Ujian demi ujian yang silih berganti. Tak mampu meruntuhkan semangatnya untuk bangkit. Terus berjuang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan adalah tekatnya. Tak ada kata menyerah, jatuh dan bangkit. Adalah motivasinya.
Davinka Anastasya seorang ibu rumah tangga dan pembisnis yang sukses. Ia seorang Pekerja Keras. Ia tak pernah menyerah dan patah semangat dalam menghadapi setiap permasalahan dalam hidupnya.
Saat rumah tangganya goyah dengan hadirnya orang ke tiga. Ia bangkit dan berjuang untuk menyelamatkan ke utuhan rumah tangganya. "Aku tidak akan pernah menyerah. Aku tidak boleh cengeng. Dia milikku dan harus aku pertahankan." tekad Vinka berjuang mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya.
Bagaimana cara Vinka menghadapi setiap permasalahan hidupnya????
Siapa sosok orang ke tiga dalam rumah tangga Vinka???
penasaran bukan???
penuh lika liku. yukksss ikuti kisahnya untuk bisa mengetahui cerita lengkapnya!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Earsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29. Wahyu akan bertemu Vina
Malam yang penuh dengan air mata dan ketegangan, telah mereka lalui. Pagi ini, turun hujan yang cukup lebat. Udara menjadi sangat dingin. Membuat dua sejoli
yang semalam sempat berselisih faham, kini saling berpelukan.
Vinka yang biasanya bangun pagi. Seakan terlena dengan suasana pagi itu. Ditambah pelukan hangat dari sang suami, membuat ia sulit membuka mata. Wahyu membelai wajah istrinya, ia ingin mengajak Vinka berjamaah salat subuh.
" Sayang, bangun. Ini sudah pagi, kita salat subuh berjamaah, yuukk!!"
" Eeemmmzz, iza Mas. Sudah pagi, ya?? Maaf Mas, aku terlalu lelah."
" Tidak apa-apa, sayang. Hari ini, kamu tidak usah masak!! Kita beli makanan diluar saja."
" Ta-tapi Mas."
" Kamu jangan khawatir, sayang. Kemarin aku baru saja dapat bonus dari Mas Wisnu."
" Baiklah Mas." Vinka tersenyum. " Eeemmzz Mas, bagaimana rencana kamu selanjutnya? Apa hari ini, kamu jadi menemui Mbak Vina?? Apa kamu yakin, ingin memutuskan hubungan kerja sama kalian??" Vinka menatap Suaminya. Ia masih belum yakin, Wahyu akan mengabulkan keinginannya.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu, sayang?? Kamu masih ragu denganku???" Wahyu mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang.
" Bukan seperti itu maksudku, Mas. Aku ingin memastikan saja!" Vinka berbalik dan menangkup pipi Wahyu.
Mereka saling pandang, Wahyu tersenyum manis. Vinka tersipu malu, jarak mereka cukup dekat. Namun sayang, keromantisan mereka terganggu dengan tangisan anak kedua mereka.
" 00eekkk oweeekk oweekk."
" Sayang, Safa kenapa? Safa ada yang sakit?" Vinka menggendong anak keduanya itu. Wahyu mendekat dan mengecek suhu tubuh sang anak.
" Safa sayang. Ada apa, Nak? Safa pengen dimanja Ibu dan Ayah, ya??"
" Iza Ayah, aku ingin diajak jalan-jalan." Vinka menirukan suara anak kecil.
" Ini keinginan anaknya atau Ibunya??" Wahyu memegang dagunya. Memberikan senyuman genit kepada Vinka.
" Iihhh, Mas. Apa tidak boleh? Jarangkan, aku meminta sesuatu!!"
" Jangan cemberut dong, sayang. Boleh kok, boleh banget. Tap-" Wahyu menjeda ucapannya.
" Ta- tapi apa Mas? Masalah dengan Mbak Vina?"
" Sayang, kamu jangan salah faham dulu. Aku hanya ingin menyelesaikan tanggung jawabku dulu. Aku tidak bisa pergi begitu saja!! Aku janji, setelah semua beres. Aku akan mengundurkan diri, aku akan membantu kamu untuk mengurus usaha kita." Wahyu meyakinkan istrinya.
Rencananya, siang nanti setelah menjemput Elsa sekolah. Wahyu akan bertemu dengan Vina. Wahyu akan menyampaikan terima kasih sekaligus menyampaikan surat pengunduran dirinya. Wahyu tidak ingin membuat Vinka terluka. Ia juga tidak mau, rumah tangganya hancur.
