Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29_Sebuah kenangan

[1 Bulan yang lalu]

Mataku terbuka perlahan. Pandanganku masih buram, kelam, dan sedikit berkunang.

"Di mana aku?"

*kretek...*

Aroma kayu bakar yang gosong menusuk hidungku. Aku melihat beberapa anak-anak sedang tidur melingkar, meringkuk kedinginan mengelilingi api unggun yang apinya sudah mulai kecil. Suara kayu yang berderak pelan menjadi satu-satunya suara di dalam gua yang lembap ini.

Lalu tubuhku sedikit tersentak. Aku menoleh ke kiri. Ternyata Stella sudah memelukku dengan sangat erat. Tubuhnya hangat, tapi napasnya masih berat. Apa yang dilakukannya? Bukankah dia sudah memiliki orang yang dicintainya?

Aku mencoba bangun dengan menempelkan tanganku ke dinding batu yang dingin dan kasar, tapi tubuhku masih terlalu lelah untuk berdiri. Pada akhirnya aku terjatuh lagi.

*bruk...*

Ahh... Aku tidak percaya aku tidak bisa menahan dampak dari teknik pedang itu. Rasanya seperti seluruh tulangku retak.

Aku menyandarkan kepalaku ke dinding batu yang dingin dan menatap langit-langit gua yang gelap, lalu menghela napas panjang. Uap dari mulutku terlihat jelas karena dinginnya malam. "Huhh... Aku benar-benar belum bisa mengimbanginya."

Tiba-tiba Stella terbangun. Dia mengusap matanya yang masih sembab dan memandangku dengan pandangan kosong. Cahaya api unggun yang temaram memantulkan bayangan di wajahnya. "Sora, kau sudah bangun?"

Aku menoleh. "Ahh... maaf, apa aku membangunkanmu?"

Dia bangun dan menyandarkan tubuhnya di bahuku. Rambutnya sedikit berantakan dan matanya masih menyipit menahan kantuk. "Tidak apa-apa kok. Oh iya, ada yang ingin kutanyakan padamu. Kau ini sebenarnya siapa? Sebagai rekan, aku hanya ingin memastikan asal usul rekanku terlebih dahulu." Kepalanya terus naik turun karena menahan kantuk yang berat, suaranya serak.

Mataku membelalak. Aku sedikit menundukkan kepala untuk menghindari tatapannya. "Sepertinya kau masih mengantuk. Cepatlah tidur kembali." Aku berdiri dengan susah payah dan berjalan ke arah luar gua, mencari udara segar.

Namun Stella langsung mencegahku dengan menggenggam tanganku erat. Genggamannya dingin tapi kuat. "Siapa yang kau bilang mengantuk, hahh!?" Dia menatapku tajam dengan mata yang sudah terbuka penuh, telinganya yang runcing berdiri.

Aku berbalik dan berjalan ke arahnya kembali. "Sepertinya kau benar-benar keras kepala, ya!?" Aku langsung duduk lagi dan menyandarkan kepala di tembok yang lembap. "Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?"

Dia tersenyum dan tertawa kecil. Suara tawanya pelan, hampir tenggelam oleh derak api. "Haha! Kau terlihat lucu tadi, seperti anak kecil yang sedang marah."

Tubuhku terdiam. Mulutku sedikit ternganga. Di bawah cahaya api yang bergoyang, aku terus memandangi wajahnya. Sangat mirip... Tawa dan senyumnya terlalu mirip dengan milik Ibu. Hangat dan tulus. Aku seperti melihat bayangan ilusi ibuku di dalam dirinya.

Dia memiringkan kepalanya. Ekornya yang halus mengibas pelan menyapu tanah berdebu dan telinganya menegak ke atas. "Sora? Apa kau tidak apa-apa?" Dia melambaikan tangannya di depan wajahku, khawatir. "Hei! Sora, cepatlah sadar kembali!"

