Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. Kebenaran
Keberhasilan luar biasa Proyek Garuda selama satu bulan terakhir melipatgandakan nilai saham Pratama Group, tetapi di saat yang sama, menyulut api dendam yang amat membara di lingkaran kegelapan. Di bawah kepemimpinan cerdas Clarissa dan taktik besi dari Dominic, setiap celah korupsi berhasil ditutup rapat. Langkah hukum yang disusun Clarissa begitu presisi—memotong rantai pasokan beracun mafia pelabuhan, menyita kembali aset eksekutif yang dikorupsi faksi lama, hingga mengamankan kesepakatan eksklusif dengan jaringan internasional Vane & Co.
Namun, keberhasilan itu membuat musuh utama klan merasa terdesak. Karena tidak lagi bisa bertarung secara legal di papan catur bisnis, skenario berdarah mulai dijalankan. Mereka berniat membumihanguskan klan Pratama hingga ke akar-akarnya sebelum Clarissa dan Dominic menjadi pasangan penguasa yang benar-benar tak tersentuh.
Di saat bersamaan, insting tajam Clarissa menangkap firasat buruk. Selama berhari-hari, ia merasa ada mata-mata yang mengintai setiap gerak-geriknya secara intensif. Setiap kali berdiri di balik kaca kantor atau menyusuri koridor mansion, rasa merinding yang mengancam nyawanya selalu hadir. Dalam benaknya, Clarissa yakin orang-orang itu adalah suruhan Kakek Silas yang sengaja dipasang untuk mencari celah kesalahannya.
Hingga pada suatu malam yang mencekam, tebakan itu meledak menjadi mimpi buruk.
Hujan badai mengguyur ibu kota tanpa ampun. Kilatan petir menyambar langit malam tepat saat sistem keamanan digital dan aliran listrik di kediaman utama klan Pratama disabotase hingga lumpuh total. Sebelum Dominic dan Clarissa sempat meraih senjata terselubung mereka, sekelompok penyusup taktis tak beridentitas menerobos masuk ke dalam kamar utama. Gas lumpuh saraf bertekanan tinggi disemprotkan dari celah udara. Kendati Dominic dan Clarissa bertarung sengit dan berhasil merobohkan beberapa penyerang, dosis racun yang terlalu pekat akhirnya merenggut kesadaran mereka. Pandangan mereka mendadak gulita.
Suara gemercik air hujan yang menghantam jendela tebal memandu Clarissa kembali ke alam sadar. Rasa pening yang hebat memukul pelipisnya. Saat matanya yang berwarna keemasan perlahan terbuka, ia mendapati dirinya dan Dominic terikat kaku di atas kursi kayu ek di tengah ruang kerja rahasia lantai lima puluh Pratama Tower.
Di hadapan mereka, berdiri Kakek Silas. Sang Patriark tua itu tampil dengan jas hitam kaku, memegang tongkat naganya sambil menatap mereka dalam hening yang mematikan.
Clarissa yang menyapu pandangan ke sekeliling ruangan justru melepaskan tawa renyah yang amat dingin. Sebuah tawa Ratu yang dipenuhi cemoohan mutlak.
"Ha... ha... ha..." Tawa Clarissa bergaung tajam, matanya menatap Silas dengan binar pemicu konfrontasi. "Akhirnya Kakek tidak tahan juga untuk segera membunuhku, bukan? Karena selama satu bulan ini proyek itu menunjukkan perkembangan yang terlalu positif... hingga Kakek takut takhta itu benar-benar jatuh ke tanganku?"
Dominic yang terbangun di sampingnya menggeram kencang, berusaha memutus ikatan tali di pergelangan tangannya. Matanya memerah dipenuhi kekecewaan dan amarah mendalam pada sang Kakek.
"Kakek..." desis Dominic dengan suara serak yang memendam luka kekecewaan mendalam. "Aku mengira Kakek memiliki sedikit kehormatan sebagai Pemimpin Klan. Tapi menyabotase rumah sendiri dan menculik kami seperti penjahat kelas rendah... Kakek benar-benar membuatku muak!"
Namun, Silas tidak bergeming sedikit pun. Wajah tuanya tetap datar bagaikan batu nisan.
Secara perlahan, Kakek Silas mengangkat remote control perak di tangannya, lalu menekan satu tombol.
BZZZZT!
Layar monitor raksasa di dinding ruangan mendadak menyala terang, menampilkan lusinan rekaman kamera tersembunyi dan berkas rahasia. Di layar utama, terlihat foto serta riwayat transaksi keuangan dari Tulus—tangan kanan yang paling dipercayai Kakek Silas selama puluhan tahun.
"Tulus..." gumam Dominic terpana, menghentikan gerakannya saat melihat berkas digital tersebut.
"Tangan kananku sendiri yang membelot," suara Kakek Silas akhirnya pecah. Berat, dalam, dan dipenuhi guncangan emosi yang disembunyikan rapat-rapat. "Dialah yang memberikan akses keamanan mansion malam ini kepada Konsorsium Hitam—musuh utama yang mengincar klan Pratama dari luar."
