sempurna di bibir merah Valerie.
Ikan itu akhirnya berenang kembali ke jaringku, batin Valerie penuh kemenangan.
Valerie membuka pintu dengan riasan wajah yang dipoles natural, memasang raut wajah terkejut yang bercampur dengan kecemasan yang dibuat-buat. "Bas? Kau... kenapa malam-malam begini kemari dengan basah kuyup seperti ini?"
Baskara tidak menjawab. Pria itu menerobos masuk ke dalam apartemen, melepas jas mewahnya secara kasar dan melemparnya ke atas sofa. Dia langsung meraih gelas kristal di atas meja, menyiramkan minuman keras ke dalamnya, lalu meneguknya dalam satu tarikan napas hingga tenggorokannya terasa terbakar.
Valerie perlahan menutup pintu, lalu melangkah mendekati Baskara dari belakang. Dia melihat betapa goncangnya pria tegap di hadapannya itu sebuah momen kerapuhan yang teramat sempurna untuk dimasuki racun manipulasi.
"Ada apa, Bas? Kau bertengkar lagi dengan Kinanti?" tanya Valerie dengan nada suara yang begitu lembut, mengusap bahu Baskara dengan jemari lentiknya yang hangat.
Baskara memejamkan mata, menggeram pelan sembari mengepalkan tangannya di atas meja konsol. "Mereka berdua sudah kelewatan, Val! Kinanti... dan Natasha! Mereka memperlakukanku seperti sampah di rumahku sendiri!"
Seketika, mata Valerie berbinar tajam. Dia menangkap sinyal bahwa bukan hanya Kinanti yang berada di posisi berlawanan dengan Baskara, melainkan juga Natasha. Ini adalah kesempatan emas yang sudah lama ia tunggu-tunggu untuk menghancurkan sisa-sisa ikatan keluarga Dirgantara dari akarnya.
Valerie menghela napas panjang, memasang raut wajah yang dipenuhi keprihatinan yang teramat dalam, seolah-olah dia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang benar-benar peduli pada perasaan Baskara.
"Astaga, Bas... Natasha juga ikut-ikutan?" desis Valerie dengan nada suara terkejut yang tertahan, meraih gelas dari tangan Baskara dan meletakkannya di meja, lalu menggenggam kedua tangan pria itu. "Anak itu... bagaimana bisa dia bersikap tidak sopan pada papanya sendiri yang sudah membesarkannya dengan kemewahan?"
"Natasha menuduhku pembohong, Val!" sahut Baskara dengan suara berat dan penuh rasa tidak terima. "Dia bilang dia malu punya papa seperti aku! Dan Kinanti... wanita desa itu hanya duduk diam, tersenyum sinis melihat anakku sendiri menginjak-injak harga diriku!"
Valerie menatap Baskara dengan pandangan mata yang berkaca-kaca, membelai pipi tegas pria itu dengan kelembutan yang membius. Di sinilah permainan racun psikologis Valerie dimulai secara masif.
"Bas... dengarkan aku baik-baik," bisik Valerie dengan nada suara yang sangat tenang namun mengandung racun pemikiran yang mematikan. "Apakah kau tidak menyadari apa yang sedang terjadi di rumahmu sebenarnya?"
Baskara menatap Valerie dengan dahi berkerut bingung. "Maksudmu apa?"
Valerie menuntun Baskara untuk duduk di sofa empuk, lalu wanita itu berlutut di hadapan Baskara, menengadahkan wajahnya dengan ekspresi polos dan penuh kekhawatiran yang dibuat-buat.
"Bas, Kinanti itu bukan lagi gadis desa polos yang kau kenal dulu," mulainya halus, meracuni pikiran Baskara satu per satu. "Dia sudah berubah sejak masuk ke rumah keluargamu. Kau pikir kenapa Natasha yang tadinya sangat menyayangimu, mendadak berubah menjadi benci dan berani melawanmu seperti tadi malam?"
Baskara menahan napasnya. "Kenapa?"