Mataku masih terpaku pada wajahnya. Tanpa sadar, air mataku mulai menetes, terasa panas di pipiku yang dingin. "Ibu!"

Dia tersentak dan menunjuk dirinya sendiri, bingung. "Ibu?"

Aku sedikit tersentak lalu menggeleng pelan, buru-buru menghapus air mata. "Ahh... maaf, aku sedang melamun tadi."

Dia tersenyum sambil menekuk kedua lututnya dan memeluknya. Bayangan api menari-nari di matanya. "Sudah kuduga. Sora, alasan kenapa kau sangat baik kepadaku, pasti karena kau sangat menyayangi ibumu, kan?"

Mataku membelalak, lalu aku membuang muka darinya, jantungku berdegup kencang.

*deg...*

"Ti-tidak! Aku hanya berpikir kau pasti bisa membantuku untuk mewujudkan impianku!" Aku langsung menghadapnya lagi, menepuk kedua tanganku dengan gugup, lalu menunjuk ke arahnya. "Benar! Aku hanya ingin memanfaatkanmu, hanya itu!"

Dia membalikkan badannya menghadap perapian, namun senyum di wajahnya masih belum hilang. Suara angin malam mulai masuk dari mulut gua, membuat api bergoyang lebih kencang. "Kau benar-benar sangat baik, ya, Sora. Pasti hidupmu sangat menyenangkan."

Dahiku mengerut. Aku menatap api unggun yang hampir padam itu. Bara apinya berwarna merah menyala. "Kau salah! Hidupku benar-benar sangat buruk." Aku menundukkan kepala dan menutupnya dengan kedua lututku, suaraku bergetar. "Apanya yang menyenangkan? Aku kehilangan satu-satunya keluargaku, merepotkan anggota keluarga baruku, dan bahkan kehilangan emosiku."

Stella yang mendengar itu langsung menundukkan kepalanya sedikit. Suasana di dalam gua mendadak hening, hanya terdengar desir angin. "Begitu ya... maaf, aku tidak tahu apa-apa."

Aku mengangkat kepala sedikit dan kembali menatap perapian. "Jadi, apa kau tidak jadi bertanya tentangku?"

Dia mengangkat kepalanya dan mengepalkan tangannya, matanya terlihat bersungguh-sungguh. "Tentu saja jadi! Aku ingin tahu, bagaimana bisa kau menguasai teknik pedang seperti itu? Bahkan tubuhmu saja tidak mampu menahan dampaknya."

Aku menghela napas. Uap putih keluar lagi dari mulutku. "Ceritanya akan panjang. Apa kau ingin mendengarnya?"

Dia mengangguk cepat dengan mata yang berbinar-binar terkena cahaya api. "Aku ingin mendengarnya!"

Aku menatap langit-langit gua yang gelap. "Semuanya bermula ketika aku kecil..."

Suara angin yang meraung di luar gua dan perapian yang berderak pelan mulai terdengar lebih jelas, seolah ikut mendengarkan cerita.

[Kilas Balik]

Empat tahun yang lalu, di istana Kerajaan Eiden. Suara dentuman pedang kayu terdengar jelas dari sebuah lapangan latihan yang luas.

*bak! bak!*

Burung-burung berkicau ramai dan matahari siang menyinari langit dengan cahayanya yang terik dan terang. Aroma rumput yang baru dipotong tercium di udara.

Aku terjatuh dengan keras dan pedangku terlempar ke belakang, menggelinding di atas tanah berdebu. "Duhh, sakit!" Aku mengelus sikuku yang lecet dan berdiri dengan napas terengah-engah. "Sepertinya masih mustahil bagiku untuk menang melawan Ibu."

Ibuku berdiri di hadapanku dengan anggun sambil tersenyum. Keringat sedikit membasahi dahinya, tapi dia terlihat sama sekali tidak lelah. "Hehh... Bukankah kau bilang ingin kuat, untuk bisa melindungi Ibu?"

