Sedang Direvisi...
Emeli dan Justin adalah dua sahabat sendari kecil. Mereka sangat akrab dan romantis bagaikan sepasang kekasih. Keduanya saling mendukung dan menyayangi satu sama lain seperti Abang dan Adik. Kedua keluarga mereka sangat senang dengan persahabatan itu hingga berharap keduanya melangkah ke jenjang serius.
Justin pernah mengatakan jika ia tak akan pernah menikah dengan yang namanya sahabat. Hal itu membuat Emeli mengurungkan niatnya untuk mengungkap kan perasaan nya dan membiarkan Justin menikah dengan wanita pilihan nya, dan tentunya yang ia cintai.
Bagaimana kisahnya, yuk ikuti terus kisah dua sejoli ini.
Cerita ini 100% Munir fiksi. Jika ada yang tak suka dengan gaya bahasa, sifat tokoh dan alur ceritanya, silahkan di skip.
🌸Terimakasih:)🌸
Ig : Jannah Sakinah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jannah sakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Mimpi
Waktu semakin larut, ntah kenapa tayangan di kepalanya belum berhenti berputar. Karena lelah dan mengantuk, tanpa sadar mata pria itu mulai menutup dengan sendirinya. Kini Justin sudah tertidur di ruang tv dengan keadaan tv yang masih menyala. "Jus, aku mencintaimu," kalimat yang di lontarkan Emeli membuat Justin langsung terbangun dan keluar dari mimpinya.
"Mimpi bodoh macam apa ini? kenapa di dalam mimpiku Emeli menyatakan perasaannya? apakah Emeli benar-benar mencintaiku? ah, tidak mungkin. Kami-kan sahabat, mungkin ini efek bertengkar dengannya. Mungkin aku harus mengalah dan meminta maaf padanya besok," ucap Justin bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Emeli.
Sudah cukup lama berperang dengan fikirannya, Justin melirik jam yang menempel di dinding. Di sana jam sudah menunjukkan pukul 03:35 shubuh. Justin mematikan tv-nya lalu kembali ke kamarnya.
"Cklek," Justin membuka pintu kamarnya secara perlahan dengan kepala yang mengintip ke adaan di dalam. Ia menghela nafas lega ketika melihat Emeli masih setia menutup matanya. Karena masih merasakan ngantuk dan besok mereka akan pergi, Justin segera merebahkan tubuhnya di samping Emeli lalu menutup matanya. Tak ada tanda-tanda pergerakan dan suara, sudah di pastikan jika Justin sudah kembali masuk ke alam mimpinya.
Emeli yang berpura-pura tidur membuka matanya lalu memandang wajah tenang Justin yang menghadap ke arahnya. Matanya mengisyaratkan kekecewaan pada pria itu. Ia masih merasakan sakit di hatinya sebab bentakkan Justin beberapa jam yang lalu. Bahkan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu terekam jelas di kepalanya. "Huh," setelah menghempaskan rasa kecewanya, Emeli segera kembali menutup mata dengan tubuh yang sudah membelakangi Justin.
Pagi telah tiba, seperti biasanya, alarm-lah yang membangunkan mereka. Karena hari ini mereka mengejar jadwal penerbangan, membuat mereka segera bersiap-siap dan berkemas tentunya. "Jangan lupa periksa semua barang bawaanmu, aku tak ingin kita memutar balik di sebabkan mengambil barang yang tertinggal," ucap Emeli masih memberikan perhatiannya pada Justin walaupun pria itu sudah menyakitinya.
"Baiklah, terima kasih," jawabnya langsung mengecek semua barang-barang miliknya.
"Apa sudah tidak ada yang tertinggal?" tanya Emeli menatap Justin dengan mata datarnya.
"Tidak," jawabnya singkat namun dengan nada yang menentramkan.
"Baiklah, mari kita turun. Mama dan Papa pasti sudah menunggu di bawah sekarang," ucap Emeli sembari menarik kopernya.
Tanpa menjawab, Justin segera menarik kopernya lalu mengikuti Emeli menuju lantai bawah.
Setelah berada di bawah, Emeli maupun Justin meletakkan kopernya di ruang keluarga lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Di sana mereka di sambut hangat oleh Ela dan Hendra. "Yang banyak sarapannya sayang,,, kalian akan melakukan perjalanan jauh, jadi harus punya tenagakan," ucap Ela yang di angguki Hendra.
Emeli hanya tersenyum ke arah Ela sembari menikmati roti selainya. Tak lupa ia meminum segelas teh manis hangat. Emeli tak terbiasa meminum susu di pagi hari. Beda halnya dengan Justin yang merasa jika meminum susu di pagi hari dapat membangkitkan semangatnya.
"Nanti di sana jangan berjauhan ya Nak, ingat, bersenang-senanglah dan jangan fikirkan apapun termasuk kami. Karena semuanya akan baik saja. Ok," ucap Ela yang mendapat anggukan semangat dari Emeli.
"Jaga istrimu Nak, buatlah dia selalu nyaman ketiak berada di dekatmu. Kalian bukan hanya sebatas sahabat saja, tetapi kalian juga sepasang suami istri. Bersikap dewasalah. Papa percaya padamu," ucap Hendra sembari menatap Justin yang masih menikmati sarapan paginya.
"Baik Pa," jawabnya singkat tetapi sangat bermakna bagi Hendra dan Lili.
bodoh benci bacanya