Maxwell dengan sejuta pesonanya mampu memikat hampir seluruh gadis cantik yang ada di kampusnya. Semuanya berebut untuk menjadi pasangan Maxwell.
Namun dari semua gadis yang telah menjalin hubungan dengannya, satupun tidak ada yang benar-benar ia suka. Hingga akhirnya ia bertemu Niken, seorang gadis pendiam namun pemberani. Niken juga gadis yang sangat mandiri. Gadis sederhana yang jauh dari kriterianya ini perlahan membuat Maxwell jatuh cinta.
Gelar playboy yang melekat pada Maxwell membuat Niken enggan untuk berhubungan dengannya.
Lalu, apakah Maxwell berhasil meluluhkan hati Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Keluarga
Maxwell membawa koper Niken, lalu mengajak Niken untuk masuk. Dan belum sampai mereka di pintu, bunda Mila sudah muncul dan lebih dulu membukakan pintu. Wanita yang masih terlihat cantik meski tidak muda lagi ini menyambut kedatangan Niken dengan tersenyum.
"Niken! Ayo masuk sayang!" ajaknya pada Niken.
Tanpa sadar Niken kembali menangis, keluarga ini bukan siapa-siapanya tapi kenapa begitu baik mau menerimanya. Sementara ibunya malah mengusirnya tanpa perasaan.
Niken melangkah dan menghambur ke pelukan bunda Mila.
"Sudah! Jangan menangis lagi," bujuk bunda Mila sambil menepuk punggungnya dengan lembut. "Max, bawa kopernya masuk!" kata bunda Mila pada Maxwell. Dan setelah dirasa tenang, barulah ia mengajak Niken untuk masuk kedalam rumah.
Sampai di dalam rumah, bunda Mila tidak langsung membawanya ke kamar. Ia lebih dulu menyuruh Niken duduk di sofa. Ia mengambilkan air putih lalu menyerahkanya pada Niken.
"Tenangkan dirimu dulu!" ucapnya dengan lembut pada Niken.
Setelah meneguk habis isi gelas tersebut, Niken melatakkannya di atas meja. "Terimakasih tante," ucapnya kemudian.
"Tidak usah pikirkan apapun. Kau boleh tinggal di rumah ini selama yang kau mau," kata bunda Mila sembari membantu Niken merapikan rambutnya yang berantakan.
"Terimakasih tante. Maaf, Niken sudah banyak merepotkan."
"Tidak merepotkan sama sekali."
"Kenapa tante berbeda dengan ibu Niken?" ucapnya lirih dengan kembali meneteskan air mata. Maxwell baru saja kembali dari kamar Zia mengantar koper Niken, ia melihat keduanya dari atas lalu diam-diam turun dan menguping pembicaraan keduanya.
"Semua ibu sama," jawab bunda Mila dengan tenang.
"Tidak tante, ibu Niken berbeda. Ibu tidak pernah menyayangi Niken. Sepertinya aku bukan anak yang ia rencanakan dalam hidupnya. Tapi, apa itu salah Niken?"
"Tidak. Tentu saja bukan salahmu," bunda Mila tetap tenang menanggapinya.
"Kalau memang tidak menginginkan Niken, kenapa tidak membuang Niken saja saat bayi? Atau kenapa tidak menitipkan di panti asuhan saja?" keluh Niken sembari menepis air matanya yang turun lagi.
"Emang Niken mau tinggal di panti asuhan?"
"Itu lebih baik daripada tinggal dengan ibu,"
"Biar tante kasih tau kamu satu hal," bunda Mila menangkap bahu Niken lalu mengarahkannya agar mereka saling bertatapan. "Tante adalah anak yang tumbuh di panti asuhan," ucapnya pada Niken.
Niken tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Namun, bunda Mila pun paham dengan respon itu.
"Meskipun tante cukup bahagia tumbuh di panti, dan tante juga tidak pernah menyesalinya. Namun, perlu kau tau, jika dipilihkan semua anak di panti pasti akan lebih memlilih tinggal dengan orang tua kandung. Kalau tidak percaya, tanyakan pada Mona. Mba Mona yang kau kenal juga berasal dari panti asuhan."
Niken pun semakin terkejut. Sungguh, selama ini ia mengira kalau keduanya adalah dari keluarga berada juga, sama seperti suami mereka, paman Akbar dan juga Pak Milva. "Bukannya mba Mona adiknya tante?" tanya Niken penasaran.
"Iya, kami tumbuh di panti asuhan yang sama. Namun kami bukanlah saudara kandung. Kalau ada waktu, nanti tante ajak kamu ke panti ya." Niken pun setuju dengan menganggukkan kepala.
"Sudah, tante paham kau sedang marah dengan ibu mu." bunda Mila kembali merapikan rambut Niken. "Tapi tante yakin, di dalam hatimu kau sangat menyayanginya. Jangan pernah menginginkan untuk hidup di panti. Syukuri ibu yang kau miliki dengan apa adanya. Oke!" Akhirnya Niken pun menganggukkan kepalanya, karena apa yang dikatakan bunda Mila memang benar, jauh di dalam hatinya tentu saja ia menyayangi ibunya.
Setelah mendengar semua pembicaraan Niken dengan bundanya, Maxwell pun muncul dan bersikap seolah tidak mendengar apapun.
"Kopernya sudah di kamar Zia. Tapi Zia sudah tidur," kata Maxwell melapor.
"Kalau begitu, bagaimana kalau malam ini nak Niken tidur di kamar tamu dulu, supaya tidurnya juga lebih nyaman. Besok kalau memang mau pindah baru ke kamar Zia," kata bunda Mila memberi usul.
"Iya tante, Niken tidak masalah tidur dimana pun."
"Max! Turunkan lagi koper Niken, pindahkan ke kamar tamu," katanya pada Maxwell.
