Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi
Popularitas:27.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sagara: Dia Membawa Anakku

Kesibukan di dalam kantor perlahan berubah ketika laporan terbaru sampai di tangan Sagara. Beberapa karyawan yang sejak tadi menunggu hasil perhitungan akhirnya berkumpul di ruangannya.

Sagara duduk di balik meja kerja. Tatapannya tertuju pada layar komputer yang menampilkan grafik penjualan bahan mentah perusahaan. Angka-angka yang tertera di sana terus meningkat hingga mencapai jumlah yang bahkan membuat beberapa karyawan bersorak.

Seorang karyawan berdiri di hadapannya sambil membawa laporan.

“Pak, kita telah mencapai dua ratus triliun. Ditambah pemesanan batu bara dari Amerika dan Singapura, totalnya mencapai empat ratus triliun.”

Tatapan Sagara masih tertuju pada layar.

Beberapa detik kemudian, ia bangkit dari kursinya.

Tepuk tangan segera terdengar dari seluruh ruangan.

Sagara ikut menepukkan kedua tangannya beberapa kali, sekadar memberikan penghargaan atas kerja keras mereka.

“Pak, apa kita perlu mengadakan pesta perayaan?” tanya salah seorang karyawan.

Sagara terdiam sejenak.

Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu mengangguk tipis.

“Atur saja.”

Tatapannya menyapu seluruh karyawan di ruangan.

“Setelah itu, silakan lanjutkan pekerjaan kalian. Khusus hari ini, kalian boleh pulang lebih awal.”

“Terima kasih, Pak!”

Beberapa karyawan kembali bersorak kecil.

Sagara hanya mengangguk sebelum berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup di belakangnya.

Suara riuh yang tadi memenuhi ruangan perlahan menghilang, berganti dengan lorong kantor yang jauh lebih sunyi.

Langkah Sagara terdengar teratur di atas lantai marmer. Wajahnya tetap dingin tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.

Ia berjalan seorang diri menyusuri lorong panjang tersebut.

. . .

Setelah menyusuri lorong kantor, Sagara akhirnya tiba kembali di ruang kerjanya. Ia membuka pintu, lalu masuk tanpa banyak suara.

Langkahnya langsung menuju meja kerja.

Sagara mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja, kemudian meraih tas kerjanya. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, ia berbalik dan kembali melangkah menuju pintu.

Tangannya baru saja menyentuh gagang pintu ketika sebuah pikiran melintas di benaknya.

‘Ainun pasti sangat lapar.’

Langkahnya terhenti sesaat.

Ia teringat bagaimana wanita itu tidak makan sejak kemarin. Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Aku akan membelikan makanan kesukaannya,” gumam Sagara.

Ia membuka pintu dan keluar dari ruang kerja.

.

Beberapa menit kemudian, Sagara tiba di area parkir perusahaan. Ia berjalan menuju mobilnya, membuka pintu, lalu masuk ke kursi pengemudi.

Tas kerja diletakkan di kursi sebelah. Sagara mengembuskan napas pelan sebelum menyalakan mesin.

Deru mesin terdengar memenuhi area parkir yang mulai sepi.

Ia memasang sabuk pengaman, lalu menginjak pedal gas. Mobil bergerak meninggalkan pelataran perusahaan dan masuk ke jalan raya.

Beberapa saat kemudian, tangan Sagara terangkat. Tatapannya sekilas turun ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Setengah sebelas,” gumamnya. “Pas sekali untuk makan siang.”

Ia kembali memusatkan pandangan ke jalan.

Kakinya menekan pedal gas sedikit lebih dalam.

Mobil melaju menuju restoran yang biasa ia datangi.

Sagara membayangkan wanita itu duduk di meja makan sambil menikmati makanan yang dibawanya nanti.

.

.

Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Sagara akhirnya memasuki halaman rumah. Ia memperlambat laju kendaraan sebelum menghentikannya tepat di depan teras.

Mesin mobil dimatikan.

