Di sebuah dunia di mana bakat menentukan derajat manusia, Ma Chen hanyalah seorang Kultivator biasa yang hidup dalam bayang-bayang para jenius. Namun, ketika sebuah takdir yang tak terduga menyeretnya ke dalam pusaran konspirasi langit, ia terpaksa menempuh perjalanan untuk mendefinisikan ulang arti kekuatan yang sesungguhnya.
Di tengah godaan kekuasaan dan kepalsuan dunia, Ma Chen harus mempertaruhkan nyawa dan integritasnya demi sebuah kejujuran yang mampu mengguncang fondasi dunia kultivasi. Mampukah kemurnian hati seorang manusia biasa melampaui batasan bakat yang telah digariskan oleh semesta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Sisi Dari Koin yang Sama
Dua bulan adalah waktu yang singkat bagi seorang kultivator, namun bagi Ma Chen, dua bulan terakhir terasa seperti ditempa di dalam tungku alkimia yang menyala-nyala. Tidak ada teknik megah yang turun dari langit. Tidak ada gulungan rahasia tingkat tinggi yang diberikan secara cuma-cuma. Lan Wenhao adalah guru yang pragmatis, bahkan cenderung kejam dalam kesederhanaannya.
Ma Chen duduk bersila di atas batu datar di belakang paviliun. Keringat mengucur deras, membasahi jubah abu-abunya yang mulai tampak kusam. Di dalam tubuhnya, aliran Qi bergejolak, lebih padat dan lebih stabil dari sebelumnya. Dia baru saja menembus Qi Gathering Level 8.
Lan Wenhao berdiri tidak jauh darinya, menyilangkan tangan di dada dengan ekspresi datar. Pria tua itu tidak memujinya. Dia hanya mengamati bagaimana Ma Chen mengonsolidasikan energinya.
"Kau merasa kuat?" suara Lan Wenhao memecah keheningan.
Ma Chen membuka mata. Napasnya teratur. "Saya merasa lebih stabil, Master. Fondasi saya terasa lebih berat."
"Bagus. Teknik Human Grade yang kau miliki bukan sampah jika kau tahu cara menggunakannya. Kebanyakan orang gagal karena mereka terlalu terburu-buru mengejar teknik Earth Grade atau Heaven Grade, sementara mereka bahkan tidak tahu cara mengalirkan Qi secara efisien ke ujung jari mereka sendiri."
Selama sebulan ini, Lan Wenhao hanya memaksa Ma Chen mengulang-ulang gerakan dasar dan solidifikasi kultivasi. Mempertajam setiap pukulan, memperhalus setiap langkah kaki, dan memastikan pemahaman Ma Chen tentang struktur Qi mencapai tingkat yang intuitif.
Bagi Ma Chen, ini adalah penyiksaan yang membosankan, namun hasilnya tidak bisa dibantah. Kekuatannya sekarang jauh lebih murni dan kuat dibandingkan sebelumnya.
Namun, gangguan terbesar dalam latihan Ma Chen bukanlah rasa lelah, melainkan sosok yang seringkali bersembunyi di balik pilar kayu atau pohon persik di dekat sana.
Lan Xinyu.
Gadis itu adalah kontradiksi berjalan. Sebagai seorang jenius di Qi Gathering Level 10, dia seharusnya menjadi sosok yang anggun dan berwibawa. Namun, belakangan ini, sikapnya berubah drastis.
Sore itu, Ma Chen memutuskan untuk memasak di dapur kecil samping paviliun. Aroma tumis sayur dan daging kering mulai memenuhi udara. Tiba-tiba, pintu dapur terbuka sedikit. Sepasang mata mengintip dari balik celah.
Ma Chen menghela napas tanpa menoleh. "Masuklah, Nona Xinyu. Aku tahu itu kau."
Pintu terbuka lebar dengan sentakan kasar. Lan Xinyu masuk dengan wajah yang berusaha keras untuk terlihat tidak peduli, meskipun pipinya sedikit memerah. "Aku hanya lewat. Kebetulan aku lapar. Jangan berpikir yang macam-macam."
Ma Chen menyajikan sepiring nasi dan lauk di atas meja kayu. "Tentu saja. Kebetulan yang sangat tepat waktu, mengingat ini sudah hari kelima Nona Xinyu lewat di jam yang sama."
Xinyu duduk dengan kaku, mengambil sumpit, dan mulai makan dengan lahap. Keangkuhannya seolah menguap bersama uap panas dari makanan tersebut. Ma Chen hanya memperhatikannya dari sudut mata. Dia merasa aneh.
