Kakek akan menyerahkan tampuk kekuasaan pada cucu tercinta, dengan syarat, dalam satu bulan mendapatkan seorang istri.
Jika tidak berhasil, maka tampuk kekuasaan akan jatuh pada pamannya, yang memiliki istri bertabiat buruk.
Dan yang lebih parahnya, sang kakek tetap akan menikah Rama dengan gadis pilihan sang kakek.
Pertemuan dengan biduan secara tak sengaja, membuat Rama memiliki ide untuk menyusun rencana brilian melancarkan permintaan kakeknya.
Namun, ternyata beberapa hal terkuak saat Rama berusaha menjalankan misinya itu.
Rahasia apa saja yang akan terbongkar?
Bagaimana hubungannya dengan sang biduan?
Ikuti kisah mereka di sini...
Update setiap hari...
cerita hanya fiksi, karangan penulis semata.
😘😘
Ikuti kisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hendi akan datang
"Kak, kita ketemuan di kafe saja, ya. Malam ini aku masih lembur. Mungkin sekitar jam sembilan, lah, aku sampai di kafe tempat biasa." Hendi menghubungi Gendis dengan nada suara tergesa.
"Baiklah. Kamu santai saja. Fokuslah bekerja saja, dulu. Nanti kakak tunggu."
"Oya, aku boleh menginap di kost kakak lagi, kan?"
Gendis terdiam sejenak.
"I-iya, boleh. Seperti biasanya hehehe...!" Sahut Gendis sambil tertawa kecil menyamarkan kegelisahannya.
"Ya sudah, Kak. Gitu saja. Sampai ketemu nanti malam."
Tut...Tut..Tut....
Hendi telah menutup panggilannya, dan Gendis masih termangu sambil memeluk ponselnya.
"Non.. Non... Non Gendis... Bau gosong!" Tegur pelayan dapur sambil menepuk bahu Gendis untuk menyadarkan dari lamunan tuannya itu.
"Astaga!" Gendis segera mematikan kompor, dan mengangkat mendoan yang telah menghitam karena gosong.
"Ada apa, Non? Tumben melamun? Sampe gosong gitu tempenya." Tanya pelayan dapur sambil membantu Gendis membuang tempe yang gosong tadi ke tempat sampah.
"Iya... Duh...sayang banget tempe ya dibuanh. Tempenya jadi berkurang, deh... Padahal Kakek suka banget sama mendoan."
Gumam Gendis sambil menatap tempe gosong yang hitam di tempat sampah.
"Sudah, Non. Di kulkas masih ada satu papan. Nanti saya ke pasar lagi."
"Oh, kamu nggak apa apa pergi belanja lagi?"
"Ya, nggak lah, Non. Yang penting urusan rumah beres. Sejak ada Non, Tuan Besar Kakek selalu lahap makannya. Apalagi kalau, Non yang masak. Nyonya Silvi saja, terlihat senang sejak ada Non di rumah ini."
Gendis mengangguk sambil tersenyum tipis.
Pelayan tadi mengambil tempe dari kulkas dan memberikan pada Gendis.
"Terima kasih."
"Sama sama, Non."
Sahut pelayan tadi sambil memperhatikan Gendis yang sedang memotong tempe.
"Saya senang, loh, memperhatikan Non masak seperti ini. Tangannya itu bisa lincah gitu. Terampil. Saya ini memang sudah lama kerja di sini, tapi melihat Non masak, kok, saya sendiri jadi malu." Pelayan itu curhat pada Gendis dengan malu malu.
"Loh, selama ini Kakek siapa yang masakin?"
Gendis balik bertanya.
"Nyonya Silvi terkadang yang menyiapkan, tapi Nyonya sering memanggil koki untuk masak. Tapi, sejak Non Gendis di rumah ini, Nyonya lebih sering membiarkan, Non memasak khusus untuk Tuan Besar. Makanan yang lain, langsung dikirim jadi dari restoran milik keluarga ini."
Terang pelayan itu masih dengan memperhatikan Gendis yang masih sibuk memasak tempe mendoan.
"Nah, sudah matang. Kamu mau coba?" Tanya Gendis sambil menoleh ke arah pelayan itu.
"Boleh, Non?" Ucapnya tak percaya.
Gendis mengangguk sambil menyodorkan piring yang berisi mendoan.
Pelayan itu mengambil satu dan mencicil salah satu ujung mendoan tadi, lalu melahapnya. Sejenak dia mengunyah sambil menatap Gendis dengan tatapan tak percaya.
"Kenapa? Nggak enak? Atau aneh ya, rasanya?" Gendis mengerutkan keningnya penasaran.
"Astaga, Non! Mengapa Non Gendis nggak mendaftar masuk masterchef saja sih? Uenaaakkk....!" Sahut pelayan tadi sambil mengacungkan jempol, lalu melahap sisa tempe mendoan yang masih ada di tangannya.
Gendis hanya tersenyum geli, lalu menyiapkan makanan untuk disajikan di meja makan.