Sagara belum langsung turun. Tatapannya justru beralih ke kursi di sebelahnya.

Sudut bibir Sagara terangkat tipis.

Ia meraih paper bag tersebut, lalu membuka pintu mobil.

Begitu turun, Sagara menutup pintu dan melangkah menuju rumah dengan langkah ringan. Senyum tipis masih terukir di wajahnya.

Begitu memasuki ruang utama, pandangannya langsung menemukan Bi Ani yang sedang berada tidak jauh dari ruang makan.

“Bi,” panggil Sagara.

Bi Ani menoleh.

“Siapkan ini.” Sagara menyerahkan buket dan paper bag tersebut kepadanya. “Saya akan makan bersama istri saya.”

Bi Ani menatap barang-barang itu sesaat sebelum menerimanya.

“Baik, Pak.”

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Bi Ani segera membawa buket dan paper bag tersebut menuju dapur.

Sagara memperhatikannya sebentar sebelum mengalihkan pandangan ke arah lorong.

Kakinya kemudian melangkah menuju kamar Ainun.

. . .

Begitu tiba di depan kamar Ainun, Sagara langsung mengeluarkan kunci dari saku jasnya.

Tangannya baru saja memasukkan kunci ke lubang kunci ketika keningnya berkerut.

Pintu itu sudah terbuka. Sagara menatap gagang pintu beberapa saat. Tangannya perlahan turun.

“Aneh...” gumamnya. “Sepertinya kemarin sudah aku kunci.”

Rahangnya mengeras.

Sagara mendorong pintu itu perlahan. Namun, begitu pintu terbuka lebih lebar, ia justru mendorongnya dengan kasar.

Brak!

Pintu membentur dinding.

Sagara melangkah masuk. Pandangannya segera menyapu seluruh kamar.

Kosong.

“Ainun!” serunya.

Tidak ada sahutan.

Sagara melangkah lebih masuk. Matanya menyusuri tempat tidur, meja kecil.

Tetap tidak ada siapa pun.

“Ainun?”

Suaranya terdengar lebih rendah.

Ia kembali mengedarkan pandangan. Hingga akhirnya, sesuatu di atas meja menarik perhatiannya.

Sebuah kotak tergeletak di sana.

Sagara mendekat.

Tangannya terulur untuk mengambil benda tersebut. Matanya membaca tulisan pada kemasan itu.

“Susu ibu hamil?”

Tubuh Sagara seketika membeku. Jemarinya bergetar.

Ia membaca tulisan itu sekali lagi, berharap dirinya salah melihat.

Namun, tulisan tersebut tetap sama.

Napas Sagara tertahan. “Ainun...”

Kotak itu perlahan diremasnya. Jantungnya berdegup keras.

“Ainun hamil anakku?”

Pertanyaan itu keluar nyaris seperti bisikan.

Tatapannya turun pada kotak yang masih berada dalam genggamannya. Berbagai kemungkinan berputar begitu cepat di kepalanya hingga membuat dadanya terasa sesak.

Sagara mengangkat wajah. Tangannya mengepal. Tanpa membuang waktu, Sagara berbalik dan melangkah keluar dari kamar.

Langkahnya semakin cepat menyusuri lorong menuju ruang kerja. Kotak susu itu masih berada dalam genggamannya, diremas begitu kuat hingga kemasannya mulai penyok.

‘Dia pergi ke mana?’

. . .

Begitu tiba di ruang kerjanya, Sagara langsung menuju lemari besar di sudut ruangan. Tangannya meraih salah satu patung hiasan yang berada di atasnya, lalu menariknya ke arah tertentu.

Krek.

Lemari bergeser perlahan, memperlihatkan celah sempit di baliknya.

Sagara tidak membuang waktu. Ia segera masuk ke ruangan tersembunyi tersebut.

Beberapa layar masih menyala.

Tatapannya langsung tertuju pada layar yang menampilkan kamar Ainun dan keadaan di luar kamar Ainun.

