Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 PERCIKAN AIR DOA

Udara di taman belakang kampus itu masih terasa sangat membekukan, seolah musim dingin ekstrem mendadak turun di tengah hangatnya kota Yogyakarta.

Angin berhembus liar, menerbangkan dedaunan kering di sekitar pohon akasia tua, menciptakan suara gesekan halus yang menambah kesan mencekam.

Harumi—atau entitas iblis yang bersemayam penuh di dalam tubuhnya—menatap Dion dengan sepasang mata yang seluruhnya hitam legam. Tidak ada pupil, tidak ada bagian putih. Yang ada hanyalah kegelapan yang memancarkan aroma kemenyan busuk dan bau anyir darah.

Seringai di bibir Harumi melebar hingga ke batas yang tidak wajar. Suara berat dan parau yang keluar dari pita suaranya mengalun seperti bisikan ratusan jiwa yang tersiksa.

"Satu serangga lagi yang mengantar nyawa," desis iblis itu. Gerakan tubuh Harumi sangat cepat, melangkah maju dengan anggun namun mematikan. Lengan kanannya terangkat, siap mencengkeram leher Dion persis seperti yang baru saja ia lakukan pada Yuda. "Kau pikir kau bisa menghentikan kemurkaan Roro Jonggrang, Pemuda Bodoh?"

"Gue emang bukan tandingan lo, Iblis Sialan!" bentak Dion dengan suara lantang, menutupi gemetar di seluruh persendiannya.

Di saat Harumi tinggal berjarak dua langkah darinya, Dion dengan kilat merogoh saku dalam jaket denimnya. Ia tidak mengeluarkan pisau atau jimat, melainkan sebuah botol kaca bening berukuran kecil berisi air jernih yang di leher botolnya terikat seutas benang berwarna putih.

Botol air doa. Pemberian langsung dari Pak Rusdi—kakek Harumi—yang dipercayakan kepada Dion kemarin sebelum mereka bertolak kembali dari Klaten untuk mencari petunjuk.

Pak Rusdi telah membacakan ayat-ayat ruqyah dan doa penolak bala terkuat ke dalam air tersebut, khusus disiapkan untuk situasi darurat jika raga Harumi berontak sebelum masa pemagaran gaib habis.

"TAPI ALLAH BISA!" raung Dion sepenuh tenaga.

Dengan satu gerakan cepat dan nekat, Dion membuka tutup botol kayu tersebut, lalu menyiramkan sekaligus memercikkan seluruh isi air doa itu tepat ke arah wajah dan dada Harumi.

CRASH!!!

Percikan air jernih itu mengenai kulit wajah pucat Harumi.

Reaksinya terjadi seketika, dahsyat dan sangat mengerikan.

BZZZZZZT! BRRRRRTTT!

Begitu bulir-bulir air doa itu menyentuh kulit Harumi, suara mendesis yang sangat keras bergema di udara, persis seperti tetesan air dingin yang disiramkan ke atas besi membara. Kepulan asap putih keabu-abuan langsung membubung tinggi dari wajah dan leher Harumi, membawa aroma wangi bunga kenanga yang beradu tajam dengan bau busuk kemenyan gaib.

"AAAAAGHHHHHHH! PANASS! PANAAASSSS!!!"

Raungan histeris melengking tinggi keluar dari mulut Harumi. Suara melengking itu beradu dengan erangan berat sang iblis, menciptakan dua suara yang mengiris gendang telinga. Harumi mencengkeram wajahnya sendiri dengan kedua tangan, tubuhnya terhuyung ke belakang secara brutal.

Warna hitam pekat di matanya mulai beriak liar, perlahan-lahan pudar seperti tinta yang tersapu air bersih. Cahaya keemasan tipis terpancar singkat dari air doa yang meresap ke dalam pori-pori kulitnya, membakar jalinan sihir hitam yang mengikat sukmanya.