" Aku percaya denganmu, Mas. Kamu harus hati-hati. Aku yakin, Mbak Vina tidak akan semudah itu melepaskanmu!!"
" Jangan cemas, sayang. Doakan aku, semoga semuanya lancar. Sekarang, lebih baik kita segera membeli makanan untuk sarapan. Nanti keburu siang." Wahyu segera mengambil dompet dan kunci motor. Mereka akan membeli lauk didekat rumah Vinka.
" Aku titipkan Safa dulu, Mas." Vinka segera membawa Safa. Ia menitipkan Safa kepada Neneknya.
" Nek, aku bisa titip Safa sebentar? Aku mau membeli makanan diluar." Vinka mendatangi sang Nenek yang sedang duduk di gasebo halaman rumahnya.
" Sini, biar Nenek pangku. Kalian pergilah, Safa aman bersama Nenek."
Wahyu dan Vinka mengangguk. Mereka segera berpamitan dan mencium punggung tangan Nenek Vinka. Wahyu segera menyalakan mesin motornya. Vinka menyuruh Elsa untuk segera mandi dan bersiap ke sekolah.
" Vinka dan Mas Wahyu pergi dulu, Nek. Assalamu'alaikum."
" Waalaikum salam." jawab Nenek Siti.
Vinka dan Wahyu mengenang jalanan yang mereka lewati. Mengenang saat masa pacaran dulu. Kebahagiaan, terpancar jelas diraut wajah keduanya.
" Sayang, kamu masih ingat tentang kenangan kita dijalan ini." Wahyu Memelankan laju sepeda motornya.
" Aku masih ingat, Mas. Banyak cerita dijalan ini!" Vinka menempelkan dagunya dibahu Wahyu.
" Kita berasa masih pacaran, kalau sedang berdua seperti ini." Wahyu tersenyum mengingat bagaimana lucunya hubungan mereka. Bagaimana ia harus selalu sabar, menghadapi Vinka yang masih labil.
Kini semua berubah. Vinka telah tumbuh menjadi Wanita Tangguh yang sangat hebat. Tubuhnya boleh kecil, tetapi cara berfikir dan sikapnya sudah sangat dewasa. Vinka bahkan telah berhasil membangun bisnis jahitan dan jualan baju. Baik online maupun offline, usaha Vinka berkembang dengan pesat. Kini Vinka berencana ingin mengontrak tempat yang strategis dipinggir jalan.
Wahyu sangat mendukung, usaha yang dilakukan sang istri. Ia akan membantu Vinka mengelola usaha bersama-sama. Wahyu tak menyangka, Vinka diam-diam memiliki usaha yang cukup besar. Tidak ada yang tau, kalau ternyata penghasilan Vinka mencapai 5juta perbulan.
Terlihat seperti rumah jahit biasa saja. Vinka mengerjakan sendiri pesanan jahitannya. Namun, Vinka bekerja sama dengan penjahit lain. Untuk membuat pakaian yang ia jual. Bahkan, penghasilan terbesar Vinka. Berasal dari jualan pakaian.
Wahyu menghentikan laju sepeda motornya di depan sebuah kedai makanan. Vinka turun, dan berkumpul bersama ibu- ibu disana. Ia memilih beberapa menu favorit suami dan juga anaknya. Salah seorang ibu, menggoda Vinka. Dikira, mereka masih pasangan pengantin baru.
" Eheemm, Mbak. Pengantin baru,ya? Lagi anget-angetnya, nichh!! Kemana-mana dianter, takut hilang." Celetuk salah seorang ibu, yang sama-sama memilih lauk untuk sarapan.
Vinka tersenyum, ia rasanya ingin tertawa mendengar perkataan ibu tersebut. Vinka memandang suaminya, Walau sudah hampir kepala empat. Wahyu memang terlihat masih muda. Tidak heran, jika ibu-ibu tersebut, mengira mereka masih pengantin baru.
" Mohon maaf, Bu. Saya bukan pengantin baru. Kami sudah punya dua anak. Dan anak pertama kami, sudah kelas 1 SD!"
" Ahhh ... yang bener, Mbak. Kalian masih kelihatan muda banget. Dulu nikah muda, ya?"
Vinka hanya tersenyum, menanggapi pertanyaan ibu tersebut. Vinka segera membayar lauk yang sudah ia pilih. Vinka sesegera mungkin pulang. Ia takut, anak-anaknya mencarinya.
" Maaf ibu-ibu. Saya duluan."
