Dillon Jhonson merupakan seorang CEO yang di jodohkan oleh orang tuanya dengan seorang gadis sederhana yang bernama Devina Elmar.
Dillon tak pernah menganggap Devina sebagai istrinya, perlakuan buruk selalu ia lakukan kepada istrinya
"Kau hanya wanita ja..la..ng yang harus ku nikahi karena keinginan orang tuaku" Ucap Dillon pada Devina, yang membuat hati Devina hancur
"Ceraikan saya jika anda tak mencintai saya tuan Dillon, tolong jangan hancurkan saya seperti ini" Ucap Devina sambil menangis
"andai aku datang lebih awal maka aku tak akan kehilangan kakak ku" Devinka
guyss dukung terus Author ya..... terimakasih 🥰💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NLiRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SADARNYA DEVINA
Malam pun tiba, Devinka seperti biasanya dia selalu membersihkan tubuh Devina, saat dia sedang mengelap tangan Devina, Devinka sangat terkejut saat melihat tangan kakaknya bergerak dan mata Devina terbuka.
"kak..kakak" panggil Devinka
Devinka langsung berlari keluar dan memanggil dokter.
"dokter....dokter Shinta" teriak Devinka yang membuat Steven dan Marcel terkejut
"sayang, ada apa?" tanya Steven
"kakak ku, kakak ku sudah sadar" ucap Devinka yang senang.
"Marcel tolong panggil kakak aku" ucap Steven
"baik" sahut Marcel dan pergi
Devinka dan Steven masuk ke ruang rawat Devina. Devinka memegang tangan kakaknya.
"kak, kakak bisa mendengar aku?" tanya Devinka pelan dan dibalas anggukan oleh Devina.
dokter Shinta pun datang dan langsung memeriksa Devina.
"Devina syukurlah kamu sudah sadar" ucap dokter Shinta sambil tersenyum dan kembali dibalas anggukan oleh Devina.
"Ini sebuah keajaiban"ucap dokter Shinta setelah memeriksa kondisi Devina.
"Devi dapat sadar dari komanya, ini bener-benar sebuah keajaiban "sambung dokter Shinta dan membuat semua yang ada di sana tersenyum.
"kakak aku sangat merindukanmu" ucap Devinka yang memeluk Devina
"kakak juga sangat merindukan mu Devinka" ucap Devina pelan karena masih lemas.
"kapan kamu kembali ke sini?" tanya Devina yang masih lemas
"aku pulang saat tau kakak masuk rumah sakit" ucap Devinka yang mengeluarkan air matanya
"kenapa kamu menangis" tanya Devina dengan nada yang sangat pelan.
"dari dulu kamu selalu menyembunyikan air matamu pada kakak, padahal kakak tau kamu menangis, dan sekarang baru kali ini kamu menunjukkan air mata kamu pada kakak Vinka" ucap Devina sembari tersenyum tipis pada adiknya.
"Oh ya kak Shinta, gimana keadaan janin aku?" tanya Devina yang membuat dokter Shinta, Devinka Steven dan Marcel saling tatapan
"maaf Devina karena kandung kamu masih sangat muda, jadi kami benar-benar tak bisa menyelamatkan kandungan kamu" ucap dokter Shinta yang membuat Devina ayok dan kemudian menangis
"a..apa?, ini gak mungkin...ini gak mungkin kak" ucap Devina yang sangat sedih mendengar berita buruk itu.
"kak, kakak tenang ya" ucap Devinka yang langsung memeluk kakaknya.
"bagaimana kakak bisa tenang Vinka, kakak gagal menjadi seorang ibu yang bisa melindunginya kandungan kakak sendiri hiks...hikss." ucap Devina yang mulai menangis.
Saat suasana menjadi sedih tiba-tiba pintu terbuka.
"klekkkk" miss Carry membuka pintu
semua pandangan beralih ke miss carry, tapi miss carry sendiri hanya melihat kearah Devina dan Devinka.