Aku berlari ke belakang dan mengambil pedang kayuku yang kotor. Dahiku mengerut dan aku mengarahkannya pada Ibuku dengan kedua tangan gemetar. "Tentu saja! Apapun yang terjadi, aku akan melindungi senyum Ibu, selamanya!"

Ibuku langsung tersenyum bangga. Dia menghunuskan pedangnya ke arahku dan mengambil posisi menyerang yang sempurna. Angin berhembus pelan mengibarkan rambutnya. "Baiklah, kau siap!?"

Keringat bercucuran di wajahku, menetes ke dagu. Aku menatap ujung pedang itu yang berkilau terkena matahari, lalu mengangguk mantap. "Siap!"

*brak!* Ibuku langsung menapakkan kakinya ke tanah dengan sangat kencang. Tanah di bawahnya pun sampai ikut retak dan berdebu dibuatnya. Kemudian dia menerjangku dengan sangat cepat, seperti bayangan.

*swusss!*

Aku menangkis serangannya dan terpental ke samping, kakiku terseret di tanah. Dia mulai menyerangku tanpa henti dengan sangat cepat. Tebasannya mengincar pinggang dan leherku, serta bagian tubuh yang lain, dan mulai menyudutkanku ke belakang hingga punggungku hampir menyentuh pagar lapangan.

Aku menatap wajahnya yang serius. Saat dia tiba-tiba memalingkan wajahnya sekilas, aku langsung bergegas memanfaatkan gerakan tangannya yang melambat sepersekian detik akibat gerakan spontan itu.

Aku melihat jelas gerakan tangannya yang mengarah ke perutku. Aku mengangkat pedangku ke atas kepala dan menggenggamnya erat hingga buku jariku memutih. Kesempatanku! Aku menepis pedang kayu Ibuku ke tanah dengan sekuat tenaga, dan melompat sambil memutar tubuhku di udara.

Lalu aku mengayunkan pedang kayuku sekuat tenaga ke arah lehernya, dengan semua berat badanku. Ibuku yang terkejut spontan langsung mengangkat pedangnya dengan sangat cepat. Teknik Pedang Bulan: Full Moon - membuat hempasan angin yang kuat untuk membelah lawan.

Angin kencang tiba-tiba berputar di sekeliling kami.

*vwooom!*

Aku langsung melindungi diriku dengan menaruh pedang sebagai perisai di depan dada. Saat serangan itu mengenaiku, pedangku langsung patah menjadi dua dengan suara keras.

*kraak!*

dan aku terpental terbang ke belakang seperti daun kering.

Aku terbanting cukup keras sampai tubuhku berguling-guling di tanah berdebu. Pandanganku gelap. Ibuku langsung menjatuhkan pedangnya dengan panik dan berlari ke arahku secepat kilat. "Kai!"

Dia duduk di sampingku dan menaruh tubuhku di pangkuannya yang hangat. Aroma bunga dari pakaiannya tercium samar. "Kai! Kai! Kai! Bertahanlah!" Mataku tidak kunjung terbuka. Air matanya mulai menetes deras membasahi pipiku. Wajahnya benar-benar panik dan pucat.

Dia menggenggam tubuhku erat. Darah segar muncul di kepala dan sudut mulutku. Ini semua salahku. Andai aku tidak memaksanya sejauh ini, andai aku tidak bertarung serius dengannya tadi. Ibuku menggenggam dadanya yang mulai sakit karena detak jantungnya yang terus meningkat kencang.

Lalu saat Ibuku menundukkan wajahnya dan memejamkan mata dengan putus asa, tanganku yang lemah menyentuh pipinya pelan yang basah oleh air mata. "Ibu... tidak perlu menangis."

Dia membuka matanya yang sembab. "Kai!?"

Aku tersenyum tipis dengan sisa tenagaku. "Aku benar-benar lebih suka ketika Ibu tersenyum lebar."