"Yud! Bantu gue tahan tubuhnya!" teriak Dion seraya melompat maju untuk menahan raga Harumi yang kejang-kejang hebat.

Yuda, yang baru saja berhasil mengatur napasnya dan merangkak bangun dengan leher penuh memar kebiruan, tidak membuang waktu. Mengabaikan rasa sakit dan panas di tenggorokannya, Yuda menerjang dan memeluk tubuh Harumi dari belakang.

"Rumi! Rumi, ini aku! Sadar, Rumi!" jerit Yuda di dekat telinga gadis itu.

Tubuh Harumi bergetar hebat di dalam dekapan Yuda. Jeritan kesakitannya perlahan memelan menjadi rintihan pasrah.

Gelombang energi gelap yang tadinya menyelimuti taman kampus mendadak terputus, menguap bersama asap putih yang menipis di udara.

Sepasang mata Harumi yang tadinya hitam legam perlahan kembali normal.

Warna cokelat terang yang hangat merayap kembali, dipenuhi oleh air mata yang merekah di pelupuk matanya. Raut wajahnya yang tadinya bengis dan dingin kini runtuh, menggantikan ketakutan dan rasa bersalah yang amat sangat.

"Y-Yud... Yuda...?" rintih Harumi dengan suaranya yang asli. Suara yang sangat halus, serak, dan penuh penderitaan.

"Iya, Rumi! Ini aku! Kamu aman, Rumi!" Yuda memeluknya erat-erat, air matanya menetes di bahu Harumi.

"Yud... maafin aku... aku nggak bisa nahan... dia... dia mau..." kalimat Harumi tidak selesai.

Matanya mendadak bergulir ke atas, dan seluruh persendian di tubuhnya melemas total.

Harumi pingsan, terkulai tak berdaya di dalam pelukan Yuda.

Napas Yuda dan Dion tersengal-sengal di tengah keheningan taman yang mendadak kembali normal. Angin kencang telah mereda, dan hawa dingin menusuk itu perlahan digantikan oleh hangatnya udara sore kota Yogyakarta.

Dion berlutut di sebelah Yuda, memeriksa urat nadi di pergelangan tangan Harumi. "Nadinya masih ada, Yud. Dia cuma pingsan. Efek air doa Pak Rusdi berhasil memutus kendali jin itu secara paksa."

Yuda memeluk tubuh Harumi yang pingsan dengan dada yang bergemuruh keras. Ia menatap Dion dengan mata memerah. "Kita harus bawa dia pulang sekarang, Yon. Sebelum iblis itu sadar dan mengambil alih tubuhnya lagi."

"Setuju. Mobil Pak Zaki ada di parkiran depan, kan? Ayo kita papah dia," kata Dion, segera mengangkat lengan kiri Harumi dan memapahnya bersama Yuda.

.....

.....

Tiga puluh menit kemudian...

Sebuah mobil SUV hitam melaju kencang membelah jalanan kota dan berhenti mendadak di depan rumah berpagar tinggi milik Zaki.

Zaki, yang sejak siang merasa cemas karena Harumi tak kunjung kembali ke parkiran kampus, melompat keluar dari mobilnya sendiri yang baru saja tiba bersamaan.

Wajah pria paruh baya itu pucat pasi saat melihat Yuda dan Dion memapah tubuh Harumi yang tidak sadarkan diri keluar dari taksi online yang mereka sewa di belakang mobil Zaki.

"Harumi! Ya Tuhan, ada apa dengan anakku?!" jerit Zaki panik, berlari mendekati mereka berdua dan langsung mengambil alih tubuh putrinya.

Nisa yang mendengar keributan dari dalam rumah segera berlari keluar menuju halaman. "Rumi! Anakku kenapa, Mas?!" tangis Nisa pecah seketika saat melihat wajah pucat Harumi dengan bekas ruam merah tipis di sekitar dahi dan pipinya.

