Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu. Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Mengambil Alih Kemudi
Pintu bus terhempas lebar. Di bawah naungan jaring energi Aether yang memendar abu-abu keperakan, rombongan arwah Armada 000 melangkah keluar dengan formasi rapat.
Tidak ada lagi kepanikan masal atau rintihan ketakutan. Di barisan paling depan, Damar berdiri memegang clipboard kayu dan Chrono-Compass, berdampingan dengan Mayor van Der Berg yang menghunus pedang perwiranya tinggi-tinggi.
Gabriel, yang melayang beberapa meter di atas pelataran batu benteng, tertawa sinis melihat pemandangan tersebut.
"Serangan balasan?" Gabriel mengibaskan tangannya, memutar tongkat peraknya dengan gerakan meremehkan. "Kau memimpin sekumpulan bangkai sukma tanpa sihir, Pemandu Fana? Agen! Sapu bersih mereka!"
Dua puluh agen taktis Eternity Horizon melangkah maju serempak. Mereka mengangkat senjata pemancar frekuensi dan pukat penyegel perak, siap mengepung rombongan Last Trip Express.
"Sekarang, Komandan!" teriak Damar kencang.
"Batalyon! Eksekusi Taktik Parit Tiga!" dentum suara Mayor van Der Berg menggelegar.
Atas petunjuk peta arsitektur kuno pada lembar itinerary yang telah dipelajari Damar dan sang Mayor, rombongan arwah tidak menerjang maju secara mentah. Sebaliknya, mereka membagi diri menjadi dua kelompok dan menyelam secara mendadak ke dalam lubang-lubang drainase bawah tanah benteng!
"Apa?!" jerit salah satu agen taktis musuh panik saat sasaran tembak mereka hilang menembus lantai batu.
Senjata frekuensi milik Eternity Horizon hanya bekerja efektif pada bidang datar terbuka. Di dalam lorong batu tebal bawah tanah, gelombang pemancar mereka terpental konyol, membentur dinding benteng tanpa mengenai satu pun hantu.
"Kelompok Satu! Marlina, Pak Indra! Tutup saluran udara sebelah barat!" perintah Damar melalui mikrofon pengarah bus yang frekuensinya terhubung dengan pendar Chrono-Compass.
Di bawah tanah, dipimpin oleh memori pertempuran van Der Berg, arwah para korban memanfaatkan debu dan jelaga hitam peninggalan perang seratus tahun lalu. Marlina dan Pak Indra menendang tumpukan abu gaib dari dalam celah drainase, meniupkannya keluar melalui celah pilar.
WUUUUUSH!
Kabut abu hitam yang sangat pekat meledak keluar dari lantai batu, memblokir jarak pandang dan mengacaukan sistem pemindai para agen musuh. Batuk-batuk gaib dan kepanikan melanda barisan Eternity Horizon.
"Gunakan pukat perak! Tembak acak!" teriak pemimpin agen musuh panik.
"Kelompok Dua! Pasukan Komando van Der Berg. Serang dari belakang!" pekik Damar.
Mayor van Der Berg beserta beberapa arwah berpostur tegap melompat keluar dari balik bayangan pintu gerbang kuno. Dengan gerakan disiplin militer yang sangat presisi, sang Mayor memimpin penyergapan jarak dekat. Tanpa menggunakan sihir, mereka memanfaatkan benturan emosional dan massa aura mati untuk memukul mundur para agen musuh.
BAM! BAM! CRASH!
Senjata-senjata frekuensi milik Eternity Horizon terlempar, hancur berkeping-keping dihantam pedang gaib van Der Berg dan terkangan kuat Pak Indra. Dalam hitungan tiga menit, barisan taktis musuh di pelataran runtuh total, kocar-kacir melarikan diri keluar dari area benteng.
Wajah Gabriel di udara berubah pucat pasi. "L-Leluasa sekali kalian ... Cratis! Pengawal! Hancurkan pemandu itu!"
Gabriel menghantamkan tongkat peraknya ke lantai batu. Dua sosok hantu algojo berukuran raksasa dengan rantai duri melompat turun dari menara benteng, meluncur deras menargetkan Damar yang berdiri tanpa pelindung di dekat pintu bus!
"Petugas Damar, awas!" jerit van Der Berg. Sang komandan mencoba berlari memotong, namun jaraknya terlalu jauh!
Damar tidak mundur selangkah pun. Matanya melirik ke arah empat pilar penyegel Aether yang menopang kubah energi. Pengetahuan teknis dari itinerary dan pemahaman emosionalnya bekerja secepat kilat di dalam kepala.
"Jaring Aether ini menyerap sihir," gumam Damar. Matanya menyala cerdik. "... tapi tidak bisa menahan lonjakan frekuensi emosi murni!"
Damar mengangkat Chrono-Compass di tangan kirinya, lalu menekan tombol frekuensi darurat pada alat pemancar mikrofon di tangan kanannya. Ia tidak merapalkan mantra sihir. Damar menyalurkan seluruh tekad, rasa empati, dan keberanian murni yang dirasakannya selama memandu para arwah ke dalam inti pemancar Chrono-Compass.
SINGGGGGGGGG!
Jam saku emas perak itu merespons resonansi emosi Damar, memancarkan gelombang cahaya putih keemasan yang sangat murni, bukan sihir buatan, melainkan energi kesadaran manusia yang tak terbatas.
"Semuanya! Salurkan rasa percaya kalian pada tur ini!" teriak Damar ke arah seluruh penumpang.
Marlina, Pak Indra, Mayor van Der Berg, dan belasan arwah lainnya mengangkat tangan mereka. Pendar kedamaian dan rasa hormat yang mereka miliki untuk Damar menyatu dengan gelombang cahaya Chrono-Compass.