Vinka segera menghampiri suaminya. Wahyu membantu Vinka membawa beberapa kantong berisi lauk yang tadi Vinka beli.
" Sayang, kamu beli banyak makanan? Sepertinya ini sangat enak. Tapi, lebih enak masakan kamu." Wahyu tersenyum dan mengambil alih kantong kresek yang Vinka bawa.
" Tadi, kamu sendiri yang menyuruh aku untuk tidak masak Mas!!" Vinka memanyunkan bibirnya.
Wahyu ingin tertawa dan mengukung istri kecilnya itu. Andai mereka saat ini tidak berada di tempat umum. Sudah dipastikan, Vinka akan mendapat serangan dadakan dari suaminya.
" Jangan menggodaku disini, sayang. Nanti dirumah saja."
Vinka heran dan masih bingung dengan ucapan suaminya. Wahyu segera menyalakan mesin motornya. Ia takut, Elsa akan terlambat berangkat sekolah.
" Ayo sayang!! Nanti keburu siang. Kasihan Elsa, kalau telat berangkat sekolah!!"
" Iza Mas, Ayo!! Vinka segera membonceng. Wahyu segera melajukan sepeda motornya.
Vinka melingkarkan tangannya di pinggang Wahyu. Momen romantis yang sudah jarang mereka lakukan. Wahyu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia menggunakan satu tangannya untuk mengelus tangan Vinka.
" Sayang, kapan lagi ya?? Kita bisa melakukan hal romantis seperti ini??" Wahyu memelankan laju sepeda motornya.
" Asalkan bersamamu. Setiap hari pun bisa, Mas." Vinka menyandarkan kepalanya di punggung Wahyu.
" Semoga hal ini akan terus terjadi. Kita akan bersama, membesarkan anak-anak kita. Melihat mereka dewasa dan menemukan pasangan mereka masing-masing. Aamiin ... "
" Aamiin ... "
Tak terasa, mereka telah sampai dihalaman rumah Vinka. Vinka segera masuk untuk menyiapkan sarapan. Wahyu memakirkan sepeda motor dan segera menyusul sang istri. Vinka sibuk di dapur. Ia memindahkan semua lauk yang tadi ia beli, ke dalam wadah. Meletakkan dan menyusun lauk tersebut dimeja makan.
Elsa datang membantu, namun Vinka melarangnya. Takut, seragam Elsa akan kotor.
" Ibu, boleh ku bantu??"
" Kamu duduk manis saja, sayang. Ibu sudah hampir selesai. Ibu tidak mau, seragammu kotor."
" Ya sudah ... " Elsa duduk dengan tenang dimeja makan.
Wahyu menghampiri anak dan istrinya. Vinka segera memanggil Hendri untuk ikut sarapan. Vinka jengkel, kenapa anak itu, jam segini belum juga bangun. Vinka mengetuk pintu kamar Hendri dengan kasar.
Tok tok toookkkkk
" Hendri ... bangun !!!! Sudah siang, ayo sarapan. Dan segera mandi. Kamu berangkat sekolah tidak!!!
Tidak ada sautan dari dalam. Vinka semakin emosi menghadapi sikap adik bungsunya.
" Hendri ... bangun nngak!!! Uang jajanmu, Kakak potong!!!" Ancam Vinka.
Ancaman yang Vinka berikan, sukses membuat Hendri segera beranjak dari tempat tidurnya. Ia membuka pintu kamarnya. Mendapati sang Kakak sudah bersedekap dan siap menerkamnya.
" Pagiii Kakakku, sayang. Jangan marah-marah terus. Nanti cepet tua.hhheee ... "
" Kamu ini, ya!! Sekarang sudah jam berapa?? Apa kamu tidak bisa, bangun pagi!!"
" Aku masih ngantuk Kak. Tadi malam aku dan teman- teman belajar sampai larut."
" Belajar apa sampai larut malam? Itu belajar atau cuma ngobrol??"
" Belajarlah, Kakakku cantik."
Vinka memutar bola matanya malas. Setiap kali berbicara dengan Hendri. Emosi Vinka naik.
" Cepat kamu mandi!! Ini sudah siang. Aku tunggu di meja makan. Nngak pakai lama!!!" Vinka berlalu meninggalkan hendri.
Hendri mengumpat kesal, ia bahkan sedang mimpi indah tadi. Ia pun bersiap mandi dan sarapan bersama keluarga Kakaknya.
Tak berselang lama, Hendri datang. Ia menarik kursi dan duduk disebelah Elsa.