*
"Hmmm.... Kakek senang sekali! Masakanmu top mantap sekali, Gendis! Bahkan sama seperti masakan di restoran." Puji Kakek usai menyantap makan siangnya.
Mama Silvi tersenyum ke arah Gendis yang tersipu saat dipuji Kakek.
"Gendis ini memang multitalenta, Kek. Selain menyanyi, dia juga bisa merawat orang sakit, dan jago memasak." Rama ikut memuji sambil menoleh ke arah Gendis.
Gendis hanya bisa menundukkan kepalanya, dan wajahnya telah bersemu merahkarena malu.
"Aduh, saya, jadi malu."
"Kenapa malu?" Tanya Mama Silvi.
"Ya, saya cuma bisanya itu. Nggak bisa yang lain."
Sahut Gendis sambil tertunduk.
Sontak jawaban Gendis membuat yang lain terbahak.
"Kamu itu luar biasa, Gendis! Kamu paket komplit, untuk Rama. Bisa mengurus rumah, nurut, cantik, pintar, bisa membawa diri, sopan, dan jago masak. Kakek yakin sejak pertama ketemu kamu. Kakek memang. Gak salah pilih." Tutur Kakek sambil tersenyum lebar seakan bangga.
"Kek, sejak awal aku juga mencari dia. Tapi saat ini namanya Monica kenalnya. Jadi bingung."
"Soto buatanmu, enak banget, loh Dis. Kapan kapan Mama mau belajar resepnya ya." Puji Mama Silvi.
"Padahal, dulu, makanan favorit aku tuh, soto ayam buatan Mama. Tapi, sejak menikmati yang ini, soto ini jadi yang paling enak. Apalagi dipadukan dengan tempe mendoan hangat yang enak ini. Bikin aku selalu pingin pulang dari anak makan di rumah." Rama menatap Gendis, yang wajahnya makin bersemu karena malu.
"Papa, jangan lupa minum obatnya, ya."
Mama Silvi menaruh obat yang harus diminum oleh kakek.
"Iya." Sahut kakek.
"Hari ini, aku akan pergi ke hotel bersama Pak Heru dan keponakan itu."
"Mas Bayu?" Celetuk Gendis.
"Iya. Kamu kenal dia, kan?"
"Iya, Ma. Mas Bayu itu baik dan jujur. Dia itu sudah seperti kakak buat Gendis."
"Itulah, mama percaya pada pilihan Pak Heru. Ingin menyelidiki hotel yang di puncak itu. Mau mama rombak lagi, dan mau diremajakan lagi, supaya akhir tahun ini bisa dibuka untuk umum kembali, apalagi untuk perayaan pergantian tahun."
"Om Dimas, gimana?"
"Dia akan menyusul ke sana. Saat ini dia sedang mengecek restoran yang baru buka."
"Ya, sudah, kakek mau istirahat dulu."
Mama Silvi membantu kakek untuk beranjak ke ruangannya kembali usai makan siang.
Pelayan datang untuk membereskan meja makan.
"Mas...." Panggil Gendis sambil mengikuti Rama ke teras hendak bersiap ke kantor lagi.
"Ada apa?" Rama menoleh, lalu menghampiri Gendis.
"Hendi mau ketemu sama aku."
"Iya. Nggak apa apa. Memang kenapa?"
"Lah, aku kan belum menceritakan tentang pernikahan kita ini. Terus dia mau menginap juga."
"Ya, sudah. Ajak aja ke rumah. Ada banyak kamar juga di rumah."
"Tapi, nanti akan merepotkan."
"Astaga, Gendis, di rumah itu banyak pelayan, apanya yang repot?" Rama gemas sampai mencubit pelan pipi istrinya.
"Ya, sudah. Nanti dia akan menemui aku di kafe biasanya."
"Nanti aku jemput kalian di sana."
"Tapi, soal kita bagaimana?"
"Nanti aku akan bantu menjelaskan padanya."
"Lalu dia akan mengetahui kalau kamu itu pemilik perusahaan tempatnya bekerja." Gendis terlihat cemas.
"Masalahnya apa?"
"Aku tak ingin membuat karirnya kacau karena pernikahan kita."
"Dengar! Hendi diterima kerja di perusahaan, memang karena kemampuannya. Aku ingin melihat kinerjanya selama tiga bulan ke depan. Jika terus progres dan baik, maka, dia bisa mendapatkan posisi yang bagus."
"Tapi, dia akan tahu, kamu atasannya!"
"Kamu nggak usah cemas. Aku jarang berhubungan dengan karyawan secara langsung untuk urusan pekerjaan. Dan fotoku juga tidak terpampang di gedung perusahaan. Aku memang sengaja, untuk mengecek kinerja karyawan secara langsung."
Terang Rama menjelaskan pada Gendis.
Gendis menghela napas lega.
"Baiklah. Aku percaya padamu. Jadi, nanti Mas yang akan jemput aku di kafe?"
"Ya."
TU SI KAKEK,,UDH TAU MAYANG LICIK,, MSH SAJA TEMAKAN OMONGAN MAYANG..