Ibuku langsung menggigit bibirnya menahan tangis dan mengusap air matanya kasar. "Baiklah, jika itu memang maumu." Ibuku tersenyum lebar dengan air mata yang masih mengalir. "Maka Ibu akan tetap tersenyum untukmu."

Aku menatap wajahnya yang cantik itu. "Ibu, boleh aku minta tolong?"

Ibuku mengangguk pelan sambil mengusap kepalaku. "Tentu saja, tapi sebelum itu kau harus meminum ramuan ini." Ibuku langsung meminumkan ramuan hijau pahit itu kepadaku perlahan.

Aku meminumnya walaupun rasanya sangat menyakitkan dan pahit di tenggorokan. Anehnya, luka di tubuhku sudah menghilang duluan, rasa perihnya lenyap seketika. Ibuku langsung menyentuh bagian luka yang ada di kepalaku dengan tangan gemetar. Hilang! Tidak mungkin, padahal aku belum memberinya ramuan tadi.

Aku memiringkan kepala dan menyentuh tangan Ibuku yang dingin. "Ibu!? Apa ada yang aneh dari tubuhku?"

Ibuku langsung menggeleng cepat, menyembunyikan keterkejutannya. "Tidak, tidak ada apa-apa. Dan permintaanmu? Apa yang bisa Ibu bantu?"

Aku langsung menatap pedangnya yang tergeletak di tanah. "Tolong ajarkan aku tentang teknik pedang Ibu, aku mohon."

Ibuku sedikit tersentak, lalu tersenyum kembali sambil mengelus rambutku penuh kasih sayang. "Boleh. Akan Ibu ajarkan kepadamu semua yang Ibu punya. Tapi sebelum itu, kau harus melatih tubuhmu lebih keras dari biasanya, jauh lebih keras. Apa kau yakin?"

Aku langsung menoleh dan tersenyum lebar, mataku berbinar penuh semangat. "Aku yakin! Apapun yang terjadi, aku ingin menjadi kuat! Selain untuk melindungi senyum Ibu, aku juga ingin melindungi masa depan Ibu!"

[Akhir Kilas Balik]

Aku menatap perapian yang nyala apinya sudah hampir habis itu sambil tersenyum tipis. Asap tipis mengepul ke atas. "Lalu sejak saat itu, Ibuku benar-benar mengajariku teknik pedangnya dengan sangat ketat. Sampai-sampai aku benar-benar takut untuk berlatih kembali." Aku menoleh dan tersentak kaget.

Stella menatap wajahku dengan jarak yang sangat dekat. Napasnya yang hangat menerpa pipiku. Matanya berkaca-kaca terkena cahaya api. "Kau tersenyum..."

Dia langsung memejamkan matanya dan tersenyum lebar, lega. "Kau tersenyum, benar-benar tidak kupercaya." Dia memandangku dengan mata berbinar bahagia. "Aku pikir kau benar-benar kehilangan emosimu. Kemungkinan kau hanya lupa bagaimana cara mengekspresikan emosi di dalam dirimu."

Aku memegang wajahku yang terasa kaku. "Kau benar! Aku tersenyum." Bahuku terasa sangat lemas, dan tanganku terus meraba-raba wajahku tidak percaya. "Tidak kupercaya, aku benar-benar bisa tersenyum kembali. Mungkinkah..."

Aku menoleh. Dia terus-menerus tersenyum ke arahku dengan tulus. "...karena gadis ini?"

Lalu dia mulai bercerita lagi, kali ini dengan suara yang lebih semangat. Tentang bagaimana dia pernah tersesat di hutan dan dikira monster sama pemburu karena ekornya.

"Terus pemburunya teriak Monster! dan lari sekencang-kencangnya! Padahal aku cuma lagi cari jamur untuk dijual kembali!"

Dia tertawa renyah sendiri sampai memegangi perutnya. Tawanya pecah, lepas, dan agak bodoh.

Aku memandangnya. Awalnya datar.