"Bunda! Max baru saja turun, masa harus naik lagi, terus nanti turun lagi, naik lagi," jawab Maxwell dengan protes.
"Kalau kopernya di atas nanti bagaimana Niken ganti baju. Udah ambil saja sana!"
"Ah menyusahkan saja!" sambil berdecak kesal, Maxwell kembali menaiki tangga.
"Tante sudah pernah bilang kan? Tidak usah diambil hati dengan sikap Maxwell. Dia memang selalu seperti itu," kata bunda Mila mengingatkan.
"Iya tante."
***
Paginya, Niken bangun jauh lebih awal dari yang biasanya. Ia mandi lalu buru-buru membantu bi Lina di dapur. Ia sadar dengan dirinya yang sedang menumpang, dan sebagai rasa terimakasihnya ia ingin melakukan sesuatu yang berguna di rumah ini.
"Pagi bi," sapa Niken pada bi Lina. Wanita ini sedang menata sarapan di atas meja.
"Eh nona, pagi juga nona Niken!" balasnya dengan tersenyum. "Bagaimana tidurnya? Nyaman?"
"Nyaman bi," jawab Niken dengan sumringah. "Niken bantu ya bi," kata Niken sambil melangkah mendekat menghampiri bi Lina. Ia berniat mengambil alih mangkok yang di tangan bi Lina. "Biar Niken yang susun bi,"
"Tidak usah nona, bibi bisa sendiri kok," tolaknya dengan lembut.
"Tidak apa-apa bi, Niken bantu saja ya," Ia mengambil mangkok yang kosong lalu menyerahkannya pada bi Lina. "Bibi yang tuang dan Niken yang nyusun,"
"Hmmmm baiklah," akhirnya bi Lina mengikuti keinginan Niken.
Setelah hampir selesai menghidangkan sarapan, daddy Akbar datang dengan membawa koran di tangannya.
"Loh Niken! Kok malah di dapur?" ujarnya mengagetkan keduanya sambil menarik kursi lalu duduk disana.
"Paman! selamat pagi!" sapa Niken dengan sopan.
"Paman tanya, Niken ngapain di dapur?"
"Nona Niken maksa untuk bantu saya tuan," jawab bi Lina sambil tertawa kecil.
"Tidak usah memaksakan diri Niken, kamu tamu di rumah ini," balas daddy Akbar seolah mengerti apa yang ada dipikiran Niken.
"Tidak apa-apa paman, hitung-hitung biar Niken belajar juga, heheheheh," jawab Niken. "Kalau boleh Niken mau belajar masak bi," bisik Niken pada bi Lina.
"Boleh, tapi ada biaya pelatihannya ya," balas bi Lina dengan bercanda hingga Niken dan daddy Akbar pun tertawa dibuatnya.
"Ya sudah kalau memang niatnya mau belajar," kata daddy Akbar kemudian.
"Oh ya, yang lain pada kemana bi?" tanya daddy Akbar sambil mulai membuka korannya.
"Nyonya sepertinya ke atas untuk membangunkan anak-anak. Tapi sudah lumayan lama, kenapa belum turun ya?"
"Kalau begitu, Niken biar ke atas saja," kata Niken menawarkan diri.
Setelah mendapat izin dari daddy Akbar, ia meninggalkan meja makan lalu menaiki tangga. Sampai di lantai dua, ia melihat pintu kamar Zia yang masih tertutup. "Apa dia masih tidur?" Niken pun mempercepat langkahnya.
Niken berniat ingin segera mengetuk pintu kamar Zia, namun tangannya terhenti tatkala mendengar suara bunda Mila dari dalam kamar Maxwell. Pintu kamar pria tersebut dalam kondisi terbuka hingga Niken bisa mendengar dengan jelas pembicaraan bunda Mila dengan Maxwell.
"Aku tidak mau bunda," kalimat pertama yang Niken dengar.
"Max! mommy kamu menghubungi bunda terus, katanya kau juga tidak pernah menerima teleponnya."
"Mommy?" Niken membatin saat mendengar ucapan bunda Mila.
"Tidak ada yang perlu Maxwell bicarakan dengan mommy," jawab Maxwell dan terdengar kesal.
"Mommy kamu ingin mengucapkan ulang tahun sayang. Kau juga harus berterimakasih dengan kado yang ia berikan."
"Untuk apa? Maxwell kan tidak minta kado, bunda pulangkan saja kadonya."
"Jangan seperti ini Max! Buka kadonya dan segera hubungi mommy kamu. Jangan membuatnya sedih. Bunda juga akan sedih kalau kau seperti ini,"
"Kenapa bunda harus ikutan sedih? Max tidak mau menerima apapun darinya bunda, tolong jangan memaksa Maxwell!"
"Tentu saja bunda sedih, karena sebagai ibu, bunda sangat mengerti perasaannnya. Jadi, jika Maxwell memang peduli dengan perasaan bunda, kau harus segera menghubungi mommy mu!" pinta bunda Mila dengan sedikit memaksa. "Oke?"
Maxwell berdecak kesal. Ia terlihat sangat keberatan namun ia tidak pernah bisa menolak perintah bundanya. Apalagi dengan wajah memelas seperti ini, Maxwell mana tega melihatnya. "Baiklah, nanti Max akan menghubunginya."
Meskipun tidak mengerti sepenuhnya, namun dari pembicaraan ini Niken bisa tau kalau Maxwell punya mommy. "Mommy? Maksudnya ibu. Jadi Maxwell punya ibu yang lain?" tanya Niken dalam hati.
bersambung.......
gk ada kemajuan dgn hubungan mereka..jln d tempat...gitu2 doang...
..ȷіȷіk
di tunggu sampai tamat yaa
seru ceritanya🙏