Semburat warna kasih dan rindu menjelma menjadi setumpuk asa yang membiru. ketika hati saling tertahan untuk mengungkap rasa karena masa, berharap sang pemilik rasa mempertemukan dengan dia yang pantas dan tepat untuk berbagi rasa.
Pernah ngga sih.., kamu suka seseorang tapi sebelum mengungkapnya orang itu udah pergi ke tempat yang jauh. Padahal kamu yakin cintamu tidak bertepuk sebelah tangan
Cinta yang tak terungkap di bangku kuliah diuji jarak dan waktu. Rasa Lau untuk Adrian yang tak lekang oleh waktu, hingga waktu berbaik hati mempertemukan. Tapi apalah daya sebuah ikatan menjadi penghalang. Akankah rasa itu berbalas dan menyatu.
Persahabatan, cinta, persaudaraan, dan kekonyoan berbaur membentuk pelangi keabadian nan indah.
Cinta yang tak terungkap membentuk warna yang unik, hingga lebih sulit dilupakan. Itu fakta menyebalkan tapi indah untuk dikenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyith S., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Jika Ini Mimpi, Biarkan Aku Menikmati Mimpiku Walau Hanya Sesaat
Suasana hening seketika, ingin sekali Adrian berteriak saat itu juga karena menyadari kebodohannya selama ini. Menyia-nyiakan waktu yang lama, dan perjuangannya selama ini. Pria itu merasakan hatinya teriris mendengar isak tangis Perempuan yang dia cintai dalam diam selama bertahun-tahun.
“Lau.. kamu salah paham Lauuu, kamu salah sangka” isak Adrian seperti ikut merasakan sakit yang Lau rasakan selama ini “kamu lupa kalau ibunya cyla itu mbak Andriana.. Mba Nana Lauu.. mbak kandungku yang dulu sering aku certain kekamu, dia tinggal di Belanda, sekarang suaminya masih mengurus kepindahannya ke sini, makanya kami ektra menjaganya karena suaminya jauh Lau.” Jelas pria itu dengan lembut. Ada perasaan kecewa kenapa Lau tidak menanyakan dulu dan ada rasa bersalah juga kenapa dia tidak memperkenalkan dengan jelas siapa ibunya Cyla saat itu.
Lau terdiam mendengarkan penjelasan Adrian, bahkan dia seperti linglung. Lau mulai mengingat kembali kemasa lalu, Adrian pernah bilang kalau dia dua bersaudara, namun saudara perempuannya memilih menetap di Belanda bersama orang tuanya. Bahkan Lau pernah dikasih lihat foto mba Nana, namun dulu badan Mba Nana sangat gempal. Sedang Mba Nana Ibu Cyla yang sekarang badannya langsing meski sedang hamil jadi wajar jika Lau tidak mengenalinya.
Tapi ternyata itu tidak terbesit di pikiran Adrian, dia pikir Lau sudah mengetahuinya.
Lau benar-benar ngeblank sekarang, dia tidak tau harus berkata apa dan harus bagaimana lagi setelah mendengar penjelasan pria yang sampai saat ini masih menetap dihatinya.
Menangis,, hanya itu yang bisa Lau lakukan saat ini. Lau menangis seperti saat itu, seperti saat dia berusaha untuk merelakan Adrian. Setelah dia mulai merelakan ternyata fakta yang baru terkuak. Sungguh ini menyakitkan untuk yang kesekian kalinya bagi Lau. Adrian yang mendengar Lau menangis pun ikut terisak.
“aku mencintaimu Lau.. dari dulu hingga detik ini hanya namamu dihati ini” ucap Adrian dengan lembut dan mantap.
Lau speechless… diperutnya rasa ada kupu-kupu beterbangan, dia seperti ABG yang sedang ditembak untuk dijadikan pacar. “ya Allah.. bolehkah aku egois sejenak, kali ini saja, jika ini mimpi, biarkan aku menikmati mimpiku walau hanya sesaat” itulah yang terbesit dalam otaknya saat ini.
Sejenak dia tersenyum, namun senyum itu pudar seketika mengingat apa yang akan dia hadapi besok.
“tapi bang.. semua sudah terlambat. Walau rasaku pada Abang teramat besar, namun Papa sudah memilihkan seseorang untukku. Meski aku tidak mengenalnya namun tidak mungkin aku membatalkan semua yang sudah berjalan. Akan ada banyak hati yang tersakiti” ucap Lau setelah mulai tenang sembari menutup mata mencoba menerima kenyataan.
“baiklah Lau.. mengetahui kamu ada rasa yang sama seperti yang abang rasakan itu sudah cukup bagi abang dan apapun pilihan kamu semoga itu adalah yang terbaik untuk kita dan semua” ucap Adrian lalu mengucapkan salam dan mengakhiri sambungan telefonya.