"Karena Kinanti yang meracuni pikiran anakmu, Bas!" tuduh Valerie tanpa rasa bersalah sedikit pun, suaranya meyakinkan seolah ia memegang kebenaran mutlak. "Kinanti sengaja memanfaatkan Natasha Dia menggunakan anak remaja yang masih labil itu untuk memusuhimu, membuatmu terpojok, dan meruntuhkan mentalmu di rumahmu sendiri!"
Deg.
Baskara terpaku. Ucapan Valerie mulai masuk dan membiaskan logika berpikirnya yang memang sedang tertutup amarah dan ego.
"Coba kau pikirkan baik-baik," lanjut Valerie, kian gencar menyiramkan racunnya. "Siapa yang paling diuntungkan jika kau hancur dan merasa bersalah? Kinanti! Dia tahu kau sangat mencintai Natasha, makanya dia memakai Natasha sebagai senjata untuk menghancurkan harga dirimu. Dia ingin kau merasa menjadi ayah dan suami yang gagal, agar kau berlutut di kakinya dan memberikan semua hartamu padanya!"
Baskara meremas jarinya sendiri. Bayangan senyuman tipis Kinanti di meja makan tadi malam mendadak terdistorsi di dalam kepalanya menjadi sosok wanita licik yang sedang tertawa di atas penderitaannya.
"Dan soal foto-foto serta kedatanganku kemarin..." lanjut Valerie dengan air mata buatan yang menetes pelan di pipinya, memposisikan dirinya sebagai korban yang sama-sama dizalimi. "Aku yakin Kinanti lah yang menyewa orang untuk mengambil foto kita di apartemen ini, Bas,Dia sengaja memancing keributan agar dia punya alasan untuk memerasmu dan membawamu ke jalur hukum bersama pengacaranya!"
"Dia punya Pengacara Ikhsan dan dukungan Ayahku..." gumam Baskara dengan suara serak, matanya berkilat penuh amarah yang kian memuncak.
"Nah, kan Kau lihat sendiri!" potong Valerie cepat, menepuk paha Baskara dengan antusiasme yang tertahan. "Dia sudah merencanakan semuanya secara matang! Dia memanfaatkan Ayahmu, dia meracuni pikiran Natasha, dan sekarang dia membuatmu merasa terasingkan di rumahmu sendiri Apakah kau akan tetap tinggal diam dan membiarkan dua wanita itu menginjak-injak kepala seorang Baskara Dirgantara?
Ego pria dalam diri Baskara yang semula sudah terluka, kini disiram oleh bensin manipulasi Valerie hingga meledak menjadi api kebencian yang berkobar. Pria itu menyandarkan punggungnya di sofa, menggeram kasar sembari menatap langit-langit apartemen dengan sepasang mata yang menggelap seutuhnya.
Rasa bersalah yang sempat ia rasakan pada Kinanti dan Natasha kini menguap tak berbekas. Di dalam pikiran Baskara yang sudah terkontaminasi oleh racun Valerie, istrinya bukan lagi wanita lembut yang perlu ia lindungi, melainkan musuh dalam selimut yang sedang berusaha meruntuhkan kekuasaannya. Dan Natasha bukanlah putri manja yang sedang kecewa, melainkan anak durhaka yang sudah terpengaruh oleh manipulasi istrinya.
Valerie menyunggingkan senyum kemenangan di balik bahu Baskara saat pria itu menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Wanita itu memeluk Baskara dengan erat, menyalurkan rasa nyaman palsu yang semakin mengikat sang tuan pemaksa ke dalam genggamannya.
"Tenanglah, Bas..." bisik Valerie manis di telinga Baskara, suaranya halus bagai bisikan iblis. "Kau punya aku. Aku satu-satunya wanita yang akan selalu menghormatimu, membanggakanmu, dan berdiri di sisimu... tidak seperti istri dan anakmu yang tidak tahu diri itu."
Baskara memejamkan matanya rapat-rapat, mengepalkan kedua tangannya. Kebencian dan rasa ingin membuktikan kekuasaannya kini telah menguasai benaknya seutuhnya.
Sementara itu, malam kian larut di kediaman Dirgantara.