" Cepat makan!! Nanti Ibumu ngomel terus!"
" Om ini yang selalu buat Ibu marah!!!" Elsa tidak terima.
" Sudah sudah. Kalian ini, tidak bisakah akur sebentar??"
" Ibu dan Om Hendri juga tidak bisa akur??"
Vinka kaget dengan jawaban Elsa. Vinka malu sendiri, ternyata anaknya lebih pintar. Vinka tersenyum menatap Elsa.
" Sekarang Elsa habiskan sarapannya, segera berangkat sekolah!!"
" Iza Bu." Elsa segera melahap habis makanan dipiringnya. Vinka membuatkan susu dan mengisi bekal untuk sang anak.
" Cepat habiskan susunya,Kak! Hari sudah semakin siang. Nanti kamu terlambat!"
" Iza Bu. Ini aku juga sudah buru-buru!"
Vinka segera memasukkan bekal yang tadi ia siapkan ke dalam tas anaknya. Ia membantu membawakan tas Elsa ke depan. Elsa mengikuti Ibunya dari belakang. Wahyu sudah menunggu di depan.
" Apa semua sudah siap?"
" Sudah Mas. Ini tas Elsa."
" Aku berangkat dulu, sayang. Nanti aku langsung menemui Vina."
" Aku berangkat dulu, Bu." Elsa berpamitan dan mencium punggung tangan Ibunya.
" Iza sayang. Belajar yang rajin, ya!"
" Iza Bu. Assalamu'alaikum."
" Waalaikum salam."
Wahyu mengantar Elsa ke sekolah. Vinka melambaikan tangan kepada suami dan anaknya. Ada kecemasan dalam hati Vinka. Ia sangat mengkhawatirkan suaminya. Vinka takut, suaminya akan dijebak oleh Vina.
" Semoga Mas Wahyu baik-baik saja. Lindungi suamiku, Ya Robb." Vinka berdoa untuk keselamatan suaminya.
Vinka segera menuju rumah neneknya. Ia akan mengambil Safa. Ia akan memandikan Safa dan menyusuinya.
Tok tok tokkk
" Nek, aku masuk ya?" Vinka membuka pintu rumah neneknya. Rumah orang tua Vinka dan Neneknya bersebelahan.
" Masuk Vinka. Ini Safa juga baru saja bangun."
" Vinka bawa Safa dulu, Nek. Safa belum mandi."
" Iza Vinka. Nenek juga mau pergi."
" Mau kemana, Nek?"
" Nenek mau ke rumah Budhe Darmi. Mau mengambil hasil panen. Nanti diantar Sigit." Vinka mengangguk.
Sigit adalah keponakan Vinka. Anak dari adik Ibu Tami. Rumah mereka berjejer dan saling berdekatan. Bu Tami tinggal berjejer dengan Ibu dan kedua adiknya.
Vinka membawa Safa pulang. Ia memandikan Safa dan menyusuinya. Safa belum genap 6 bulan. Jadi ia masih Vinka berikan asi eksklusif.
Tak berselang lama,Safa tertidur pulas. Vinka menimang sebentar anaknya. Vinka mulai meletakkan Safa pelan-pelan di box bayi.
" Anak Ibu yang pinter. Bobok yang nyenyak ya, sayang." Vinka mencium pipi anaknya.
Vinka mengecek ponsel dan media sosialnya. Beberapa hari ini, Vinka mengabaikan pesanan jahitannya. Ia menyerahkan semua urusan kerjaannya kepada Santi. Patner kerja sekaligus orang kepercayaannya. Vinka memasukkan nomer Santi sebagai admin dalam bisnisnya. Jadi, saat Vinka tidak bisa membalas pesan dari pelanggannya. Mereka bisa menghubungi nomer Santi.
Berkat kerja sama mereka berdua. Usaha yang Vinka kelola semakin berkembang. Pengiriman dan pesanan dapat dengan cepat mereka handle. Santi dan Vinka mulai berencana untuk menyewa tempat. Mereka mendapat tawaran dari banyak pemilik ruko. Namun, belum ada yang cocok.
🍁🍁🍁🍀🍀🍀🍀
Mohon maaf...
Author sering telat update...
Semoga kalian suka dengan karya Author yang masih belum sempurna ini.
Jangan lupa beri Author like, komen, Vote dan hadiah yang banyak.
Terimakasih🥰🥰🙏
terima kasih sudah berkenan baca.
saya pun juga penulis baru...
dan masih banyak belajar...
tetap semangat😊😊