"oh Tuhan, apa yang telah ku lakukan dengan mengizinkan mu menikah dengan putra dari keluarga Jhonson" ucap miss Carry yang menangis dan menghampiri Devina dan Devinka.
"ya Tuhan Devina nak, miss sangat khawatir saat mendengar kabar mu" ucap miss Carry yang memeluk Devina.
"miss...haaa....aku kehilangan calon anak ku" ucap Devina yang menangis di pelukan miss Carry
"nak, kamu tenang ya, jangan berpikir hal-hal yang sudah tak ada, sekarang pikiran kesembuhan mu dulu" ucap miss carry.
"iya Devina kamu baru sadar jangan terlalu lelah untuk menangis" ucap dokter Shinta
"Devinka, aku harus memberikan obat untuk Devina lagi, bisakah kalian keluar dulu" ucap Devinka.
"baik dok" sahut Devinka
"kak, aku keluar dulu ya, kakak harus sembuh untuk aku" ucap Devinka yang menggenggam tangan Devina.
"kamu juga jangan menangis, nanti kakak akan menanyakan banyak hal pada mu, termasuk sudah berapa lama kamu menangis, sehingga matamu menjadi sangat bengkak" ucap Devina yang masih lesu dan matanya yang sembab.
Steven membawa Devinka keluar, kemudian di ikuti oleh miss carry dan Marcel.
"Devinka" ucap miss Carry yang langsung memeluk Devinka
"miss Carry" ucap Devinka yamg membalas pelukan miss Carry
"Nak kapan kamu kembali?, kenapa kamu tidak mengabari kepada miss tentang kepulangan mu ke London dan juga tentang kondisi kakak mu" ucap miss carry yang sudah melepaskan pelukannya.
"maafkan aku miss" ucap Devinka yang menundukkan kepalanya
"tidak nak tidak, kamu tidak perlu minta maaf, miss sangat merindukan mu nak" ucap miss carry yang memeluk Devinka lagi.
"jangan lagi menangis, semua akan baik-baik saja" ucap miss carry lagi
"Tuhan berapa lama anak ini sudah menangis, berikan kesembuhan pada kakaknya supaya dia bisa kembali tertawa lagi" ucap miss Carry yang melepaskan pelukannya dan merapihkan rambut Devinka sambil melihat kearah mata Devinka yang sembab.
"Oh ya miss kenalin ini suami aku Steven Carlson" ucap Devinka yang membuat Miss Carry terkejut dan juga khawatir.
"suami?, nak kapan kamu menikah, dan apa kalian saling mencintai?, miss tidak mau kamu bernasib sama dengan kakak mu" ucap miss Carry yang khawatir.
"tidak miss, Steven sangat berbeda dengan Dillon, pernikahan kami memang karena kecelakaan, tapi sekarang kami saling mencintai" jelas Devinka yang membuat Steven tersenyum.
"dia yang selalu ada bersama aku dan memenangkan aku di saat aku menangis, jujur aku banyak nangis belakangan ini" ucap Devinka lagi.
"sekarang tersenyumlah lagi nak, kakak mu sudah sadar" ucap miss carry yang memegang pipi Devinka
"dan kamu nak, tolong jangan buat saya menyesal untuk kedua kalinya karena merestui hubungan kalian" ucap miss Carry pada Steven.
"Saya tidak mau melihat anak ini menderita lagi"ucap miss Carry yang mengusap air mata Devinka.
"miss, percaya pada saya, saya akan menjaga Devinka seumur hidup saya, saya tak akan menyakiti dia" ucap Steven dengan tulus dan membuat miss Carry tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
mereka pun saling berbincang untuk menenangkan hati Devinka, sedangkan di dalam ruang rawat Devina, Devina mengajak dokter Shinta bicara.
"kak bolehkah aku ngomong sesuatu padamu?" tanya Devina
"Tentu saja boleh Devi, kamu ingin ngomong apa Devina?" tanya dokter Sinta yang menyimpan suntikan
"kak, jika aku sudah tidak ada tolong jaga kan Devinka untuk aku" ucap Devina yang mengeluarkan air matanya.