Gelombang energi emosi murni itu meluncur deras bagaikan pilar cahaya raksasa, menghantam tepat di pilar penyegel Aether utama di sebelah utara.
BOOOOM!
Segel Aether buatan Gabriel tidak dirancang untuk memproses energi kesadaran emosional manusia. Pilar perak itu mengalami overload hebat, memercikkan arus listrik liar sebelum akhirnya meledak hancur menjadi serpihan kristal!
CRACK-SHATTER!
Kubah jaring Aether di atas benteng pecah berkeping-keping bagaikan kaca yang dihantam godam raksasa! Rantai-rantai perak yang mengikat Madam Helga seketika terputus dan lenyap menjadi debu.
"A-Apa?" jerit Gabriel tidak percaya saat tubuhnya terlempar mundur oleh gelombang kejutan emosi tersebut.
Di udara, Madam Helga yang terbebas mendadak membuka matanya. Sihir keemasan yang tadinya tersisa tipis kini meledak kembali dengan kekuatan sepuluh kali lipat lebih dahsyat, memancar dari gaun dan kipas sutranya.
"GABRIEL!" murka Madam Helga menggelegar, membelah langit malam Sektor Tiga.
Madam Helga mengibaskan kipas sutranya dengan satu gerakan anggun namun mematikan. Bilah sihir keemasan raksasa meluncur deras, menghancurkan tongkat perak di tangan Gabriel dan melemparkan Direktur Operasional Eternity Horizon itu hingga menabrak dinding batu benteng dengan keras.
BLAR!
Gabriel jatuh tersungkur di pelataran batu, batuk-batuk seraya memegangi dadanya yang memar gaib. Baju jas peraknya robek, dan seluruh agen taktisnya telah kabur melarikan diri.
Madam Helga mendarat perlahan di pelataran, melangkah mendekati Gabriel dengan kibasan selendang bulu hitamnya. Kipas sutranya terarah tepat di tenggorokan Gabriel, memancarkan pendar api emas yang siap membakar.
"Lari kembali ke pemilikmu di Eternity Horizon," desis Madam Helga dingin, suaranya dipenuhi ancaman mutlak. "Dan beri tau mereka ... jika ada satu lagi agen kalian yang menyentuh jalananku atau menyinggung pemandu turku ... aku sendiri yang akan meratakan kantor pusat kalian menjadi abu."
Gabriel menelan ludah dengan ketakutan luar biasa. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengaktifkan jimat teleportasi daruratnya dan lenyap dalam kepulan asap abu-abu yang hina.
Pelataran Benteng Tua Willem kembali hening. Perangkap telah patah sepenuhnya.
Mesin Bus 000 berdentum hidup kembali, memancarkan deru halus yang hangat. Lampu-lampu interior bus menyala terang, dan aura penindasan musuh telah menguap tanpa sisa.
Para penumpang hantu bersorak gembira. Marlina menari-nari kecil di udara, sementara Pak Indra bertepuk tangan kencang. Mayor van Der Berg berdiri di tengah pelataran, menyarungkan kembali pedang perwiranya seraya menatap Damar dengan rasa bangga yang tak terukur.
Madam Helga memutar tubuhnya perlahan. Ia melangkah mendekati Damar yang berdiri agak bersandar di pintu bus, napasnya masih terengah-engah karena kelelahan emosional.
Madam Helga berhenti tepat di hadapan Damar. Wanita anggun itu menutup kipas sutranya dengan dentang halus, menatap pemandu manusianya dari dekat.
"Kau ...," kata Madam Helga pelan, nadanya tidak lagi dingin, melainkan dipenuhi keheranan dan penghargaan yang tak tersembunyi. "... kau mematahkan segel Aether tanpa sihir, mengomandoi entitas militer, dan memimpin seluruh penumpang menyelamatkan agen ini."
Damar menyengir tipis, mengusap peluh di dahinya seraya memasukkan Chrono-Compass yang masih terasa hangat ke dalam saku kemejanya.
"Sudah saya bilang, kan, Madam?" ujar Damar dengan suara yang sedikit serak namun penuh keyakinan. "Tugas tour guide itu bukan cuma membacakan jadwal. Selama kita paham emosi dan kebutuhan penumpang kita, gak ada perangkap yang gak bisa kita tembus."
Madam Helga menatap Damar selama beberapa detik, lalu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman paling tulus dan menawan yang pernah diperlihatkannya.
"Rencana yang tidak buruk, Pemandu Damar," puji Madam Helga lembut. Ia berbalik, mengibaskan gaun hitamnya seraya melangkah naik ke atas bus. "Sekarang, kembalilah ke panggungmu. Itinerary kita masih belum selesai."
Damar tersenyum lebar, membetulkan letak mikrofonnya, lalu melangkah masuk ke dalam Bus 000 yang kini dipenuhi aura kehangatan dan kebersamaan mutlak.
"Rekan-Rekan Penumpang sekalian!" seru Damar melalui pengeras suara, disambut sorak-sorai riuh dari seluruh arwah. "Satu hambatan kecil sudah kita lewati! Mari kita lanjutkan perjalanan menuju garis batas perbatasan!"
Tiiiiiiiiiinnnnn ...!
Klakson Armada 000 melengking nyaring, membahana penuh kemenangan saat bus raksasa itu meluncur meninggalkan Benteng Tua Willem, menembus kegelapan malam menuju babak baru perjalanan mereka di alam transmisi.
judulnya gantii yaa 🤔
ada kesempatan ke 2 untuk menuntaskan urusan dunia
pasti tak kan ada arwah gentayangan
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt