Jika hanya, " DIA " yang engkau cintai. Lantas, mengapa kau libatkan diriku di antara kalian. Yang bahkan tidak pernah sedikitpun kau perhatikan dan berakhir kau tinggalkan.
" Mas !, Sakinah Mawadah Warahmah. Semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan, keberkahan untuk keluarga kalian." Namun dibalik senyum tulusnya, tak seorangpun mengetahui kehancuran jiwanya.
Zalfa meninggalkan tempat tersebut tanpa ada yang mengetahui luka yang sangat amat dalam, pada lubuk hatinya. Berlari sejauh mungkin berharap tidak akan pernah lagi untuk bertemu dengannya.
Rintikan air yang mulai turun membasahi bumi, menyatu dengan tangis pilunya. Menyelimuti akan keadaannya.
Zalfa Alesha Banafsha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ffyyynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Memulai Lembaran Baru
Perjalan sepasang pengantin baru itu diselimuti dengan keheningan mencekam, tiada yang ingin memulai percakapan diantara mereka.
Khanza yang merasakan ada ketidak beresan juga tidak dapat mengutarakannya, dan sampai sekarang ia bahkan masih belum mengerti dengan semua ini.
Dan sekarang langkah yang dapat iya ambil hanyalah berdiam diri, menunggu akan suaminya sendiri yang akan memberitahukan semuanya nanti.
" Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi kenapa semuanya seperti ini....?"
" Apa yang sebenarnya telah terjadi diantara mas Azzam dengan kedua orangtuanya....?"
" Kenapa mereka tidak menerima kedatangan kami...?"
" Atau memang telah terjadi kerenggangan diantara mereka sebelum ini....?"
" Ya Allah, maaf kan dosa-dosa suami hamba."
" Namun aku juga tidak akan ikut campur dalam masalah ini, biarkan mas Azzam yang menyelesaikan masalahnya sendiri."
" Dan biarkan aku yang akan selalu disisinya."
*****
" Alhamdulillah, akhirnya sampai rumah."
" Oh iya mas, karena kita belum sempat sarapan tadi pagi. Pasti sekarang mas Azzam lapar kan...?"
" Nah sekarang, mas mau makan apa....? Khanza akan membuat sarapan spesial untuk mas,." ucap Khanza dengan semangat, mengingat hari ini adalah hari kedatangannya di rumah yang dulu sangat ia impikan.
" Aduh Khanza sampe lupa, kalau sekarang sudah beranjak siang jadi bukan sarapan lagi jadinya, tapi makan siang." celotehan-celotehan yang tak berjeda Khanza serukan semata-mata untuk memberikan hiburan kepada suaminya.
Dan kenyataan akan perpisahan mereka dulu, nyatanya bukanlah sebuah penghalang akan kehidupan mereka berdua.
Hari ini juga sebenarnya adalah hari kepulangan mereka ke kediaman Azzam, yang notabenenya rumah yang telah Azzam persiapkan dulu untuk dirinya dengan Khanza. Ya.... rumah ini adalah rumah impian Khanza sebelumnya. Sebelum ia memutuskan untuk pergi mengasingkan diri dan menjauhkan dirinya dari Azzam.
Namun tanpa dia ketahui kenyataannya, bukan ia yang pertama kali memasuki rumah impiannya ini melainkan madunya yang sampai sekarang pun tidak pernah ia ketahui.
🌼🌼🌼
Siang telah berganti malam, mengiringi perjalanan Zalfa yang kini sedikit menemukan ketenangannya.
Kebersamaan dengan keluarganya adalah salah satu obat yang paling ampuh untuk menenangkan pikiran dan batinnya sekarang.
Kenyataan yang tidak pernah terlintas dipikirannya, kini juga dikit demi sedikit ia ikhlaskan. Walaupun rasa sakit yang teramat dalam masih saja menyesakkan dadanya, tapi dia akan terus mencoba untuk mempertahankan hidupnya.
Demi buah hatinya dan kehidupannya.
" Sayang, kamu sehat-sehat ya nak disana. Ummah akan dengan sabar menunggu kedatangan mu disini, disisi ummah,."
" Mari kita bertahan bersama-sama, dan kita hidup bersama selamanya."
Dengan penuh kasih sayang Zalfa mengelus perutnya yang kini sedikit membuncit, memberikan kehangatan kepada sang buah hati yang tumbuh atas izin Allah di dalam sana.
Mulai hari ini juga, Zalfa akan bertempat tinggal di rumah Abah nya. Kembali seperti semula menjadi dirinya sendiri, di kehidupannya yang penuh dengan kebahagiaan yang menyertainya.
*****
Tok... tok... Tok....
" Assalamualaikum,"
" Dek.... ayo kita makan malam dulu, mba udah nyiapin makanan kesukaan kamu loh."
" Waalaikumsalam, kok mba gak bilang-bilang sih. Kan Zalfa bisa bantuin."
" Mba gak mau kamu kecapean fa, sekarang kamu focus dulu untuk istirahatnya ya. Nanti kalo kamu udah bener-bener sehat, kamu bisa bebas buat lakuin hal sesuka kamu, tapi untuk sekarang jangan dulu ya."
Dengan perasaan berat Zalfa mengangguk, mengiyakan ocehan Zia.
" Yaudah ayo, Abah sama mas Dzaki udah nungguin diruang makan."
Mereka pun bergabung bersama Abah dan Dzaki untuk melangsungkan makan malam mereka.
Suasana kebersamaan yang sebelumnya sempat hilang di kehidupan sehari-hari Zalfa, kini kembali seperti semula mewarnai hari-harinya. Dengan saling memberikan kasih sayang, memberikan rasa cinta, dan kehangatan yang berharap akan abadi selamanya.
