Indonesia
NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:563
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 — Harga Sebuah Kemenangan.

“Sepertinya... aku harus kembali mulai dari awal lagi.”

Edward memejamkan kedua matanya rapat-rapat.

Seketika itu pula, aura berwarna kuning keemasan berpendar terang, menyelimuti sekujur tubuhnya. Cahaya menyilaukan mulai terpancar dari balik kelopak matanya—semakin lama semakin terang, hingga bagaikan pijar bintang yang hendak meledak.

Dan begitu Edward membuka matanya—

BOOOM—!!

Ledakan pancaran energi murni membentuk pilar cahaya besar meletup keluar dengan intensitas yang begitu dahsyat!

“AAAAAHHH—!”

Dengan sapuan energi kosmik dari matanya, Edward melibas seluruh jutaan bulu maut di langit dalam sekejap. Gelombang kejut beruntun tercipta menyapu kanan dan kiri, mengubah jutaan bilah tajam itu menjadi serpihan debu.

Bola-bola api terbentuk di angkasa, menyerupai pesta kembang api raksasa di tengah malam kelam. Begitu banyaknya hingga untuk sesaat, cahaya terangnya membuat seluruh warga mengira pagi telah datang lebih awal.

Kurang dari lima menit, jutaan bulu mematikan itu hancur dan lenyap tak bersisa. Meninggalkan kepulan awan gelap serta sisa-sisa asap pekat di angkasa raya.

Manik mata Amorfos menyipit tajam. Sang monster mengedarkan pandangannya, berusaha mencari keberadaan Edward.

Namun, saat ia berhasil menemukannya... segalanya sudah terlambat.

WUUUSH—!

Edward melesat menembus kepulan asap hitam dengan kedua mata yang kembali menyala terang benderang. Tanpa ampun, seberkas sinar laser energi murni kembali meluncur dari matanya, menyayat udara—bukan lagi memotong satu sayap, melainkan mencincang kedua sayap Amorfos sekaligus hingga putus!

ROOOOAR—!

Monster purba itu kehilangan keseimbangan, meluncur jatuh bebas dari angkasa.

Namun, Edward bergerak jauh lebih cepat. Sebelum tubuh raksasa itu menghantam tanah, Edward sudah melesat menyusul, mencengkeram erat tubuh sang Salamander, lalu mengarahkan dorongan kekuatannya ke atas.

SKRRRT—BZZZT!

Ia mendorong makhluk itu menembus lapisan atmosfer Terrasia, melesat keluar angkasa dalam waktu singkat. Sang Salamander meronta hebat, membuktikan bahwa makhluk dari dimensi Abyss itu ternyata mampu bertahan hidup meski berada di ruang hampa udara tanpa oksigen.

“Mau meronta seperti apa pun, sudah berakhir untukmu,” gumam Edward dingin.

Kecepatan terbang Edward kembali meningkat berkali-kali lipat. Ia meluncur bagai meteor menembus kegelapan galaksi, mengarah langsung ke pusat tata surya.

Ya... Edward berniat melenyapkan makhluk abadi itu menggunakan matahari!

Meskipun jarak Terrasia ke matahari terbilang sangat jauh—lebih dari 150 juta kilometer—berkat kecepatan super yang dimilikinya, jarak mengerikan itu dapat ia pangkas hanya dalam hitungan beberapa menit saja. Itulah alasan mengapa selama ini ia bisa melakukan perjalanan bolak-balik tanpa memakan waktu bulanan.

Dan saat dirasa jaraknya sudah sempurna—

Edward menghentikan lajunya tepat di ambang batas kosmik bintang raksasa tersebut. Dengan cengkeraman kokoh, ia memegang ekor Amorfos, memutar-mutar tubuh raksasa monster itu dengan kecepatan tinggi untuk menciptakan momentum, sebelum akhirnya melepaskannya dengan kekuatan penuh!

SWOOOSH—!

Amorfos meluncur deras, terjun bebas langsung ke dalam lautan api serta gas plasma panas yang menyala-nyala.

Karena bukan terbentuk dari zat padat ataupun cair, tubuh monster Abyss itu terus merangsek masuk, tenggelam semakin dalam menuju ke inti matahari.

