Indonesia
NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:608
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Ancaman di Depan Pintu

Ketukan keras yang menghantam pintu kayu rumah Nasya terdengar bagaikan dentang lonceng kematian yang menggema di seluruh ruangan. Tubuh Nasya gemetar hebat di dalam dekapan erat Eksan. Telapak tangan besar pemuda itu masih membekap mulutnya dengan sangat kuat, menahan jeritan ketakutan yang nyaris saja lolos dari tenggorokannya. Hawa dingin dari mata pisau lipat hitam yang berkilau di tangan kanan Eksan seolah menegaskan bahwa situasi yang mereka hadapi saat ini sama sekali bukan main-main. Nyawa mereka berdua sedang dipertaruhkan di balik dinding tipis ini.

"Woy! Ada orang di dalam?!" teriak sebuah suara parau dari luar rumah, menyertai gedoran kasar yang bertubi-tubi hingga membuat engsel pintu yang berkarat berderit ngeri. "Buku pintunya atau kami dobrak paksa!"

Eksan sama sekali tidak bergeming. Dia mengabaikan rasa perih yang kembali membakar luka tusuk di perutnya. Sepasang matanya menatap lurus ke arah pintu dengan sorot tajam tak berkedip, persis seperti seekor macan tutul yang siap menerkam mangsanya dari kegelapan sudut ruangan. Di dalam dunia gang jalanan yang keras, panik adalah jalan tercepat menuju kematian. Dan Eksan adalah orang terakhir yang akan membiarkan dirinya mati konyol di tangan anggota geng Red Wolf.

Ia menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Nasya hingga gadis itu bisa merasakan helaan napasnya yang memburu akibat menahan sakit. Aroma bercampur anyir darah dari tubuh Eksan tercium bau nya darah oleh Nasya.

"Dengar kataku baik-baik, jangan membantah," bisik Eksan, suaranya begitu rendah dan serak, namun sarat akan penekanan mutlak yang tidak menerima penolakan. "Aku akan keluar lewat jendela samping rumah ini untuk memancing mereka menjauh dari sini. Begitu aku melompat pergi, tugasmu adalah langsung mengunci semua pintu dari dalam. Jangan pernah buka pintu untuk siapa pun sampai aku kembali atau menjelang pagi. Paham?"

Nasya menatap Eksan dalam temaram sudut ruangan yang gelap. Ketakutan yang amat sangat melingkupi hatinya, membuat air matanya hampir luruh. Namun, di saat yang sama, entah mengapa ada rasa aman yang asing mengalir di nadinya saat melihat tatapan penuh keyakinan dari pemuda berandal yang dipenuhi luka ini. Nasya akhirnya mengangguk pelan, menyerahkan seluruh kepercayaannya pada rencana gila Eksan.

Eksan perlahan melepaskan bekapan tangannya. Dengan gerakan tanpa suara yang sangat terlatih dan lihai, ia bergeser menuju jendela samping ruang tamu. Tanpa memedulikan jahitannya yang bisa saja robek, tubuh tegapnya melompat keluar dengan sangat lincah, langsung menyatu dengan kegelapan gerimis malam yang dingin tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Hanya berselang beberapa detik setelah bayangan Eksan menghilang di balik kegelapan jendela, suara gedoran brutal di pintu depan mendadak terhenti. Detik berikutnya, suara teriakan riuh penuh amarah terdengar saling bersahutan di halaman luar pagar kayu.

"Hei! Itu dia! Si Kobra Sialan itu lari ke arah gang buntu sebelah sana!" teriak salah satu anggota geng Red Wolf yang menyadari pergerakan Eksan.

*Vroom! Vroom!*

Suara raungan mesin motor sport yang memekakkan telinga terdengar saling bersahutan memecah keheningan malam, disusul oleh decitan kasar ban yang bergesekan dengan aspal basah yang licin. Rencana Eksan berhasil sepenuhnya. Orang-orang beringas itu telah terpancing. Suara bising knalpot itu perlahan-lahan pergi menjauh meninggalkan pelataran rumah Nasya, mengembalikan kesunyian malam yang mencekam ke dalam gang sempit tersebut.

Nasya tidak membuang waktu. Dengan lutut yang terasa lemas, dia berlari ke arah pintu depan. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia memutar kunci pintu dua kali dan memasang selot besi pengaman yang kokoh. Setelah memastikan semua celah tertutup rapat, tubuh Nasya langsung merosot. Dia terduduk lemas di lantai semen dingin di balik pintu, memeluk kedua lututnya sendiri sambil terisak pelan dalam kegelapan.

Malam itu, Nasya tidak bisa memejamkan mata barang semenit pun. Setiap kali ada suara angin atau ranting pohon yang bergesekan, jantungnya langsung berdegup kencang karena mengira musuh kembali datang. Pikirannya terus melayang memikirkan nasib pemuda berandal bernama Eksan yang baru saja ia selamatkan. Apakah pemuda itu selamat? Apakah dia berhasil lolos dari kepungan puluhan orang? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya hingga membuatnya pusing.