Sagara melangkah mendekat. Tangannya meraih remote yang berada di atas meja, lalu menekan beberapa tombol untuk memutar kembali rekaman ketika dirinya tidak berada di rumah.

Layar menampilkan keadaan kamar yang masih sama.

Ainun terlihat duduk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya.

Beberapa saat kemudian, Bi Ani muncul di depan pintu.

Sagara menyipitkan mata. Netranya beralih ke arah layar yang menampilkan keadaan di dalam kamar.

Ia menyaksikan bagaimana Ainun perlahan berdiri dengan langkah tertatih. Percakapan antara Ainun dan Bi Ani terdengar jelas dari pengeras suara.

Kemudian, seorang pria paruh baya muncul di depan kamar.

Brak!

Pintu kamar didobrak.

Sagara menahan napas.

Rekaman terus berjalan. Percakapan antara Liona, Bi Ani, dan Ainun kembali terdengar silih berganti hingga akhirnya Ainun keluar dari kamar tersebut.

Sagara mengepalkan tangan.

“Sial!”

Ia mematikan layar dengan kasar, lalu berbalik meninggalkan ruangan tersembunyi itu.

Langkahnya cepat dan berat. Amarah yang sejak tadi tertahan kini mendidih di dalam dada.

Ia langsung menuju dapur.

. . .

Begitu melihat Bi Ani masih berada di sana, langkah Sagara berhenti.

“Pak Sagara...” Bi Ani menoleh.

Sagara berjalan mendekat tanpa menjawab.

Tangannya mencengkeram lengan wanita itu dan menariknya dengan kasar hingga Bi Ani kehilangan keseimbangan.

Bruk!

Tubuh wanita paruh baya itu tersungkur.

Sagara berdiri di hadapannya dengan rahang mengeras.

“Orang-orang mengenalku sebagai CEO berhati iblis.”

Bi Ani mendongak dengan wajah ketakutan.

“P-Pak, saya bisa menjelaskan.”

“JELASKAN APA?!”

Bentakan Sagara menggema di dapur.

Napasnya memburu. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.

“Berani sekali kamu!”

Bi Ani menundukkan kepala. “S-saya nggak tega, Pak.”

“Tidak tega?”

Sagara melangkah mendekat.

“Karena kamu tidak tega, kamu membuatnya kabur!”

Bi Ani mengangkat wajah dengan mata berkaca-kaca.

“Dan sekarang dia membawa pergi calon anakku!”

Wanita itu seketika terdiam.

“A-apa?” bibirnya bergetar. “Mbak Ainun hamil?”

Sagara mendengus. Tatapannya berubah semakin dingin.

Bi Ani buru-buru menggeleng.

“Pak, saya benar-benar minta maaf. Saya hanya—”

“Saya akan membuat putramu yang penyakitan itu tidak mendapatkan perawatan di mana pun.”

Wajah Bi Ani seketika pucat. “Pak, jangan...”

Ia merangkak mendekat, kedua tangannya terangkat memohon.

“Saya mohon, Pak. Jangan libatkan anak saya.”

Sagara tidak menghiraukannya. Tangannya masuk ke saku jas, lalu mengeluarkan ponsel.

Layar menyala di tangannya.

Bi Ani masih terus memohon dari lantai.

“Pak Sagara, saya mohon... Anak saya nggak tahu apa-apa.”

Sagara menatap layar ponselnya dengan wajah tanpa ekspresi.

Jemarinya mulai bergerak.

Tak lama kemudian, sambungan telepon itu tersambung.

“Halo, Pak Sagara. Ada yang bisa saya bantu?”

Sagara berdiri tegak dengan ponsel menempel di telinga. Tatapannya tetap tertuju pada Bi Ani yang masih terduduk di lantai.

“Saya cabut biaya pengobatan pasien bernama Umar Jaya,” ucapnya dingin.

Hening sejenak dari seberang sana.

“Anda yakin, Pak?”

“Lakukan.”

“Baik, Pak. Akan saya lakukan sesuai perintah Anda.”