Di dalam kamar utama lantai dua, keheningan membungkus ruangan yang luas itu. Kinanti berdiri di dekat balkon, menatap rinai hujan yang membasahi dedaunan di taman bawah. Tangan kecilnya mengusap perut buncitnya yang terasa hangat dan aman.
Pintu kamar mendadak diketuk pelan dari luar.
Klek.
Natasha melangkah masuk dengan gaun tidur katun yang longgar. Gadis remaja itu membawa dua cangkir susu hangat di atas nampan kecil. Wajahnya masih menyisakan sedikit jejak kelesuan, namun matanya tampak jauh lebih tenang setelah meluapkan amarahnya tadi malam.
"Tante Kinan... belum tidur?" tanya Natasha pelan, meletakkan cangkir susu di atas meja samping tempat tidur.
Kinanti menyunggingkan senyum hangat senyuman jujur yang selalu ia simpan untuk orang-orang yang tulus padanya. "Belum, Nak. Tante sedang menikmati udara malam. Mari duduk di sini."
Natasha melangkah mendekati Kinanti, lalu duduk di tepi ranjang besar. Gadis itu menatap perut buncit Kinanti dengan binar mata yang dipenuhi rasa sayang dan penyesalan.
"Tante... maafkan aku ya untuk keributan di meja makan tadi," bisik Natasha menunduk, memainkan jemarinya sendiri. "Aku... aku tidak bisa menahan amarahku lagi pada Papi. Aku sangat kecewa padanya."
Kinanti berjalan perlahan, lalu duduk di samping Natasha. Dia menggenggam jemari dingin anak tirinya dengan kehangatan seorang ibu.
"Kau tidak perlu meminta maaf, Natasha," sahut Kinanti lembut namun tegas. "Tante tahu perasaanmu. Kau berhak merasa kecewa dan marah atas kebohongan yang kau lihat. Tapi Tante mohon... jangan biarkan amarah ini merusak masa depan dan sekolahmu, ya?"
Natasha mendongak, matanya berkaca-kaca. "Papi sekarang pasti makin benci pada kita, Tante. Mobil Papi tadi melesat pergi dengan sangat kencang. Papi pasti pergi ke tempat wanita itu lagi."
Kinanti menghembuskan napas pelan, menatap lurus ke depan dengan sepasang mata jernih yang tenang bagai danau es. Dia sudah memprediksi ke mana Baskara akan pergi malam ini. Pria egois seperti suaminya tidak akan pernah tahan hidup dalam rasa bersalah, Baskara pasti akan lari ke tempat di mana egonya disanjung tinggi.
"Biarkan saja dia pergi, Natasha," ucap Kinanti datar, suaranya jernih tanpa ada getaran cemburu atau sakit hati sedikit pun. "Biarkan Papamu mencari pembenaran atas kebohongannya di tempat lain. Semakin dia lari dan termakan oleh manipulasi wanita itu... semakin mudah bagi kita untuk mengumpulkan bukti kebusukannya secara utuh."
Kinanti mengusap perutnya sendiri, lalu menatap Natasha dengan keteguhan batin yang luar biasa.
"Papamu berpikir dia sedang memegang kendali atas hidup kita dengan mengurung kita di rumah ini," lanjut Kinanti dengan senyuman dingin yang teramat berkelas. "Tapi dia tidak tahu... bahwa dengan dia pergi ke wanita itu malam ini, dia sendiri yang sedang menggali lubang kehancurannya sebagai seorang kepala keluarga."
Natasha menatap ibu tirinya dengan rasa kagum yang amat sangat mendalam. Di tengah guncangan badai dan pengkhianatan papanya, Kinanti berdiri tegak bagai benteng yang tak terkoyak, membimbingnya dengan ketenangan dan kecerdasan taktik.
Di bawah naungan malam yang dingin di kediaman Dirgantara, dua wanita itu kini berdiri rapat dalam satu ikatan batin yang kokoh. Sementara di belahan kota lain, Baskara Dirgantara sedang merayakan kemenangan palsunya di dalam kurungan racun Valerie tanpa menyadari bahwa langkah egoisnya malam ini telah meruntuhkan sisa-sisa haknya sebagai seorang suami dan ayah untuk selamanya.
🤣🤣🤣