Kisah cinta ini bermula saat aku bertemu dengan seorang lelaki tampan yang membuatku tergila-gila.
Sehingga tanpa aku sadari, diriku masuk dalam jeruji kepedihan.
Kekaguman ini membuat diriku bagai tuli dan buta.
Sehingga perlahan aku terjerat dalam lembah dosa.
Aku terlalu kagum pada sosok lelaki tampan yang tidak lain adalah kekasih sahabatku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nur Hastaman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Sesampainya di depan pusat perbelanjaan. Albian mengajak ku masuk "Be, aku di sini saja bersama Stevy, kamu masuk saja sendiri ya. Aku capek banget" Ujar ku menalak ajakan Albian.
"Baiklah, kalai begitu kalian tunggu di sini saja. Atau kamu mau nunggu di cafe sebelah, sambil makan atau minum gitu"
"Em....boleh deh"
"Ya udah ayo..." Albian membawa kami menuju cafe dekat dengan pusat perbelanjaan tersebut.
"Kamu pesan dulu saja. Aku mau beli sesuatu dulu" Albian segera meninggalkan kami. Setelah melihat daftar menu, aku memutuskan memesan sesuatu. Seorang weiters menghampiri meja ku. Sambil tersenyum ramah ia bertanya "Selamat malam, kak. Silahkan mau pesan apa?" Santunya.
Sesaat aku merasa lapar, tapi setelah mengingat kembali kejadian tadi membuat ku kenyang seketika"Em.... mau jus alpukat satu deh" Dari pada bingung harus pesan apa, ku putuskan pesan jus alpukat. Selain bisa mengenyangkan juga baik untuk seorang ibu menyusui seperti ku.
"Ada lagi kak? makanan mungkin? di cafe ini ada makanan best seller lho kak..." Seorang waiters menunjukkan sebuah daftar menu paling laris di cafe tersebut.
"Tidak, terima kasih. Saya pesan itu saja"
"Baik, kak. Mohon di tunggu" Ucapnya sembari meninggalkan meja kami.
Sesaat melihat wajah putri kecil ku yang tengah tertidur pulas "Mulai hari ini kita tidak boleh bergantung dengan papa lagi, nak. Mungkin setelah ini papa tidak akan lagi ada dalam hidup kita. Kamu seutuhnya milik mama" Tanpa ku sadari air mata jatuh begitu saja. Selama ini tidak pernah sekali pun terfikir oleh ku, akan melihat pernikahan suami ku sendiri. Jarang ada seorang istri menyaksikan suami bersanding dengan wanita lain tepat di hadapannya. Mungkin kalau orang lain sudah ngamuk. Tapi, aku tidak sanggup berbuat hal itu. Bahkan untuk membuka mulut saja sulit, apa lagi sampai ngamuk. Aku terbikang wanita bernyali ciut. Setiap kali ada masalah aku mencoba menghindar. Entah kenapa tidak ada kebaranian sedikit pun dalam hidup ku.
"Zea...."
Aku terkejut kala mendengar suara ridak asing tersebut. Sebuah tangan menyentuh bahu ku "Akhirnya kita bisa bertemu di sini" Seketika aku menoleh "Mas Rayhan? ngapain kamu di sini?" Benar dugaan ku, suara itu adalah suara mas Rayhan. Buru buru aku berbalik badan hendak pergi darinya. Namun, mas Rayhan menghentikan ku "Please, dengan aku dulu. Semua tidak seperti yang kamu lihat. Aku terpaksa menikahi dia, semua karena....."
"Kerena apa? karena kamu kira aku tidak akan pernah tau kebusukan kamu ini? bukankah begitu, suami ku tersayang?!" Dengan nada menekan.
Mas Rayhan menyentuh kedua lengan ku "Sungguh, pernikahan ini bukan ingin ku. Semua kerena perjodohan. Aku tidak bisa menolaknya, Ze."
"Heh.....kamu kira aku bodoh untuk menilai mana nikah terpaksa sama nikah atas kemauan sendiri? kamu salah, mas. Dari senyum kamu kepadanya, cara kamu menatapnya, dan kemantapan kamu mengucap ijab kobul, aku sudah tau bahwa pernikahan kalian murni atas suka sama suka. Nggak usah ngelak lagi kamu, mas" Berushaa menahan air mata sekuat tenaga. Kalau bisa jangan sampai air mata ini jatuh di depan mas Rayhan. Aku tidak ingin terlihat lemah.
"Percaya padaku, semua bukan mau ku. Cinta ini tulus hanya untuk kamu saja" Ucap Mas Rayhan padaku.
"Udahlah, nggak usah berdusta lagi, toh semua nggak akan mempan sama aku. Gini aja deh mas kita akhiri pernikahan kita. Aku nggak mau di madu. Kecuali kamu ceraikan dia demi kami"
"Bicara apa kamu, Ze? aku tidak akan pernah mau pisah dari kamu. Lihat anak kita (Sambil menatap Stevy dalam gendongan ku) dia masih butuh aku. Aku janji sayang akan bersikap adil sama kalian" Tatapan mas Rayhan melemah kala air mata ku jatuh tepat di hadapannya.
"Adil? memang kamu ini siapa bisa msnjanjikan keadilan terhadap sesama manusia? Seorang raja sekali pun tidak akan punya sifat adil, karena keadilan hanya milik Allah. Bohong kalau kamu bisa adil" Lucu sekali mas Rayhan berusaha membujuk ku menerima pernikahan keduanya, dengan mengatas namakan keadilan.
"Jangan seperti itu, sayang. Coba lihat anak kita. Masa kamu tega melihat dia tumbuh tanpa keluarga yang utuh"
Plak....