Sagara langsung memutuskan sambungan telepon tanpa mengucapkan apa pun lagi.

Ia menurunkan ponselnya, lalu menatap Bi Ani dengan sorot mata yang semakin dingin.

“Jangan mengira karena kamu yang selama ini mengasuh saya, kamu bisa seenaknya melakukan sesuatu tanpa seizin saya.”

“Pak...” suara Bi Ani bergetar.

Sagara melangkah mendekat. Kakinya bergerak menendang tubuh wanita itu hingga terdorong menjauh dari hadapannya.

Ia tidak menunggu permohonan berikutnya.

Sagara berbalik dan berjalan menuju tangga. Satu per satu anak tangga dilewatinya dengan langkah berat, sementara amarah masih menguasai pikirannya.

Begitu tiba di kamar, ia menutup pintu dengan keras.

Tangannya segera menarik dasi yang melilit lehernya hingga terlepas. Satu per satu kancing kemejanya dibuka, tetapi pikirannya tetap tertuju pada satu hal.

Ainun.

Sagara melangkah menuju meja kerjanya. Tatapannya jatuh pada layar yang masih menyala. Jemarinya mengambil ponsel, lalu mencari satu nama di dalam daftar kontak.

Liam.

Panggilan tersambung beberapa detik kemudian.

“Halo, Pak...” suara Liam terdengar dari seberang.

“Lacak keberadaan Ainun.”

Sagara mencengkeram ponsel lebih erat.

“Wanita itu kabur dan membawa anakku.”

“Baik, Pak. Saya akan segera melacak keberadaannya.”

Sagara memutuskan panggilan.

Ponsel perlahan ia turunkan dari telinga. Tatapannya lurus ke depan, rahangnya mengeras.

Jemarinya mengepal di sisi tubuh.

Namun, ada satu nama lain yang terus berputar di kepalanya.

Liona.

Sagara mengangkat wajah. Tatapannya berubah semakin tajam.

“Sekarang tinggal kamu, Liona. Karena kamu sudah ikut andil membebaskan Ainun.”

1
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
falea sezi
bkin ainun cerai Thor 🤣🤣 laki menjijikkan hukum itu ya di hukum cambuk bukan hukum ngeweee😒
falea sezi
🤣🤣 kn emank bejat g akan bisa berubah
Datu Zahra
apaansih Sagara, jijik banget.
Datu Zahra
kebanyakan pelakor, Liona belom beres, nongol Alif. terlalu ruet
Ais
sebenarnya saraga sm bapaknya ini sm"hyper kayaknya jijik tp kok ditiduri jg perempuan yg udah nyakitin istrinya aku pikir alif pelacur ini bakalan disiksa dlm artian disiksa bnr bkn disiksa dlm tanda kutip trus laras lihat kejadiannya apakah laras jg bakalan jd mangsa sagara berikutnya kasihan ainun kata aku seh smoga ainun cepat tau jd bs kabur sm anaknya jng smp rantai setan ini jg mengikat prilaku aksara anak ainun mau sebaik apa ibunya klo bapaknya hyper dan iblis anak jg pst akan kebawa namanya buah ngak akan jatuh jauh dr pohonnya
merry
jgn bgtt ainum sm bu Lina sm dm disiksa,, trss di selingkuh in lgg,, cb mrk bersatu hancurin ank Bpk iblis itu,, bastian tdrin mantan mantu ya eee anky selingkuh dgn alif ud gk bs dijadiin suami itu,, curi kek yang bu Lina trs pergi keluar negeri gt
dika edsel: klo bisa ainun dibuat mati aja...sad ending lbh baik..,ini novel bner2 di luar logika org waras
total 2 replies
Ila Latifah
jangan sampai ainin menderita lagi hara2 si alif bkin ulah. kasian bu lina. mamamnya sagara
Ila Latifah
masih 1 tipe. banyak tokoh jahatnya
Ila Latifah
menjijikan. dimakan bapaknya untuk dimikahi anaknya. anak tiri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!