Keesokan harinya, suasana gang perumahan terasa begitu sepi dan lengang, seolah-olah ketegangan semalam tidak pernah terjadi. Nasya tahu dia harus tetap menjalani hidupnya dan berangkat ke sekolah. Dengan perasaan cemas yang masih menggelayut berat di dadanya, ia membuka pintu rumahnya perlahan-lahan. Namun, saat kakinya baru melangkah satu langkah, pandangannya langsung tertuju pada sebuah objek yang terletak tepat di atas keset teras rumahnya.

Sebuah jaket kulit hitam tebal terlipat dengan rapi di sana.

Nasya tersentak mundur. Ia sangat mengenali jaket itu. Itu adalah jaket berlogo mawar berdarah milik Eksan yang semalam robek. Namun, di atas lipatan jaket tersebut kini tergeletak sebuah benda lain yang berkilau tajam di bawah sinar matahari pagi sebuah kalung rantai perak tebal dengan bandul berbentuk kepala kobra kecil yang memiliki manik mata berwarna merah menyala.

Nasya memungut kalung dan jaket tersebut dengan perasaan bingung yang luar biasa. Saat mengangkat jaket itu, ia menyadari ada selembar kertas kecil yang terselip di balik lipatan kain. Kertas itu ditulis dengan tinta hitam menggunakan tulisan tangan yang besar, tegas, dan terkesan berantakan khas seorang berandal jalanan.

*Simpan kalung ini dan pakai jika kamu keluar. Siapa pun orang jalanan yang melihat kalung ini di lehermu, mereka tidak akan pernah berani menyentuhmu seujung kuku pun. Anggap ini jaminan keselamatanmu karena sudah mengobati lukaku semalam. Jangan sampai hilang.Eksan.*

Jantung Nasya berdesir hebat membaca deretan kalimat singkat yang terasa begitu posesif dan penuh perintah tersebut. Ia menatap kalung kobra di genggaman tangan nya dengan perasaan yang campur aduk antara takut dan bingung. Alih-alih merasa lega karena sang berandal telah pergi dari rumahnya, Nasya justru menyadari satu kenyataan yang baru dan mengerikan.

Dengan menerima dan menyimpan benda ini, hidupnya yang semula tenang dan damai kini telah resmi terseret masuk ke dalam lingkaran dunia hitam yang penuh dengan kekerasan dan mara bahaya.

Sementara itu, di sebuah gudang tua terbengkalai yang menjadi markas besar geng Red Wolf di pinggiran kota, suasana tampak sangat tegang dan mencekam. Beberapa motor sport merah terparkir berantakan di halaman depan. Di dalam ruangan yang remang-remang dan dipenuhi oleh kepulan asap rokok yang pekat, seorang pria dengan tato serigala besar di sepanjang lengan kanannya sedang mengamuk sejadi-jadinya. Ia menendang sebuah kursi besi hingga terjungkir dan menghantam dinding semen.

Pria itu adalah musuh bebuyutan Eksan, sang wakil ketua Red Wolf yang semalam memimpin pengeroyokan dan gagal menangkapnya.

"Sialan! Bagaimana bisa kalian semua kehilangan jejak si Kobra itu lagi?!" bentak pria bertato itu dengan suara beringas ke arah anak buahnya yang menunduk takut tak berani menatap mata bos mereka. "Dia sudah terluka parah semalam! Dengan luka tusuk seperti itu, dia tidak mungkin bisa lari jauh dari area gang perumahan itu tanpa bantuan seseorang!"

Salah satu anak buahnya maju dengan langkah ragu sambil memegang sebuah benda kecil di tangannya. "B-bos... semalam kami memang kehilangan jejaknya di gang buntu karena kondisi sangat gelap dan hujan deras. Tapi, pagi ini salah satu informan kita yang berjaga di sana melihat sesuatu yang sangat mencurigakan di sekitar gang perumahan dekat tempat kejadian."

Pria bertato itu menyipitkan matanya yang merah karena amarah. Dengan kasar, ia merenggut benda di tangan anak buahnya yang ternyata adalah sebuah kain kasa bekas yang masih bernoda darah segar yang sudah mengering.

"Ada sebuah rumah kecil di ujung gang itu, Bos. Informan kita melihat seorang gadis sekolah keluar dari rumah tersebut, dan yang paling mengejutkan... gadis itu membawa jaket kulit hitam milik Eksan yang robek," lanjut anak buahnya dengan suara yang berbisik ketakutan.

Sebuah seringai kejam nan mengerikan perlahan-lahan terbit di wajah sang wakil ketua Red Wolf. Rasa frustrasinya mendadak lenyap, digantikan oleh gairah licik untuk membalas dendam. Ia melempar kain kasa bernoda darah itu ke lantai, lalu menginjak dan melumatnya dengan ujung sepatu bot kulitnya yang berat.

"Ternyata si Kobra punya lubang persembunyian rahasia yang tidak kita ketahui... dan dia juga memiliki seekor kelinci kecil peliharaan yang manis," ucap pria bertato itu disusul tawa renyah yang penuh dengan rencana busuk. "Cari tahu identitas gadis itu sekarang juga! Cari tahu di mana dia bersekolah dan jam berapa dia pulang. Kita tidak perlu repot-repot mengejar Eksan yang sedang bersembunyi. Cukup tangkap dan siksa gadis itu, maka Eksan si berandal sombong itu akan merangkak datang sendiri ke hadapan kita untuk menyerahkan nyawanya secara sukarela."

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!