Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Dingin
"Zeffan, buka pintunya! Apa yang kamu lakukan kepada adikmu?!" teriak Marlina dari balik pintu kamar dengan nada panik, menggedor kayu jati yang kokoh itu beberapa kali.
Ceklek!
Suara pintu terbuka.
Zeffan berdiri di ambang pintu dengan wajah tenang tanpa penyesalan sedikit pun, merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut. Di belakangnya, Syafiya tampak duduk di tepi ranjang dengan kepala menunduk dalam, mengusap bekas air mata di pipinya yang memerah.
"Mommy, katakan kepada Hendra dan Siska bawa kembali anaknya pulang," ucap Zeffan dingin, menatap ibunya lurus tanpa ragu. "Urus dia sampai melahirkan, dan aku masih menunggu hasil tentang itu. Jika dia anakku, semuanya aman. Tapi jika memang bukan anakku... aku pastikan hidup mereka sekeluarga hancur."
Marlina tersentak, beralih menatap Syafiya sejenak sebelum kembali menatap putranya dengan napas memburu. "Kamu yakin mau membiarkan Valerie pulang ke rumah orang tuanya, Zeffan? Bagaimana dengan Elvano?"
"Elvano tetap di sini, bersama kita dan Syafiya," pangkas Zeffan tegas tanpa memberi celah negosiasi. "Valerie tidak berhak membawa anakku pergi dalam kondisi membawa benih yang belum jelas asal-usulnya."
"Tapi, Kak..." bisik Syafiya pelan, akhirnya memberanikan diri angkat bicara dengan suara bergetar dari tepi ranjang. "Kak Valerie itu ibunya Elvano... Bagaimana bisa Kakak memisahkan bayi sebayi itu dari ibu kandungnya?"
Zeffan memutar tubuhnya, menatap Syafiya dengan kilatan mata yang intim namun mengancam. "Jangan mulai mencampuri keputusanku lagi, Syafiya. Kamu sendiri yang bilang tadi, suasana rumah ini harus tenang, kan? Kehadiran Valerie di sini hanya akan menjadi racun."
Marlina menghela napas panjang, mengangguk setuju dengan keputusan putranya. "Zeffan benar, Syafiya. Wanita seperti Valerie memang harus ditaruh di tempatnya sampai kebenaran terungkap. Mommy tidak mau rumah ini terus-terusan berantakan."
"Tapi Mom—"
"Cukup, Syafiya," sela Marlina memotong ucapan anak angkatnya, lalu menepuk pelan bahu Zeffan. "Bagus kalau kamu sudah mengambil tindakan tegas, Zeffan. Biar Mommy sendiri yang turun ke bawah menyampaikan keputusan ini pada Hendra dan Siska."
"Katakan juga pada mereka, Mom," tambah Zeffan dengan senyum sinis yang mengancam, "satu langkah saja Valerie berusaha menemui Elvano secara sembunyi-sembunyi sebelum tes DNA keluar... detik itu juga aset perusahaan Hendra akan aku alihkan."
"Baiklah, Mommy akan menemui mereka sekarang," ujar Marlina dengan wajah mengeras, melangkah mantap menuruni anak tangga untuk menghadapi keluarga Hendra di ruang tamu.
Zeffan mematung sejenak di ambang pintu, memperhatikan ibunya yang menghilang di belokan tangga. Setelah suara langkah kaki Marlina menjauh, ia memutar tubuhnya kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
"Kak Zeffan, tolong... buka pintunya lagi," cicit Syafiya ketakutan dari tepi ranjang, meremas sprei dengan erat saat melihat Zeffan melangkah mendekat. "Kakak sudah janji mau menyelesaikan masalah di bawah, kan?"
"Masalah di bawah sudah selesai, Syafiya," balas Zeffan datar, duduk di samping Syafiya hingga kasur berderit pelan. Pria itu mengulurkan tangan, menarik dagu Syafiya agar mata mereka beradu. "Sekarang tinggal urusan kita berdua."
"Tidak ada urusan di antara kita, Kak!" bisik Syafiya serak, berusaha memalingkan wajah meski cengkeraman Zeffan menahannya. "Kak Valerie dipaksa pulang tanpa Elvano... Kakak memisahkan ibu dan anak demi ego Kakak sendiri! Kenapa Kakak bisa sekejam ini?"
"Aku tidak sekejam itu kalau saja Valerie tidak berkhianat dan kamu tidak terus-terusan berusaha lari dariku," desis Zeffan amat pelan, mendekatkan wajahnya hingga hembusan napasnya menerpa pipi Syafiya. "Kamu kasihan padanya? Seharusnya kamu khawatirkan dirimu sendiri, Syafiya."
"Kenapa harus khawatirkan aku?!" tuntut Syafiya dengan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Karena mulai hari ini, tidak ada lagi Valerie yang menghalangi pandanganku padamu di rumah ini," pangkas Zeffan dingin, menyunggingkan senyum kelam yang membekukan darah. "Kamu yang akan merawat Elvano, dan kamu yang akan tetap berada di bawah genggamanku... tanpa ada satu orang pun yang bisa mengganggumu lagi."
Syafiya membisu, tubuhnya berguncang pelan ditelan rasa putus asa yang kian dalam. Di bawah sana, terdengar samar-samar suara jeritan histeris Valerie dan teriakan amarah Hendra yang dipaksa keluar dari mansion, menandakan bahwa sangkar emas ini kini sepenuhnya dikuasai oleh Zeffan.