Xinyu yang biasanya dingin kini tampak jauh lebih melunak. Bahkan, dia sering mendapati gadis itu mengikutinya saat dia sedang bermeditasi di hutan belakang, bersembunyi di balik semak-semak yang bahkan tidak bisa menutupi seluruh sosoknya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Xinyu, mulutnya penuh dengan nasi.
"Tidak ada," jawab Ma Chen tenang. "Hanya saja, aku heran kenapa Nona Xinyu sering sekali tersandung belakangan ini."
Wajah Xinyu memerah padam. "Aku tidak tersandung!"
"Tadi pagi, saat kau mengikutiku ke sungai, kau tersangkut akar pohon dan hampir jatuh ke air. Jika aku tidak menangkapmu, jubahmu pasti sudah basah kuyup."
Xinyu membanting sumpitnya ke meja, meskipun tidak keras. "Itu karena ... karena tanahnya tidak rata! Sebagai kultivator tingkat tinggi, aku sedang menguji keseimbanganku dalam kondisi ekstrem!"
Ma Chen menatapnya datar. "Kondisi ekstrem di jalan setapak yang rata?"
"Diam dan makan saja!"
Ma Chen kembali fokus pada makanannya, namun pikirannya mulai berkelana. Dia bukan orang bodoh. Observasinya cukup tajam untuk menyadari bahwa perilaku Xinyu sangat tidak wajar. Seorang Qi Gathering Level 10 tidak akan melakukan kesalahan amatir seperti itu kecuali pikirannya sedang kacau.
'Mungkinkah dia menyukaiku?'
Pikiran itu melintas sejenak, namun segera dibuang jauh-jauh oleh Ma Chen. Dia melihat bayangannya sendiri di permukaan air teh. Wajahnya biasa saja. Bakatnya, meski meningkat, masih jauh di bawah para jenius sejati. Dia merasa seperti orang yang akan segera hilang di tengah kerumunan jika dia berhenti bicara.
Dibandingkan dengan Kong Gui yang memiliki aura protagonis yang kental, Ma Chen merasa dirinya hanyalah figuran yang beruntung. Kong Gui adalah sosok yang tampan, berbakat, dan memiliki karisma yang memikat wanita seperti Ju Mingyu. Sementara dirinya? Dia hanya Ma Chen.
:Mungkin dia hanya kasihan padaku karena aku murid baru kakeknya,' pikir Ma Chen menutup kesimpulan.
Dua hari kemudian, Ma Chen merasa konsolidasinya sudah cukup. Dia merasa jenuh dengan rutinitas di dalam paviliun. Dia membutuhkan sesuatu yang lebih nyata untuk menguji kemampuannya. Dia mendatangi Lan Wenhao yang sedang meminum teh di beranda.
"Master, saya ingin meminta izin untuk keluar mengambil misi di Paviliun Misi," ujar Ma Chen sambil membungkuk hormat.
Lan Wenhao meletakkan cangkirnya. "Misi? Kau baru saja menembus level 8. Kenapa terburu-buru?"
"Saya butuh Poin Kontribusi untuk menukar beberapa sumber daya di masa depan. Selain itu, saya butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari. Saya tidak ingin terus merepotkan Master."
Lan Wenhao menaikkan alisnya. "Uang? Kau bisa memintanya langsung padaku. Aku tidak semiskin itu sampai tidak bisa memberi makan satu murid."
Ma Chen menggeleng pelan. "Terlalu bergantung pada Master hanya akan menumpulkan insting saya. Saya perlu mengasah kemampuan saya dengan pengalaman nyata di luar sana. Teori dan latihan di sini sangat membantu, tapi darah dan keringat di lapangan adalah guru yang berbeda."
Mendengar itu, Lan Wenhao terdiam sejenak. Sebuah senyum tipis, hampir tidak terlihat, muncul di wajahnya. Dia menyukai harga diri muridnya ini.
"Begitu ya. Baiklah."
Lan Wenhao kemudian menoleh ke arah pilar besar di sisi kiri. "Xinyu, berhenti bersembunyi di sana. Keluar."
Xinyu muncul dengan wajah cemberut, seolah tertangkap basah melakukan sesuatu yang memalukan. "Ya, Kakek?"
"Kau dengar itu? Ma Chen ingin keluar melakukan misi. Kau akan menemaninya."
