Seorang Gadis yang sangat tidak suka dengan lelaki sombong, angkuh dan juga penuh dengan rahasia, Tiba-tiba saja harus bertemu dengan seseorang yang memiliki sifat yang sama persis. Dan yang lebih parah, Sherin Mengenal lelaki tersebut dan pernah memiliki masalah dengan dirinya di masa lalu.
tapi bagaimana jika tiba-tiba lelaki itu harus menjadi jodohnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Zzar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 (Pelukan hangat)
Kedua pasangan suami istri itu masih setia dengan posisi mereka masing-masing. Walau mentari sudah menampakkan dirinya, itu tak membuat Sherin dan Bram merasa terganggu. Sherin dengan tak sadar melingkarkan tangannya ke perut Bram. Sebagian Tubuh wanita itu bahkan sudah berada di atas tubuh Bram.
drt...drt.. Dering ponsel Bram membuat Sherin terganggu. Wanita itu menerjapkan matanya perlahan, Rasanya ia ingin melempar ponsel yang menyebalkan itu. Sherin membuka matanya sempurna, namun sedetik kemudian wanita itu segera menutup mulutnya.
"Sial... Tangan ku sungguh menyebalkan." gerutu Sherin pelan.
Sherin mencoba menarik tangannya perlahan, namun sialnya, mata Bram mulai terbuka perlahan. Akhirnya Sherin terpaksa menghentikan tangannya itu. "harusnya semalam aku tidak usah naik ke kasur. mau di taruh dimana muka ku sekarang hiks" batin Sherin menangis.
...FLASHBACK...
setelah selesai makan, Sherin dan Bram segera naik ke atas kamar. Sherin yang awalnya ingin tidur di kamar mommy nya harus mengurungkan niatnya. Dirinya terlalu parno karena kejadian pagi tadi. Akhirnya Sherin masuk ke dalam kamarnya, tetapi ia terpaksa tidur di sofa karena Bram telah menguasai seluruh tempat tidur.
Saat pukul dua pagi, Sherin terpaksa bangun karena dinginnya kamar itu membuat tubuhnya menggigil. Dan sialnya lagi ia tak mendapat remot AC miliknya, jadi jalan satu-satunya ia terpaksa naik ke kasur bersama dengan Bram. Selimut yang di gunakan Bram terlalu menarik perhatiannya.
"ingat Sherin, kau harus bangun sebelum lelaki ini bangun. Jika tidak, kau akan malu seumur hidup mu" gumam Sherin sebelum masuk kedalam selimut.
...FLASHBACK OFF...
Bram merasa sesuatu menimpa perut nya. lelaki itu menoleh ke arah samping, dan benar saja wanita yang berstatus sebagai istrinya itu tengah memeluk dirinya.
"mati kau Sherin! tamat sudah riwayat mu." batin Sherin panik. Wanita itu sungguh ingin menghilang sekarang juga.
Bram mencoba memindahkan tangan Sherin dari atas perutnya secara perlahan. namun ia merasa aneh karena tangan Sherin sangat berat. Bram tersenyum tipis dan akhirnya menyerah.
"pindahkan tangan mu. Aku tahu kau hanya berpura-pura tidur" Celetuk Bram.
"hiks... Apa yang harus kulakukan sekarang?" ucap Sherin dalam hatinya.
sesaat kemudian, Sherin tiba-tiba merenggangkan tubuhnya selayaknya orang yang baru bangun dari tidur. Wanita itu berbalik dan segera turun dari tempat tidur.
"hoam.. Pagi yang indah. Hai, good morning" ucap Sherin seraya tersenyum kaku ke arah Bram. "wah, kenapa aku bisa tidur di sini? Apa semalam kau mengangkat ku? Lanjutnya.
Bram tak menjawab pertanyaan aneh Sherin. Lelaki itu segera meraih ponsel nya yang dari tadi mengganggu gendang telinganya. "baiklah, aku akan menyusul mu" ujar Bram sebelum menutup panggilan itu.
"kau kenapa masih berdiri disitu? Cepat siapkan pakaian ku" titah Bram singkat. Lelaki itu memang tak ada lembut-lembutnya sama sekali. setelah itu, Bram segera bergegas untuk mandi, karena sebentar lagi ia harus menuju salah satu hotel untuk meeting.
"kapan kau akan pulang ke rumah mertua mu?" Tanya Gigi penasaran. Wanita itu sudah hampir 3 jam di kediaman Sherin. Tentu saja ia datang berdua dengan baby lucu nya.