Ku tampar mas Rayhan "Kalau kamu memikirkan masa depan Stevy, seharusnya kamu tidak menikah lagi, mas. Bicara masalah tega, bagaimana dengan nasib ku? bukankah dulu kamu menjanjikan hak penuh atas hubungan kita? Bahkan kamu bilang mau memberitahu kelaurga, nyatanya semua dusta" Kalau saja saat ini bisa ku putar lebih cepat, maka hari ini ingin ku putar secepat mungkin.
Mas Rayhan tak mampu berkata kata. Dia terdiam membisu dengan wajah menunduk "Maafkan aku, Zea. Aku tau semua tidak mudah untuk mu. Tapi, aku terjabak dalam hubungan ini" Setelah itu dia juga mengusap air mata ku "Aku janji akan memberikan hak kalian sebagaimana semestinya. Masalah ekonomi kamu boleh bawa Atm ku. Semua uang ada di dalamnya. Kamu boleh pegang keuangan ku, asal kamu mau menerima Jihan sebagai istri kedua ku" Meraih dompet hendak mengambil kartu atm. Selama ini mas Rayhan selalu memberi ku sebagian dari gajinya, sekarang justru dia memberikan kebebasan atas hartanya. Setiap bulan Semua gaji akan di kirim ke Atm mas Rayhan yang ia berikan kepada ku.
"Kamu bisa pakai untuk beli apa pun yang kamu mau"
"Sombong kamu...."
"Tolong maafkan aku, Zea. Kita jangan beetengkar lagi ya, kita jalani semua sesuai takdir yang sudah di gariskan Allah untuk kita"
Semua ucapan mas Rayhan justru membuat ku semakin geram. Ku raih kartu atm milik mas Rayhan "Kamu kira dengan uang ini bisa membeli harga diriku, sakit hati ku, kekecewaan ku? jelas tidak akan bisa. Takdir yang kamu maksud itu atas kehendak kamu sendiri, jadi jangan bawa nama Allah di dalamnya" Ku lempar kartu tersebut tepat di wajah mas Rayhan "Makan saja uang kamu itu. Aku dan Stevy tidak membutuhkannya. Tanpa kamu, kami pun bisa hidup" Saking sakit aku di buatnya, sampai mas Rayhan ku campakkan bagai sampah. Banyak pasang mata menatap ke arah kami. Aku tidak perduli. Mau mereka berasumsi seperti apa itu terserah mereka. Biar dunia tau hati ini seorang istri tengah terluka parah.
"Sayang....tunggu dulu, kita bicara baik baik. Ayolah, jangan seperti ini" Mas Rayhan terus meminta ku mendengar semua kebohongannya. Sampai aku muak di buatnya. Sambil mendekap Stevy ku percepat langkah"Minggir kamu, mas" Sengaja ku dorong mas Rayhan sampai sikunya terluka sebab terbentur tepi meja.
Mas Rayhan masih belum menyerah. Dia mengikuti ku sampai depan cafe "Zea, kita perlu bicara...." lagi lagi mas Rayhan membuat langkah ku terhenti. Sesaat kedua mata ini terpejam. Sakit sekali hati ini. Andai hari ini dia tidak melukai ku, pasti sikapku tidak akan seperti ini. Kembali ku lepas tangannya "Stop! Tolong camkan ini, mulai sekarang jangan pernah sentuh aku lagi. Hubungan kita sudah cukup sampai di sini saja" Jari telunjuk mengacung tepat depan wajah mas Rayhan. Tatapan yang dulunya penuh cinta kini beralih menjadi tatapan kebencian.
"Mau bicara apa lagi kamu, mas? semua sudah jelas, bukan? untuk apa repot repot menjelaskan sama aku. Lebih baik sekarang kamu fokus sama istri baru kamu itu" Walau sakit ku coba tetap bertahan. Sakit ini bersembunyi di balik kekecewaan yang terlihat jelas di wajah ku.
"Zea, please. Aku nggak mau kehilangan kamu dan anak kita. Aku janji tidak akan membedakan antara kamu dan Jihan. Kalian bisa kok hidup rukun. Di dunia ini tidak hanya aku yang beristri dua, tapi ada banyak laki laki. Mereka semua bisa bahagia. Kenapa kamu tidak mau"
Ucapan mas Rayhan menyambar hati ini. Bagaikan sebuah kilat di siang bolong. Mengejutkan sekali, seorang suami membela dirinya sendiri tanpa memikirkan bagaiamana dampak dari poligami. Sifat manusia itu tidak bisa adil. Entah dalam cinta atau pun ekonomi. Pada dasarnya manusia akan di adili bukan mengadili.
"Seekor burung tidak akan bisa hidup dalam satu sangkar. Kalau pun ada salah satu di antara mereka akan kalah. Dan sebelum itu terjadi, aku undir diri" Sambil berlari kevil ku dekap erat tubuh Stevy. Air mata berderai mengiringi langkah.
"Lho, itu Zea kenapa lari larian begitu?" Baru saj Albian keluar dari pusat perbelanjaan. Melihat ku berlarian ia pun segera mengejar ku.
"Zea.....berhenti" Teriakan Rayhan membuat langkah Albian perlahan teehenti.
(Kenapa mereka bisa bertemu? pasti sekarang ini hati Zea hancur lebur) Gumam Albian.
aneh bgt ni author gak jelas bgt ceritanya..
tdnya mau aku like n dksih vote klo bagus
yuk mampir dan like juga karya aku judulnya "Lelaki Pilihan Elena" dan tinggalkan jejak disana
ditunggu ya kak