"Pak, Bu as, tolong bantu bawa Harumi ke dalam dulu. Kondisinya berbahaya kalau di luar," ujar Yuda tegas, meski suaranya sendiri terdengar parau dan lehernya terlihat jelas memar berbentuk jari-jari tangan.

Zaki mengangguk cepat. Ia menggendong tubuh Harumi yang terkulai lemah dan membawanya masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Nisa, Yuda, dan Dion.

Mereka membaringkan Harumi di atas sofa empuk di ruang tamu. Nisa segera mengambil minyak kayu putih dan kain basah untuk mengusap kening putrinya, tak henti-hentinya menangis dan memanjatkan doa.

Setelah memastikan Harumi terbaring aman dan napasnya teratur, Zaki berbalik menghadapi Yuda dan Dion. Mata Zaki yang memerah menatap leher Yuda yang memar kebiruan, lalu beralih ke wajah Dion yang masih dipenuhi keringat dingin.

"Apa yang sebenarnya terjadi di kampus?!" tanya Zaki dengan suara bergetar menahan kepanikan dan amarah yang campur aduk. "Kenapa Harumi bisa pingsan? Dan lehermu... Yuda, lehermu kenapa?!"

Yuda memegang lehernya yang terasa sangat nyeri jika digunakan untuk menelan ludah. Ia menatap Zaki dengan tatapan penuh rasa bersalah sekaligus peringatan serius.

"Iblis itu sudah menguasai Harumi sepenuhnya, Pak," ujar Yuda dengan suara parau. "Harumi minta izin ke kampus bukan karena keinginannya sendiri... Iblis itu memanfaatkan Harumi untuk memancing saya keluar."

Nisa tersentak, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. "A-apa...?"

Dion mengambil alih penjelasan agar Yuda bisa mengistirahatkan tenggorokannya. "Pak Zaki, Bu Nisa, tadi di taman belakang kampus, Harumi tiba-tiba berubah. Matanya berubah hitam pekat dan suaranya berubah jadi suara makhluk itu. Dia... dia mencekik Yuda dan mengangkat tubuh Yuda ke udara cuma pakai satu tangan."

Zaki membelalakkan matanya tidak percaya. "Harumi... mencekik Yuda?!"

"Iya, Pak. Iblis itu mau membunuh Yuda di tempat," lanjut Dion dengan intonasi tegang. "Untung kemarin sebelum kita balik dari Klaten, Pak Rusdi sempat membekali saya botol air doa ruqyah. Saya langsung siramkan air itu ke wajah Harumi. Air itu bikin iblisnya terdesak dan membakar energinya sampai Harumi pingsan dan sadarkan diri sebentar sebelum akhirnya tidak sadarkan diri lagi."

Zaki terduduk lemas di tunggul sofa, memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Tubuh pria perkasa itu gemetar hebat. "Ya Allah... Kakek Harumi benar... Iblis itu tidak akan pernah melepaskan Harumi."

"Pak," Yuda melangkah mendekati Zaki, berlutut di depannya. "Kita tidak boleh terkecoh lagi. Harumi yang manis dan penurut belakangan ini... itu bisa jadi cuma topeng iblis itu untuk mengelabuhi Bapak dan Ibu supaya dia bisa bergerak bebas."

"Tapi... tapi tadi pagi dia makan sarapan bersama kami, Yud," bisik Nisa di sela isaknya, menatap putrinya yang terbaring. "Dia tersenyum, dia bicara lembut seperti Harumi yang dulu..."

"Itulah liciknya entitas dari Prambanan itu, Bu," sela Dion. "Mbah Kliwon di Klaten bilang, semakin dekat waktu hancurnya pagar gaib Haruma, iblis itu bakal makin sering mengambil alih kesadaran Harumi tanpa kita sadari. Dia meniru perilaku Harumi supaya kita lengah."

Atmosfer di ruang tamu itu mendadak menjadi sangat pekat dan mencekam.

