"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Seorang pemuda berpakaian SMA sedang berjalan dengan nampan berisi makanan. Saat melewati satu meja, berisi beberapa orang siswa satu dari mereka menghalangi jalan pemuda itu dengan kakinya hingga membuat pemuda itu tersandung dan jatuh. Nampan berisi makanan itu terbang hingga mengenai pemuda lainnya yang sedang duduk di kursi yang tidak jauh dari kerumunan siswa dan siswi sambil menghisap sebuah nikotin.
Brak!
Prang!
"Lo!" Hardiknya seraya berdiri dari duduknya menatap pakaiannya yang sudah basah oleh minuman serta kotor oleh makanan.
"Maaf, maaf. Karl tidak sengaja!" Ucap pemuda itu menunduk ketakutan apalagi merasakan tatapan tajam yang menusuk.
Langkah pemuda itu mendekat, membuat kaki Karl bergetar ketakutan. Hawa panas terasa apalagi orang-orang di sana saling berteriak.
Pukul!
Pukul!
"Lo tau kesalahan Lo apa culun?!" Ucapnya dingin sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Karl.
"Karl minta maaf, Karl tidak sengaja." Lirihnya sambil memperbaiki kaca matanya.
"Bodoh sialan, anjing!" Makinya tepat di wajah Karl, bahkan pemuda itu juga sampai meludah hingga mengenai wajah Karl."Ikut gue, Lo harus diberi pelajaran biar tau kesalahan Lo di mana dan Lo berurusan dengan siapa!" Pemuda itu menarik kerah seragam Karl dan dengan kasar dan tidak memiliki hati menyeret Karl menjauh dari kantin.
"Tolong lepaskan Karl…Karl minta maaf!" Serunya ketakutan dan terus menerus meminta maaf, tapi pemuda itu seakan abai dan tetap menarik Karl ke aula.
Sementara orang-orang di kantin bukannya menolong mereka malah bersorak dan mengikuti langkah pemuda itu.
Sesampainya di aula, Karl langsung dijatuhkan dengan kasar ke atas lantai.
"Aldo, Jamri. Lo berdua tangkap sih culun ini, gue ingin memberikan dia pelajaran!" Ucapnya menyeringai. Membuat Karl semakin ketakutan dan berusaha untuk menghindar, tapi tenaganya tidak ada apa-apanya dibanding ketiganya. Apalagi kedua bahunya dipegang oleh kedua pemuda itu hingga membuat Karl tidak bisa bergerak. Hingga terjadilah pemukulan itu.
Buk
Buk
Buk
Suara hantaman dan pukulan terdengar satu aula sekolah, tapi tidak ada yang berniat menghentikan pukulan itu selain menonton dan meringis tanpa kasihan sama sekali saat melihat tubuh yang meringkuk dan di pukuli oleh tiga pemuda itu.
"Bangun Lo culun sialan!" Pekik pemuda itu sambil menendang belakang Karl.
"Ampun, ampun jangan pukul Karl!" Lirihnya berusaha untuk menghindar tapi tangannya malah dicekal oleh pemuda lainnya hingga didorong kuat menghantam dinding.
Wajah pemuda itu sudah babak belur hingga tidak dikenali serta mengeluarkan darah tapi tiga orang itu seakan tidak peduli.
"Mati Lo sialan! Anjing bedebah!" Mskinya sambil terus-menerus memukul Karl tanpa ampun.
Hingga pintu aula terbuka dengan kasar.
"Berhenti sialan!" Teriaknya membuat orang-orang langsung melihat ke arah gadis itu.
Terlihat wajah gadis itu mengeras dan nafasnya memburu. Tangannya terkepal hingga kuku jarinya memutih. Tanpa hitungan dan diduga-duga gadis itu berlari dan.
Bung!
Satu pukulan langsung mengenai pemuda yang tadi memukul Karl. Tanpa diminta gadis itu langsung menerjang ketiga pemuda itu, dan satu persatu menghantamnya.
Ketiganya melakukan perlawanan, tapi kalah telak dengan pukulan gadis itu yang dengan ringan menghantam mereka hingga terkapar di atas lantai.
Mereka semua mengadu tapi Gadis itu tidak peduli, dia mendekati Karl yang hampir tidak dikenali wajahnya.
"Karl, kamu nggak apa-apa?!" Tanyanya panik menatap wajah itu. Dia meringis saat melihat wajah Karl yang benar-benar babak belur."Kita harus ke rumah sakit, kamu harus diobati!" Ucapnya membantu Karl berdiri dari posisinya. Sebelum gadis itu melangkah keluar dari aula, dia menatap ke arah siswa dan siswi yang menatap mereka tanpa ada yang berniat untuk menolong.
"Kalian semua bodoh!! Lo, Lo Lo dan Lo semua nggak punya hati!" Serunya sambil menunjuk satu persatu orang-orang itu yang hanya diam tanpa suara."Ketika teman kalian disakiti, tidak ada dari kalian yang menolong dan malah kalian menonton serta bersorak-sorai disini! Kalian tidak punya hati kemanusiaan, percuma saja kalian disekolahkan tapi otak kalian tidak berguna! Percuma orang tua kalian menyekolahkan kalian tapi kalau kalian tidak diajarkan apa itu saling membantu!" Serunya lagi dengan berani dan juga tegas menatap tajam ke para siswa yang hanya dia tidak berkutik.
Setelah mengatakan itu, gadis itu membantu Karl berjalan keluar dari aula sementara orang-orang berlari ingin menolong mereka, tapi dengan tegas gadis itu menolaknya. Sambil mengatakan
"Untuk apa kalian membantu jika dia sudah sekarat! di mana kalian tadi saat Karl di pukuli." Ucap gadis itu dingin berhasil membuat orang-orang di sana merasa bersalah."Pergi sana, kalian para pengecut!”
Flashback off
Karl masih ingat dengan jelas di mana Azkia membantunya hari itu. Jika tidak ada Azkia mungkin dia sudah tiada di tangan ketiga pemuda itu.
"Beneran ini Karl?" Tanya Ailsie tidak percaya sambil menatap wajah Karl lekat-lekat untuk memastikan kalau dia Karl yang sama dengan Karl Lima tahun yang lalu."Tapi ini lebih macho dan cool daripada Karl yang dulu." Lanjut Ailsie menoleh ke arah Naila.
"Apa makanan kesukaanmu?"
"Bakso dan Pentol goreng!"
"Minuman!"
"Jus jeruk madu!"
"Gadis yang kamu sukai."
“Anandita!"
"Correct dia Karl teman kita!" Balas Naila selanjutnya sambil menepuk bahu tegap pria itu.
"Kamu sih berubah Karl, dulu kurus kayak sapu lidi sekarang badan kamu berisi dan berotot makanya kami lupa." Sambung Ailsie di benarkan oleh Azkia, karena tadi gadis itu juga lupa Karl jika pria itu tidak menyebutkan namanya.
"Sebagai penyambutan, biar aku traktir kalian." Ucap Ailsie bersemangat sambil mengeluarkan uangnya.
"Oke!" Jawab mereka serempak.