Sesaat setelah menyentuh permukaan terluar, kulit sang Salamander langsung terbakar hebat dan meleleh seketika. Bahkan dengan kemampuan regenerasi ekstrem miliknya, ia sama sekali tidak berdaya melawan panas neraka bintang tersebut.

Semakin dalam ia tenggelam menuju inti, tekanan dari gas termonuklir yang maha dahsyat langsung mengimpit tubuhnya tanpa ampun.

Pada titik itu, perlawanan usai.

Seluruh daging, organ, hingga tulang-tulang sang monster Abyss hancur lebur tanpa sisa, terkompresi habis oleh gravitasi dan panas ekstrem.

Monster purba yang sempat menjadi mimpi buruk Nivalis itu akhirnya tewas sepenuhnya dalam hitungan detik.

Sementara itu di Terrasia, tepatnya di ibu kota Nivalis, situasi di medan tempur mendadak berubah drastis.

Pangeran Judas dan Azaran—bersama jajaran militer Nivalis serta bala bantuan gabungan dari berbagai kerajaan yang sebelumnya berjibaku melawan gempuran monster humanoid—tertegun.

Monster-monster berapi yang terus bermunculan itu mendadak menghentikan pergerakan mereka. Mereka berdiri kaku di tempat, seolah membeku seketika.

Pangeran Judas yang diliputi rasa penasaran melayang turun mendekati salah satu monster kaku di hadapannya. Dengan hati-hati, ia menyentuh bahu makhluk itu.

SZZZT... SHHH!

Tepat saat jarinya menyentuh permukaan kulit monster tersebut, wujud sang humanoid seketika runtuh dan terurai menjadi serpihan debu!

Tak berhenti sampai di sana. Seluruh monster humanoid yang tersisa di segala penjuru—baik yang berada di sekitar area ibu kota maupun yang tengah merangsek mendekati benteng istana—mengalami fenomena serupa secara serentak.

Mereka hancur mengurai, berubah menjadi ribuan serpihan debu yang diterbangkan angin malam. Serangan teror yang melanda Nivalis pun seketika usai.

Nivalis... berhasil bertahan dari ambang kehancuran.

Dia angkasa raya, Edward melayang sembari mengatur napasnya yang terengah-engah.

Rambutnya yang semula berpendar kuning redup perlahan-lahan meredup dan berubah warna menjadi oranye dengan gradasi merah terang—sebuah pertanda fisik bahwa energi kosmik dalam tubuhnya telah terkuras.

Ia kembali memaksakan batas kemampuannya. Namun, rasa lelah itu terbayar lunas saat pendengaran supernya menangkap gemuruh sorak-sorai kemenangan dari para prajurit dan warga di bawah sana.

Akan tetapi, di tengah gelombang kebahagiaan itu... pendengarannya mendadak menangkap gelombang suara lain.

Sebuah jeritan histeris!

Itu adalah suara teriakan Putri Isolde, disusul oleh jeritan ketakutan Putri Iselyna serta raungan panggil panik dari Raja Isenbard yang terus menyebut nama sang Ratu!

Ratu Elizabeth...?! batin Edward.

Meski tubuhnya diliputi rasa lelah yang amat sangat, Edward tahu bahwa bahaya di istana belum benar-benar berakhir.

BOOOM—!

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Edward memutar arah tubuhnya dan melesat deras kembali menuju Terrasia. Ia menembus lapisan atmosfer dengan kecepatan tinggi, membuat wujudnya meluncur persis seperti meteor jatuh yang membelah langit malam!

Kedatangan kilatan cahaya meteor itu tertangkap oleh mata Pangeran Azaran dan Judas.

Sementara Judas terus bergumam kesal menatap ke langit, Azaran sanggup menangkap raut wajah Edward meski hanya sekilas di tengah sela-sela kecepatan terbangnya.

Itu bukanlah raut wajah seorang pemenang yang bangga.

Itu adalah ekspresi penuh kepanikan dan kekhawatiran yang teramat sangat.

Menyadari ada hal krusial yang terjadi, Azaran memadatkan awan pasirnya, melesat terbang mengekor di belakang Edward menuju ke arah kompleks istana.

Judas—yang sebelumnya masih mengoceh tidak jelas—hanya bisa tertegun bingung menyaksikan reaksi Azaran, sebelum akhirnya terpaksa memacu api di kakinya untuk menyusul mereka berdua.