Kenyataan bahwa musuh yang mereka hadapi berada di dalam raga anak mereka sendiri adalah mimpi buruk yang paling mengerikan bagi Zaki dan Nisa.

Tiba-tiba, dari arah sofa, terdengar suara erangan pelan.

"Ugh... arrgh... pusing..."

Semua orang di ruangan itu seketika menoleh.

Harumi perlahan-lahan membuka matanya. Jemari tangannya bergerak memegang keningnya. Warna matanya sudah kembali cokelat terang, dan raut wajahnya memancarkan kebingungan serta rasa sakit yang amat sangat.

"Harumi!" Nisa langsung memeluk putrinya. "Nak, kamu sudah sadar? Ada yang sakit, Sayang?"

Harumi mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan. Pandangannya menyapu Zaki, Nisa, Dion, dan akhirnya tertuju pada Yuda yang berlutut tidak jauh dari sofanya.

Saat mata Harumi menangkap bekas memar biru kehitaman yang sangat jelas di leher Yuda, tubuh gadis itu seketika gemetar hebat. Ingatan samar tentang apa yang terjadi di taman kampus—saat tangannya sendiri bergerak mencekik leher pria yang paling dicintainya—menghantam ingatannya bagaikan petir di siang bolong.

"Y-Yuda..." bisik Harumi, air mata langsung membanjiri pipinya. Suaranya pecah oleh histeria dan ketakutan yang luar biasa. "Leher kamu... Ya Tuhan... Yuda, maafin aku! Maafin aku!"

Harumi mencoba duduk dan meraih Yuda, namun ia ketakutan pada tangannya sendiri. Ia menarik kembali kedua tangannya dan memeluk lututnya di sudut sofa, menangis tercekik-cekik.

"Aku nggak mau, Bapak... Ibu... aku nggak mau!" jerit Harumi histeris, menyembunyikan wajahnya di lututnya. "Di dalam kepalaku... ada suara dia, Pak! Suara iblis itu terus-menerus nyuruh aku buat bunuh Yuda! Dia nyuruh aku potong leher Yuda pakai pisau!"

Pengakuan polos dari Harumi itu membuat Nisa menjerit tertahan dan menutup wajahnya, sementara Zaki mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

Yuda tidak tahan melihat penderitaan kekasihnya.

Tanpa peduli rasa sakit di lehernya, Yuda maju dan merengkuh tubuh Harumi yang gemetar ke dalam pelukannya.

Harumi sempat memberontak karena takut melukai Yuda lagi, namun Yuda memeluknya semakin erat, menguncinya dalam kedamaian.

"Nggak apa-apa, Rumi... Nggak apa-apa, ini bukan salah kamu," bisik Yuda penuh ketegasan di telinga Harumi, matanya sendiri meneteskan air mata. "Aku tahu itu bukan kamu. Aku nggak akan benci sama kamu, Rumi. Aku janji."

"Tapi aku takut, Yud..." isak Harumi di dada Yuda, jemarinya mencengkeram kemeja Yuda dengan erat. "Bagaimana kalau nanti aku hilang kesadaran lagi? Bagaimana kalau aku beneran bunuh kamu atau Kak Haruma? Bunuh aku aja, Yud... tolong pasung aku atau bunuh aku..."

"Jangan pernah ngomong gitu!" bentak Yuda lembut, menangkup wajah Harumi dan memaksa gadis itu menatap matanya. "Kita bakal selesaiin ini. Aku sama Dion udah dapat petunjuk dari Mbah Kliwon di Klaten. Kita tahu cara buat nutup kembali segel Roro Jonggrang itu dan bebasin kamu selamanya."

Harumi menatap mata Yuda yang membara oleh tekad. "B-beneran, Yud...?"

"Beneran, Rumi. Kamu cuma perlu bertahan," jawab Yuda mantap.

Zaki berdiri, melangkah mendekati Yuda dan memegang bahu pemuda itu.

