Indonesia
NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: TITIK KRISIS FAREL

Malam itu, ponsel Bang Tua berdering mendadak, jauh di luar jam yang biasa dipakai orang untuk menelepon, sudah hampir tengah malam ketika layar ponselnya menyala menampilkan nama Farel. Dia langsung mengangkat, firasatnya langsung tidak enak mengingat jam yang begitu tidak wajar untuk sekadar menelepon santai.

"Farel? Ada apa, kok malam malam nelepon?" tanya Bang Tua, suaranya langsung berubah waspada.

Di seberang telepon, suara Farel terdengar panik, napasnya terengah engah seperti habis berlari atau menahan tangis yang begitu berat. "Pak, maaf ganggu malam malam. Saya bingung kali, Pak. Tadi saya udah transfer DP ke orang jasa olah data itu, sekarang dia minta pelunasan, katanya kalau nggak dilunasin besok pagi, datanya nggak dikasih, padahal saya udah keluar duit lumayan buat DP-nya."

Bang Tua duduk tegak di kasurnya, jantungnya berdegup kencang mendengar pengakuan itu. Dalam hati dia sempat berkomentar getir, "yah, akhirnya kejadian juga, coba tadi bapak lebih rajin nelepon dia tiap hari, mungkin nggak sampai begini, well, better late than never lah, daripada nggak sama sekali".

"Kau tenang dulu, Farel. Ceritain pelan pelan, kenapa kau akhirnya transfer DP? Kau kan udah bilang mau coba tahan dulu," tanya Bang Tua, mencoba menahan diri untuk tidak terdengar menyalahkan, meski dalam hati dia merasa campur aduk antara kecewa dan khawatir.

"Saya kalut, Pak. Tadi siang saya dapat kabar, dosen pembimbing saya minta ganti topik penelitian gara gara katanya topik saya udah pernah diteliti orang lain, padahal itu udah saya kerjain berbulan bulan. Saya panik, mikir kalau ganti topik, saya pasti nggak akan kekejar sidang periode ini. Terus pas lagi kalut gitu, orang jasa olah data itu chat saya lagi, bilang ada promo khusus kalau bayar DP sekarang. Saya nggak mikir panjang, Pak, langsung transfer aja," jelas Farel, suaranya makin bergetar di ujung kalimat.

Bang Tua bisa mendengar isak tangis kecil di seberang telepon, membuat hatinya semakin teriris. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum menenangkan Farel, sebab dia tahu, kalau suaranya sendiri ikut panik, itu hanya akan memperburuk keadaan mahasiswanya yang sudah kalut itu.

Bang Tua menghela napas panjang, mencoba mencerna semua informasi itu sekaligus. Ada dua masalah besar yang harus dia tangani malam itu juga, soal topik penelitian Farel yang tiba tiba dipermasalahkan, dan soal jasa olah data yang sudah terlanjur dia bayar DP-nya. "Oke, Farel, dengar bapak. Jangan transfer pelunasan apa pun malam ini. Biar bapak yang urus. Kau tenang dulu, besok pagi kita ketemu di kampus sebelum kelas, oke?"

"Tapi Pak, kalau saya nggak lunasin, DP saya hangus, itu uang hasil kerja saya berminggu minggu, Pak," Farel masih terdengar ragu, jelas terjebak antara rasa takut kehilangan uang dan nasihat dosennya.

"Farel, dengar bapak. Mending uang DP itu hangus daripada kau kena masalah plagiarisme yang bisa hancurin seluruh masa depan akademikmu. Bapak janji, bapak bakal bantu cari cara lain buat selesaikan skripsimu dengan cara yang benar," kata Bang Tua tegas, nada suaranya jauh lebih serius dari biasanya, meninggalkan sisi jenakanya sejenak karena situasinya memang genting.

"Baik, Pak. Saya percaya sama bapak," jawab Farel akhirnya, suaranya masih bergetar tapi ada sedikit ketenangan yang mulai muncul, seolah beban yang tadi dia pikul sendirian kini sedikit terbagi setelah mendengar ketegasan dosennya.