"Devinka selalu mengalah dari dulu dengan ku, dia memutuskan untuk tidak kuliah dan bekerja untuk aku kuliah dan setelah aku lulus dia baru memulai kuliahnya dengan bekerja sendiri dan hanya menerima sedikit bantuan dari hasil aku bekerja"ucap Devina yang menceritakan tentang kebaikan adiknya.
"Dalam banyak hal Devinka selalu mengalah dengan aku, dia selalu menjaga aku, dan sekarang aku mau kakak mengantikan aku untuk menjaga dia dan selalu berada disisinya "sambung Devina lagi.
"Devina tentu saja aku akan menjaganya, tapi kamu tidak boleh ngomong yang aneh-aneh" ucap dokter Shinta
"kamu harus kuat, kamu harus bisa sembuh. aku akan melakukan apapun untuk menyembuhkan mu" ucap dokter Shinta
"kamu harus ingat kesembuhan kamu itu untuk adik kamu Devinka, melihat kamu sakit dan koma seperti kemarin saja dia sangat menderita, dia mau kamu sembuh Devi" ucap dokter Shinta lagi
"tapi aku merasakan bahwa hidup aku tidak akan lama lagi kak, aku sudah tidak sanggup bertahan lebih lama lagi, ak....." ucap Devina yang kemudian disela oleh dokter Shinta.
"shuttt... kamu gak boleh ngomong yang aneh-aneh" ucap dokter Shinta yang menghapus air mata Devinka.
"kamu tau?, Devinka sekarang sudah punya suami" ucap dokter Shinta sambil tersenyum
"suami?, kapan?, kapan Vinka menikah kak?" tanya Devina bertubi-tubi
"Devinka menikah dengan Steven dan mereka menikah saat di LA. Pada awalnya pernikahan mereka memang kerena jebakan seseorang tapi sekarang mereka sudah saling mencintai" ucap dokter Shinta.
"Devi, Devinka adik ipar ku sekarang dan kamu harus percaya pada ku bahwa Steven akan menjadi suami yang bertanggung jawab dan menjadi Devinka dengan baik" ucap dokter Shinta lagi
"Syukurlah kalau begitu.Aku percaya bahwa Steven adalah orang yang baik, dan semoga apa yang menimpa aku tidak terjadi pada adikku" ucap Devina yang tersenyum tipis.
"oh ya kak bisakan aku meminta kertas dan pulpen, aku ingin menuliskan surat untuk adikku. jika aku sudah tidak ada maka tolong berikan surat itu kelak pada Devinka" ucap Devina yang membuat dokter Shinta menangis.
dokter Shinta pun memberikan selembar kertas dan pulpen yang ada didalam sakunya.
Devina dengan tangannya yang bergetar memaksa untuk menuliskan sebuah surat untuk Devinka.
dengan air matanya yang terus mengalir ia menulis surat itu dengan penuh perjuangan dan menahan sakit di tangannya. setelah sekian lama menuliskannya, akhirnya Devina pun selesai.
dia menyerahkan surat itu pada dokter Shinta
"ini kak" ucap Devina yang menyerahkan surat itu
"ini akan aku simpan dan sekarang aku juga harus keluar" ucap dokter Shinta sambil tersenyum
"istirahatlah" ucap dokter Shinta sambil mengelus rambut Devina
"kak, terimakasih banyak" ucap Devina dan diangguki oleh dokter Shinta.
Shinta pun keluar dari ruang rawat Devina, Shinta berusaha menjaga ekspresi wajahnya sebaik mungkin supaya Devinka tidak curiga dia menangis bersama Devina.
klekkkkk...blammm suara pintu terbuka dan kembali tertutup
"dokter sudah?" tanya Devinka
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
......................
......................
......................
mana aku di sangkah mahluk tak kasat mata lahi gara2 nagis2 pas mati lampu🤣🤣