Ma Chen terkejut. "Tunggu, Master. Saya tidak ingin membebani Nona Xinyu. Perbedaan kekuatan kami terlalu jauh. Saya hanya akan menjadi penghambat baginya."
Xinyu juga tampak panik, meskipun alasannya berbeda. "Kakek! Kenapa aku harus ikut? Dia bisa menjaga dirinya sendiri, kan? Lagi pula, aku punya ... urusan lain!"
Lan Wenhao mendengus, matanya berkilat jahil. "Urusan apa? Mengintip orang memasak? Atau belajar cara tersandung di jalan rata?"
Pipi Xinyu memanas hingga ke telinga. "Kakek!"
"Sudahlah. Keputusanku sudah bulat," Lan Wenhao berdiri, menatap mereka berdua bergantian. "Ma Chen, kau bilang kau butuh pengalaman nyata. Anggap saja membawa Xinyu adalah bagian dari misi itu. Dia kuat, tapi dia ceroboh. Kau teliti, tapi kau masih lemah. Kalian adalah kombinasi yang menarik."
Lan Wenhao kemudian mendekat ke arah Ma Chen dan membisikkan sesuatu yang cukup keras untuk didengar Xinyu juga. "Hati-hati, Ma Chen. Terkadang binatang buas yang paling berbahaya bukan ada di hutan, tapi ada tepat di sebelahmu, menyamar sebagai gadis pemalu yang siap menerkammu kapan saja."
Ma Chen mengerutkan kening, mencoba mencerna teka-teki itu. Binatang buas? Apa maksud Master adalah Xinyu memiliki kekuatan tersembunyi yang bisa lepas kendali? Dia melirik Xinyu yang sekarang menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tampak ingin menghilang dari muka bumi.
Sebagai orang yang merasa dirinya sangat sadar diri, Ma Chen segera menarik kesimpulan yang paling logis menurut versinya. Oh, Master pasti bermaksud bahwa aku harus waspada agar tidak terlalu bergantung pada perlindungan Xinyu. Ini adalah bentuk latihan mental agar aku tetap waspada meski ada orang kuat di sisiku.
"Saya mengerti, Master. Ini adalah bentuk latihan bersama. Saya akan memastikan untuk tetap waspada dan tidak membiarkan kehadiran Nona Xinyu membuat saya lengah," ujar Ma Chen dengan nada serius.
Lan Wenhao hampir tersedak ludahnya sendiri. Dia menatap Ma Chen dengan tatapan yang seolah mengatakan, Kau benar-benar bodoh atau terlalu suci?
Xinyu, di sisi lain, menurunkan tangannya. Wajahnya masih merah, tapi dia menatap Ma Chen dengan tatapan tajam yang campur aduk antara kesal dan tidak percaya. "Latihan bersama? Kau pikir aku ini beban latihanmu?"
"Bukan begitu, Nona Xinyu. Maksudku—"
"Lupakan! Ayo pergi sekarang sebelum aku berubah pikiran dan memukulmu!" Xinyu berbalik dan berjalan cepat menuju gerbang paviliun, langkah kakinya menghentak keras ke tanah.
Ma Chen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia membungkuk sekali lagi pada Lan Wenhao sebelum berlari kecil menyusul Xinyu.
Lan Wenhao memperhatikan punggung kedua anak muda itu sambil menghela napas panjang. Dia mengelus janggutnya, bergumam pelan pada dirinya sendiri. "Dunia ini memang adil. Dia memberikan satu pemuda jenius yang buta terhadap perasaan wanita, dan satu pemuda biasa saja yang kecerdasannya hanya berfungsi untuk hal-hal yang tidak penting."
Di tempat lain, di puncak gunung yang berbeda, Kong Gui mungkin sedang sibuk dengan urusan besar, dikelilingi oleh keajaiban dan takdir hebat, namun dia tetap tidak peka terhadap perasaan tulus Ju Mingyu yang selalu ada di sampingnya.
Sementara di sini, Ma Chen berjalan beberapa langkah di belakang Lan Xinyu, memperhatikan bagaimana gadis itu sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan dia masih ada di sana, namun Ma Chen hanya berpikir tentang misi apa yang paling efisien untuk mendapatkan uang paling banyak.
Mereka berdua, Kong Gui dan Ma Chen, benar-benar seperti dua sisi dari koin yang sama. Yang satu adalah jenius yang bodoh dalam hal hati, dan yang satu lagi adalah orang sederhana yang terlalu rasional sampai-sampai mengabaikan petunjuk yang sudah terpampang nyata di depan matanya.