Tapi entah kenapa, sudut bibirku bergerak sendiri.

Bukan tawa. Hanya hembusan napas pendek yang lolos.

"Hmph."

Stella langsung berhenti tertawa dan menatapku kaget, matanya membulat. "Barusan... kau barusan ketawa?!"

Aku buru-buru menutup mulutku, wajahku kaku lagi. "Ti-tidak! Aku cuma... tersedak asap!"

"Bohong! Kau jelas tertawa tadi! Dasar, kau benar-benar tidak pandai mengekspresikan dirimu, ya!?"

Dia jadi jahil, terus menarik-narik ujung bajuku sambil mencoba membuatku tertawa lagi. Aku berusaha keras menahan wajah datarku, tapi semakin ditahan, semakin terasa aneh. Dan tanpa sadar, bibirku kembali tertarik tipis.

Bukan tawa lepas. Hanya sebuah senyum canggung

Sepanjang malam, kami menghabiskan waktu seperti itu. Melupakan rasa sakit dan dingin. Aku memandang wajahnya yang sedang tertawa lepas di bawah cahaya api yang temaram. Padahal kami baru bertemu beberapa jam yang lalu, dan dia sempat berencana untuk memanfaatkanku. Tapi... setelah bertemu gadis ini, rasanya aku mulai menyadari bahwa dunia yang aku anggap abu-abu dan hampa ini, ternyata memiliki beragam warna yang sangat indah dan hangat. Yang membuatku kagum padanya adalah, dia tidak pernah mengasihani orang lain. Dia lebih suka membantu siapapun tanpa perlu mengasihani orang tersebut. Mungkin saja, bertemu dengannya adalah sebuah takdir.

Setelah berbicara cukup lama, akhirnya dia tertidur lagi di bahuku. Napasnya teratur dan pelan. Dia tetap tersenyum manis bahkan ketika tidur. "Terima kasih, Sora. Jika saja saat di lembah aku... tidak bertemu denganmu, mungkin... aku sudah mati."

Aku tersenyum memandang wajah tidurnya yang damai. Tapi tiba-tiba saja bulu kudukku merinding.

Aku merasakan hawa kehadiran seseorang yang dingin dan berat sedang berjalan ke arah kami dari luar gua. Langkah kakinya pelan tapi jelas di atas ranting kering.

*krek... krek...*

Saat aku hendak memindahkannya dengan hati-hati, dia mengusap wajahnya manja ke pakaianku yang kotor. "Mungkin saja... bertemu denganmu... adalah sebuah takdir."

Aku langsung membelalak mendengar hal itu, jantungku berdegup sangat kencang. Setelah itu, aku langsung memindahkannya dengan pelan dan menyandarkannya ke tembok batu yang dingin agar aman.

Aku bergegas berjalan ke arah luar dengan langkah waspada. Angin malam yang menusuk tulang langsung menyambutku di luar. Di luar, aku sudah disambut oleh seseorang yang mengenakan mantel dan tudung gereja berwarna putih bersih yang berkibar tertiup angin dengan lambang salib berwarna emas yang berkilau di bawah cahaya bulan.

Orang itu langsung membuka tudungnya perlahan dan tersenyum dingin ke arahku. Wajahnya tidak terlihat jelas karena bayangan bulan. "Senang bertemu denganmu... Kai Eiden."

Aku mengerutkan dahi dan menatapnya dengan tajam. _Bloody mana (memasukan mana ke dalam darah dan otot, lalu memadatkannya)_

*dukk... kraak!*

Tangan kananku mulai memunculkan urat-urat hitam. Aku menggertakan gigiku, keringat mulai bercucuran di tubuhku, dan rasa sakit mulai menjalar di sekujur tubuhku.

*grrr...*

Suasana malam yang tadinya hangat langsung berubah menjadi tegang, dingin, dan mencekam di antara aku dan orang itu. Angin berhenti berhembus seketika.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!