“terbaik untuk kita.. apalah maksudnya” ucap lau kesal kemudian menutup wajahnya dengan telapak tangannya menghapus sisa air mata dan menarik nafas dalam. Bertepatan dengan Rena keluar dari kamar mandi, dia terheran dan sedikit kaget ketika melihat mata sembab Lau.
“heii.. kenging nopo cah ayuu” ucap Rena menirukan gaya bicara eyang mereka, membuat Lau sedikit tersenyum. Lau menarik nafas berat, kemudian menceritakan tentang Adrian yang baru saja menelfonnya.
“kok aku bisa tidak menyadarinya ya Ren..” ucap Lau yang hampir saja meneteskan kembali air matanya kalau Rena tidak memeluk dan mengelus punggungnya.
“relakan Lau, semua yang terjadi sudah atas kehendakNya, kita manusia bisa apa ketika Allah sudah berkehendak. Yakinlah Allah lebih tau apa yang terbaik untuk hambaNya melebihi apa yang hambaNya ketahui” nasihat Rena yang ternyata sangat ampuh. Lau mengangguk dan Rena tersenyum penuh arti.
“yakinlah adik cantikku, kebahagian sedang menantimu didepan sana setelah rasa sakit yang kamu rasakan sekarang” ucap Rena dalam hati sambil terus memeluk erat Lau.
***
Diseberang sana, tepatnya dikediaman Mr. Rei yang digadang-gadang menjadi calon suami Lau sedang mempersiapkan tepatnya mengecek kembali barang-barang yang akan mereka bawa esok.
“perfect.. semua sudah sesuai maumu kan Nak” ucap sang ibu ketika melihat sang putra mendekatinya
Putranya kemudian mengangguk tanda setuju. “thanks Ibuu.. ini sangat perfect untuk Perempuan seperfect calon mantu Ibu” ucapnya kemudian yang membuat sang Ibu terkekeh kemudian mengangguk.
“cincin sudah kamu ambil kan” tanya Ibunya
“sudah,. Dia sudah dipoles kembali agar lebih berkilau. Cincin itu sudah terlalu lama menunggu untuk bertemu pemiliknya Bu.. dan akhirnya saat yang kami tunggu tiba. Semoga semua lancar sesuai harapan kita ya Bu” ucap Pria itu meminta do’a sang Ibunda dan otomatis diaamiin kan.
Pria itu kembali kekamarnya, duduk dimeja kerja kecil disudut kamar dekat jendela. Dia menarik laci dan mengambil sebuah kotak perhiasan dari dalamnya. Dielusnya kotak berwarna ungu itu, kemudian dibukannya yang ternyata isinya satu set perhiasan yang semua bermotif bunga mawar. Semua sengaja dia pesan dari desainer perhiasan ternama, yang bisa dipastikan hanya istrinya kelak satu-satunya yang memiliki perhiasan dengan desain seperti itu.
Diambilnya sebuah cincin dari kotak itu, sebuah cincin dengan bunga mawar kecil yang bertahta berlian putih. Ketika dilihat sekilas nampak seperti ada mawar putih kecil yang menghiasi sebuah cincin emas.
“indah sekali…” ucapnya sambil tersenyum membayangkan dia memakaikan cincin itu dijari manis calon istrinya esok.
Setelah lama pikirannya berkelana, dia memasukan kembali kotak perhiasan itu kelaci kemudian menguncinya.
Dihempaskan badannya kekasur besar dikamarnya. Entah, seperti ada sedikit kekhawatiran yang menggelayuti hatinya namun dia tidak tau itu apa. Dia menarik nafas panjang dan beristighfar untuk menenangkan perasaannya hingga akhirnya tertidur.
***
Kembali ke kediaman Lau yang sudah sangat ramai oleh anggota keluarga yang sudah mulai berdatangan hanya sekedar menyapa tetua dan menggoda Lau.
Terdengar teriakan Deinan mengetuk-ketuk pintu kamar Lau. Bocah itu tidak sabaran karena ingin ketemu dengan onty cantik dan Maminya yang sedari sore tidak dia temukan.
“Mamii.. please open.. tok..tok…tokk…” lengkingan teriakan bocah kecil itu lama-lama membuat pegel telinga. Dia kesal karena dari tadi tidak dibukakan pintu, apalagi para eyang buyutnya dari tadi tidak mengizinkan dia pergi dari sisi mereka.
“Ceklekkk…” suara pintu yang terbuka membuat mata bocah itu berbinar dan menghamburkan pelukannya kearah maminya.
Lau terkekeh melihat adegan itu “ya Allah Dei.. kayak setahun nda ketemu mami aja.. nda kangen sama onty juga kah ?” tapi yang diledek hanya tersipu malu kemudian berlari memeluk Onty cantiknya.
Kehadiran ponakan kecilnya itu selalu membuat moodnya kembali membaik, Lau tersenyum dan kemudian mengikuti langkah kecil bocah itu yang sudah menarik tangannya untuk mengikutinya ke lantai bawah bergabung makan malam bersama yang lainnya.