“Eliz! Eliz! Buka matamu! Sadarlah, Eliz!”

Suara Raja Isenbard terdengar teramat putus asa. Dengan jemari yang gemetar, sang Raja merengkuh tubuh istrinya yang terkulai makin lemah.

Darah segar terus mengalir deras dari luka di perut sang Ratu—sebuah tanda bahwa sebuah bilah tajam baru saja menembus organ dalamnya.

Di sudut ruangan tak jauh dari sana, sang pelaku telah berhasil diamankan. Sosok penyusup itu terkunci tak berdaya di bawah pakan Raja Golbert—sang Raja Dwarf bertubuh kekar dari benua barat yang turut hadir sebagai tamu undangan.

Sementara itu, Kaisar Yao Jingxian dari Kekaisaran Xiancaofang bersama Putri Kagurazaka Ayame dari Kekaisaran Kagurazaka tengah mengerahkan seluruh kekuatan sihir penyembuhan tingkat tinggi mereka. Pendaran energi suci menyelimuti tubuh Ratu Elizabeth.

Namun, darah tetap mengalir tanpa henti. Detak jantung sang Ratu kian melemah di setiap detiknya.

Kekacauan ini adalah dampak dari situasi darurat sebelumnya. Kemunculan Amorfos dan serbuan monster humanoid yang merangsek mendekati istana telah mengalihkan perhatian seluruh pihak—membuat semua orang lengah dan terlambat menyadari adanya ancaman yang bergerak di dalam bayangan istana.

Raja Nolan sebenarnya sempat menyadari pergerakan aneh itu, tetapi segalanya sudah terlambat.

Seorang penyusup yang menyamar sebagai pelayan istana meluncurkan serangan mematikan. Target awalnya adalah Putri Iselyna. Namun, Ratu Elizabeth yang menyadarinya lebih cepat tanpa ragu memasang dadanya—mengorbankan dirinya demi melindungi sang putri tercinta.

Dan begitulah bagaimana sang Ratu kini berada tepat di ambang kematian.

“Ini percuma...” desah Kaisar Yao Jingxian dengan raut wajah berat, menghentikan sihir penyembuhannya.

“Pisau belati itu telah diolesi racun pemakan Mana. Racunnya telah menyebar ke seluruh aliran darah dan merusak organ dalamnya. Bahkan dengan gabungan sihir penyembuhan milikku dan Yang Mulia Kagurazaka... kita sudah terlambat.”

“Tidak... Eliz... Jangan tinggalkan aku...” gumam Raja Isenbard dengan suara serak, matanya berkaca-kaca menatap paras pucat istrinya.

“Ini semua salahku... Aku yang sudah lengah!” Iselyna terisak hebat, air matanya menetes merembes ke lantai pualam.

“Jika saja... jika saja aku lebih waspada... Ibunda tidak akan...”

Iselyna tak sanggup melanjutkan kata-katanya, tenggelam dalam tangisan dan rasa bersalah yang menyayat hati seisi aula istana.

Tangan sang Ratu yang gemetar terangkat pelan, menyentuh lembut pipi putri sulungnya.

“Itu adalah... tugas seorang ibu,” bisik Ratu Elizabeth dengan suara yang makin melemah.

“Meski kau sudah tumbuh dewasa... Ibu akan selalu melindungimu. Kau adalah... putri kebanggaan kami. Jaga ayahmu... dia sering kali berbuat ceroboh. Dan juga... jaga adikmu. Latihlah dia sekuat dirimu. Maaf... jika permintaan Ibu terlalu banyak...”

“Tidak... sama sekali tidak banyak, Ibunda!” ucap Iselyna di sela isak tangisnya yang membendung.

Ratu Elizabeth tersenyum lembut, begitu hangat di tengah parasnya yang kian memucat.

“Syukurlah... Ibu jadi lega. Hiduplah dengan baik, Iselyna... dan buatlah kerajaan ini dipenuhi dengan senyuman. Oh, Iselyna-ku yang manis...”

“Ibunda... Hiks... hiks...”

Tangis Iselyna pecah saat ia menggenggam erat jemari ibunya yang mulai mendingin.

Semua petinggi kerajaan dan tamu agung yang hadir di dalam aula hanya bisa menatap lesu. Mereka terdiam seribu bahasa tanpa mampu berbuat apa pun.

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!