Sherin yang tengah asik bercanda dengan Aura, tak menghiraukan ucapan sahabatnya yang ada di sampingnya itu. "SHERIN! Aku sedang bertanya kepada mu" kesal Gigi seraya mengambil alih sang baby.
"ih kau ini. aku juga tidak tahu. sebenarnya aku sedikit tidak nyaman di rumah ku. Kau tahu sendiri bukan kejadian kemarin" Keluh Sherin. Gigi mengangguk paham.
"Rin.. Apa menurut mu kejadian yang menimpa mu itu tidak aneh? Maksud ku, sepertinya kejadian ini sudah di rencanakan" ujar Gigi.
"Direncanakan?" jawab Sherin tak paham. Wanita itu mengerutkan dahinya bingung.
"Begini, coba kau fikir. Pria itu masuk kedalam rumah mu ketika tidak ada siapapun. Dia datang di hari Mommy mu berangkat. Dia tahu kalau kau hanya sendiri di rumah. Apa kau tidak merasa aneh?"
Sherin yang mendengar ucapan Gigi mengangguk setuju. Ucapan sahabatnya itu ada benar nya juga. apalagi pria itu mengatakan cinta kepadanya, itu berarti dirinya sudah diperhatikan sejak lama.
"Terror! Bunga, makanan, tikus!!! SHERIN!!" Ucap Gigi tiba-tiba. Sherin menoleh ke arah Gigi dengan mata yang melotot sempurna. "selama ini kau telah salah paham kepada Bram. Yang meneror mu bukan Bram, tapi pria itu" lanjut Gigi.
Sherin tidak bisa mengatakan apapun setelah mendengar penuturan Gigi. Dirinya mulai mengingat hadiah-hadiah yang di terima nya selama ini. Benar juga, Tak ada nama ataupun alamat dari si pengirim selama ini. Namun dirinya tetap teguh dengan pendiriannya jika yang meneror dirinya adalah Bram.
"ini tidak benar. Kita harus melaporkan pria itu ke pihak berwajib. Dia sudah keterlaluan kepada mu Rin." ucap Gigi kembali.
"Tunggu, Tunggu dulu. menurut mu apa Bram bisa melakukan hal serendah ini?"
"SHERIN?! Apa maksud mu? pertanyaan macam itu?" tentu saja Kak Bram bukan lelaki seperti itu. sudah, jangan berfikir yang tidak-tidak kepada suamimu." kesal Gigi.
"kenaka kau jadi marah kepadaku? Aku kan hanya bertanya"
"pertanyaan mu sunggu tidak berbobot. Lebih baik kau pulang saja ke rumah mertua mu. Terlalu bahaya jika kau sendirian disini. Aku juga harus segera pulang, kasian Aura jika lama-lama diluar."
Sherin akhirnya mendengar ucapan Sahabatnya itu. Sebelum pulang, Sherin meminta Gigi untuk membantunya membereskan pakaiannya. Ia juga meminta Gigi untuk pulang secara bersamaan.
"aku akan pulang. Kau langsung saja ke rumah, pakaian mu sudah aku bawa" Tulis Sherin di ponsel genggamnya itu. Sepertinya dia tengah mengirim pesan kepada Bram.
"ayo, semua sudah selesai kan?" ajak Gigi.
Kedua wanita itu akhirnya meninggalkan halaman rumah. Sherin mengendarai mobilnya sendiri, sedangkan Gigi dijemput oleh supir.
Setelah sampai di kediaman mertuanya, Sherin segera bergegas ke kamarnya. Wanita itu merebahkan tubuhnya seraya memikirkan ucapan Gigi. Bagaimana jika dirinya selama ini memang di terror oleh orang lain? Bukankah dirinya harus berlutut di hadapan Bram? Mengingat ia selama ini selalu memamaki Bram ketika dia mendapatkan hadiah-hadiah aneh itu.
"AHKK...SIAL SIAL!" teriak Sherin frustasi. Sherin benar-benar kesal.
"sayang, kau kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya sang mertua yang tiba-tiba muncul di dalam kamarnya.
Sherin segera bangun ketika melihat mama Julie masuk kedalam kamar nya. Wanita itu tersenyum kaku seraya menjelaskan bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi. "Sherin tadi kaget melihat ada kecoa" ujarnya.
"kecoa? Di rumah ini ada kecoa? Ya ampun, menjijikkan sekali. kau segeralah keluar, biar mama menyuruh para pelayan untuk menangkap nya."
"ma, tidak usah. Biar Sherin sendiri yang menangkapnya. Lebih baik Mama sekarang istirahat" ucap Sherin seraya mendorong pelan tubuh sang mertua untuk keluar dari kamar nya.