Kakek Silas melangkah kaku menuju meja kerja, lalu melempar sebuah map tebal bersampul merah tepat ke pangkuan Dominic. Map itu terbuka, menampilkan puluhan foto teror berdarah, ancaman pembunuhan, dan bukti pembantaian.
"Ini adalah berkas teror berdarah yang aku terima secara pribadi selama dua tahun terakhir," lanjut Silas dingin. "Merekalah yang meracuni orang tua Dominic... dan mereka pula yang memanfaatkan kecoa seperti Helena untuk merusak klan ini dari dalam."
Dominic membelalak lebar. Matanya menyapu satu per satu foto teror yang mengerikan itu—potongan bangkai, ancaman pembunuhan anak-anak klan, hingga sabotase fisik yang dialami Kakeknya di luar jangkauan publik.
Dada Dominic naik-turun memburu amarah. Rasa penasaran, syok, dan guncangan emosi meledak hebat di dalam dirinya.
"Kakek diteror dan dikhianati sejauh ini... tapi Kakek diam saja?!" bentak Dominic murka, matanya memerah menatap Sang Patriark. "Mana Silas Pratama yang kejam?! Mana Silas yang tak tahu ampun pada musuh-musuhnya?! Kenapa Kakek menyimpan ancaman sebesar ini sendirian dan berpura-pura menjadi iblis di hadapan kami?!"
Saat Dominic berada di puncak amarahnya, pandangan Clarissa yang tak sengaja menyapu lembaran berkas di dalam map merah itu mendadak mengunci pada satu dokumen tua yang tercetak dengan stempel rahasia.
Tubuh Clarissa seketika membeku kaku. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Di halaman tersebut, terpampang jelas lambang keluarga bangsawan ibunya beserta riwayat sabotase finansial dan kecelakaan beruntun yang menghancurkan seluruh garis keturunan kandungnya bertahun-tahun lalu. Logo organisasi yang tertera di atas berkas pembantaian keluarganya adalah lambang yang sama persis dengan milik Konsorsium Hitam.
Deg!
"Ini..." suara Clarissa yang biasanya tenang dan berwibawa kini bergetar hebat. Binar keemasan di matanya berkilat dipenuhi gabungan rasa syok, amarah yang membakar, dan dendam berdarah yang teramat pekat. "Konsorsium Hitam ini... dialah yang membumihanguskan keluarga kandungku sampai tak tersisa?!"
Kakek Silas menatap Clarissa dengan pandangan kelam yang amat dalam, lalu mengangguk pelan. "Benar, Clarissa. Selama ini kau mengira akulah iblis yang menghancurkan keluargamu dari balik layar. Tapi kenyataan pahitnya... Konsorsium Hitam yang memanipulasi seluruh kejadian itu, membantai keluargamu, lalu mengadu domba klanmu dengan klan Pratama agar kita saling menghancurkan."
Ruangan rahasia itu seketika diliputi keheningan yang mencekam dan penuh ketegangan murni.
Bulu kuduk Dominic meremang saat merasakan perubahan aura di sampingnya. Udara di sekeliling Clarissa mendadak terasa dingin dan menusuk. Wajah cantiknya tak lagi menunjukkan keterkejutan, melainkan berubah menjadi topeng Ratu Victoria yang teramat kejam dan haus akan pembalasan dendam.
"Dominic, diamlah..." tutur Clarissa amat halus. Suaranya yang tenang justru memancarkan bahaya tingkat tinggi yang membekukan darah.
Dominic menoleh terkejut, menelan ludah melihat binar mata istrinya yang kini membakar bagaikan lahar.
Clarissa mendongak, menatap Kakek Silas dengan senyuman paling dingin dan mematikan yang pernah ia tunjukkan.
"Jadi... Kakek sengaja menguji kami, mengumpulkan bukti ini, dan membiarkan musuh mendekat agar kita bisa menyeret seluruh dalang Konsorsium Hitam itu keluar dari sarangnya?" bisik Clarissa merdu, namun dipenuhi intonasi pembunuh.
Kakek Silas menyunggingkan senyuman tipis yang dipenuhi rasa bangga terselubung. "Kau memang teramat cerdas, Clarissa. Kau bukan hanya pantas menjadi pendamping Dominic... tapi kau adalah senjata paling mematikan yang dimiliki klan ini."
Kakek Silas menekan tombol pemicu di meja kerjanya, dan ikatan tali di pergelangan tangan Clarissa serta Dominic seketika terlepas otomatis.
Dominic berdiri, menatap Kakek Silas lalu berpaling pada istrinya yang kini memancarkan aura perang mutlak.
"Jika organisasi sialan itu yang bertanggung jawab atas kehancuran keluargamu dan kematian orang tuaku..." desis Dominic dengan mata menyala murka, menggenggam erat tangan Clarissa yang terasa dingin, "...maka malam ini, tidak akan ada satu pun dari mereka yang dibiarkan hidup."
Clarissa merapikan gaun hitamnya dengan keanggunan seorang Ratu, lalu menyunggingkan senyuman sarat dendam yang memikat.
"Mari kita bakar Konsorsium Hitam itu sampai menjadi abu, Suamiku," bisik Clarissa.
sangat menarik sekali