Raut wajah Zaki kini sepenuhnya diisi oleh ketegasan seorang ayah yang siap mempertaruhkan segalanya.

"Yuda, Dion," kata Zaki dengan suara berat dan dalam. "Katakan pada saya... apa yang harus kita lakukan sekarang? Waktu kita tinggal sedikit sebelum pagar gaib di rumah sakit runtuh."

Yuda melepaskan pelukannya dari Harumi perlahan, lalu berdiri menghadap Zaki dan Nisa.

"Mbah Kliwon bilang, kita harus membawa senjata pusaka yang dipakai waktu insiden penusukan di panggung Prambanan kembali ke pusat candi pada malam bulan mati," jelas Yuda dengan nada serius. "Dan seseorang yang memiliki garis keturunan Bandung Bondowoso harus meneteskan darahnya di atas pisau itu sambil membacakan mantra pemutus segel."

Zaki mengerutkan kening. "Pisau pusaka itu... pisau itu sekarang ada di kantor polisi sebagai barang bukti insiden penusukan Haruma!"

Dion mengangguk cepat. "Benar, Pak. Makanya, sebelum malam bulan mati tiba—yang berarti besok malam—kita harus mendapatkan pisau itu kembali dari kepolisian. Bagaimanapun caranya."

Zaki mengatupkan bibirnya rapat-rapat, lalu menatap Harumi yang masih terisak di sofa, lalu membayangkan Haruma yang terbaring lemah di rumah sakit.

Keputusan besar harus diambil, dan tidak ada lagi ruang untuk keraguan.

"Serahkan urusan kepolisian pada saya," tegas Zaki dengan mata menyala. "Saya akan pakai semua relasi dan cara untuk mengambil pisau itu besok. Kalian fokus persiapkan mental dan ritualnya bersama."

Yuda menatap Zaki, lalu menatap Harumi yang kini menatapnya dengan secercah harapan.

Garis pertempuran terakhir akan segera ditarik.

1
SecretS
sungguh membuat terkejut kak 🫨aku baru baca lengkap sinopsisnya 😔 aku pikir kutukan nya itu nyata looh, tapi alurnya bagus sih udah serem sih hampir mirip tirakat 3 pas pertemuan Nisa sama gendis. lanjut lagi kak 😄😄
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Satu langkah lagi puncaknya brarti ya... mangats bwt kalian, semoga bisa menyelamatkan rumi dari panglima jin kerajaan baka
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ini kek doa naik kendaraan apa bepergian yaa, tawaf ruwat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ya zaky nya juga knpa kudu di kunci gitu kamarnya trs percaya aja sama Rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sabar ya Rumi, orang orang terdekat mu sedang berusaha untuk menyelamatkan mu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku kira bakalan ketauan Zaky atw membangunkan panglima jin yg ada di dalam tubuh Harumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo yudha nggak ada keturunan garis darah Bandung Bondowoso, bisa dipastikan dia udah nggak selamat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
jangan jangan bener yuda masih ada turunan darah bandung
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo semisal rumah nggak nyelametin Rumi, masa iya Rumi mo di kurung trs, nunggu apa? nunggu sii yudha itu kah?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
kata panglima jin yg di tubuh Rumi
akhirnya aku nggak perlu jauh jauh mendatangi sang perisai
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mangsa yang nyamperin umpan... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
berat yaa perjuangan sblom berperang berpacu dengan waktu juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nahh bener tuh kata mbah kliwonn jangan nunggu keajaiban murahan tapi... berperang langsung. tapi dengan segala persiapan saya dan upaya ya yud wkwkwk nggak asal perang.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semoga mbah klien tidak dibelakang kan iblis prambanan itu juga, klo iya ntar nggak ada yg nolongin
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
tebakan aku dari awal ya yudha ini
Ilham
lanjut bg
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kak Ilham... 💪💪💪
total 1 replies
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : iyaa serem
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!