Setelah menutup telepon, Bang Tua duduk lama di tepi kasurnya, pikirannya berkecamuk hebat. Ini pertama kalinya dia merasa begitu terdesak, begitu perlu bertindak cepat, bukan lagi sekadar mengamati dari jauh atau memberi nasihat ringan. Dalam hati dia bergumam, "kayaknya udah waktunya bapak nggak cuma jadi penonton lagi, this is it, showtime, kata orang bule".

Dia teringat kembali percakapan dengan Farel beberapa hari lalu di minimarket, saat mahasiswanya itu masih berjanji akan mencoba bertahan, dan kini janji itu nyaris terlanggar karena tekanan yang datang bertubi tubi dalam waktu singkat. Dalam hati dia merasa sedikit bersalah, mungkin seharusnya dia lebih sering mengecek kabar Farel, bukan hanya sesekali menghubunginya lewat pesan singkat yang mudah dijawab dengan kata "baik baik aja" tanpa detail lebih jauh.

Dia bangkit dari kasurnya, menyalakan lampu belajar, dan mulai menuliskan rencana kecil di buku catatannya, poin poin apa saja yang harus dia lakukan keesokan paginya. Dalam hati dia bertekad, kali ini dia tidak akan mengandalkan kekuatannya semata, tapi benar benar turun tangan sendiri, menggunakan otaknya sebagai dosen dan kepeduliannya sebagai manusia biasa, sebelum akhirnya, kalau memang perlu, baru dia pertimbangkan opsi lain yang lebih tidak terduga.

Dia sempat mengirim pesan singkat ke Farel sebelum benar benar tidur, memastikan mahasiswanya itu tidak melakukan tindakan gegabah semalaman. "Farel, jangan transfer apa apa lagi malam ini ya, kunci hape kau, tidur aja dulu, besok kita omongin baik baik", pesan yang dibalas Farel singkat, "siap Pak, makasih", meski Bang Tua tahu betul tidurnya sendiri malam itu tidak akan senyenyak biasanya, pikirannya terus berputar memikirkan langkah langkah yang harus dia ambil.

Sebelum benar benar menutup ponselnya, dia sempat menambahkan satu pesan lagi ke Farel, "oh iya, kalau si joki itu masih maksa maksa nagih, bilang aja lagi disidang sama pengacara, biar dia takut sendiri", candaan kecil yang berhasil dia selipkan di tengah situasi tegang itu, dan dibalas Farel dengan emoji tertawa, tanda setidaknya ada sedikit keceriaan yang berhasil dia kembalikan malam itu.

Dia berbaring, menatap langit langit kamarnya yang gelap, mencoba menyusun strategi di kepalanya. Ada dua front yang harus dia tangani sekaligus, front pertama soal masalah teknis administratif topik penelitian Farel yang tiba tiba dipersoalkan, dan front kedua, yang jauh lebih besar, soal jaringan kepentingan yang mulai dia curigai berada di balik semua ini. Dalam hati dia bergumam, "kalau kata anak muda sekarang, this is getting real, situasinya udah nggak main main lagi".

Sesekali di tengah pikiran seriusnya itu, sisi jenakanya tetap berusaha menyelinap masuk, membayangkan skenario konyol seandainya dia benar benar punya kekuatan super seperti superhero di film film, "coba kalau bapak punya kostum kayak superhero beneran, keluar malam malam nolongin Farel pakai jubah, wah, bisa jadi berita heboh besok paginya, Dosen Misterius Berjubah Selamatkan Mahasiswa dari Jasa Joki, biar makin dramatis". Bayangan konyol itu membantunya sedikit menenangkan diri sebelum akhirnya benar benar tertidur menjelang subuh, meski tidurnya sendiri terasa gelisah, dipenuhi mimpi mimpi acak yang campur aduk antara wajah Farel yang menangis dan bayangan dirinya mengenakan jubah pahlawan yang terlalu kebesaran.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!