Tapi kita tidak tahu kehendak tuhan yang akan terjadi, karena semuanya telah diatur oleh sang maha memiliki.
🌼🌼🌼
" Bunda.... Bunda makan yuk!!"
" Bunda sedari tadi belum makan loh, kasihan bundanya juga kalo gak makan,"
" Nanti ayah sama Nasya gimana, kita cuman punya bunda sekarang." bisik Nasya, yang masih terus berusaha untuk membujuk sang ibunda untuk segera memakan makanannya.
Semenjak kedatangan Azzam tadi pagi, bunda Ghina hanya terus merenung tanpa ingin berinteraksi dengan siapapun. Makan dan minum juga turut beliau lewatkan, tanpa memperdulikan kesehatannya.
Berbeda dengan Ayah, yang kini telah menerima keadaan yang ada. Walaupun perasaan kecewa yang teramat dalam tengah menguasai dirinya, namun beliau hanya dapat menerima dengan lapang dada.
Tetapi beliau tidak akan pernah memaafkan perbuatannya.
Sedangkan Nasya, perasaan bencinya bertambah kalut setelah mereka dengan berani menyakiti perasaan kedua orangtuanya.
Hingga tiada sedikitpun celah untuk Azzam dan Khanza di sana.
" Bunda....."
" Apa yang harus Nasya lakukan, agar bunda mau memakan makanan bunda."
" Nasya akan berusaha sebisa mungkin, untuk menuruti apa yang bunda inginkan sekarang." lagi, tanpa ingin berhenti untuk terus membujuk sang ibunda. " Nasya tau bun, perasaan bunda sekarang bagaimana Nasya tau. Tapi bunda gak bisa kalau harus meninggalkan makan, terlebih kalau bunda mau mogok makan."
" Nasya gak mau bunda kenapa-napa....!!"
" Baiklah, kalau memang keputusan bunda sudah bulat untuk melakukan ini, Nasya berangkat ke Mesir sekarang juga."
" Zalfa, bunda mau ketemu Zalfa sekarang,." lirih bunda Ghina, dengan suaranya yang terdengar bergetar dan pelan.
Perasaan sesak yang dengan cepat menjulur ke seluruh tubuhnya, kian menyakiti perasaannya.
Mendengar nama Zalfa dari sang ibunda, membuat Nasya kian terpuruk atas rasa sakit yang Zalfa rasakan.
Merasa kecewa dengan dirinya sendiri, yang telah gagal mempertahankan rumahtangga Abang dan istrinya, bahkan melukai batinnya.
Seorang wanita ayu nan lugu itu, dengan tanpa berperasaan disakiti jiwa dan batinnya dihadapannya sendiri tanpa adanya empati.
Airmata Nasya dengan cepat meluap membasahi pipinya, mengingat kembali bagaimana keadaan kakak iparnya yang dengan tegar menghadapi ujiannya.
Bagaimana keadaannya sekarang......?
Dia baik-baik saja kan....?
Cukup lama mereka tenggelam dalam perasaan mereka masing-masing. Hingga dimana bunda kembali berucap, " Tolong bawa bunda menemui menantu bunda, nak."
" Bunda hanya ingin menemui satu-satunya menantu bunda, Zalfa Alesha Banafsha."
" Baik, Nasya akan bawa bunda menemui mba Zalfa tetapi dengan syarat,."
" Bunda harus sehat, bunda makan, dan bunda harus bangkit dari keterpurukan ini."
" Sembari mencari informasi keberadaan mba Zalfa, bunda harus janji sama Nasya dan ayah untuk memenuhi syarat-syaratnya."
" Bagaimana....?, bunda janji....?"
" Insyaallah, bunda akan mencobanya." ucapan itu dengan disertai helaan nafas panjang yang menyesakkan.
🌼🌼🌼
" Fa, kamu udah mau tidur.....? "
" Belum kok mba, Zalfa masih mau bersihin kamar dulu. Mengingat sprei nya, terakhir Zalfa ganti sudah beberapa bulan yang lalu."
" Perlu bantuan mba....?" tawar Zia yang kini turut membantu melepaskan sprei Zalfa yang kotor. "Makasih ya mba, Zalfa bisa sendiri kok pasangannya. Zalfa gak papa,."
" Mba juga harus istirahat sekarang, setelah seharian ngurusin Zalfa, Abah, dan suami mba. Pasti bak juga lelah."
" Mas Dzaki juga sekarang butuh perhatian mba, kasian mas Dzaki nya."
" Mba tenang aja, Zalfa akan baik-baik saja,." dengan berat hati, Zia mengangguk mengiyakan perkataan Zalfa. " Kalau begitu, mba pulang dulu ya."
" Iya, mba ..."
...--------------------------------...
...Alhamdulillah, akhirnya aku bisa update juga!!!!...
...Setelah perjuangan aku mencari celah dri padatnya kelas, dan hari ini akhirnya aku bisa memperjuangkan naskahku ini 😭😭....
...Btw, aku terbesit untuk membuat cerita baru dengan latar belakang pesantren dan dunia malam. But, aku masih bimbang untuk melakukannya....
...Menurut kalian bagaimana.....?...
...Apakah aku harus menyelesaikan naskah ini dulu, atau memadu naskah ini dengan naskah yang baru 😭🥺....
...Tapi aku merasa kemaruk banget taukkkkk...
...( Plis berikan saran dong guys 🙏🏻🙏🏻 )...
...Follow Ig author: ffyyynn_...
Note: Disclaimer mungkin setelah ini aku akan menghilang lagi selama 1 Minggu 🙃.